WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#74



Bagaimana jika Jathayu benar-benar membohongiku selama ini?


Pertanyaan itu tak bisa lepas dari pikiranku. Ia terus bergayut di benakku, mengusik sepanjang malam dan membuatku tak bisa memejamkan mata. Seberapa pun keras aku mencoba untuk menghalaunya pergi dari kepalaku, tetap tak bisa. Pengandaian terburuk itu masih bersikukuh di sana dan mengacaukan semuanya. Harapan masa depan yang ingin kubangun bersama Jathayu, mungkin harus kubongkar satu per satu sebelum semuanya hancur berkeping-keping.


Namun, benarkah Jathayu orang seperti itu?


Aku tidak ingin memercayai jika Jathayu adalah seorang pembohong, tapi apa yang kulihat semalam adalah bagian kecil dari kebohongan itu. Tidak menutup kemungkinan jika ia menyimpan kebohongan yang lebih besar dari itu, bukan? Apakah aku siap untuk terluka kembali?


Suara ketukan pintu lamat-lamat mengusik indra pendengaranku. Aku tak ingin membuka mata meski tidur pun tidak bisa kulakukan. Sesungguhnya aku tidak ingin menghadapi kenyataan pahit setelah semuanya tampak mulai berangsur membaik. Aku terlalu takut dengan segala kemungkinan buruk yang akan menimpaku. Aku belum siap untuk jatuh dan terluka lagi.


"Kamu masih tidur? Apa kamu sakit?"


Itu suara Jathayu, batinku. Samar-samar tadi aku mendengar suara pintu didorong dari luar kemudian disusul langkah kaki pelan menghampiri tempat tidurku. Lalu apa ini?


Aku menahan diri untuk tetap memejamkan kedua mataku manakala keningku disentuh oleh laki-laki itu. Ia selalu melakukan hal-hal tidak terduga saat aku sedang ingin mengabaikannya.


"Nona."


Apa ia tahu kalau aku pura-pura tidur karena tak ingin bertemu dengannya?


"Ada apa?" Akhirnya aku memutuskan untuk membuka mata karena tidak tahan lagi. "Apa sudah pagi?" tanyaku seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Laki-laki itu berdiri di samping tempat tidur dan mataku tak bisa mengabaikan penampakan sosok tampan itu.


Pagi ini Jathayu mengenakan sehelai kemeja putih dengan perpaduan celana katun hitam. Ia tampak rapi dan meski ia tampak menawan dalam balutan apapun, tetap saja timbul pertanyaan dalam benakku. Apa yang akan ia lakukan dengan pakaian serapi itu? Apa ia akan pergi ke suatu tempat?


"Ya, kamu terlambat bangun. Apa tidurmu nyenyak semalam?"


Jangan tanyakan itu padaku, batinku sambil membuang tatapan ke arah lain.


"Apa kamu akan pergi ke suatu tempat?" tanyaku seraya mengangkat kepala dari atas bantal lalu menyandarkan punggung pada tepi tempat tidur.


"Ya. Nyonya menyuruhku untuk mengantarnya menemui pemilik tanah. Hari ini transaksinya. Kamu juga harus ikut," beritahunya dengan sikap santai. Kalau dulu ia bersikap kaku saat berdiri di sana, tapi sekarang sedikit berbeda. Apakah ini karena ia sudah mendapatkan kepercayaan dari mama sepenuhnya sehingga sikapnya tak sekaku sebelumnya?


"Aku tidak akan ikut," ucapku.


"Kenapa? Bukankah tanah itu nantinya atas namamu?"


"Atas namaku atau mama sama saja," tandasku bermaksud ingin berjaga-jaga. Dalam sinetron atau drama, ada banyak pelajaran yang bisa kupetik. Jadi, aku akan mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Akan jauh lebih aman jika aset kami atas nama mama. Meski sampai detik ini aku masih tidak yakin jika Jathayu adalah orang seperti itu, akan tetapi bersikap waspada sangat perlu. "Bilang pada mama aku tidak akan ikut."


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu." Laki-laki itu akan membalik tubuh, tapi urung. "Jangan tidur lagi, Nona. Bik Inah sudah membuatkan sarapan untukmu. Jadi cepat turun dan makan sarapanmu," ucapnya seraya mengusap kepalaku perlahan.


"Aku akan menelepon jika sudah selesai," ucapnya sebelum menutup pintu kamar. Ia tampak sedang berusaha ingin memperbaiki kesalahannya kemarin.


Seharusnya ia tak pernah mematikan ponselnya kemarin, sesalku. Andai saja Jathayu tidak mematikan ponselnya, pasti pikiranku tidak akan berkembang begini jauhnya. Aku tidak akan berpikir jika ia sedang menipuku. Namun, semesta telah menunjukkan padaku sedikit kebohongan yang ia lakukan. Haruskah aku masih memercayainya setelah dusta kecil itu meluncur dari bibir Jathayu?


Dari balik jendela kaca, aku menatap mobil mama meluncur keluar dari garasi. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin kuajukan pada laki-laki itu, tapi tak bisa kulontarkan di hadapannya. Sebab aku takut terluka jika pada akhirnya aku tahu kenyataan yang sebenarnya. Aku takut kehilangan dirinya. Aku takut Jathayu yang kusukai bukan seperti yang kubayangkan selama ini.


"Apa Nona sakit? Jathayu menyuruhku agar membawakan sarapanmu ke kamar."


Bik Inah muncul tiba-tiba bagai angin yang datang berembus tanpa permisi. Wanita itu seperti tak berpijak di atas lantai. Bahkan suara langkah kakinya tak terdengar indra pendengaranku. Atau aku saja yang terlalu fokus pada lamunan? Akan tetapi, ia telah berhasil membuatku kaget.


"Aku baik-baik saja," ucapku sambil membereskan rembesan air mata yang mengacaukan wajahku tanpa kusadari. Aku membalik tubuh dan mendapati wanita itu telah meletakkan nampan sarapanku di atas meja.


"Kalau begitu Jathayu pasti sudah membohongiku. Dia bilang kamu sedang tidak sehat, tapi nyatanya kamu baik-baik saja," ucap Bik Inah sambil berkacak pinggang dan menatapku dengan tatapan kesal seolah-olah aku yang sudah berbohong padanya.


"Apa aku tampak sedang tidak sehat?"


"Tidak juga." Bik Inah menggeleng ringan. Tatapannya bergerak dari atas hingga bawah tubuhku.


"Apa Bik Inah merasa ada sesuatu yang aneh dari sikap Jathayu akhir-akhir ini?" Tak perlu berbasa basi untuk mengorek informasi dari wanita itu karena ia sudah menganggapku seperti anaknya sendiri.


Wanita itu tertegun dan tampak sedang berpikir. Mungkin aneh baginya, tiba-tiba aku mengajukan pertanyaan seperti itu padanya.


"Aneh bagaimana?" Ia malah bertanya setelah selesai berpikir. "Dia masih sama seperti saat pertama kali datang ke sini."


Tampaknya aku tidak akan mendapatkan informasi apa-apa dari wanita itu, batinku seraya melangkah mendekat ke arah tempat tidur. Aku tidak akan bertanya apa-apa lagi padanya.


"Memangnya ada apa? Kalian bertengkar?" Giliran wanita itu yang ingin mengorek keterangan dari bibirku.


"Tidak," jawabku setelah menjatuhkan pantat di atas tempat tidur.


Bik Inah mengerutkan keningnya selama beberapa saar sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi.


"Makan sarapanmu mumpung masih panas. Dan kalau sudah selesai bawa nampannya turun. Kamu sedang sehat, kan?" Wanita itu menatapku dengan tatapan angker. "Aku lelah naik turun tangga."


"Ya, baiklah," jawabku sewot. Itulah kenapa peran seseorang seperti Gina sangat diperlukan di rumah ini. Tapi sayangnya gadis itu tidak akan kembali lagi ke rumah ini.


***