WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#29



"Kenalkan, ini Talisa. Perancang busana yang kuceritakan tadi. Dia memang belum terkenal seperti yang lain, tapi aku sangat menyukai hasil rancangannya."


Seandainya wanita yang saat ini diperkenalkan Nyonya Penny padaku adalah orang lain, aku pasti akan merasa sangat gembira. Meskipun aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menyelenggarakan pagelaran busana seperti yang kuimpikan, bagiku bukan masalah. Setidaknya ada satu orang lagi yang mengetahui profesiku sebagai seorang perancang busana terlepas ia tertarik untuk menjadi langgananku atau tidak. Namun, kenapa harus wanita itu yang diperkenalkan Nyonya Penny padaku?


"Oh... sepertinya wajahmu tidak asing," ucap wanita itu setengah menyindir. Ia telah memutuskan untuk berpura-pura tak mengenalku. Dari raut wajahnya aku bisa menangkap kebencian dan rasa muak terhadapku. Sementara laki-laki yang sedang berdiri di sebelahnya terlihat tegang dan seolah tak mampu berbuat sesuatu. Sungguh, Bram yang kukenal bukan seperti itu. "Apa kita pernah bertemu di suatu tempat?"


Bagaimana aku harus menjawab wanita itu?


"Benarkah? Apa kamu sudah pernah bertemu dengan Nyonya Andhara, Talisa?" Nyonya Penny menatapku dengan pandangan tak percaya.


"Saya tidak yakin, Nyonya," gagapku. Rasa sesal datang bertubi-tubi menyerang dadaku. Seharusnya aku meninggalkan tempat ini sejak tadi.


"Mungkin aku yang salah lihat." Istri Bram menyahut cepat. Seolah ingin menyalahkan diri sendiri, tapi aku tahu ia diam-diam ingin menyerangku. "Wanita yang pernah kulihat di mal waktu itu benar-benar mirip denganmu."


"Oh ya? Mungkin itu benar Talisa. Tidak banyak orang yang mirip dia," sambung Nyonya Penny. Wanita tidak tahu apa-apa itu terus memperpanjang obrolan.


"Waktu itu aku melihat wanita yang mirip denganmu berjalan dengan seorang laki-laki yang sudah berumur. Mungkin dia sepantaran dengan suamiku," Wanita itu melirik ke arah Bram dengan sengaja. "dan dia sangat mirip denganmu," lanjutnya.


Aku tertohok. Seorang perusak rumah tangga orang lain tak ubahnya seorang pecundang. Dan pecundang itu adalah aku.


"Tidak mungkin itu Talisa. Wanita yang kamu lihat pasti orang lain." Nyonya Penny angkat bicara seraya mengibas. Wanita itu ingin melindungiku dari segenap tuduhan yang dilontarkan istri Bram padaku. Namun, sia-sia. Aku, Bram dan istrinya lebih tahu dari siapapun.


"Benarkah? Tapi kalian sangat mirip," ucap Nyonya Andhara dalam kepura-puraan. Ia terlalu pandai bermain peran.


Nyonya Penny melepaskan tawa renyah.


"Talisa sudah punya pacar, Nyonya. Aku sudah pernah melihatnya. Dia masih muda dan tampan. Mereka adalah pasangan yang serasi. Aku bisa melihat kalau laki-laki itu sangat mencintai Talisa," oceh Nyonya Penny kemudian. Laki-laki yang ia maksud pastilah Jathayu. Dan yang diceritakannya sekarang adalah kesalahpahaman yang selalu ia yakini kebenarannya.


"Benarkah?" Nyonya Andhara menatapku dengan pandangan jijik. Ia pasti berpikir kalau selain berhubungan dengan Bram, aku juga mengencani orang lain.


Aku mencuri tatap diam-diam ke wajah Bram. Apa reaksinya saat mendengar perkataan Nyonya Penny tentangku?


Laki-laki itu terlihat sedang menatapku. Sepasang matanya seolah ingin mempertanyakan kebenaran ucapan Nyonya Penny. Tapi apa pentingnya pernyataanku tentang kebenaran semua itu? Bahkan Bram tak pernah menghubungiku belakangan ini. Seakan-akan ia ingin mengakhiri hubungan kami secara sepihak dan tanpa pembicaraan sama sekali. Apa itu adil untukku? Paling tidak, ia bisa mengatakan sesuatu dan mengungkapkan alasan kenapa kami mesti mengakhiri hubungan dan bukan dengan cara seperti ini.


"Tentu saja. Aku mengundang mereka berdua, tapi sepertinya laki-laki itu tidak bisa datang," sahut Nyonya Penny bersemangat.


Seandainya Jathayu ada di sini, akan jauh lebih baik untukku. Kenapa aku malah menyuruhnya agar tetap tinggal di mobil tadi?


"Oh, maaf, aku harus pergi sebentar." Tiba-tiba suami Nyonya Penny melambaikan tangan dari kejauhan. "Kalian nikmati saja pestanya," ucapnya sebelum pergi.


"Apa kalian tidak ingin saling menyapa?" Istri Bram berhasil membuatku urung untuk berpamitan. Ia seperti ingin menahanku lebih lama agar bisa mengolok-olokku dan Bram. Lalu Bram, kenapa laki-laki itu hanya diam di tempatnya berdiri tanpa berusaha sedikitpun untuk mencegah istrinya? "Bukannya kalian saling merindukan?"


"Ma, kumohon... "


"Kenapa? Apa kamu malu mengakui hubungan kalian?" Wanita itu memalingkan wajah ke arah Bram. Dendam, kebencian, dan rasa muak terlihat bertumpuk di wajahnya. Jadi, kemesraan yang beberapa menit lalu kulihat tak lebih dari sebuah sandiwara belaka.


Bram bungkam. Laki-laki itu tak ubahnya sepertiku. Ia juga seorang pecundang.


"Kalau kamu ingin menikahi wanita itu, silakan. Aku tidak akan melarang kalian berdua," ucap Nyonya Andhara pelan. Namun, aku tahu kalimatnya sarat dengan emosi dan ancaman. Bagaimana jika ada yang mendengar perkataannya? "Kenapa diam? Apa kamu takut jatuh miskin setelah bercerai dariku?" Bram membisu sekian lama dan wanita itu kembali menyambung kalimatnya.


Aku tahu. Pada akhirnya aku bisa membenarkan ucapan mama dengan penuh kesadaran. Aku hanya mainan sementara Bram.


"Nona Talisa... " Nyonya Andhara berpaling ke arahku. "sekarang kamu tahu siapa Bram, kan? Laki-laki itu bukan apa-apa tanpaku. Dia tidak bisa hidup tanpa uang dan kemewahan. Menggelikan sekali... Orang yang kamu cintai lebih memilih harta ketimbang dirimu," ejeknya dengan senyum pongah terselip di bibir.


Lalu di mana harga diriku sekarang? Ia sudah lenyap tak bersisa. Tubuhku seperti ingin ambruk, tapi aku masih saja berusaha untuk berdiri dengan kekuatan seadanya. Dadaku sesak, seolah-olah baru saja tertimpa sebuah batu besar. Apakah aku bisa melangkahkan kedua kakiku pergi dari tempat ini dengan kepala tegak? Tanpa air mata?


"Talisa!"


Suara itu mengguncang gendang telingaku di antara riuhnya pesta dan alunan musik yang terus mengiringi suasana. Memaksa kepalaku menoleh ke arah yang kuduga dari sana sumber suara itu berasal.


Jathayu?


"Kamu di sini? Aku mencarimu ke mana-mana."


Jathayu bergerak menghampiriku dengan setengah berlari dan setelah dekat laki-laki itu mendadak menarik tubuhku ke dalam pelukannya.


"Kamu membuatku cemas," ucap laki-laki itu usai melepaskan tubuhku. Ia menatapku dengan penuh dramatis. "Ayo pergi."


Aku tidak tahu apa yang menghuni pikiran Jathayu saat ini. Kenapa tiba-tiba ia muncul di tengah pesta padahal aku sudah menyuruhnya untuk tetap tinggal di dalam mobil? Dan kenapa ia melakukan ini padaku?


Laki-laki itu menarik tanganku dengan paksa meninggalkan tempat pesta. Semestinya aku merasa senang karena ia telah menyelamatkan harga diriku di depan wanita itu, tapi kenapa hatiku merasa sangat sakit?


Berlari saja, Talisa. Yang kamu perlukan saat ini adalah pergi sejauh-jauhnya dari wanita itu, batinku.


***