
"Perhatian kepada seluruh tamu... "
Suara dari pengeras suara yang menggantikan alunan musik berhasil menahan pergerakan kedua kakiku yang hendak melangkah meninggalkan tempat pesta. Acara puncak akan dimulai sebentar lagi.
Apakah aku tetap akan pergi? batinku didera perasaan bimbang. Pandanganku beredar ragu ke segenap penjuru dan dalam waktu singkat, tubuhku seolah terjebak di tengah-tengah pesta. Di samping kiri, kanan, dan depan beberapa tamu undangan tiba-tiba bergerombol seperti ingin mengunci tempatku berdiri. Mereka seakan ingin membuatku tak bisa pergi ke mana-mana.
Aku terjebak dalam situasi yang sama sekali tidak menguntungkan. Konsep pesta kebun yang direncanakan Nyonya Penny dan suaminya tampak sempurna, tapi sangat buruk di mataku. Bagiku ini tak lebih dari sebuah jebakan.
Acara puncak yang menjadi perhatian segenap tamu undangan, sama sekali tak menarik perhatianku. Saat suami Nyonya Penny memberikan sambutan pendek dan meniup beberapa buah lilin di atas sebuah kue ulang tahun tingkat tiga yang luar biasa indah dan membuat siapapun juga enggan untuk merusaknya, sepasang mataku justru mengarah ke tempat lain. Di antara kerumunan tamu undangan, tatapanku menemukan bayangan Bram dan istrinya di salah satu titik agak jauh dari tempatku berdiri. Mereka tak lagi saling menggandeng, hanya berdiri bersebelahan seraya menatap ke arah pusat perhatian pesta. Benarkah kemesraan yang sempat mereka pamerkan tadi hanyalah sebuah sandiwara?
Apakah ketika bersamaku Bram merasa bahagia?
Tepat di saat pertanyaan itu melintas di dalam benakku, tiba-tiba Bram menoleh ke arahku. Seperti ada sinyal yang terkirim tanpa sengaja kepadanya. Dengan gerakan spontan, aku segera menarik tubuhku dan bersembunyi di balik punggung seseorang, berharap laki-laki itu belum sempat menemukan wajahku di antara kerumunan orang-orang asing ini.
"Talisa?"
Tepukan kecil yang mendarat pelan di pundakku membuatku nyaris memekik. Lamunanku memudar. Dan ketika aku tersadar, acara puncak telah usai. Kue ulang tahun tingkat tiga di atas meja berbentuk bulat di depan sana telah terpotong. Ornamen bunga mawar dan rerumputan yang terbuat dari krim kocok di atas kue telah rusak, tak berbentuk lagi. Suami Nyonya Penny tampak berbincang dengan beberapa orang laki-laki sebayanya di sudut ruangan.
Nyonya Penny?
Aku tak bisa menyembunyikan rasa gugup dan malu dari wajahku dari wanita itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa tidak bergabung dengan yang lain?" tanya Nyonya Penny. Rasa iba tampak jelas tergambar di wajahnya. Menemukan seseorang sepertiku yang berdiri sendirian di tengah pesta pasti membuatnya sedikit khawatir.
"Oh... " Aku sungguh-sungguh tak bisa mengatakan padanya jika aku sedang bersembunyi dari seseorang.
"Oh ya," Nyonya Penny membuka suara kembali di saat aku belum menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaannya. "aku mengenal seseorang yang bisa mensponsori kamu untuk menyelenggarakan sebuah pagelaran busana. Apa kamu keberatan kukenalkan padanya?" lanjut wanita itu seketika membuatku tercengang.
"Pagelaran busana?" Kuharap aku tidak salah dengar tadi.
"Ya. Kupikir semua perancang busana memimpikan sebuah pagelaran busana... "
Tentu, batinku membenarkan. Aku juga bagian dari kaum 'perancang busana' itu. Namun, aku merasa masih jauh dari kata layak untuk menyelenggarakan sebuah pagelaran busana. Karyaku tak sebagus perancang busana lain.
"Tapi Nyonya... " Aku menelan saliva. Rasanya aku sama sekali tak memiliki kepercayaan diri untuk melakukannya. "saya belum pantas untuk menyelenggarakan pagelaran busana. Saya masih perancang amatir... "
Perkataanku mengundang decak tawa Nyonya Penny. Wanita itu mengibas persis di depan wajahku.
Aku tertunduk mendengar ucapan wanita itu. Sekalipun aku orang yang angkuh dan keras kepala, tapi aku menyimpan begitu banyak kelemahan dalam diriku yang tak bisa kutunjukkan di depan orang lain. Terutama mama.
"Maafkan saya, Nyonya. Saya belum siap untuk itu... " Untuk kesempatan sebagus ini, aku belum berani untuk mengambilnya. Aku tahu batas kemampuanku.
"Kenapa, Talisa?" Raut wajah Nyonya Penny berubah kecewa. "Ini adalah sebuah peluang besar buat kamu. Aku tahu kamu berbakat."
"Mungkin lain kali, Nyonya."
"Baiklah," ucap Nyonya Penny setelah terdiam selama beberapa detik. Wanita itu mengambil napas dalam-dalam. "Bagaimana kalau aku memperkenalkan kalian berdua? Aku janji tidak akan menyinggung soal pagelaran busana atau semacamnya. Apa kamu bersedia?"
Wanita itu tidak gampang menyerah rupanya. Ia terlalu bersemangat untuk mendukung karirku.
"Ayolah, Talisa. Kalian hanya perlu saling menyapa. Tidak susah, kan?" Nyonya Penny menyentuh punggung tanganku.
Aku mengulum senyum hambar. Bukankah aku tadi sudah bertekad akan segera pergi dari tempat ini demi menghindari Bram dan istrinya? Namun siapa sangka, Nyonya Penny tiba-tiba muncul dan memaksaku untuk berkenalan dengan seseorang. Rasanya tidak benar jika aku bertahan di sini lebih lama lagi. Para tamu undangan telah berbaur dan sebentar lagi Bram pasti akan menemukanku. Aku dan dia pasti akan canggung bertemu di tengah keramaian seperti ini. Ada batasan yang harus aku dan ia jaga jika berada di tempat umum. Terlebih lagi ada istrinya.
"Bagaimana, Talisa?" Suara Nyonya Penny membangunkanku dari lamunan rumit. "Ini tidak akan lama. Hanya beberapa menit saja." Wanita itu tersenyum merayu dan tiba-tiba saja menarik lenganku dengan paksa.
"Tapi, Nyonya... "
Sebenarnya aku tidak ingin mengambil risiko. Meski hanya beberapa menit tinggal di tempat ini, tetap saja akan membuka peluang bagi Bram maupun istrinya untuk melihat kehadiranku. Dan aku tidak mau terlihat oleh keduanya. Mungkin juga Bram sudah melihatku tadi.
"Tak apa, Talisa. Dia orang yang baik. Dia juga sangat kaya," ucap Nyonya Penny mencoba meyakinkan. Suaranya dibuat agak pelan meski suasana di tempat itu sedikit berisik. Alunan musik terdengar kembali beberapa saat setelah acara pemotongan kue selesai. Riuh suara para tamu undangan juga memenuhi telinga.
Aku memang tak punya pilihan kecuali pasrah pada keinginan Nyonya Penny. Entah siapapun itu yang ingin ia kenalkan padaku, aku yakin orang itu seperti yang Nyonya Penny katakan padaku. Baik dan kaya. Perpaduan yang sempurna. Dan siapa tahu ada sebuah kejutan manis yang menantiku setelah kami bertemu nanti. Meski aku tak berharap sepopuler Sebastian Gunawan atau keponakannya, tapi menyelenggarakan pagelaran busana adalah bagian dari mimpiku.
"Nyonya Andhara, ada seseorang yang ingin kukenalkan padamu... "
Aku terkesiap ketika melihat seorang wanita yang dipanggil Nyonya Penny menoleh ke arah kami. Seorang laki-laki yang berdiri di samping wanita itu ikut memalingkan wajahnya.
Tiba-tiba saja aku ingin berlari sejauh-jauhnya, tapi kedua kakiku tak bisa kugerakkan dari atas tanah yang dilapisi rumput tipis. Lututku lemas. Seluruh energi dalam tubuhku seperti lenyap begitu saja.
Kenapa harus wanita itu?
***