WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#52



"Astaga! Apa-apaan ini?!"


Aku mendengus mendengar decakan yang keluar dari bibir Bik Inah pagi ini. Wanita itu membuka pintu kamarku dan seketika kaget melihat barang-barangku telah berserakan di lantai. Bahkan beberapa benda yang terbuat dari kaca pecah berantakan.


"Apa semalam kamu mengamuk? Kalian bertengkar lagi?" cecar wanita itu dengan menghadap lurus ke arahku. Namun, ia tak bisa membuatku mengalihkan perhatian dari layar ponsel. Sejak bangun tidur aku terus memelototi sebuah permainan gelembung warna warni dan aku telah berhasil melewati banyak level. "Nona, kamu bukan sudah anak-anak lagi. Jangan bersikap kekanakan seperti itu. Bersikaplah dewasa. Kamu mendengarku, kan?"


"Jangan menggangguku," gumamku. Aku malas jika harus meladeni wanita itu. Ia lebih galak dari mama. Seandainya aku bisa memberhentikannya, sudah pasti aku akan melakukannya dari dulu.


"Memangnya apa lagi sekarang? Apa yang kalian perdebatkan sampai kamu mengamuk seperti ini, hah?" desak wanita itu sambil berkacak pinggang di samping tempat tidurku.


"Bukan urusan Bik Inah. Bereskan saja kamarku," ucapku tanpa memedulikan keingintahuannya.


Wanita itu mengembuskan napas kasar. Jengah. Ia lalu mulai membereskan satu per satu barang-barangku yang berserakan di lantai dan meletakkan kembali ke tempat semula.


"Sampai kapan kamu akan bersikap kekanakan seperti ini? Apa kamu tidak kasihan pada mamamu? Dia pasti sangat sedih mempunyai putri sepertimu." Bik Inah memungut peralatan riasku dari atas lantai dengan tak henti mengomel. Ia berhasil merusak konsentrasiku memecahkan gelembung-gelembung beraneka warna. Padahal permainan ini bisa sedikit mengalihkan perhatianku dari rasa gelisah yang membuat tidurku tak nyenyak semalam. Dan gara-gara wanita itu aku merasa sangat terganggu.


"Apa Bik Inah tidak bisa diam?" hardikku kesal.


"Tidak." Tak kusangka wanita itu dengan cepat menyahut. "Gara-gara kamu, aku harus repot-repot membereskan kekacauan ini. Kalau saja ada Jathayu... "


"Jangan menyebut namanya di depanku," timpalku sambil melempar ponselku ke atas tempat tidur. Aku jauh lebih suka Gina kembali ke rumah ini daripada laki-laki itu, tapi sepertinya ia tidak akan pernah kembali. Firasatku mengatakan seperti itu.


"Hei, kenapa tiba-tiba kamu marah seperti itu? Aneh sekali... "


Aku melenggang dengan tergesa ke kamar mandi demi menghindari wanita galak itu. Lebih baik menjauh darinya atau tensi darahku akan meningkat tajam setelah mendengar omelan-omelannya.


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian serta berdandan sekadarnya, aku pergi meninggalkan rumah. Sebenarnya aku tak punya tujuan, tapi aku juga tak betah berada di rumah. Aku hanya berjalan menuruti ke mana kakiku ingin melangkah. Tak peduli sinar matahari yang bersinar terik menerpa tubuhku dan membuat peluhku berhamburan keluar dari pori-pori kulit. Mungkin musim hujan akan segera berakhir dalam waktu dekat.


Tanpa teras aku berjalan cukup jauh meninggalkan rumah. Kakiku mulai terasa letih. Dan ketika tersadar, aku telah berdiri di depan sebuah sekolah Taman Kanak-kanak. Suara riuh jelas terdengar dari balik pagar yang terbuat dari besi dan berbalut cat hitam.


Agh.


Seorang anak tiba-tiba terjatuh ketika sedang bermain lompat tali. Tubuh kecilnya terjerembab ke atas tanah dan dalam sekejap ia meledakkan tangis yang cukup keras. Dan seorang laki-laki berusia sekitar 30-an tampak berlari dengan tergesa ke arah anak kecil itu.


Anak kecil itu terluka. Lututnya berdarah. Pantas saja jika tangisnya terdengar sekeras itu. Namun, ketika laki-laki itu mengangkat tubuh putri kecilnya, ia langsung terdiam. Wajahnya masih bersimbah air mata, tapi tangisnya benar-benar telah reda. Dan sang ayah segera memberi pertolongan pertama dengan meniup-niup luka anak kecil itu sembari menenangkannya.


Pikiranku seketika mengembara melintasi dimensi waktu ke puluhan tahun silam. Aku juga pernah berada di posisi anak kecil itu. Saat itu aku juga terjatuh dan lututku terluka. Bahkan lukaku lebih parah dari itu. Namun, betapa pun kencangnya tangisanku, tak ada sosok ayah yang datang untuk mengangkat tubuhku. Tidak ada yang berusaha menenangkanku dengan cara selembut itu. Bik Inah memang datang menolong, tapi aku sama sekali tidak terkesan dengan pertolongannya. Tanpa disadarinya, wanita itu membuatku tumbuh dengan jiwa pemberontak dan keras kepala seperti dirinya. Apa ia tidak pernah sadar dengan apa yang ia lakukan padaku? Aku bahkan lebih mirip dirinya ketimbang mama.


Ketika aku mengerjap, air bening merembes pelan dari pelupuk mataku. Aku tidak harus menangisi apapun sekarang, tapi kenapa aku menangis? Aku bahkan tak berharap bertemu dengan ayah kandungku. Masa-masa itu telah terlewati dengan penuh kesepian. Aku bukan lagi anak kecil yang merasa iri pada teman-temanku karena memiliki ayah sementara aku tidak. Aku sudah melupakan semua keinginan itu, tapi anak kecil di balik pagar itu telah mengoyak hatiku.


Aku menghela napas dalam-dalam seraya menatap langit beberapa saat. Sinar matahari cukup menyilaukan mata, tapi aku butuh untuk mengeringkan air mataku. Aku juga perlu membendungnya agar tak lagi merembes keluar seperti tadi.


Setelah hatiku terasa membaik, aku kembali melanjutkan langkah. Kurasa aku sudah menentukan tujuanku sekarang. Tapi, kupikir akan jauh lebih efektif jika aku mencari tumpangan. Tempat itu lumayan jauh dan aku bisa kelelahan kalau harus berjalan kaki ke sana.


Aku memanggil taksi yang kebetulan lewat. Suasana di dalam kendaraan itu terasa sangat nyaman, jauh berbeda dengan di luar yang panas dan menyengat.


"Mau ke mana, Nona?" tanya supir taksi sesaat setelah aku masuk ke dalam kendaraannya.


"Retro cafe," jawabku. Aku juga menyebutkan alamatnya, barangkali sang supir tak begitu familiar dengan tempat itu. Karena aku menduga cafe itu belum lama buka.


"Baik."


Laki-laki itu, terus terang ia masih mengusik pikiranku sampai sekarang. Entah karena aku tertarik padanya atau karena hal lain, kurasa aku harus memastikannya. Namun, yang pasti ia memiliki daya tarik yang tak bisa kudefinisikan dengan kalimat.


Kupikir terlalu cepat untuk menyimpulkan jika ini adalah jatuh cinta. Aku bukan tipe orang yang segampang itu jatuh cinta. Aku selalu butuh waktu untuk bisa menyukai seseorang. Pada Jathayu juga. Bahkan aku terlambat menyadari perasaanku sendiri saat itu. Tapi kurasa sekarang aku menyesal telah menyukainya. Mama sudah menjadikannya umpan agar aku berpaling dari Bram. Dan mirisnya aku telah terjebak dalam perangkap mama. Aku memang bodoh.


***