WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#61



"Laki-laki itu ingin bertemu denganmu, Talisa," beritahu mama setelah kami berdua beralih ke dalam kamarnya. Kami sama-sama duduk di tepi tempat tidur, tapi hanya mama yang menatapku. Pandanganku malah jatuh ke atas lantai.


Sejak tahu bahwa laki-laki itu adalah ayah kandungku, aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Cepat atau lambat laki-laki itu pasti akan memintaku untuk bertemu dengannya.


"Aku tidak ingin bertemu dengannya," tandasku. Tanpa sadar tangan kananku meremas permukaan seprai bermotif bunga-bunga kepunyaan mama.


Mama terdiam dan hanya menatapku lekat-lekat. Wanita itu pasti tahu bagaimana perasaanku, bahkan perasaannya sendiri lebih hancur dariku. Namun, entah kenapa aku malah melihatnya jauh lebih siap menghadapi semua ini. Kupikir mama akan marah dan menyembunyikan semua fakta tentang ayah kandungku. Nyatanya ia terang-terangan mengungkapkan kebenaran.


"Apa mama ingin aku menemuinya?" tanyaku sejurus kemudian. Mama tampak tak ingin berbicara banyak kali ini. Setidaknya aku harus tahu apa pendapat wanita itu.


"Mama tidak bisa melarang atau memaksamu untuk menemuinya. Semua keputusan ada di tanganmu, Talisa." Mama berucap lagi. Ekspresinya terkesan tidak rela, sangat bertentangan dengan ucapannya.


Dulu saat aku sangat butuh sosok seorang ayah, laki-laki itu tidak pernah datang meski hanya sekali untuk melihatku. Aku merasa marah dan cemburu ketika melihat teman-temanku dijemput ayah kandung mereka. Namun, di saat aku telah tumbuh menjadi wanita dewasa dan tak butuh figur ayah dalam hidupku, laki-laki itu tiba-tiba muncul dan mengatakan ingin bertemu denganku. Ke mana saja ia selama 23 tahun ini? Apa aku sama sekali tidak terlintas dalam pikirannya?


"Jangan terlalu menyalahkan papamu."


Aku tersentak mendengar kalimat yang keluar dari bibir mama. Seketika lamunanku goyah. Aku beralih menatapnya, tapi justru mama telah membuang wajahnya ke sudut lain. Wanita itu seperti tahu apa yang menghuni benakku.


"Mungkin mama juga turut berperan dalam perpisahan kami. Mama juga bersalah, Talisa," lanjut mama. Kali ini ia mengarahkan pandangannya ke arahku. "Mungkin mama kurang memberinya perhatian sehingga papamu beralih pada wanita lain."


"Tapi tetap saja papa yang bersalah, Ma. Jika dia setia pada kita, mama dan papa tidak akan pernah bercerai. Aku benar, kan?" Aku ingin menyatakan pada wanita itu bahwa aku berdiri di pihaknya. Aku juga turut merasakan imbas dari perceraian itu.


Mama tertegun. Wanita itu terlihat enggan untuk mengungkit kembali masa lalu. Luka yang selama ini ia rawat, mungkin saja kembali berdarah dan membuat perasaannya hancur.


"Semua ini adalah takdir, Talisa." Mama menerawangkan pandangannya ke arah dinding dan bergumam pelan. "Tuhan telah menggariskan agar mama menjalani kehidupan seperti ini, siap atau tidak siap mama harus tetap menjalaninya."


"Apa mama masih membenci papa?" Aku mengajukan pertanyaan itu dengan suara pelan karena takut akan menyinggung perasaan mama.


"Entahlah." Mama tampak tak yakin dengan jawabannya sendiri. "Dua puluh tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, Talisa. Selama kurun waktu itu begitu banyak hal yang terjadi dan perlahan mengaburkan kenangan. Rasa sakit dan kecewa juga perlahan memudar seiring berjalannya waktu."


Dari kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir mama, timbul pertanyaan besar dalam hatiku.


"Apa mama sudah memaafkan papa?" tanyaku diliputi rasa penasaran yang teramat sangat.


"Ya," jawabnya singkat. Namun, wanita itu perlu waktu beberapa lama sebelum melontarkan kata pendek itu. Jika ia memang belum bisa memaafkan papa, kenapa mesti membohongi diri sendiri?


"Jika papa minta untuk kembali, apa mama bersedia menerimanya?" tanyaku lancang. Entah apa yang merasuki pikiranku sehingga aku berani mengajukan pertanyaan itu. Risikonya adalah mama marah. Wanita itu bisa terluka karena pertanyaanku, tapi aku tak bisa membiarkan rasa penasaran menyiksa batinku.


Kupikir tidak akan sulit untuk jatuh cinta kembali pada orang yang sama meski orang itu pernah menorehkan luka. Rasa cinta yang kuat selalu bisa memaafkan dan menerima.


"Jika mama tidak ingin aku menemuinya, aku tidak akan menemuinya," putusku setelah menimbang beberapa saat.


"Tapi, bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungmu, Talisa. Kamu adalah darah dagingnya. Tidak ada satupun yang bisa memutuskan ikatan antara ayah dan anak. Mama tidak bisa menghalangi kalian untuk saling mengenal satu sama lain. Bukankah saat kecil kamu sangat merindukannya?"


Aku menyunggingkan senyum getir. Kenapa sekarang mama terdengar ingin aku menemui laki-laki itu sementara ia masih menyimpan kebencian padanya? Bukankah dulu mama membuang semua barang peninggalan papa tanpa terkecuali? Bahkan selembar foto pun tidak.


"Aku bukan anak kecil lagi, Ma. Aku tidak membutuhkannya."


"Apa kamu tidak ingin mengenalnya?"


"Kenapa? Mama ingin aku mengenalnya?" Aku balas bertanya. "Dulu mama membuang semua barang-barang milik papa sampai tidak bersisa. Mama ingin aku tidak tahu apapun tentang papa, bahkan mama tidak menyisakan selembar foto pun. Tapi kenapa sekarang mama bersikap seolah-olah ingin aku menemui laki-laki itu?" Tanpa sadar aku meninggikan nada suaraku.


"Mama hanya ingin menebus kesalahan mama, Lisa."


Entah benar atau tidak, aku mendengar suara mama bergetar, seperti sedang menyembunyikan tangis.


"Mama tidak ingin sepanjang hidup mama dihantui perasaan bersalah karena membuatmu kehilangan kesempatan untuk mengenal ayah kandungmu, Talisa. Apa kamu tahu, mama sangat menyesal telah membuang semua benda itu?" Nada suara mama terdengar penuh emosional.


Benarkah? Batinku terguncang mendengarnya.


"Lalu untuk apa aku mengenalnya?" Aku bangun dari tempat dudukku. Kurasa perbincangan ini semakin lama membuatku merasa tertekan. "Kenapa aku harus mengenalnya? Aku tidak butuh laki-laki itu, Ma. Aku hanya punya mama, Mama dengar itu?"


"Jangan bicara seperti itu, Lisa." Mama ikut-ikutan bangkit dari atas tempat tidur lalu berdiri di sebelah tubuhku. Tangannya menyentuh bahuku perlahan. "Jangan membencinya seperti yang mama lakukan selama ini. Mama tidak mau kamu hidup dalam kebencian. Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri."


"Kenapa hanya mama yang boleh membenci laki-laki itu sementara aku tidak?" protesku seraya menyingkirkan tangan mama dari atas bahuku.


"Karena mama tidak mau kamu menjadi orang jahat seperti mama. Kamu mengerti?"


Aku membeku di tempatku berdiri. Ucapan mama seperti cambuk yang baru saja melayang dengan keras ke permukaan kulitku. Bahkan seorang pencuri tak ingin anaknya menjadi pencuri, bukan? Dan mama tidak ingin aku menjadi pendendam seperti dirinya.


"Tapi mama bukan orang jahat," ucapku sambil meraih kedua tangan mama lalu menggenggamnya dengan erat. Aku juga tidak ingin mama berpikir jika apa yang kulakukan selama ini adalah buah dari perbuatannya. Keburukan-keburukan yang pernah kulakukan selama ini adalah murni karena ulahku sendiri dan bukan kesalahan mama. "Mama tidak pernah mengajariku untuk menjadi orang jahat. Aku saja yang tidak pernah mendengarkan ucapan mama."


Tiba-tiba saja tangisku pecah dan suasana seketika menjadi haru biru saat kami berpelukan dalam tangis.


***