
Aku sudah pernah bilang, satu tamparan tak akan sanggup membunuhku.
"Lagi?" seringaiku seraya menahan rasa sakit dan panas di pipiku akibat tamparan wanita itu.
"Kamu keterlaluan, Lisa," geram mama dengan kedua tangan mengepal. Sepasang matanya memerah, sementara dadanya naik turun menahan amarah. Wanita itu terlihat mengerikan. Aku sudah terbiasa melihatnya marah, tapi kali ini jauh lebih parah dari sebelumnya.
"Apa mama sangat mencintainya?" Aku mengulum senyum getir sembari menelusuri setiap detail ekspresi wanita itu. "Aku memang baru melihatnya sekali. Dan aku tidak tahu kenapa aku tertarik padanya. Asal mama tahu, aku tidak akan rela jika mama menikahi laki-laki itu. Memang, dia jauh lebih tua dariku, tapi aku menyukainya," tandasku meski tahu kalimat-kalimatku akan menusuk perasaan mama. Toh, kami sudah bersitegang sebelum ini. Apa salahnya melanjutkan 'pertempuran' ini?
"Jaga ucapanmu, Talisa!" Wanita itu berteriak. Ia tampak susah payah menahan kepalan tangannya agar tak melayang ke wajahku untuk ke-dua kalinya. "Kamu tidak boleh menyukai laki-laki itu!" Nada suaranya masih di level tinggi.
"Kenapa? Apa karena dia jauh lebih tua dariku? Memang, dia lebih tua dari Bram... "
"Cukup, Talisa!" Agaknya mama sudah habis kesabaran mendengar ocehan tak waras yang keluar dari bibirku.
"Kenapa?" tukasku cepat. "Kenapa aku tidak boleh menyukainya? Lagi pula, yang kudengar dia sudah bercerai dari istrinya... "
"Apa?" Kali ini mama menyela dan sepertinya wanita itu cukup terkejut mendengar informasi penting tentang laki-laki itu. Jika mereka akan menikah, harusnya mama lebih tahu soal itu. Kenapa ekspresi wajahnya tampak berlebihan seperti itu?
"Kenapa terkejut? Mama belum tahu soal itu?" sindirku.
Mama bergeming.
"Jadi, aku boleh menyukainya, kan?" tanyaku demi menyadarkan kediaman wanita itu.
"Tidak!" tegas mama sambil menggeleng kuat-kuat. "Kamu boleh menyukai siapapun, tapi jangan laki-laki itu."
Keningku berkerut. Kali ini mama bersikap aneh. Bahkan ia tak semarah ini saat tahu aku berhubungan dengan Bram.
"Kenapa?" tanyaku cepat. "Apa benar mama ingin menikahinya?"
"Tidak."
"Lalu kenapa?" Aku hampir kehilangan kesabaran dengan wanita itu. Ia terus melarangku untuk menyukai laki-laki itu, tapi enggan untuk menyebutkan alasannya.
"Karena... " Mama berhenti. Seolah ia tak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya. Beban berat seperti mengganjal di tenggorokannya.
"Ma... " Aku sudah terlanjur penasaran dan tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Apa susahnya mengatakan hal yang sebenarnya?
Mama menatapku lekat-lekat. Sepasang matanya tampak berkaca-kaca. Ia terlihat seperti sedang bersusah payah menahan isak tangis.
"Laki-laki itu... adalah ayah kandungmu," gumam mama dengan suara gemetar.
Ayah kandungku?
Pengakuan mama barusan ibarat sebuah batu besar yang tiba-tiba memukul dadaku dengan keras. Membuat dadaku berdetak jauh lebih kencang dari sebelumnya. Jika ini adalah serangan jantung, aku ragu bisa bertahan hidup lebih lama.
Kepalaku ikut berdenyut dan tubuhku nyaris ambruk jika tanganku tak segera menjangkau permukaan dinding. Kedua tanganku lemas. Aku seperti kehilangan seluruh energi yang tersimpan dalam diriku.
"Talisa... kamu baik-baik saja?"
Tidak. Sampai detik ini aku tidak pernah merasa baik-baik saja. Selalu saja ada yang salah dengan hidupku. Bagaimana aku bisa mengatakan baik-baik saja setelah mengetahui bahwa laki-laki yang terus mengusik pikiranku sejak kemarin itu adalah ayah kandungku?
"Aku baik-baik saja," tandasku meski rasa sakit di dadaku belum berkurang sedikitpun. Selama aku tidak jatuh pingsan, aku masih bisa bertahan dan mengatakan 'aku baik-baik saja'.
Mama menggiringku untuk duduk di ruang tengah sejurus kemudian. Rasanya kami perlu membahas lebih dalam lagi tentang laki-laki itu di tempat yang aman. Di sana, aku tidak perlu cemas saat kepalaku berdenyut atau keseimbangan tubuhku bermasalah. Sofa akan menopang tubuhku dan menyamarkan minimnya energi yang kumiliki.
"Kapan kamu bertemu dengannya?" tanya mama beberapa saat setelah kami mengambil tempat duduk dengan nyaman. Namun, senyaman apapun tetap saja tak bisa mengurangi rasa sakit di dalam dadaku.
"Kemarin di cafe," jawabku pelan. Keangkuhanku telah menguap hilang entah ke mana. Aku bahkan telah melupakan kata-kata egois dan konyol yang tadi sempat terlepas tanpa kendali. Aku seperti pecundang yang kalah di medan pertempuran. "Dia adalah pemilik cafe itu," imbuhku.
"Oh." Mama hanya menanggapi pernyataanku dengan sebuah gumaman maklum. Harusnya ia mengatakan sesuatu yang lain tanpa aku harus bertanya padanya.
"Kenapa dia ke sini?" Aku ganti bertanya. Setelah lebih dari 20 tahun, rasanya aneh jika tiba-tiba ayah kandungku muncul tanpa alasan. Pasti ada sesuatu yang membuatnya datang ke rumah kami. Laki-laki itu telah berhasil mengejutkan aku dan mama. Sejujurnya aku syok berat.
Mama malah mencermati wajahku tanpa berkata apapun. Wanita itu menghela napas sejurus kemudian.
"Dia ingin bertemu denganmu," jawab mama setelah terdiam dalam hitungan ke-lima.
Begitukah? batinku seperti baru tersengat listrik. Alasannya terdengar masuk akal.
"Tapi ini sudah lebih dari 20 tahun... "
"Entahlah. Mama juga tidak tahu." Mama membuang tatapan ke sudut lain di ruang tengah. "Mungkin dia merindukanmu."
Aku sama sekali tidak merindukannya.
"Apa dia ingin membawaku pergi?" tanyaku memancing kekhawatiran di wajah mama.
Namun, wanita itu menggeleng pelan.
"Kamu bukan anak kecil yang bisa dia bawa pergi sesuka hatinya," tandas mama.
Mama benar. Aku telah dewasa dan tidak ada satupun yang bisa mengatur hidupku.
"Apa mama merindukannya?" Aku mencoba menelusuri perasaan wanita itu.
Mama mengurai senyum hambar. "Menurutmu?" Wanita itu balas bertanya.
Terus terang aku sama sekali tidak tahu. Aku juga tidak ingin menduga-duga.
"Mama sudah tidak punya hati untuk diberikan pada siapapun," ucap mama setelah aku memutuskan untuk memberikan jawaban hanya melalui gelengan kepala.
Dendam di dalam hati mama belum juga sirna setelah 23 tahun berlalu semenjak papa meninggalkan kami berdua. Entahlah, kenapa wanita itu begitu setia merawat luka di dalam hatinya. Aku juga tak bisa menghakimi keputusannya.
"Aku ke kamar dulu," putusku setelah kami berdua terdiam cukup lama.
Aku bangkit dari atas sofa dan melangkah menaiki tangga ke lantai dua dengan langkah tertatih. Sementara mama masih tertegun di tempat duduknya ketika aku meninggalkan ruang tengah.
Setelah lebih dari 20 tahun, luka di hati mama kembali koyak karena kemunculan laki-laki itu.
***