WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#47



"Apa kamu mau mama panggilkan dokter?" tawar mama usai meraba keningku. Wanita itu mendatangi kamarku pagi ini seolah mendapat firasat dari langit yang mengabarkan jika aku terkena demam. Ucapan Bram kemarin seperti kutukan untukku. Harapannya terkabul. Aku jatuh sakit.


"Tidak perlu. Minum obat flu dan istirahat akan membuatku lebih baik." Kurasa di dunia ini lebih banyak orang yang tidak suka bertemu dengan dokter. Aku pun seperti itu. Apalagi jarum suntik.


"Tapi obat yang diresepkan dokter jauh lebih manjur ketimbang obat flu biasa, Talisa." Mama tampak enggan beranjak dari kamarku dan berusaha untuk membujuk.


"Mama tidak perlu khawatir. Ini hanya flu ringan... "


"Talisa," Mama memotong ucapanku. "mama mohon jangan keras kepala untuk saat ini saja. Kamu sedang sakit... "


"Aku bukan anak kecil lagi, Ma." Aku tak bisa meninggikan suara karena kondisiku yang sama sekali tak bersahabat.


"Mama mohon beri mama kesempatan untuk memperbaiki kekurangan mama di masa lalu. Izinkan mama memberimu sedikit perhatian, ya?" Sepasang mata milik mama tak lepas memandangi wajahku. Sorotnya tampak penuh harap.


"Apa mama punya waktu?" Aku melirik sebentar ke arah pakaian mama. Wanita itu telah rapi dengan setelan kerjanya dan mungkin seharusnya ia telah berangkat sejak tadi.


"Mama akan menyisihkan sedikit untuk kamu," ucap mama.


Sayangnya aku terlalu malas untuk berdebat saat ini. Kepalaku sedikit pusing dan tubuhku sedang terbaring di bawah selimut tebal. Tapi keadaan ini tak membuatku merasa menyesal dengan apa yang sudah kulakukan kemarin. Berjalan kaki sendirian dan membiarkan air hujan mengguyur tubuhku adalah hal konyol yang pernah kulakukan. Hanya saja pertemuan dengan Bram yang paling kusesali. Seharusnya Jathayu yang datang, bukan laki-laki berusia 43 tahun itu.


"Jangan mengorbankan pekerjaan demi aku, Ma. Lagipula ada Bik Inah yang akan mengurusku." Bagiku terasa aneh ketika mama berada di sampingku saat aku jatuh sakit seperti ini. Bik Inah juga tak bisa terus-terusan menjagaku karena harus melakukan pekerjaan rumah. Aku terbiasa sendirian melewati masa-masa buruk seperti ini hingga sembuh.


"Bik Inah sudah sering merawatmu, sedang mama tidak." Wanita itu bersikeras ingin memanggil dokter. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya lalu segera menyalakan benda itu. "Mama akan menelepon Dokter Darwis. Tunggu sebentar." Tanpa menunggu persetujuanku, mama bangkit dari atas tempat tidur lalu berjalan menjauh ketika panggilannya telah tersambung.


Dokter Darwis adalah teman mama dan kami sering meminta bantuan laki-laki itu. Ia adalah dokter kepercayaan mama dan kami sudah bertahun-tahun menjadi langganannya.


Aku tak bisa mencegah keinginan mama untuk memanggil Dokter Darwis. Mungkin mama sedang menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk memperbaiki hubungan kami. Wanita itu tengah membuktikan jika ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Sementara aku, tanpa sadar memberi celah pada mama untuk melakukan semua itu.


"Dia akan sampai setengah jam lagi," beritahu mama seraya memasukkan kembali ponsel di tangannya ke dalam saku. Ia berjalan mendekat lalu kembali duduk di tepi tempat tidur.


"Mama berangkat saja," suruhku. Ia bisa terlambat jika harus menunggu Dokter Darwis datang.


"Terlambat sedikit tidak masalah," tandasnya.


"Jangan memaksakan diri, Ma. Lagipula ada Bik Inah yang akan menjagaku," ucapku tak ingin merepotkan wanita itu. Bagaimanapun juga mama punya tanggung jawab atas pekerjaannya. Dan aku tak mau menjadi bebannya.


"Tapi... "


"Ma," potongku. "Aku akan baik-baik saja. Nanti biar kusuruh Bik Inah menelepon mama untuk mengabarkan keadaanku." Aku berusaha untuk menenangkan wanita itu.


Mama merenung sebentar. "Baiklah. Kalau begitu mama akan berangkat sekarang. Kamu istirahatlah," suruhnya seraya mengusap kepalaku pelan. Ia tersenyum sebelum mengangkat tubuh lalu berjalan keluar dari kamarku.


"Sepertinya kalian sudah berbaikan."


Aku sedikit terkejut mendengar suara Bik Inah yang membuatku harus kembali membuka mata. Tadinya aku hendak beristirahat sembari menunggu Dokter Darwis datang. Namun, wanita itu tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam kamarku beberapa menit setelah mama pergi. Ia membawa sebuah nampan di tangan dan meletakkan benda itu di atas meja rias.


"Apa Bik Inah memberitahu mama kalau aku sakit?" cecarku bermaksud menginterogasi. Pasalnya pagi tadi Bik Inah mendatangi kamarku dan langsung memeriksa keadaanku seolah-olah tahu jika aku akan sakit hari ini setelah terkena air hujan kemarin.


"Kenapa mesti bilang pada mama... "


"Kenapa memangnya?" tukas wanita itu dengan memasang wajah masam. Sikapnya mengingatkanku pada Jathayu. Mereka serupa.


"Aku hanya flu ringan. Istirahat sebentar juga sembuh."


"Flu ringan kalau tidak segera diobati akan menjadi flu berat, mengerti? Lagipula kenapa kemarin hujan-hujanan seperti itu? Memangnya Nona pergi ke mana? Kenapa tidak membawa mobil? Apa di sana tidak ada tempat berteduh?" omelnya.


Aku mencebik. Kenapa ia yang marah-marah sekarang? Tapi untungnya kemarin aku meminta Bram menurunkanku sedikit agak jauh dari rumah. Jadi Bik Inah tidak perlu memergoki aku dan Bram.


"Bibik berisik sekali," sungutku. "Aku mau tidur."


"Makan dulu buburnya," suruh wanita itu mencegahku untuk kembali memejamkan mata.


"Nanti saja," tolakku. Lidahku tidak ingin mengecap sesuatu yang lembek saat ini.


"Tapi Nona harus makan biar nanti bisa minum obat," ucap wanita itu ingin memaksakan kehendaknya.


"Aku cuma flu ringan, Bik," tandasku menegaskan kembali bahwa aku tidak sesakit itu.


"Flu ringan atau berat harus tetap diobati. Jangan keras kepala begitu," ucap wanita itu kasar. Tiba-tiba saja aku merasa bersyukur bahwa Bik Inah bukanlah ibu kandungku. "Mau aku suapi?"


Aku melepaskan tawa mendengar penawaran konyolnya.


"Memangnya aku masih balita?" gumamku. "Aku akan makan sendiri. Bik Inah pergi saja."


"Nona mau mengusirku?" protes wanita itu seraya berkacak pinggang. "Sudah, makan saja biar aku bisa segera membawa nampan itu turun."


Kenapa Bik Inah kembali mengingatkanku pada Jathayu? Kalimat semacam itu jelas-jelas pernah kudengar sebelumnya dari bibir laki-laki itu.


"Baiklah, aku akan makan." Aku menuruti perintah Bik Inah dan tak memperpanjang obrolan tak bermanfaat itu. Ia beralih mengambil tempat duduk di tepi tempat tidur seperti yang mama lakukan beberapa saat lalu.


"Alangkah baiknya kalau Jathayu masih ada di sini."


Wanita itu menggumam pelan seraya menerawangkan pandangan ke arah tembok. Suaranya terdengar tak begitu jelas. Namun, ia berhasil membuatku tertegun dan diam-diam membenarkan kalimatnya.


"Apa Nona juga merindukannya?" Dari tembok, wanita itu tiba-tiba mengalihkan tatapannya kepadaku. Apa ia mengendus sesuatu yang mencurigakan dari sikapku setelah Jathayu pergi?


"Ke-kenapa aku harus merindukannya?" gagapku. Kenapa aku tidak bisa bersikap biasa-biasa saja di depan wanita itu saat membicarakan tentang Jathayu?


"Semoga saja dia mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik," gumam Bik Inah kembali tanpa menghiraukan ucapanku. Wanita itu mengulum senyum di bibirnya yang polos tanpa sapuan lipstik.


Apa Bik Inah sedang bertingkah tak waras juga sepertiku karena Jathayu?


***