
Apa ini? Hujan lagi?
Suasana hatiku seketika anjlok begitu menapakkan kaki di lantai teras. Tas jinjingku ikut merosot dan hampir menyentuh ubin yang tampak lembab. Pantas saja jika tempat ini dijuluki sebagai kota hujan. Tapi, kenapa mesti sepagi ini? Kenapa tidak siang atau sore nanti setelah kami pergi?
"Kamu sudah siap?"
Jathayu menutup pintu vila tanpa menguncinya. Ia dan Pak Dayat sudah membuat semacam kesepakatan sebelumnya perihal kunci vila tersebut.
Aku menatap laki-laki itu tanpa semangat. Apa kepulangan kami harus ditunda? tanyaku dalam hati.
"Hujan," keluhku nyaris tam terdengar karena suara hujan lebih mendominasi.
"Apa kamu mau menunda kepulangan kita?"
Aku menggeleng lemah. "Apa tidak bahaya kalau menyetir saat hujan?" tanyaku meminta pendapatnya.
"Tapi kamu ingin segera pulang, kan?'
"Ya."
"Bagaimana kalau kita menunggu sebentar?"
Mungkin itu jauh lebih baik daripada memaksakan diri berkendara di tengah hujan. Meskipun sebelumnya aku pernah mencoba mengakhiri hidup, tapi kali ini aku benar-benar takut mati.
Kami memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah dan menunggu di ruang tamu. Sofa di sana cukup nyaman dan hangat. Aku dam Jathayu duduk bersebelahan di atas sofa panjang hitam bermotif polkadot berwarna putih yang menghuni ruangan itu.
Jathayu tiba-tiba melepaskan jaketnya dan menempatkan benda itu di punggungku tanpa permisi. Perbuatannya sempat membuatku kaget, tapi perhatiannya benar-benar membuatku terkesan. Udara dingin dari luar seolah bisa menembus dinding dan mengusil permukaan kulitku.
"Apa kamu sangat menyukaiku?" tanyaku hendak menguji sebesar apa rasa sukanya padaku.
Jathayu hanya menatapku tanpa berkata-kata. Sorot matanya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.
"Berhentilah, jangan menyukaiku," ucapku ketika laki-laki itu belum memberikan jawaban. Aku juga tak ingin memberinya kesempatan bicara.
"Kenapa?"
"Karena aku berbeda dari yang lain. Aku tidak stabil. Kamu mengerti maksudku, kan?"
Jathayu telah melihat sendiri seperti apa aku yang sebenarnya. Aku yang angkuh, egois, dan emosional. Aku selalu menyakiti orang-orang di sekitarku. Aku juga yang kerap memulai pertengkaran. Seharusnya ia tak pernah menyukai orang sepertiku. Ia tak pantas untuk terluka, apalagi karena orang sepertiku.
"Kamu tidak bisa mengendalikan perasaan seseorang, Talisa."
Jathayu benar. Bahkan aku tak bisa mengendalikan perasaanku terhadap Bram saat itu. Dan karena perasaanku yang tak bisa kukendalikan, aku menghancurkan hidupku sendiri.
"Bagaimana kalau aku menyakitimu suatu hari nanti?"
"Kamu boleh menyakitiku sesukamu," tandasnya tenang. Seakan-akan ia telah siap terluka kapan saja karenaku.
"Dasar konyol," makiku sembari tersenyum geli. Padahal aku tadinya ingin bicara serius, tapi kata-katanya memaksaku harus tertawa. "Berapa lama kita harus menunggu?" tanyaku beralih topik. Pembahasan tadi terlalu dramatis dan membosankan.
Jathayu mengangkat bahu. "Mungkin satu atau dua jam. Kamu mau kubuatkan sesuatu yang hangat?"
"Tidak usah," tolakku. Jaket miliknya sudah cukup untuk menghangatkan tubuhku. "Aku tidak ingin apa-apa."
Jathayu yang semula hendak mengangkat tubuh dari atas sofa urung untuk bergerak.
"Sebenarnya aku belum pernah melihat wajah ayah kandungku," beritahuku beberapa menit kemudian. Saat tak ada tema untuk diperbincangkan. Dan kenyataannya apa yang kukatakan barusan cukup menarik minat dengar Jathayu. Laki-laki itu mencermati wajahku sekarang. Tanda heran jelas tersirat dalam sorot matanya.
"Mama sudah membuang semua kenangan tentang papa. Tidak ada satupun yang tersisa darinya. Sama sekali. Dan aku sudah berbohong padamu kemarin. Saat masih kecil aku sangat merindukan papa. Tapi aku tidak pernah bercerita pada siapapun. Aku memendamnya sendirian."
"Dan sekarang?"
"Tidak lagi. Waktu sudah mengikis habis kerinduanku pada sosok papa. Aku sudah tidak butuh lagi figur seorang ayah," tandasku penuh keyakinan. "Tapi aku tidak berhasil melewati masa-masa itu dengan baik sepertimu."
"Tapi kamu sudah bertahan sampai detik ini."
"Aku kesepian saat masih kecil," ungkapku jujur. Tanpa mengajukan satu pertanyaan pun, laki-laki itu bisa membuatku membuka mulut. "Dan aku tumbuh dengan caraku sendiri."
"Memang tidak mudah menjalani hidup tanpa orangtua yang lengkap. Tapi kita masih bertahan hidup hingga sekarang, kan?" Jathayu menarik napas dalam-dalam.
"Tapi aku tidak sekuat dirimu," selaku. "Setidaknya sampai aku remaja."
"Kamu sudah berhasil melewati masa-masa sulit itu," ucapnya sambil mengurai senyum tipis. Tangan kanannya terulur dan membelai puncak kepalaku dengan lembut. Lagi, batinku. Laki-laki itu membuat hatiku menghangat seketika. "Tanpa sadar kamu menguatkan dirimu sendiri... dengan caramu sendiri tentunya."
"Tapi aku tumbuh menjadi seseorang yang egois," timpalku sambil tersenyum hambar. "Bukankah itu buruk?" Aku berpaling menatapnya. Meminta pembenaran.
Jathayu menghentikan perbuatannya lalu tersenyum kembali. Sikapnya sudah cukup untuk mewakili kata 'ya'.
"Apa kamu tahu," Jathayu menarik napas dalam-dalam. "aku juga tumbuh dengan caraku sendiri. Aku tidak serta merta menjadi orang yang kuat. Aku juga lemah pada awalnya. Itulah kenapa mereka selalu menindasku. Tapi, aku bertahan meski dalam ketakutan saat itu. Lalu aku sadar, rasa takut hanya akan memperburuk keadaan. Aku belajar untuk bangkit dan menguatkan diri dari waktu ke waktu."
"Apa kamu pernah menangis?" Pertanyaan itu tiba-tiba menggelitik nuraniku. Seorang anak kecil tanpa orangtua yang mendapat perundungan, apakah ia pernah menitikkan air matanya? Dalam ketakutan itu, apa yang bisa membuatnya bertahan?
"Tidak." Ia menggeleng dengan tegas. "Sesakit apapun, setakut apapun... aku tidak pernah meneteskan air mata. Mungkin aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menangis." Jathayu mengembangkan senyum di penghujung kalimatnya. Kenangan masa kecil yang suram itu tampak melintas di pelupuk matanya. Entah bagaimana ia menjalani hidup kala itu Terlalu sulit untuk membayangkannya.
Andai saja aku mengenal Jathayu ketika itu, mungkin kami bisa saling bersandar satu sama lain dan saling menguatkan. Ah, tidak. Mungkin aku lebih memilih pergi dan sibuk mengasihani diri sendiri seperti yang kulakukan ketika masih kecil.
"Sudah kubilang jangan mengasihaniku," sentaknya seraya menyentuh pipiku pelan.
"Apa aku tampak seperti itu?" tanyaku.
"Menurutmu?"
Apa aku sudah bilang kalau aku paling tidak suka jika pertanyaanku dibalas dengan pertanyaan yang lain?
"Entahlah."
"Sepertinya hujan sudah berhenti. Apa kita akan berangkat sekarang?" Jathayu mengalihkan perhatian ke jendela kaca yang berada persis di sebelah pintu masuk yang tertutup rapat. Suara hujan tak lagi terdengae dan aku baru saja menyadarinya.
"Uhm."
Aku mengikuti perbuatan Jathayu yang telah lebih dulu bangkit dari atas sofa. Laki-laki itu melangkah ke pintu depan usai menyambar tas jinjingku yang tadi kuletakkan di atas meja.
Hawa dingin langsung menyambut ketika kami keluar dari vila. Hujan telah benar-benar berhenti dan menyisakan genangan-genangan kecil di pelataran.
"Apa aku boleh memelukmu sekali saja?"
Laki-laki itu menghentikan langkah kemudian berbalik menatapku dengan tatapan bertanya. Ia tidak salah dengar jika ia mengira seperti itu.
Tanpa menunggu jawaban, aku memutuskan untuk mengayun langkah dan menghampirinya.
Satu pelukan saja sudah cukup bagiku. Entah ini cinta, rasa iba, simpati, atau apapun itu, aku sama sekali tidak peduli. Aku hanya ingin memeluknya. Itu saja.
***