WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#48



"Kupikir kita sudah bukan sahabat lagi," sambut Risa dengan nada nyinyir. Kedua matanya memicing penuh curiga saat melihatku tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam salon kecil miliknya lalu menduduki sebuah kursi pelanggan. Tempat itu sedang kosong padahal cuaca di luar sedang bagus.


"Dari dulu kita memang sahabat, kan?" cengirku tanpa rasa bersalah.


"Memangnya kali ini ada masalah apa?" Risa masih berdiri di tengah-tengah ruangan dan melipat kedua lengannya. Ekor matanya mengintip ke arah cermin besar di hadapanku.


"Apa aku harus punya masalah dulu baru boleh ke sini?" tanyaku berlagak sewot.


"Memang begitu, kan?" Risa mengambil langkah pelan dan mulai berjalan di belakang punggungku. Lebih tepatnya mondar mandir. "Selama ini kamu hanya memanfaatkan aku, kan?"


Aku mendesah. Risa kembali mengungkit hal itu.


"Ayolah, Ris. Bukankah sahabat adalah tempat untuk berbagi," tandasku sok bijak.


"Kamu tidak lupa saat terakhir kali ke sini, kan?"


"Ya, aku masih ingat."


"Kamu masih ingat dan belum juga meminta maaf padaku?"


Waktu itu aku pergi begitu saja dari tempat ini karena amarah telah menguasai diriku. Kami berselisih paham karena masing-masing merasa benar.


"Ada yang bilang, sesama sahabat tidak perlu mengucapkan 'terima kasih' dan 'maaf'."


Risa menghentikan gerakan kakinya dan berdiri di belakang punggungku. Ia menatapku lurus dari pantulan cermin salon yang sepertinya baru saja dibersihkan."Apa kamu pikir ini drama? Kamu sama sekali tidak berubah, Lisa. Entah siapa yang bisa mengubah keras kepalamu itu," tandasnya seperti sedang putus asa. "Sekarang katakan, ada masalah apa?"


"Aku ingin potong rambut."


"Apa?!" Risa mengangakan mulutnya. Sepasang matanya membulat dan ekspresi kaget terlukis jelas di wajahnya. Aku baru sadar jika siang ini ia terlihat cukup cantik. Kulitnya sama sekali tak terkesan berminyak. "Kenapa?"


"Aku hanya ingin merubah penampilan," jawabku. Meski penampilan baru tak akan pernah bisa merubah nasib, batinku. Dua hari terbaring di atas tempat tidur membuatku berpikir tentang banyak hal. Dan memotong rambut adalah salah satu hal yang terlintas di benakku.


"Apa kamu tidak sayang rambutmu, hah?" Risa menyentuh rambut panjangku yang tergerai menutupi punggung. Karena sakit, aku belum mencuci rambutku sampai hari ini. Aku ingin Risa mencuci rambutku sekalian.


"Kenapa mesti sayang? Nanti juga bakalan tumbuh lagi, kan?"


Risa tercenung sejenak.


"Apa terjadi sesuatu antara kamu dan laki-laki tua itu?" desaknya curiga. Gadis itu begitu cepat memahami situasi.


"Menurutmu?"


Risa memukul pundakku cukup keras. "Aku serius. Jangan bersikap menyebalkan seperti ini," tandasnya.


Aku menghirup napas dalam-dalam. Andai aku dapat menyerap lebih banyak oksigen dan bisa melegakan dadaku yang sesak...


"Kamu sudah mendengar tentang butik, kan?" Aku menatap pantulan wajah Risa di cermin.


"Ya. Orang-orang yang datang ke sini memberitahuku. Aku turut sedih mendengarnya."


"Aku dan laki-laki itu juga sudah berakhir," ungkapku membuat Risa spontan terbelalak.


"Benarkah?" decaknya.


"Kamu senang mendengarnya, kan?" sindirku. Bukankah ini yang paling diharapkan Risa saat itu, sampai kami berdebat hingga akhirnya membuat hubungan kami merenggang selama beberapa waktu. Namun, aku kembali mendatanginya ketika masalah lain muncul. Aku tidak memiliki teman lain sebaik Risa.


"Tidak juga. Aku hanya menyayangkan soal butik. Kamu sudah membangun tempat itu dengan susah payah. Kamu bahkan tidak kuliah demi membuka butik itu."


"Aku baik-baik saja."


Aku setengah menundukkan wajah dan menyunggingkan senyum pahit. Padahal aku sudah bersusah payah menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya di depan semua orang dan hanya Risa yang tak bisa kubodohi. Aku sanggup berpura-pura tegar di hadapan mama dan Dokter Sabrina, tapi aku gagal mengelabui Risa. Namun, aku bersikap seperti ini bukan karena Bram atau butik. Tapi Jathayu. Anehnya, aku masih saja merindukan laki-laki itu.


"Aku bisa menghadapi semua ini," tandasku setelah kembali mengangkat dagu dan balas menatap Risa dari pantulan cermin. "Kamu akan membantuku menghadapi kenyataan, kan?"


"Kamu tahu aku selalu ada untukmu, bukan?" Risa mencengkeram kedua pundakku demi menyalurkan energi positif dan dukungannya padaku.


"Aku tidak perlu berterimakasih untuk semua ini, kan?"


"Tentu. Tapi kamu harus membayar biaya potong rambut," kelakarnya. Ia terkekeh sendirian, sedang aku hanya bisa mengukir senyum tipis sembari mengusir gelisah yang terus mengikuti ke mana tubuhku pergi. Aku bisa berpura-pura kuat, tapi aku benar-benar tak bisa menahan sesak yang terus menerus mendera dadaku.


"Tidak masalah. Aku akan membayar tiga kali lipat," tukasku.


"Hei, kamu sudah bangkrut, Talisa. Jangan berlagak sombong seperti itu," oloknya tanpa canggung. Dulu kami kerap berbalas olok-olokan, tapi seiring waktu yang berjalan dan kami tumbuh dewasa, kami nyaris tak pernah melakukannya lagi.


"Aku masih punya uang, Risa." Aku tak pernah perhitungan padanya jika soal uang atau belanja. Bahkan di saat seperti ini sekalipun. Aku masih bisa mengandalkan uang milik mama.


"Tidak, tidak. Kamu bayar sesuai tarif, mengerti?" Gadis itu mulai sibuk mempersiapkan keperluan untuk melayaniku. "Kamu mau memotong rambutmu seberapa?"


"Pendek. Di bawah telinga," beritahuku.


"Hah?!" Jeritan gadis itu membuat telingaku sakit. "Yang benar saja, Lisa. Kamu akan terlalu banyak membuang rambutmu."


"Tak apa, Ris. Nanti juga tumbuh lagi, kan?"


"Tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa memanjangkan rambut seperti ini."


"Aku sudah bilang ingin merubah penampilan, kan?"


"Tapi kamu malah akan tampak seperti orang yang frustrasi, Lisa. Orang-orang akan berpikir kalau kamu depresi setelah kehilangan butik." Alih-alih menyetujui permintaanku, Risa malah ngotot.


"Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan tentangku."


"Tapi aku peduli," potongnya dengan tegas.


Aku mengembuskan napas kasar. Kami baru saja berbaikan beberapa menit lalu. Jangan sampai perdebatan remeh seperti ini akan memperburuk persahabatan kami seperti sebelumnya.


"Bagaimana kalau aku mewarnai rambutku?" Aku memberi usul. Risa juga mewarnai sebagian rambutnya, mungkin saja ia setuju.


"Tidak." Ia bahkan menolak usulku mentah-mentah.


"Kenapa? Kamu juga mewarnai rambutmu, kan?" Sangat tidak adil jika ia melarangku mewarnai rambut, sementara ia sendiri mewarnai rambutnya.


"Ini hanya identitasku sebagai pemilik salon, Lisa," jelasnya.


"Memangnya hanya pemilik salon saja yang boleh mewarnai rambut?" protesku marah.


Risa tampak menghela napas dalam-dalam. "Baiklah, kalau begitu kamu potong rambut saja, tapi jangan terlalu pendek," putusnya sejurus kemudian.


"Tapi aku ingin potong pendek... "


"Sebahu," timpal gadis itu dengan cepat. "Aku akan memotong rambutmu sebahu," ucapnya. Ia memutuskan sendiri akan melakukan apa pada rambutku tanpa meminta persetujuan.


"Terserah." Aku hanya menurut. Mungkin pilihan Risa lebih baik ketimbang keinginanku sebelumnya. Gadis itu segera bersiap untuk mencuci rambutku.


***