
"Apa tidurmu nyenyak?"
Aku tergagap lalu segera menoleh mencari sumber suara. Rasanya belum genap tiga detik aku membuka mata dan mimpi buruk itu masih melekat di dalam benakku, saat Jathayu berdiri di samping tempat tidur dengan menatapku tanpa ekspresi. Seperti biasa. Dan aku membenci tatapannya yang seolah ingin membunuhku.
"Sudah waktunya minum obat," ucapnya sembari memberi kode. Di atas meja rias telah ada sebuah nampan. Masih nampan yang sama dengan tadi pagi. Namun, kali ini aku mencium aroma sup ayam dari sana. Kuharap itu lebih baik ketimbang bubur, tapi aku masih belum ingin makan sekarang ini.
"Sudah jam berapa sekarang?" tanyaku tak langsung menanggapi perkataan laki-laki itu.
"Jam dua belas."
Dan beberapa menit lalu aku mengalami mimpi buruk, batinku. Kupikir mimpi buruk hanya bisa dialami seseorang saat malam saja, tapi pengalaman yang baru kualami membuktikan sebaliknya. Apakah ini sebuah peringatan? Ataukah pertanda buruk? Sungguh, aku terlalu takut untuk menyimpulkan.
"Aku makan nanti saja," ucapku. Kepalaku masih terasa agak berat, tapi ini sedikit lebih baik daripada tadi pagi. Tubuhku juga lumayan berkeringat, mungkin pengaruh dari obat flu dan selimut tebal tampaknya ikut membantu.
"Apa tidurmu nyenyak?"
Aku ingat, Jathayu mengajukan pertanyaan itu pertama kali sesudah aku membuka mata dan aku belum menjawab. Itu bukan sesuatu yang penting yang harus kujawab.
"Ya." Jawaban singkat pasti bisa membuatnya lega, batinku.
"Tapi kamu terus menerus mengigau tadi... "
"Apa?" Aku tercekat mendengar pengakuannya. Terus terang aku sama sekali tidak sadar apa saja yang keluar dari bibirku saat tidur tadi. Entah itu igauan atau air liur. Namun, menurut pengakuan Jathayu, aku mengigau. "Benarkah aku mengigau?" Aku benar-benar harus memastikan.
"Ya." Laki-laki itu mengangguk tanpa rasa ragu terbersit di sepasang mata elangnya. Aku memang tak bisa membaca ekspresi wajahnya dan hanya mencoba menilai dari sorot matanya. Ia tak berkedip sama sekali.
"Memangnya aku mengigau apa?" tanyaku penasaran.
"Apa kamu tidak ingat?" Ia bertanya seperti sedang ingin mengujiku.
"Kalau aku ingat, untuk apa aku bertanya padamu?"
Jathayu menarik napas dalam-dalam. Hanya untuk mengatakan hal semacam ini saja, tampaknya laki-laki itu butuh sebuah persiapan.
"Kamu menyebut sebuah nama... " Jathayu terlihat sedang berpikir. Mungkin ia sedang berusaha mengingat sesuatu. "Bram," lanjutnya kemudian. Ia kembali menatapku seolah sedang meminta kepastian.
Aku seketika terdiam. Enggan untuk mengakui karena aku sama sekali tidak sadar dan tidak mengingat apapun. Kecuali mimpi buruk itu. Tentang Bram.
Aku melihat laki-laki itu sedang berjalan menjauh. Sekeras dan sebanyak apapun aku memanggil namanya, Bram terus mengayunkan langkahnya pergi. Ia hanya menoleh sekali sebelum akhirnya benar-benar lenyap dari pandangan.
Aku terlalu takut untuk mengingat kembali adegan itu. Meski mimpi, rasanya begitu nyata dan membuat hatiku sakit.
"Apa kamu bermimpi tentang laki-laki itu?" tegur Jathayu. Ia tak perlu jawaban dariku. Laki-laki itu pandai menyimpulkan sendiri apa yang ia lihat dari wajahku.
"Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu, kan?"
"Terserah. Itu hakmu." Ia bersikap santai dan berlagak seperti tak membutuhkan jawaban dariku. "Oh ya, Dini tadi menelepon," beritahu Jathayu sejurus kemudian. Topik tentang sebelumnya telah selesai dibahas.
"Apa kamu mengangkat teleponku?"
"Aku tidak tega untuk membangunkanmu," ucap laki-laki itu beralasan.
Alasan yang ia ajukan sangat masuk akal dan aku bisa memakluminya.
"Apa yang Dini katakan?"
"Dia bilang Nyonya Penny berencana akan datang mengambil gaunnya, tapi tidak jadi," ulas Jathayu.
"Karena kamu tidak ada di butik."
"Apa kamu bilang padanya kalau aku sakit?"
"Ya."
Sebenarnya Nyonya Penny tak perlu menungguku jika hanya untuk mengambil gaunnya. Dini bisa menangani semuanya tanpaku. Jika ada sesuatu yang tak sesuai dengan keinginan Nyonya Penny soal gaunnya, wanita itu hanya perlu mengajukan keluhan pada Dini atau Eka. Mereka akan mencatat keluhan pelanggan dan menyampaikannya padaku.
"Apa hanya itu saja?" tanyaku. "Maksudku apa ada panggilan atau pesan lain?"
Ah, harusnya aku tak bertanya pada laki-laki itu dan memeriksa sendiri ponselku. Namun, sayangnya benda itu ada di atas nakas dan tanganku tak bisa menjangkaunya. Aku juga malas untuk menggerakkan tubuh.
"Tidak ada."
Mengecewakan, batinku. Sejak kemarin aku seolah dipaksa untuk siap diabaikan oleh Bram. Firasatku buruk beberapa waktu belakangan ini, tapi aku masih berusaha untuk berpikiran positif. Sejujurnya aku masih belum siap untuk ditinggalkan dan terluka.
"Apa kamu ingin makan sekarang?" tawar Jathayu mengusik kebisuanku.
"Nanti saja," tolakku. Perutku sama sekali tak merasa lapar.
"Makanlah meski cuma sedikit, Nona." Laki-laki itu berusaha untuk membujukku. "Kamu tidak bisa minum obat dalam keadaan perut kosong."
Itulah yang tak ingin kulakukan. Obat flu membawa pengaruh rasa kantuk dan aku tidak mau tertidur kembali setelah mengalami mimpi buruk. Aku tidak mau kembali mengalaminya.
"Tinggalkan saja di situ. Nanti aku akan memakannya."
"Apa kamu akan makan dan minum obatnya kalau aku pergi?" Jathayu mendelik. Apa gelagatku mencurigakan?
"Kamu takut aku tidak makan dan minum obatnya?" ulangku demi menghalau rasa curiga yang terbit di wajah Jathayu.
"Ya," tegasnya. Ia bersikap seolah-olah sangat mengenalku.
"Ya ampun," desisku kesal. "Aku akan memakannya nanti. Jadi, sekarang pergilah," usirku.
Tak mudah untuk mengusir laki-laki itu. Nyatanya ia masih belum menggeser kakinya dari tempat semula meski aku telah mengusirnya.
"Sebaiknya kamu makan sekarang sebelum supnya menjadi dingin," suruhnya setelah diam beberapa saat.
"Kamu masih belum percaya padaku? Apa aku tampak seperti seorang pembohong? Apa aku seburuk itu, hah?" cecarku. Lama-lama aku kesal dibuatnya.
"Sebaiknya tanyakan itu pada dirimu sendiri. Jangan bertanya padaku," ucapnya dengan nada datar. Membuatku terenyak.
"Apa?" Aku melongo menatap Jathayu. Ucapannya benar-benar mengejutkan. Namun, aku ragu ia bisa mengatakan hal yang sama pada mama. "Kamu tahu, kamu adalah orang yang paling menyebalkan yang pernah kukenal," tandasku.
"Lalu seperti apa dirimu di mata orang-orang? Apa mereka bilang jika kamu adalah orang yang ramah dan menyenangkan?" balas Jathayu membuatku tak berkutik. Lidah dan tatapan matanya sama-sama tajam. Entah bagaimana cara mama bisa menemukan orang seperti Jathayu.
Aku mengembuskan napas kuat-kuat. Pengendalian emosiku sedang diuji sekarang.
"Baiklah, aku akan makan sekarang," putusku setelah berpikir beberapa saat. Kurasa ini adalah pilihan terbaik untukku agar Jathayu segera menyingkir dari pandanganku. Jika aku harus tidur lagi dan menjumpai mimpi buruk itu lagi, terserah. Aku tidak peduli. Yang terpenting laki-laki itu sudah pergi dari kamarku.
"Itu bagus."
***