
Entah karena insting atau bukan, rasanya aku mulai terlatih untuk bangun pagi. Beberapa hari belakangan aku selalu terjaga di waktu yang nyaris bersamaan, antara jam enam sampai tujuh pagi. Padahal dulu saat masih mengelola butik, aku kerap bangun jam sembilan pagi. Mungkin karena minimnya kegiatan di siang hari pola hidupku juga sedikit berubah.
Pagi ini aku bangun dengan kondisi yang jauh lebih baik. Sakit kepala yang sempat kualami beberapa hari lalu sudah enyah. Lambungku juga baik-baik saja meski aku belum sarapan. Mungkinkah sindrom cinta berperan besar dalam memengaruhi stabilitas tubuh dan mentalku? Bisa jadi. Dan kenyataannya aku merindukan laki-laki itu sesaat setelah membuka mata.
Aku menapaki anak tangga turun dengan hati riang. Jantungku pasti dalam kondisi yang sangat bagus sekarang. Gerakan kakiku terasa ringan dan aku tak takut akan kehilangan keseimbangan seperti waktu itu.
"Jathayu mana?" serbuku ketika sampai di dapur. Ruang makan kosong, sementara di dapur hanya ada Bik Inah yang tengah sibuk meracik bumbu.
Wanita itu mengangkat dagu dan mendesah panjang.
"Apa kamu sudah benar-benar sehat?" balas Bik Inah dengan wajah heran.
"Ya," jawabku cepat. Aku belum lupa jika kemarin seorang perawat melepaskan jarum infus dari tanganku. Tapi sungguh, aku merasa sangat sehat sekarang.
"Apa kamu mau sesuatu? Susu atau roti panggang?"
Ya ampun, batinku gemas. Aku bukan anak kecil yang tiap kali sakit harus diberikan susu. Bik Inah harus disadarkan kembali. Usiaku sudah 25 tahun sekarang, bahkan lebih beberapa bulan.
"Tidak." Aku menggeleng. "Di mana Jathayu?" Aku mengulangi pertanyaanku karena wanita itu terus saja mengalihkan tema perbincangan. Jathayu juga tak tampak batang hidungnya ketika aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Pintu kamarnya juga tertutup rapat, tapi aku tak yakin ia masih berada di dalam sana sekarang.
"Dia sedang olahraga pagi. Mungkin lari-lari sekitar sini," jelas Bik Inah. Ini adalah jawaban yang melegakan, batinku.
Oh.
Aku menggumam dalam hati seraya melangkah ke arah salah satu kursi di ruang makan dan menempatinya. Tanpa kuminta Bik Inah menyuguhkan roti tawar dan selai kacang ke hadapanku. Juga sebuah gelas air minum.
"Aku mau masak nasi goreng, tapi kalau Nona mau sarapan sekarang, makan saja rotinya," ucap wanita itu sebelum kembali melanjutkan kegiatannya meracik bumbu.
Aku tak menyahut, tapi tanganku bergegas mengambil selembar roti tawar dari dalam plastik lalu mengolesinya dengan selai kacang.
"Apa Jathayu sudah lama perginya?" tanyaku di sela-sela kesibukan mengoleskan selai ke atas permukaan roti tawar.
"Sekitar setengah jam yang lalu."
Berarti ia akan kembali sebentar lagi, batinku menduga-duga.
"Apa Nona sangat menyukai Jathayu?" Tiba-tiba Bik Inah berhenti dari segala aktifitasnya dan menatapku dengan penuh rasa ingin tahu.
Aku tidak terlalu antusias untuk menjawab pertanyaan wanita itu dan memilih menggigit roti tawar yang telah kuolesi selai.
"Apa Bik Inah cemburu?" tanyaku setelah berhasil menelan kunyahan pertamaku.
Wanita itu meledakkan tawa cukup keras mendengar pertanyaanku. Mungkin dipikirnya kata-kataku sangat lucu.
"Apa aku sudah tidak waras sampai-sampai harus cemburu pada kalian berdua? Ya ampun, yang benar saja, Nona," seloroh wanita itu sambil menggeleng-gelengkan kepala padahal ia tengah sibuk menggoreng nasi. Entah bagaimana nasib nasi goreng itu jika Bik Inah tak segera mengaduknya. "Aku cuma ingin tahu bagaimana perasaanmu, apa tidak boleh?"
"Kenapa aku harus mengatakan perasaanku pada Bik Inah?" tanyaku cuek. Aku terus mengunyah seolah tak terganggu dengan pertanyaannya.
Bik Inah mengaduk nasi gorengnya kembali sebelum masakannya hangus. Wanita itu segera mematikan kompor setelah mencicipi hasil masakannya. "Karena kamu pantas bahagia, Nona," ucapnya setelah membalik tubuh. Ekspresinya tampak bersungguh-sungguh.
"Kenapa bertanya? Bukannya kamu yang paling tahu perasaanmu sendiri?"
Aku manggut-manggut. Selama bertahun-tahun Bik Inah telah berperan sebagai ibu untukku, jadi setidaknya ia mengenalku lebih baik dari mama kandungku sendiri.
"Kamu sudah bangun?"
Jathayu tiba-tiba muncul di saat aku hendak mengangkat gelas minum. Laki-laki itu berjalan mendekat dan berdiri tak jauh dari kursi yang kutempati. Ia terlihat berkeringat. Ujung-ujung rambut di keningnya juga tampak basah. Kaus pendek yang ia kenakan terkesan lembab.
"Apa kamu habis berolahraga?" Aku balas bertanya seraya meneliti perawakannya. Seingatku ia paling jarang mengenakan kaus pendek yang memperlihatkan sepasang lengan kokoh dan berotot, tapi entah sengaja atau tidak, Jathayu seolah ingin memamerkan semua itu di hadapanku.
"Ya, hanya jogging di sekitar sini. Apa kamu sudah sehat? Kenapa kamu turun dari tempat tidur?" cecarnya seakan aku baru saja melakukan sebuah kesalahan besar.
"Karena dia merindukanmu, Jathayu." Bik Inah menjawab tanpa permisi. Wanita itu berhasil membuatku malu setengah mati.
"Benarkah?" Jathayu beralih menatapku dengan tatapan pura-pura bertanya.
"Tentu saja." Bik Inah balas menyahut seolah tak ingin memberiku kesempatan bicara. "Makanya jangan pergi tanpa pamit seperti waktu itu," celutuk wanita itu. Ia masih lancang seperti biasa.
Jathayu mengulum senyum sementara aku melenguh kesal karena merasa dipermalukan.
"Apa Bibik sudah puas menggodaku?" dengusku kepada wanita itu.
Bik Inah melepaskan tawa geli dan mengabaikan pertanyaanku. Ia mengambil sebuah wadah berbahan kaca bening untuk menampung nasi goreng buatannya.
"Benar kamu sudah sehat?" tanya Jathayu dengan setengah berbisik saat Bik Inah kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. Wanita itu membuka pintu kulkas dan mengeluarkan beberapa butir telur dari dalamnya.
"Ya," anggukku penuh keyakinan.
"Jangan lupa setelah ini minum obatnya," ucap laki-laki itu mengingatkan.
"Tapi aku sudah sembuh, Jathayu. Aku tidak butuh obat lagi... "
"Turuti saja kata-kataku," tukasnya tak ingin didebat. "Habiskan obatmu meski kamu sudah merasa sehat, mengerti?"
Aku tersenyum geli melihat tingkah Jathayu. Ia menjadi sangat perhatian dan sikapnya juga mengundang tatapan usil dari sepasang mata Bik Inah. Aku merasa laki-laki itu lebih mirip sebagai pacar ketimbang pengawal pribadi. Dan semua orang di rumah ini sudah mengetahui tentang perasaanku pada Jathayu. Tak terbayangkan betapa malunya diriku pada mama dan Bik Inah.
"Aku mengerti," sahutku tak ingin membuatnya kecewa.
"Aku akan mandi sekarang," pamitnya sejurus kemudian. Laki-laki itu mengusap puncak kepalaku saat Bik Inah tak melihat ke arah kami berdua.
"Uhm."
Baru semenit Jathayu pergi meninggalkan ruang makan, mama tiba-tiba muncul dan membuatku terkejut. Anehnya wanita itu masih mengenakan piyama tidur dan bukan setelan pakaian kerja seperti biasa di jam segini. Wajahnya masih polos dan terkesan pucat karena belum tersentuh peralatan kosmetik sama sekali. Ia masih terlihat cantik, tapi aku tidak lagi merasa iri dengan kecantikan alami yang dimiliki mama. Karena aku adalah putri mama dan mewarisi sebagian dari dirinya, termasuk kecantikan yang dimilikinya.
"Bisa kita bicara sebentar?"
***