WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#45



Seminggu setelahnya...


"Oh... Talisa?"


Dokter Sabrina tampak kaget bukan kepalang ketika melihatku berdiri di ujung lorong rumah sakit. Aku sudah melihatnya dari kejauhan dan sengaja menghentikan langkah untuk menunggunya menghampiri tempatku berdiri.


"Lama tidak berjumpa," ucapku seraya mengulum senyum pahit. Sama sekali tidak ada yang berubah dari wanita itu. Ia masih sama seperti yang terakhir kali kulihat di butik. Bahkan tas tangannya pun masih sama dengan yang ia bawa kala itu. Dokter Sabrina adalah orang yang paling ingin kutemui pertama kali setelah Jathayu pergi. Padahal dulu ia adalah orang yang paling kuhindari di muka bumi selain istri Bram.


"Ya. Apa kabar?" Ia tak terlihat gugup atau canggung ketika balas menyapaku. Dokter Sabrina tersenyum. Ia kelihatan tulus saat melakukannya.


"Aku baik," sahutku.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu sedang menjenguk seseorang?"


Aku menggeleng.


"Bisa kita bicara sebentar?" pintaku tak ingin terlalu lama berdiri di tengah-tengah lorong Aku dan Dokter Sabrina bisa menjadi penghambat hilir mudik orang-orang di sini. Pasien, dokter, perawat, dan orang-orang yang memiliki kepentingan di rumah sakit ini.


"Tentu," angguk wanita berlipstik merah muda itu. Sejenak tadi ia memberi kesan tak percaya akan penawaranku sebelum menyatakan persetujuan. "Di depan rumah sakit ada cafe. Kita bisa bicara di sana."


"Baiklah."


Aku setuju. Berbincang di cafe seribu kali lebih nyaman ketimbang di dalam kantor Dokter Sabrina. Bagaimanapun juga tempat itu merupakan bagian dari rumah sakit yang banyak orang tidak sukai karena aroma obat yang menyengat.


Cafe yang dibicarakan Dokter Sabrina berada di seberang jalan dan tepat berhadapan dengan rumah sakit. Sungguh letak yang strategis untuk dijadikan sebagai lahan bisnis. Sulit untuk menemukan tempat seperti itu di masa sekarang. Meski biaya sewanya tak main-main mahalnya, tapi omset penjualan di tempat seperti itu cukup menjanjikan.


Cafe itu membuatku kembali teringat akan butik. Rasanya baru kemarin aku menggambar desain gaun untuk Nyonya Penny di atas meja kerjaku. Namun, semua itu kini hanya tinggal kenangan. Tempat itu tak bersisa lagi sekarang, kecuali puing-puing berwarna hitam dan jelaga.


Kami mendapatkan tempat yang cukup nyaman untuk berbincang di dalam cafe. Dokter Sabrina memesan kopi latte, sementara aku memesan kopi moka. Kami baru memulai pembicaraan setelah pesanan kami diantar ke meja.


"Aku turut sedih atas apa yang menimpa butikmu," ucap Dokter Sabrina mengawali pembicaraan.


"Uhm."


"Apa polisi sudah menemukan apa penyebab kebakaran itu?"


Ini bukanlah hal yang ingin kubahas dengan Dokter Sabrina.


"Aku tidak mengikuti perkembangan kasus kebakaran itu," jawabku akhirnya. Polisi bahkan tidak bisa memenjarakan Nyonya Andhara sekalipun ia yang menjadi dalang atas peristiwa kebakaran itu. Aku juga tak bisa berbuat apa-apa meskipun tahu kebenarannya.


"Oh." Wanita itu mengangguk pelan lalu beralih ke kopi latte di hadapannya. Dokter Sabrina mencicipi minumannya sedikit sebelum meneruskan pembicaraan. "Apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?" Ia memicing curiga.


Aku ikut-ikutan mencicipi kopi moka milikku, tapi sayangnya minuman itu masih terlalu panas untuk lidahku.


"Apa Dokter masih berpikir kalau aku terobsesi dengan ayah kandungku?" tanyaku setelah meletakkan cangkir di atas meja. Sial, ujung lidahku sedikit terbakar gara-gara kopi moka panas itu. Aku ingin langsung pada inti permasalahan.


"Aku tidak pernah berpikir seperti itu, Talisa." Wanita itu terkesan mengelak. Kesimpulan itu memang milik mama, bukan milik Dokter Sabrina. Namun kupikir wanita itu juga sependapat dengan mama. Mungkin juga dugaanku salah.


"Lalu kenapa aku menyukai laki-laki yang jauh lebih tua?" Pertanyaan yang kuajukan untuknya terdengar seperti sebuah ujian. Aku pasti tampak menyebalkan bagi Dokter Sabrina.


"Itu adalah pertanyaan yang harus kamu jawab sendiri, Talisa."


Aku tersenyum pahit. Ia balas memojokkanku.


"Karena kamu yang tahu bagaimana rasanya menyukai laki-laki yang jauh lebih tua. Rasa nyaman yang dirasakan seseorang ketika berada di samping orang lain tidak sama, Talisa. Kamu pasti tahu hal itu," tandasnya seolah ingin mengujiku.


"Ya." Aku manggut-manggut, membenarkan ucapannya. Ini tidak seperti konsultasi, hanya sebuah obrolan ringan. Suasana cafe benar-benar mendukung perbincangan kami. "Lalu bagaimana jika tiba-tiba aku beralih menyukai seseorang yang usianya beberapa tahun di atasku? Apa pendapat tentang obsesi itu seketika terbantahkan?"


"Apa kamu benar-benar menyukainya?"


Aku memutar bola mata. Agak sulit untuk memilih jawaban. Lebih tepatnya aku enggan untuk mengumbar perasaan di depan orang lain.


"Saat masih kecil, dia dibuang orangtuanya. Aku tidak tahu apakah aku menyukainya atau hanya merasa kasihan padanya."


"Apa yang kamu rasakan saat kamu berada di dekatnya? Apakah lebih nyaman?"


"Kurasa ya." Lagi-lagi aku memberi jawaban tidak pasti. Berada di samping Jathayu membuatku merasa nyaman. Dan kehilangan dirinya adalah sesuatu yang teramat sangat kusesali.


"Kalau begitu kamu harus mencari tahu perasaanmu, Talisa."


Tapi Jathayu sudah pergi, batinku. Dan aku sama sekali tak berupaya untuk menelusuri keberadaan laki-laki itu. Menghubungi nomornya pun sama sekali tak kulakukan.


"Aku pernah menolak perasaannya," tandasku jujur.


Wanita itu agak terkejut mendengar pengakuanku. "Dan kamu menyesalinya sekarang?"


Aku menatap sepasang mata Dokter Sabrina. Wanita itu bisa memahami perasaanku dengan sangat baik, tapi aku selalu mengabaikannya selama ini.


"Katakan padanya kalau kamu juga menyukainya. Masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya, Talisa." Tanganku disentuhnya pelan. Senyum tipis terukir di bibir merah mudanya.


Aku menggeleng pelan.


Aku pernah menyuruhnya untuk berhenti menyukaiku dan bilang jika ia bisa terluka nantinya. Bagaimana aku bisa muncul di hadapannya lalu mengatakan kalau aku menyukainya?


"Apa Dokter bisa merahasiakan pertemuan ini dari mama?" tanyaku di penghujung pertemuan. Langit di luar sana telah berganti warna. Matahari yang sebelumnya bersinar dengan terang, tampak redup karena sebagian tertutup awan kelabu.


"Tentu. Aku tidak akan mengatakan pada mamamu. Jangan khawatir." Senyum yang terbit di wajah Dokter Sabrina terasa menenangkan. Gesturnya mengatakan jika ia akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


"Baiklah. Aku harus pergi sekarang," pamitku setelah menyesap kopi moka di hadapanku yang sudah berkurang suhunya.


"Biar aku yang membayar," cegah Dokter Sabrina ketika aku hendak mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompetku.


Aku tersenyum getir. "Apa ini sebuah penghinaan bagi seorang pengangguran?" delikku kemudian.


Wanita itu menanggapi dengan derai tawa. "Kapan kamu akan menanggalkan jubah keangkuhanmu itu, hah?"


Aku mengangkat kedua bahu ketika Dokter Sabrina mendorong tanganku yang masih memegang dompet. Untuk kali ini aku mengalah. Lagipula harga dua cangkir kopi cukup murah bagi seorang dokter seperti dirinya, kan?


***