
"Bisakah kita bertemu?"
Tubuhku beku. Sebaris nomor yang tertera di layar ponselku memang tampak asing, tapi jenis suara itu aku jelas-jelas mengenal siapa pemiliknya. Bram.
Setelah semua yang terjadi pada kami, kenapa ia baru menghubungiku sekarang? Lalu untuk apa? Bukankah segalanya telah usai? Jangan katakan kalau ia ingin kembali meski sejujurnya aku masih sangat merindukan laki-laki itu. Karena semesta tidak akan pernah menyatukan cinta kami berdua.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Bram sejurus kemudian. Di saat aku masih larut dalam kebisuan.
"Kenapa tidak bicara di telepon?" tanyaku dengan suara berat. Kerinduanku untuk laki-laki itu membuncah begitu hebat dalam dadaku. Namun, ada banyak hal yang membuatku harus mengingkari kenyataan itu.
Aku menangkap desahan berat dari ujung telepon.
"Satu jam lagi aku akan menunggumu di cafe," ucap Bram sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.
Aku tercekat mendengar kalimat laki-laki itu. Ia akan menungguku di cafe satu jam lagi. Tapi, bukankah aku tidak pernah memberikan persetujuan untuk bertemu dengannya? Apa ini sebuah pemaksaan?
Sebuah pesan singkat dari nomor yang sama masuk beberapa detik kemudian. Bram mengirim alamat cafe yang ia tentukan sebagai tempat pertemuan kami.
Apa-apaan ini? batinku takjub. Jujur, sebagian hatiku merasa senang karena sebentar lagi aku akan bertemu dengan orang yang kucintai. Akan tetapi, dadaku tiba-tiba terasa sesak mengingat bahwa aku tidak akan pernah memilikinya. Perasaannya juga belum tentu sama dengan apa yang kurasakan sekarang.
Haruskah aku berdandan seperti biasa ketika aku akan berjumpa dengan Bram? tanyaku bimbang. Padahal sebatang lipstik telah ada dalam genggaman tangan kananku. Aku juga telah meletakkan pantat di atas kursi dan menatap pantulan wajahku di atas cermin rias. Ini benar-benar tak bisa dipercaya. Apakah jatuh cinta bisa segila ini? Meski aku telah terluka dan tahu akan terluka lagi, tapi aku masih juga menghimpun harapan di dalam benakku. Cinta telah membuatku tidak waras.
Aku mengambil kunci mobil diam-diam. Hal ini sengaja kulakukan karena tak ingin berdebat dengan Jathayu. Laki-laki itu bisa mengikat kedua tanganku jika tahu aku akan pergi menemui Bram. Ia tak akan pernah membiarkan aku pergi menemui Bram setelah semua yang telah terjadi.
Cafe yang dimaksud Bram berlokasi tak jauh dari gedung kantornya. Terus terang aku belum pernah ke sana. Mungkin Bram sebaliknya.
Degup jantungku tak beraturan ketika memasuki cafe yang terlihat sepi. Ini bukan pertama kalinya aku akan bertemu dengan Bram, tapi kenapa perasaan seperti ini terus kurasakan? Lantas bagaimana jika aku tak akan pernah melihatnya sepanjang hidupku kelak? Apakah jantungku masih akan berdetak?
Ekor mataku langsung menemukan sosok Bram di salah satu sudut cafe begitu aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Laki-laki itu melambaikan tangan ketika tatap mata kami bertemu.
Bram masih sama seperti kemarin-kemarin. Jumlah uban di atas kepalanya seolah tak bertambah. Gurat-gurat halus di wajahnya masih menghias di sana tanpa perubahan berarti. Hanya ekspresi kurang bahagia yang bisa kutangkap dari kedua sorot matanya. Secaa keseluruhan aku masih sangat menyukai penampilannya. Bahkan sepuluh atau dua puluh tahun lagi, di saat perubahan usia kentara pada dirinya, perasaanku terhadap Bram tak akan memudar sama sekali. Cintaku tak serapuh itu.
Tanpa kuminta, Bram segera memanggil seorang pelayan usai mempersilakanku agar duduk di seberang kursinya. Ia memesan segelas cokelat hangat untukku, sementara itu secangkir kopi telah tersaji di depannya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Bram dengan sepasang mata memperhatikan wajahku. Seusai pelayan pergi dari hadapan kami.
Kalau boleh aku lebih ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukannya. Akan tetapi, aku memilih kalimat yang berbeda.
"Kenapa baru menanyakan kabarku sekarang?" balasku dengan nada ketus. Laki-laki itu seolah ingin menghilang dari kehidupanku tanpa jejak dan tiba-tiba muncul begitu saja. Bagaimana aku tidak terguncang?
"Maafkan atas semua yang terjadi," tandas laki-laki itu seolah tak mendengarkan dengan serius ucapanku barusan. Wajahnya setengah tertunduk.
Tanpa sadar seulas senyum sinis terbit di sudut bibirku.
"Bukan salahmu, Bram." Aku menghela napas diam-diam dan menguatkan suaraku sendiri. "Aku yang telah memulai semuanya meski tahu ini akan terjadi. Aku bersikap bodoh dengan berharap terlalu banyak padamu." Dan aku cuma mainanmu yang setiap saat bisa kamu buang saat kamu bosan, imbuhku dalam hati.
Kalimatnya membuatku benar-benar harus melepaskan tawa getir. Dan seorang pelayan yang datang membawa segelas cokelat hangat untukku terpaksa membuat obrolan kami terhenti.
"Aku tahu," sahutku setelah pelayan itu pergi. Naluriku bisa merasakan jika kasih sayang Bram padaku tulus. Namun, semua itu terasa berbeda sekarang. Ketulusan Bram perlahan memudar tanpa disadarinya. "Tapi kita tidak bisa hidup hanya dengan cinta saja, kan?" sindirku.
Bram tampak tercekat. Sepertinya ia terpojok dengan ucapanku.
"Sejujurnya... istriku yang berada di balik kejadian itu," beritahu Bram setengah terbata.
Aku mencoba mencerna maksud kalimat laki-laki itu. Istri Bram memang memiliki segalanya, uang dan kekuasaan. Ia bisa melakukan apa saja, tapi bagian mana yang dimaksud Bram?
"Apa maksudmu?" Aku bingung.
"Kebakaran itu... "
Aku tertegun sejenak demi merenungkan kalimat Bram yang sengaja diputusnya sendiri.
"Maksudmu... kebakaran butik?"
Anggukan kepala laki-laki itu meyakinkan dugaanku tentang peristiwa kebakaran yang menimpa butik beberapa hari lalu.
"Maaf, Talisa. Aku tidak bisa mencegahnya berbuat itu." Bram bersikap seolah kehilangan kata-kata untuk menjelaskan perbuatan istrinya. Raut wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
Dengan gerakan cepat aku mengangkat tubuh dari atas tempat dudukku. Aku tidak ingin mendengar apapun saat ini, termasuk permintaan maaf sekalipun.
"Kamu mau pergi?"
"Memangnya apa yang harus kita bahas? Bukankah di antara kita sudah berakhir?"
"Tapi... "
Aku bergegas pergi dari hadapan Bram dengan membawa serta hati dan perasaanku yang telah hancur. Langkah-langkahku terasa berat, tapi aku masih bisa mengayun dengan percaya diri keluar dari cafe.
Ya, semuanya telah berakhir. Aku dan Bram, karirku sebagai perancang busana, semua harapan... sudah tak ada lagi yang tersisa sekarang. Benarkah karma sedang menghukumku?
Agh.
Tubuhku nyaris ambruk jika saja seseorang tak menyambar lenganku dengan gerakan sigap. Sedetik lalu, kepalaku mendadak berdenyut dan hampir membuatku kehilangan keseimbangan
"Jathayu?"
Aku terperangah begitu sadar siapa sosok yang berdiri di sebelah tubuhku dan sedang sibuk memegangi kedua lenganku demi menjagaku agar tetao tegak. Laki-laki itu kembali muncul untuk melindungiku seperti yang biasa ia lakukan. Tapi, bagaimana ia bisa sampai di tempat ini dan menemukanku? Apa ia mengikutiku tadi?
***