
"Apa kita bisa bertemu? Papa ingin mengajakmu makan malam..."
Suara papa masih terdengar asing di telingaku, bahkan setelah kami bertemu beberapa hari lalu. Dan ini adalah panggilan pertamanya ke nomorku. Rasanya aneh tiba-tiba aku memiliki seorang ayah setelah sekian lama menganggapnya tak pernah ada. Aku belum bisa memercayai kenyataan ini.
"Talisa? Kamu mendengar suara papa, kan?"
Laki-laki itu menegur. Ya, aku baru saja mengabaikannya selama beberapa saat karena terlalu syok dengan semua ini.
"Ya, aku dengar," gumamku pelan.
"Bagaimana? Kamu mau menemani papa makan malam?" Papa bertanya kembali karena aku belum memberi pernyataan.
Aku tercenung. Sulit bagiku untuk mengambil keputusan dalam waktu hitungan detik.
"Aku akan mempertimbangkannya," balasku seolah-olah ini adalah sebuah tawaran untuk berkencan.
Sedetik kemudian aku mendengar laki-laki itu mendesah pelan.
"Baiklah. Kalau begitu kabari papa kalau kamu siap," ucap laki-laki itu sejurus kemudian.
Aku meletakkan ponselku di atas meja rias setelah mengakhiri sambungan telepon. Aku tahu papa kecewa dengan jawabanku, tapi aku benar-benar belum siap untuk bertemu kembali dengannya setelah malam itu. Aku masih butuh waktu.
Aku bangkit dari tempat dudukku dan beranjak keluar dari kamar. Menjadi pengangguran memang bukan sebuah prestasi yang membanggakan, tapi aku lumayan menikmatinya. Menghabiskan waktu di dalam kamar seharian penuh bukan masalah untukku. Karena sejak kecil aku sudah terbiasa dengan hal itu dan aku tidak akan pernah merasa bosan berteman dengan kesepian.
Tempat tujuanku pertama kali setelah menuntaskan bilangan anak tangga adalah ruangan favorit Bik Inah, apa lagi kalau bukan dapur. Jathayu juga biasa menghabiskan waktunya di sana untuk berbincang dengan Bik Inah jika ia sedang tak melakukan kegiatan apa-apa.
"Apa ada sesuatu untuk di makan?" tanyaku seraya mendekat ke arah kulkas. Bik Inah sedang sibuk mengupas bawang merah di meja makan. Wanita itu hanya melirikku saat tanganku bergerak membuka pintu kulkas.
"Apa kamu sudah lapar?" Bik Inah berbalik menyerangku dengan pertanyaan.
"Tidak juga," sahutku setelah berhasil menemukan seiris kue warna warni. Kupikir kue itu terinspirasi dari pelangi menilik dari lima macam warna yang membuatnya terlihat cantik dan sayang untuk dimakan. "Di mana Jathayu?" tanyaku seraya meletakkan kue itu di atas meja. Aku sengaja mengambil tempat duduk di sebelah Bik Inah.
Bik Inah menghentikan gerakan tangannya lalu menatapku dengan ekspresi curiga.
"Kenapa tidak bertanya dari tadi? Kamu sedang mencari Jathayu, bukan?" Bik Inah meninggikan suaranya.
Wanita itu sudah tahu kalau tadi aku hanya berbasa basi. Pasalnya aku sama sekali belum melihat Jathayu setelah sarapan tadi pagi. Entah kalau di taman belakang. Aku belum sempat memeriksanya.
"Memangnya di mana Jathayu?" tanyaku seraya melahap kue pelangi di atas piring kecil. Rasa kue itu bervariasi. Ada perpaduan beberapa rasa buah di dalamnya. Aromanya juga harum, cukup menggugah selera.
"Dia pergi. Mobil Nyonya mogok di jalan, jadi dia pergi untuk membawanya ke bengkel," jelas Bik Inah. Ia telah menyelesaikan bawang-bawangnya dan wanita itu beralih mengupas wortel. "Mungkin dia akan lama."
"Tapi kenapa dia memberitahu Bik Inah dan tidak memberitahuku?" protesku. Meskipun itu bukan kesalahan Bik Inah, tapi hanya ia yang ada di hadapanku sekarang. Jadi, aku terpaksa melampiaskan unek-unekku pada wanita itu.
Bik Inah mengangkat kedua bahunya dengan acuh. "Mana aku tahu, Nona. Mungkin dia pikir kamu sedang tidur, jadi dia tidak sempat pamit padamu. Apa kamu akan membahas masalah ini jika dia kembali nanti?"
"Kudengar ayah kandungmu datang mencarimu..."
Akhirnya wanita itu membahasnya juga, batinku. Padahal aku tidak pernah mengumbar kisah apapun pada Bik Inah.
"Apa Jathayu yang bilang?" tolehku setelah selesai makan. Aku menyandarkan punggung ke kursi.
"Nyonya," jawab Bik Inah.
Pantas saja, batinku. Kedua wanita itu sudah seperti saudara kandung. Tak ada satupun masalah dalam keluarga ini yang tidak diketahui Bik Inah. Semua hal tentangku pasti akan diketahui wanita itu lewat bibir mama.
"Apa kamu sudah bertemu dengannya?" Wanita itu berusaha mencari tahu dan memilih untuk mengabaikan wortel-wortel bervitamin A itu di dalam sebuah wadah plastik.
"Ya, dua kali," jawabku berterus terang. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang paling tahu betapa kesepiannya diriku ketika kecil. Bik Inah juga tahu betapa rindunya aku pada papa saat itu.
"Apa kamu senang bertemu dengannya setelah sekian lama?"
"Tidak," sahutku tegas.
"Tidak?" Wanita itu mengulangi kata-kataku dengan sepasang mata melebar.
"Bagaimana aku bisa merasa senang bertemu dengan seseorang yang tidak kukenal dan mengaku sebagai ayah kandungku?" Aku menimpal sebelum Bik Inah bertanya macam-macam. "Aku masih belum bisa menerima semua ini. Tiba-tiba saja dia datang di saat aku sudah tidak berharap akan bertemu dengannya." Dan sejujurnya aku sangat canggung berhadapan dengan laki-laki itu, imbuhku dalam hati.
"Aku bisa memahami apa yang kamu rasakan, Nona," ucap Bik Inah terdengar berbeda dari biasanya. "Tidak mudah untukmu tiba-tiba harus menerima laki-laki itu sebagai ayah kandungmu. Dia pun sama sepertimu. Tiba-tiba saja dia bertemu dengan anak yang ditinggalkannya puluhan tahun silam. Dulu kamu masih sangat kecil dan sekarang kamu sudah dewasa. Kalian berdua masih asing satu sama lain dan pasti sangat canggung saat bertemu. Tapi ikatan darah tak bisa berbohong, Nona. Kalian adalah ayah dan anak. Ada ikatan batin di antara kalian berdua. Kurasa kalian hanya butuh waktu untuk terbiasa menerima kehadiran masing-masing."
Mungkin saja apa yang dikatakan Bik Inah ada benarnya. Jathayu juga mengatakan hal yang sama. Jadi, semua ini hanya perlu waktu. Bukankah seharusnya luka juga sembuh seiring berjalannya waktu?
"Bagaimana kalau suatu hari nanti aku masih belum bisa menerimanya?" pancingku. Aku takut kehadiran laki-laki itu tak bisa menyembuhkan luka dalam hatiku.
"Tidak perlu memikirkan hari itu. Jalani saja kehidupanmu seperti biasa. Aku yakin laki-laki itu pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan luka dalam hatimu. Percayalah padaku," ucap Bik Inah terdengar bijak. Ia seperti seorang pemain sinetron dengan peran baiknya. Sungguh, wanita itu bukan seperti Bik Inah yang kukenal.
"Aku tidak tahu kalau Bik Inah bisa berkata seperti itu," ucapku seraya mengembangkan senyum geli. Tapi harus kuakui, kata-katanya benar. Entah dari mana Bik Inah mendapatkan semua itu.
"Karena selama ini kamu berpikir kalau aku jahat, Nona," ucap wanita itu sambil mengangkat tubuhnya dari atas kursi. "Kalau kamu berpikir aku jahat, maka aku akan tampak seperti itu di matamu."
"Kapan aku berkata seperti itu?"
"Aku bisa mengetahui semuanya tentangmu, Nona," tandasnya seraya melangkah ke arah wastafel. Bawang-bawang yang tadi dikupasnya siap untuk dicuci.
"Tidak mungkin," gumamku sangat pelan. Agar wanita itu tak bisa menangkap suaraku.
***