
"Apa aku masih seperti magnet untukmu?" tanyaku sembari menyelami sepasang mata elangnya. Perbincangan masih berlanjut. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin kuajukan padanya. Aku merasa jauh lebih sehat dari saat pertama kali membuka mata.
"Uhm." Jathayu mengangguk.
"Tapi kamu kembali bukan karena keinginanmu sendiri, Jathayu. Kamu datang atas keinginan mama," tandasku sengaja ingin menyudutkannya.
"Itu... "
"Kenapa?" tukasku ketika laki-laki itu tak meneruskan kalimatnya. Ia terlihat tak punya persediaan jawaban.
"Saat itu aku tak punya alasan untuk kembali."
"Tapi kamu bilang kamu menyukaiku."
"Ya, aku memang menyukaimu. Tapi, aku tidak bisa tiba-tiba datang ke hadapanmu setelah diberhentikan dari pekerjaanku."
Aku tercenung. Semakin kupikirkan, aku semakin paham posisi Jathayu. Ini hanyalah sebuah kesalahpahaman yang harus segera diluruskan.
"Aku memang ingin mama memberhentikanmu saat itu," Aku mengakui kesalahanku. "tapi aku sangat menyesal saat tahu kamu sudah pergi. Aku sempat marah pada mama karena tidak bicara denganku sebelum memberhentikanmu," lanjutku.
"Lalu kenapa kamu tidak menghubungiku saat itu?"
"Karena kamu juga tidak pamit sebelum pergi. Sederhananya, kalau kamu benar-benar menyukaiku, maka kamu akan menemuiku sebelum pergi. Setidaknya kamu bisa mengucapkan selamat tinggal atau apapun itu. Tapi kamu pergi begitu saja, Jathayu. Kamu belum lupa hal itu, kan?"
"Pemikiranmu terlalu dangkal, Nona," ucapnya seraya mengurai senyum pahit. "Apa menurutmu aku sedang berbohong saat mengatakan kalau aku menyukaimu? Kamu tahu, kalau aku menemuimu sebelum pergi, aku tidak akan tega untuk meninggalkanmu, Nona."
Aku terdiam kembali. Jathayu hanya tidak tahu bahwa tindakannya justru menyakiti perasaanku. Kepergiannya menambah luka dalam hatiku.
"Apa yang kamu lakukan selama sebulan ini?" tanyaku. Kesalahpahaman di antara kami mulai terurai perlahan.
"Aku mendapat tugas mengawal investor dari Jepang selama dua minggu di Bali," tuturnya.
"Setelah itu?"
"Uhmm... Aku menganggur."
"Oh." Aku merasa takjub mendengar pengakuannya. Ada sedikit rasa bangga yang kutangkap dari nada suaranya saat ia mengatakan menganggur. "Kenapa tidak berusaha menghubungiku selama menganggur itu?"
"Aku sudah bilang kan, aku tidak mungkin menghubungi orang yang ingin aku berhenti dari pekerjaanku."
"Cukup! Jangan dibahas lagi," tukasku kesal. Aku tidak mau menumpuk penyesalan tak berguna dalam hati.
Jathayu melepaskan derai tawa melihat reaksiku. Laki-laki itu masih memesona seperti dulu. Terlebih lagi saat ia tertawa bahagia seperti sekarang. Aku semakin meyakini perasaanku pada laki-laki itu.
"Istirahatlah," ucapnya setelah selesai tertawa. Tangannya terulur lalu mengelus kepalaku perlahan. Rasa damai berembus lembut ke dalam hatiku.
"Aku sudah tidur seharian," tandasku. "Kamu yang seharusnya istirahat."
"Aku baik-baik saja."
"Ya, aku melihatnya. Kamu bahkan masih terlihat baik-baik saja setelah meninggalkanku," ucapku.
"Tidak ada yang bisa melihat bagaimana kondisi hati seseorang, Nona. Orang yang patah hati sekalipun, fisiknya tampak baik-baik saja."
"Jadi, kamu ingin bilang kalau kamu patah hati setelah pergi waktu itu?"
"Ya," angguknya tanpa keraguan secuilpun. "Apa kamu senang mendengarnya?"
Pertanyaannya mengundangku untuk menderaikan gelak tawa.
"Ya, sangat senang sekali. Bukankah kita sama-sama impas?" Aku mendelikkan mata ke arahnya.
"Maksudnya?"
"Tidak ada." Aku buru-buru menggeleng. Mana mungkin aku mengatakan padanya kalau aku hampir kehilangan kewarasanku setelah kepergiannya.
Aku hanya tersenyum melihat reaksinya. Jathayu telah banyak berubah, batinku. Ia menjadi orang yang hangat dan menyenangkan sekarang. Meski ia bukan tipe orang yang romantis, tapi setiap kalimat yang meluncur dari bibirnya mampu melelehkan hatiku. Laki-laki itu sangat berbakat untuk mencuri perhatian.
"Talisa."
Mama muncul di saat yang tepat. Entah apa yang akan dipikirkannya ketika mendengar aku dan Jathayu berbincang masalah pribadi kami yang lebih mirip seperti perdebatan sepasang kekasih. Untung saja perbincangan kami telah berakhir saat wanita itu mendadak membuka pintu dan menyeruak masuk ke dalam kamar.
Jathayu langsung mengangkat tubuh dari atas kursi dan menyingkir dari samping tempat tidurku demi memberi ruang pada mama.
"Maafkan mama. Mama tidak bisa menunggu kamu seharian ini."
Kalimat mama tak kuperhatikan baik-baik karena aku sibuk melihat sosok Jathayu yang diam-diam meninggalkan ruangan.
"Apa kamu baik-baik saja?" Mama menyentuh lenganku setelah menempatkan tubuhnya di atas kursi.
"Aku sudah jauh lebih baik sekarang," tandasku meyakinkannya. Mama tampak cemas saat pertama kali muncul beberapa detik yang lalu. Napasnya juga tak beraturan. Ia pasti tergesa-gesa saat menuju ke kamarku.
"Syukurlah." Wanita itu menarik napas lega.
"Aku ingin pulang secepatnya."
"Tentu. Mama akan minta pada dokter agar mengizinkanmu istirahat di rumah."
Aku senang mendengarnya dan cukup yakin dokter akan mengizinkanku pulang secepatnya. Kondisiku jauh lebih baik setelah mendapat perawatan di rumah sakit. Selebihnya aku bisa beristirahat di rumah.
"Apa mama bertemu lagi dengan laki-laki itu?"
Mama tertegun usai mendengar pertanyaanku. Ia pasti tahu siapa yang kumaksud.
"Tidak." Wanita itu menggeleng.
"Apa mama menyuruh Jathayu kembali untuk menjauhkanku dari laki-laki itu?" tanyaku lagi. Dulu mama mempekerjakan Jathayu untuk menjauhkanku dari Bram dan bisa saja ia melakukan hal yang sama demi menjauhkanku dari ayah kandungku. Aku hanya khawatir mama akan memberhentikan Jathayu tiba-tiba setelah tercapai keinginannya.
"Mama menyuruhnya kembali sebelum bertemu dengan laki-laki itu," jelas mama. Artinya dugaanku salah.
"Lalu kenapa mama menyuruhnya kembali?"
"Untuk kamu, Talisa. Bukankah kamu menyukainya? Setidaknya mama ingin melakukan sesuatu demi kebahagiaanmu."
Oh.
Aku terenyak mendengarnya. Kupikir mama tidak tahu apa-apa tentang perasaanku. Rupanya ia cukup pandai membaca pikiranku. Harusnya aku menyadarinya sejak awal. Mama kembali membuktikan niatnya untuk memperbaiki hubungan kami dan ia telah berhasil melakukannya.
"Tapi apa mama yakin kalau Jathayu juga menyukaiku?" Aku sengaja menguji wanita itu.
"Kenapa tidak? Kamu adalah putri mama yang cantik. Siapa yang bisa menolak pesonamu, hah?" Mama menyentil ujung hidungku seraya mengukir senyum manis di bibirnya.
Selama ini aku menganggap mama adalah wanita yang paling cantik di dunia. Ia kerap membuatku iri soal penampilan. Tapi baginya, aku adalah putrinya yang cantik. Aku bisa merasakan betapa bahagia dan bangga dirinya memiliki putri sepertiku.
"Apa mama mau mempunyai menantu seperti Jathayu? Dia tidak punya orang tua... "
Mama malah mengurai senyum lagi. "Jathayu bukan tidak memiliki orang tua, Lisa. Dia punya orang tua, hanya saja dia tidak tahu siapa orang tuanya. Kamu mengerti?"
"Mama benar," ujarku membenarkan pernyataan mama seraya tersenyum malu.
"Asalkan kamu bahagia, mama tidak akan mempermasalahkan siapa yang jadi pasanganmu. Tapi jangan laki-laki tua dan beristri, paham?"
"Paham," sahutku lagi-lagi dengan tergelak.
Mungkin hari ini bukan hari yang paling bahagia dalam hidupku, tapi aku bersyukur hari ini adalah sebuah kenyataan. Bukan mimpi atau khayalan semata.
***