
Sampai detik ini aku masih belum mengerti. Betapapun kerasnya aku mencoba untuk berpikir, tetap saja aku tak menemukan alasan kenapa Bram membiarkanku menunggu. Tidak, Bram bahkan tidak mengizinkan aku untuk menunggu. Menurut petugas keamanan yang berjaga di lantai lobi gedung kantor Bram, laki-laki itu tidak ingin menemuiku. Apakah Bram sedang menghindariku karena ketahuan selingkuh?
Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Akan tetapi, harusnya Bram menghubungiku dan memastikan jika aku baik-baik saja. Ia pasti bisa menemukan cara andai saja Bram berusaha sedikit lebih keras. Laki-laki itu membuat kepalaku dipenuhi dengan pemikiran negatif tentangnya.
Taksi yang kutumpangi berhenti beberapa meter dari pintu gerbang. Aku sadar tak bisa meneruskan lamunan di dalam kendaraan itu dan segera turun usai memberikan sejumlah uang kepada pengemudi taksi.
Hari telah gelap. Matahari telah bersembunyi dari pandangan sejak beberapa jam yang lalu. Namun, hujan gerimis masih bertahan seolah ingin menyejukkan hatiku yang dilanda risau yang teramat sangat.
"Apa kamu sudah bertemu dengannya?"
Hardikan itu memaksaku menghentikan gerakan stiletto yang membungkus kedua kakiku. Rasanya tidak nyaman sama sekali mengenakan sepatu hak tinggi yang basah. Bukan hanya sepatu, tapi seluruh pakaianku juga basah.
Jathayu terlihat sedang berdiri bersandar pada tembok di sebelah pintu masuk rumah dengan melipat kedua lengan di depan dada. Laki-laki itu tampak mengenakan sehelai kaus panjang berwarna hitam yang terlihat nyaman dan hangat, berpadu dengan celana panjang dengan warna yang lebih terang. Ekspresi laki-laki itu sedatar yang tertanam dalam ingatanku. Namun, sepasang matanya menyorot tajam seolah ingin membunuhku saat ini juga. Aku bahkan tak peduli jika ia melaporkanku pada mama.
"Kalau kamu ingin melaporkanku pada mama, laporkan saja," ucapku ketus. Aku sudah tidak peduli akan reaksi mama. Toh, kami sudah berdebat berkali-kali karena hal yang sama.
"Aku tidak akan melaporkan kamu pada Nyonya."
Pernyataan laki-laki itu membuat kakiku seketika berhenti beberapa jengkal di depan pintu. Ia berhasil mengundang senyum getir terbit di bibirku.
"Apa kamu takut mama akan menganggapmu tidak becus menjagaku?" tanyaku jelas-jelas ingin menyindir.
"Bukan salahku kalau kamu kabur seperti tadi... "
"Oh... jadi kamu ingin membela diri?" tukasku sembari menatap laki-laki itu dengan pandangan heran. "Apa uang terlalu penting buatmu?"
"Harusnya kamu berterima kasih karena aku tidak melaporkan tindakanmu pada Nyonya. Kalau Nyonya tahu kamu kabur, mungkin dia akan mengurungmu agar kamu tidak melarikan diri lagi seperti tadi... "
Astaga. Aku meledakkan tawa mengejek.
"Kamu ingin menakutiku?"
"Untuk apa aku menakutimu?" jawabnya terkesan santai. Setelah semua yang terjadi tadi, kupikir ia akan marah, tapi ternyata tidak. "Sebaiknya kamu cepat masuk dan ganti pakaianmu. Kamu bisa masuk angin... "
Memangnya siapa yang membuatku tertahan di depan pintu? batinku seraya berlalu dari hadapannya.
Hari ini tidak ada satupun yang berjalan dengan lancar. Bram yang sengaja menghindariku dan Jathayu yang membuatku bertambah kesal. Memang jauh lebih baik jika mama tidak tahu perihal tadi. Wanita itu bisa memarahiku habis-habisan jika tahu aku melarikan diri pengawasan Jathayu demi untuk menemui Bram. Namun, sepertinya Jathayu sengaja menutupi hal ini dari mama demi kepentingan pribadinya. Mungkin ia ingin tampak sebagai pengawal pribadi yang baik di depan mama karena takut kehilangan pekerjaannya. Mencari pekerjaan di zaman sekarang jauh lebih sulit, kan?
Usai mandi dan berganti pakaian, aku memilih untuk berbaring di bawah selimut. Aku menunggu Bram menghubungiku. Setelah kejadian tadi, tetap saja aku menunggunya. Aku juga masih berharap padanya. Aku sungguh merindukan Bram.
Mama selalu mengatakan jika aku terobsesi pada Bram karena sejak kecil aku tak merasakan kasih sayang dari papa. Risa juga sepakat dengan pendapat mama. Entahlah, dari mana mama memiliki keyakinan seperti itu. Bahkan sampai sekarang aku tak pernah bisa mengerti jalan pikiran wanita itu. Risa juga. Ia sahabatku, tapi malah mendukung mama. Dan terakhir kami bertemu, aku dan Risa sempat bersitegang. Baru-baru ini istri Bram juga datang dan mengancamku. Rasa-rasanya kehadiran Bram hanya menjadi sumber masalah dalam hidupku. Haruskah aku melepaskan laki-laki itu agar semuanya kembali seperti semula? Tapi, bagaimana dengan hatiku? Apa aku sanggup mengobati patah hatiku sendirian?
"Apa kamu tidur?"
"Nona Talisa!"
"Ya!" Aku menyingkap selimut dan bangun dari atas tempat tidur setelah mendengar teriakan laki-laki menyebalkan itu. "Ada apa?" hardikku usai membuka pintu kamar.
"Apa kamu tidak lapar?" tanya Jathayu. Sepasang mata yang tadi menatap seolah ingin membunuhku, melirik ke arah sebuah nampan yang berada dalam genggaman tangannya. "Aku membawakanmu makan malam."
"Aku tidak lapar... "
Aku tercekat ketika hendak menutup pintu kamar. Laki-laki itu terlebih dulu menahan pintu dengan kaki kirinya.
"Aku sudah menunggumu dua jam di bawah," ucap Jathayu sambil menerobos masuk. "Bik Inah sudah memasak makanan untukmu sebelum pulang tadi. Jadi makanlah." Laki-laki itu meletakkan nampan itu di atas meja rias dan menyuruhku untuk makan.
"Bukannya aku tidak menghargai jerih payah Bik Inah, tapi bisakah kamu membawa kembali makanan itu turun? Aku tidak ingin makan sekarang," ucapku malas. Sejak keluar dari gedung kantor Bram, tidak terlintas di benakku soal makanan sama sekali. Benakku dipenuhi dengan Bram dan tidak ada ruang lagi untuk berpikir tentang makanan.
"Apa?" Jathayu membalik tubuh dan menatapku. Aku sama sekali tak menemukan ekspresi terkejut di wajahnya.
"Aku bilang aku tidak ingin makan sekarang," tegasku. "Kamu bisa menyimpan makanan itu di kulkas."
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?" tanyaku heran.
"Kenapa kamu tidak ingin makan? Apa laki-laki itu sudah membuatmu kecewa?" tanya Jathayu. Kurasa laki-laki itu bisa menebak apa yang terjadi padaku sejak aku datang beberapa jam yang lalu. Kondisiku memang tidak baik saat itu. Seluruh tubuhku basah.
"Aku tidak harus menjawab pertanyaanmu, kan?"
"Kalau begitu kenapa kamu tidak ingin makan?" Ia mengulang pertanyaan yang sama.
"Aku tidak lapar," jawabku.
"Memangnya kapan terakhir kali kamu makan?" cecar laki-laki itu seperti sengaja ingin memojokkanku.
"Kamu tampak seperti pengasuh bayi," ucapku sambil tersenyum mengejek. Jika ia bisa bersikap menyebalkan, kenapa aku tidak? Ia bahkan sama sekali tidak menaruh hormat padaku. Meski mama yang memberinya upah, harusnya ia bisa sedikit menghargaiku, tapi apa yang Jathayu lakukan padaku? Ia bersikap seolah-olah aku adalah teman bermainnya.
"Jawab saja pertanyaanku, Nona."
Aku menarik napas jengah.
"Tadi pagi. Memangnya kenapa?"
***