WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#23



"Kenapa kamu menatapku terus? Apa kamu tidak pernah melihat orang sedang makan?" hardikku pada Jathayu yang sedari tadi mengarahkan pandangannya ke arahku. Bukan hanya aku saja, tapi kupikir semua orang akan merasa tidak nyaman jika terus-terusan dilihat sewaktu makan.


"Habiskan saja makan malammu." Ia terlihat santai dan sengaja mengabaikan pertanyaanku.


"Apa kamu takut aku tidak akan makan?" tanyaku memancing. Mulutku penuh dengan makanan, tapi aku masih terus mengoceh untuk membuatnya tidak betah berlama-lama di dalam kamarku.


"Minum obatnya setelah selesai makan," suruhnya dengan nada datar.


Ya ampun, keluhku dalam hati. Laki-laki itu jauh lebih menyebalkan dari yang kupikirkan.


"Obat apa itu?" Aku melirik ke arah sebutir obat berbentuk kaplet dalam kemasan.


"Obat flu. Biar kamu tidak terkena flu," jelasnya.


Spontan aku melepaskan tawa mengejek. "Apa kamu pikir aku gampang sakit karena kehujanan?"


"Minum saja. Tugasku adalah melindungimu... "


"Bukannya kamu berpikir kalau aku sakit kamu juga yang akan kerepotan?" pancingku sambil memicing ke arahnya. Jathayu pernah bilang jika dia enggan membawaku ke rumah sakit, kan?


Laki-laki itu tampaknya memilih untuk tidak menyambung obrolan ringan yang sama sekali tidak penting itu. Namun, sepasang matanya masih terus mengawasi setiap gerak gerikku. Biarkan saja ia berbuat sesuka hati. Aku akan mencoba untuk membiasakan diri dengan tingkah lakunya. Memang sejak awal ia menyebalkan, bukan?


"Apa kamu pernah jatuh cinta?" tanyaku tiba-tiba. Aku hanya ingin tahu kehidupan pribadi Jathayu. "Gadis seperti apa yang kamu suka?"


Jathayu tak bereaksi mendengar pertanyaanku. Tatapan mata dan gestur tubuhnya tak berubah.


"Apa kamu tidak ingin berbagi denganku?" tanyaku kembali.


"Aku tidak bisa membicarakan kehidupan pribadiku dengan orang lain, Nona," tandasnya tegas.


Oh. Laki-laki itu berhasil menohokku. Sepenting apa kehidupan pribadinya sampai-sampai tak mau berbagi denganku? Apa Jathayu lupa kalau ia bukan siapa-siapa?


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang buruk terjadi dalam hidupmu?" Aku memutuskan untuk berhenti mengunyah meski nasi di atas piring masih tersisa.


"Maaf, Nona. Sebaiknya habiskan makananmu agar aku bisa segera membawa nampan itu turun."


Lagi-lagi Jathayu mengalihkan tema. Ia sengaja melakukannya untuk menghindari percakapan denganku.


"Apa kamu juga akan mencuci piring sekalian?" tanyaku ingin tahu. Bik Inah sudah pulang sejak sore dan siapa tahu Jathayu bersedia mengambil alih sisa pekerjaan wanita itu.


"Kenapa? Apa kamu mau menggantikan tugas Bik Inah mencuci piring?" balasnya.


Aku menarik napas dalam-dalam. Tadinya aku ingin membuat laki-laki itu segera pergi dari kamarku, tapi aku malah ingin melemparnya turun ke lantai bawah.


"Pergilah dan bawa nampan itu turun," suruhku setelah meneguk air dari dalam gelas bening.


"Habiskan makananmu."


"Aku sudah kenyang. Kalau kamu mau menghabiskannya, silakan," ucapku sambil mengangkat tubuh dari atas kursi.


"Kalau begitu minum obatmu," serunya.


"Aku sudah bilang kan, aku tidak gampang sakit meski kehujanan." Aku berangsur ke atas tempat tidur dan meraih ponselku. Masih tak ada pemberitahuan panggilan atau pesan masuk. Masih belum ada kabar dari Bram.


"Lebih baik mencegah daripada kamu sakit, Nona."


"Tapi... "


"Kamu tidak perlu mengantarku ke rumah sakit kalau besok aku sakit," tandasku.


Jathayu berdiri kaku. Entah apa yang akan ia lakukan sekarang. Membawa nampan itu kembali ke dapur atau memaksaku untuk meminum obat. Namun, yang jelas aku akan baik-baik saja meski tak meminum obat itu.


"Kenapa masih berdiri di situ?" hardikku kesal. Melihatnya mematung di tengah ruangan membuat suasana hatiku bertambah buruk. "Pergilah dan bawa nampan itu sekalian," suruhku jelas-jelas ingin mengusirnya.


"Baiklah."


Ya, itu bagus, batinku. Lebih baik laki-laki itu pergi dan membiarkanku sendirian.


"Ada yang ingin kukatakan padamu."


Jathayu kembali membalik tubuhnya padahal ia sudah mengayun satu langkah ke arah pintu dengan membawa serta nampan itu.


"Apa?" tanyaku cepat.


"Tadi aku mengikutimu... "


"Apa?!" Aku terenyak mendengar pengakuan laki-laki itu. "Kamu mengikutiku?" tanyaku tak percaya.


"Ya," angguk laki-laki itu penuh percaya diri. Gesturnya sangat meyakinkan dan itu membuat nyaliku seketika menciut. Jathayu sedang tidak berbohong.


"A-apa kamu melihat semuanya?" tanyaku terbata. Saat aku datang ke gedung itu dan resepsionis di sana menolak kedatanganku dengan mengatakan bahwa Bram sedang rapat, lalu aku menunggu di lantai lobi selama berjam-jam seperti orang bodoh, apa Jathayu melihat semua itu? Pantas saja ia bilang padaku akan menutup rahasia itu dari mama. Karena aku gagal menemui Bram. Itulah alasan yang sebenarnya. Mungkin uang dan pekerjaan adalah alasan kedua.


"Aku pulang setelah petugas keamanan itu menyuruhmu pergi. Aku mengenalnya, kami pernah menjadi petugas keamanan di sebuah bank," akunya membuatku merasa terhina. Harga diriku sudah hancur rasanya.


Oh.


Aku kehilangan kata-kata. Sungguh, aku malu pada laki-laki itu. Setelah upayaku mengelabuinya dengan berpura-pura sakit, kenyataannya pelarianku sama sekali tidak membuahkan hasil. Aku tidak berhasil menemui Bram.


"Sepertinya, tanpa aku perlu berbuat sesuatupun, laki-laki itu mulai menjauhimu," ucap Jathayu penuh ejekan.


"Bram sedang sibuk," tukasku cepat. Sekadar menutupi rasa malu dan menaikkan harga diriku yang seolah sedang diinjak-injak olehnya. "Kalau dia tidak sibuk, dia pasti mau menemuiku."


"Hubungan semacam itu tidak akan pernah berjalan dengan baik, Nona. Nyonya benar, sebaiknya kamu berhenti mengejar laki-laki itu. Dia sudah beristri... "


"Apa sekarang kamu ingin menceramahiku, hah?!" seruku marah. Telingaku sudah terlalu bosan mendengar kalimat-kalimat seperti itu dari mama. Dan sekarang, laki-laki itu mengulangi kata-kata yang sama. Memangnya ia pikir ia siapa?


"Bukankah aku benar? Kenapa mesti marah?" Laki-laki itu memasang wajah tak bersalah.


"Pergi kamu dari sini!" usirku seraya melempar sebuah bantal yang awalnya hendak kupakai sebagai alas kepala ke arah Jathayu. Dan benda itu tepat mengenai kepala Jathayu, tapi hebatnya ia sama sekali tak berupaya untuk menghindar meski tahu akan terkena lemparan bantal dariku. Untung saja bantal itu tidak mengenai nampan di tangannya. Kalau hal itu benar-benar terjadi, kamarku tak akan jauh beda dengan kapal pecah.


"Aku tidak akan mengambilnya," ucap Jathayu seraya melirik ke arah bantal mililku yang sekarang terkapar di atas lantai. "Jadi, ambil sendiri bantalmu," imbuh laki-laki itu sebelum akhirnya ia membalik tubuh dan berjalan keluar kamar.


Astaga!


Laki-laki itu benar-benar luar biasa. Ia sudah melengkapi penderitaanku hari ini.


***