WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#42



Aku sedang berpikir, jika saja perasaan yang kurasakan pada Jathayu adalah benar cinta, maka pendapat mereka tentangku bisa jadi terbantahkan seketika. Jathayu tidak jauh lebih tua dariku. Berbeda dengan Bram, aku dan Jathayu hanya terpaut sekitar lima tahun. Bukankah ini artinya aku tidak terobsesi pada laki-laki yang jauh lebih tua karena aku merindukan sosok seorang ayah?


Andai saja seperti itu. Tapi, aku masih belum yakin jika perasaan aneh itu bisa disebut sebagai cinta.


"Boleh aku masuk?" sapaan itu terdengar sedetik setelah bunyi ketukan di pintu kamarku.


Aku menoleh ke arah asal suara dan mendapati sosok Jathayu sedang berdiri di ambang pintu.


"Masuklah," suruhku tanpa beralih dari tempatku berdiri di depan jendela yang terbuka lebar dan menampilkan pemandangan gerimis. Padahal jam masih menunjuk angka dua. Kami baru menyelesaikan makan siang sejam yang lalu.


"Apa kamu suka melihat hujan?" tegurnya begitu sampai di dekatku. Tanpa menoleh pun aku bisa merasakan jika laki-laki itu sedang mengawasiku.


"Tidak juga," jawabku berusaha bersikap santai. Aku akan merasa canggung jika terus memikirkan Jathayu dan mencoba menelaah perasaanku terhadapnya. "Tapi hujan sudah membuat suasana hatiku sedikit buruk. Kita terjebak di sini dan tidak bisa ke mana-mana, padahal kita ingin berlibur di sini, kan?" Aku mengurai senyum hambar.


"Uhm." Ia hanya menggumam tanpa mengeluarkan komentar apapun. Namun, itu saja sudah cukup untuk mendukung kalimatku.


"Aku sudah menghubungi Dini dan Eka," beritahuku. Aku menatap laki-laki itu setelah merasa yakin ia sudah tak lagi mengawasiku. "Aku akan mentransfer gaji mereka besok dan aku juga menyuruh mereka agar mencari pekerjaan lain. Kamu tahu kan, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk mereka."


Laki-laki itu berdeham pelan. Lagi-lagi tak ada komentar atau tanggapan yang keluar dari bibirnya. Ia terus menatap ke arah rintik hujan seakan-akan sangat menikmatinya.


"Aku ingin pulang besok," ucapku memecah kebisuan. Meski sebenarnya suara air hujan cukup untuk mengisi kekosongan. "Untuk apa kita di sini kalau tidak bisa pergi ke mana-mana," sungutku. Ini bukan liburan seperti yang kuharapkan. Mungkin seharusnya aku datang ke sini saat musim kemarau.


"Baiklah." Laki-laki itu menyetujui permintaanku tanpa mengajukan protes.


"Apa kamu tidak ingin bertemu dengan kedua orangtua kandungmu?" Aku menoleh saat melontarkan pertanyaan itu. Ini terjadi spontan dan tak pernah kurencanakan sebelumnya. Tiba-tiba saja aku ingin tahu apa yang dipikirkan Jathayu tentang kedua orangtuanya.


"Uhm?" Ia balas menatapku dan mengerutkan kening. Tatap matanya menyiratkan sebuah tanda tanya besar. "Oh... " Jathayu bergumam dan kembali memusatkan fokus matanya ke depan. Intensitas hujan yang turun masih sama seperti tadi dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera reda.


"Tidak apa-apa kalau kamu tidak ingin menjawab," timpalku setelah melihat reaksi yang ditampilkan Jathayu. Laki-laki itu tampak terusik dengan pertanyaanku.


"Mereka yang sudah membuangku."


Aku mendengar kalimat itu beberapa detik kemudian. Tadinya aku sempat mengira jika Jathayu benar-benar tak ingin berbagi perasaannya padaku.


"Bukan aku yang tidak ingin bertemu dengan mereka, tapi mereka yang tidak ingin melihatku. Bagi mereka aku hanyalah beban, mungkin juga aib." Jathayu sama sekali tak menampilkan raut sedih atau menyesal ketika mengucapkan kalimat itu. Ekspresi wajahnya dingin dan aku telah terbiasa melihatnya seperti itu.


"Apa kamu tidak merindukan mereka?"


"Tidak," jawabnya tegas.


Jathayu yang malang.


Seandainya kedua orangtua Jathayu tahu bahwa bayi yang mereka buang dulu tumbuh menjadi seorang laki-laki tampan dan kuat, aku yakin mereka akan menyesal dengan apa yang telah mereka perbuat di masa lalu.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" sentak laki-laki itu mengagetkan. Lamunan di dalam benakku beterbangan ke udara lalu berbaur dengan tetes-tetes air hujan yang masih setia mengguyur bumi.


"Tidak ada," dustaku.


Aku melepaskan tawa kecil demi menyamarkan ekspresi wajahku yang mungkin dengan mudah terbaca olehnya. Tebakannya tepat. Kehidupan anak yatim piatu selalu menyisakan rasa simpati dan kasihan dalam hati orang-orang di sekitarnya. Meskipun Jathayu tampak sebagai seseorang yang tidak suka dikasihani, tapi rasa iba sempat menyergap hatiku.


"Aku juga tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Untuk apa aku harus bersimpati pada orang lain? Kamu tahu, aku sibuk mengasihani diri sendiri dan tidak punya waktu untuk mengasihani orang lain," tandasku angkuh. Namun, hatiku mengatakan sebaliknya.


Tumbuh tanpa figur seorang ayah tak pernah mudah untukku. Meski mama berusaha bermain dua peran sebagai ibu dan ayah sekaligus, ia tetap tak bisa menggantikan sosok ayah.


Giliran Jathayu yang mengukir senyum di bibirnya.


"Apa kamu tidak ingin bertemu dengan ayah kandungmu?" Laki-laki itu balas bertanya tentang ayah kandungku.


"Untuk apa?" Aku menukas dengan suara enteng. "Lagipula aku tidak tahu di mana ia sekarang."


"Apa kamu tidak merindukannya?" Laki-laki itu mengembalikan pertanyaan yang tadi kulepas untuknya.


Aku menggeleng dengan tegas.


"Sama denganmu. Aku juga tidak merindukannya." Aku menarik napas panjang. "Dia pasti sudah bahagia di suatu tempat bersama keluarganya. Mungkin juga dia sudah melupakanku. Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya," ucapku masih dengan menatap air hujan yang turun. Kini intensitasnya mulai berkurang. Mungkin sebentar lagi reda.


Sebelum Jathayu meneruskan perbincangan, aku berkata lagi padanya,


"Apa yang kamu pikirkan tentangku?" Aku kembali menatap laki-laki di sebelahku. "Apa kamu sedang mengasihaniku?" tebakku curiga. Ia terdiam ketika aku mencurahkan perasaanku beberapa saat lalu.


"Uhm?" Ia menoleh. "Aku juga sibuk mengasihani diriku sendiri. Kenapa aku harus mengasihani orang lain?"


"Apa?!" Aku menjerit dengan spontan mendengar kalimat yang meluncur dari bibir laki-laki tampan itu. Bukankah itu tadi kalimat yang sempat kukatakan padanya?


Namun, tak kusangka Jathayu malah melepaskan tawa renyah melihat reaksiku. Ia terlihat cukup puas telah membutku kesal setengah mati.


"Kamu mau mengejekku?" sungutku. Hatiku dongkol bukan main. Aku berhasil dikerjai olehnya.


"Tidak."


"Lalu kenapa kamu mencuri kata-kataku, hah?" protesku sambil berkacak pinggang.


"Maaf, aku hanya bercanda tadi," ucap laki-laki itu sambil mengusap kepalaku dengan lembut. Getaran aneh seketika mengalir ke kepala lalu menjalar ke sekujur tubuhku. Membuatku kaku seperti manekin. "Apa kamu mau kubuatkan cokelat hangat?" tawarnya sejurus kemudian setelah ia menyingkirkan tangannya dari atas kepalaku.


"Oh... " Sungguh, aku salah tingkah sendiri dan rasa kesal di dalam hatiku mencair seketika. "Ya, tentu."


"Baiklah," ucapnya. "Tunggu sebentar. Aku akan kembali."


Aku terpaku menatap sosok Jathayu yang sedang berjalan ke arah pintu. Aku ataukah Jathayu yang bertingkah aneh di sini?


***