WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#49



Aku gamang. Benarkah yang kurasakan sekarang benar-benar sebuah kerinduan pada laki-laki itu? Jangan-jangan ini hanya sebuah penyesalan berkepanjangan yang membuatku merasa bersalah padanya karena aku pernah menolak perasaan Jathayu. Tapi, ini benar-benar menyiksa. Andai saja aku tahu akan menderita seperti ini, aku tidak akan pernah mengabaikan perasaan laki-laki itu.


"Apa kamu sudah lama menungguku?"


Sapaan halus dan cukup akrab di telinga itu memaksaku harus kembali ke dunia nyata. Nyonya Penny telah berdiri di hadapanku dengan senyum tipis menghias bibirnya yang terlihat segar berkat sapuan lipstik merah hati. Wanita itu tampak anggun mengenakan sebuah terusan hitam sepanjang lutut dengan selembar selendang bermotif bunga-bunga melilit bagian lehernya. Semuanya bermerk dan tak murah. Sepatu, tas, dan sebuah arloji kecil yang melingkar di tangannya turut menunjang penampilannya.


Aku segera bangun dari tempat dudukku demi menyambut kedatangan wanita itu.


"Baru lima menit," balasku sambil mengurai tawa kecil. Sulit untuk tersenyum akhir-akhir ini, tapi aku mencoba untuk melakukannya dengan cara yang alami. "Apa kabar, Nyonya?" Aku menjabat tangan wanita itu sebagai bentuk rasa hormat.


"Seharusnya aku yang bertanya," tukas wanita itu ketika balas menjabat tanganku. "Apa kabarmu, Talisa? Aku sudah mendengar semua yang terjadi. Aku turut sedih dengan apa yang menimpa butik. Apa kamu baik-baik saja?"


"Ya, saya baik-baik saja," ucapku lebih yakin dari sebelumnya. Aku telah berhasil melewati semuanya dan meskipun terluka, aku masih bertahan hingga hari ini. Sama sekali tak ada niat untuk mengakhiri hidup yang melintas di benakku. "Silakan duduk," ucapku pada Nyonya Penny setelah kami cukup lama berdiri dan saling berjabatan tangan.


Sejujurnya aku baru pertama kali ke tempat ini. Entah masih baru atau aku saja yang tidak tahu ada cafe bernuansa retro di kawasan ini. Semua perabotan dan dekorasi yang di pakai di cafe ini sangat kental dengan suasana zaman dulu. Selain sebuah jangkar berbahan kayu, ada sebuah sepeda antik yang sengaja di gantung di dinding cafe selain pajangan foto-foto lawas. Ada sepasang patung pengantin Jawa diletakkan di atas meja dekat kasir, yang pastinya menjadi pusat perhatian ketika pelanggan ingin membayar pesanannya. Koleksi cangkir dan teko kuno turut menghias di sana serta menambah kesan klasik.


"Maaf, aku meminta bertemu tiba-tiba seperti ini," ucap Nyonya Penny mendadak, mengalihkan segenap perhatianku dari benda-benda di sekeliling. "Tadi aku menghadiri sebuah acara dan tiba-tiba aku ingat kamu," jelasnya.


"Tidak apa-apa, Nyonya," balasku sambil berusaha tersenyum.


"Oh, kita belum memesan minum." Nyonya Penny menghentikan percakapan kami dan memanggil seorang pelayan. "Kamu mau minum apa?" tawar wanita itu setelah seorang laki-laki sepantaranku datang untuk menerima pesanan kami. Sebaris tulisan 'Retro Cafe' tercetak dengan jelas di topi merah yang dipakainya.


"Apa saja, tapi bukan kopi." Lambungku tidak pernah bersahabat dengan jenis minuman itu dan kali ini aku tidak ingin menyiksa diri sendiri.


"Oh." Bibir wanita itu membulat. "Bagaimana kalau cokelat?" tawarnya seolah tahu aku akan menyukai pilihannya. Jathayu juga pernah menawarkan minuman yang sama.


Aku mengangguk.


"Satu espresso dan satu cokelat hangat," beritahu Nyonya Penny dan laki-laki pelayan cafe itu segera mencatat pesanan kami di atas sebuah nota kecil dalam genggamannya.


"Pesanan kalian akan diantar sebentar lagi."


"Terima kasih."


Kami terdiam sejenak, menunggu sampai pelayan itu pergi menjauh dari meja kami.


"Apa yang kamu lakukan sekarang, Talisa? Apa kamu sudah berpikir akan membuka butik lagi atau berbisnis yang lain?" Nyonya Penny melanjutkan obrolan kami.


"Belum," jawabku. Aku agak malu jika harus mengatakan padanya kalau aku adalah pengangguran sekarang.


"Sayang sekali," gumam wanita itu terdengar menyesal. "Tapi kenapa? Apa ada masalah? Kamu butuh modal?"


Aku tertegun menatap Nyonya Penny yang terlihat antusias mencecarku.


"Kalau kamu butuh bantuan, katakan saja padaku, Talisa. Aku pasti akan membantumu. Selama ini aku sangat puas dengan hasil karyamu. Aku adalah penggemarmu. Uang tidak masalah bagiku, kamu tahu itu?" Nyonya Penny berbicara penuh dengan semangat.


Pelayan yang tadi datang membawa pesanan kami. Otomatis percakapan antara aku dan Nyonya Penny harus tertunda beberapa saat.


"Silakan menikmati."


"Terima kasih."


Perbincangan itu berlanjut.


"Kamu tidak perlu merisaukan bagaimana cara mengembalikan uangku, Talisa. Kamu boleh tidak mengembalikannya, tapi kalau kamu bersikeras ingin mengembalikan, kamu bisa membayar sebisa kamu. Setengah, sepertiga... atau berapa saja, tergantung kemampuanmu. Sayang kan, kalau kamu menyia-nyiakan bakatmu?" Wanita itu baru saja mengiming-imingiku bantuan yang lebih mirip bantuan sosial. Apa yang sebenarnya dipikirkan Nyonya Penny sampai-sampai ia rela ingin membantuku seikhlas itu?


"Tapi, Nyonya... "


"Jangan sungkan padaku, Talisa." Wanita itu mengulurkan tangannya lalu menggenggam tanganku. "Kamu bisa mengembalikan uangku kapan saja kamu mau. Anggap saja itu pinjaman fleksibel."


Aku tidak bisa langsung menyetujui penawaran Nyonya Penny. Aku perlu mempertimbangkannya, selain itu mama juga pernah menawarkan hal yang sama. Akan jauh lebih baik jika aku mengambil penawaran mama daripada menerima bantuan orang lain dengan cuma-cuma. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Lagipula aku tidak berani mengambil risiko jika ini menyangkut Nyonya Penny. Ia adalah wanita yang baik.


"Saya akan mempertimbangkannya, Nyonya."


"Baiklah. Hubungi aku kapan saja kamu berubah pikiran."


"Tentu."


Aku mengangkat gelasku dan mulai menyesap isinya. Cokelat hangat yang sedikit pahit mulai meluncur di dalam leherku.


Andai saja Nyonya Penny tahu keburukanku, apa wanita itu masih mau menawarkan uang untuk kupergunakan membuka butik baru? Kurasa tidak.


"Kapan kalian akan menikah?"


Aku hampir memuntahkan kembali cairan cokelat hangat yang sedang mengalir di dalam kerongkonganku karena terlalu kaget mendengar pertanyaan Nyonya Penny yang tiba-tiba. Ia sudah beralih topik tanpa memberi pemberitahuan terlebih dulu.


"Apa?"


"Laki-laki yang bersamamu waktu itu. Aku melihat kalian pergi dari pesta ulang tahun suamiku. Sepertinya kalian buru-buru... "


Aku tertohok, tak menyangka jika Nyonya Penny melihatku dan Jathayu saat itu. Namun, sebanyak apa yang ia lihat?


"Oh." Aku tergagap. Aku tak siap untuk berbohong lagi pada wanita itu. "Kami belum membicarakan soal pernikahan." Aku dan Jathayu bahkan belum mengikat sebuah hubungan, mana mungkin kami akan bicara soal pernikahan?


"Kuharap kalian segera memutuskan untuk menikah," harapnya.


Aku hanya mengurai senyum.


***