WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#31



Setelah papa pergi meninggalkan kami, tak ada satupun yang tersisa darinya. Saat itu, aku masih terlalu kecil untuk bisa mengingat kenangan tentang laki-laki itu. Mama telah menghilangkan jejak tentang sosok papa. Tidak ada yang tersisa. Foto atau sesuatu yang berhubungan dengan laki-laki itu sudah tak ada lagi. Mama sama sekali tak mengizinkanku mengenal sosok papa meski hanya melalui sebuah gambar. Wanita itu telah membuang semua barang milik papa. Sedalam itulah dendam di hati mama untuk papa. Namun, aku tak bisa melakukan hal yang sama untuk papa. Meski sekarang aku sudah tidak menyisakan sedikit kerinduan pun pada laki-laki itu.


Aku dibiarkan tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Mama yang memiliki segudang kesibukan, tak bisa merawatku sebagaimana ibu-ibu lain merawat anak-anak mereka. Mama lebih sering meninggalkanku sendiri di rumah. Meski ada Bik Inah, tapi aku tetap merasa kesepian. Wanita itu bukan mama dan ia tak pernah kuizinkan untuk merawatku seperti seorang ibu merawat anaknya. Kala itu, aku hanya ingin mama. Bukan orang lain.


Aku memang tak memiliki sepotong pun kenangan masa kecil yang indah bersama kedua orang tuaku, tapi aku ingin merajut bahagia di sisa umurku nanti. Bolehkah?


"Apa aku boleh masuk?"


Suara itu terdengar beberapa detik setelah telingaku menangkap bunyi ketukan di pintu kamarku. Membuatku harus mengangkat kepala dari atas bantal.


"Masuk saja," suruhku malas. Aku telah membuka mata sejak beberapa saat yang lalu, tapi aku belum berniat meninggalkan tempat tidur. Aku tidak ingin pergi ke mana-mana hari ini.


Jathayu mendorong pintu dari luar kemudian menyeruak masuk dengan langkah percaya diri. Ia telah menanggalkan setelan jasnya dan mengenakan selembar kaus putih lengan pendek dan sebuah celana panjang berwarna hitam pagi ini. Penampilannya sederhana, tapi entah kenapa apapun yang dikenakan laki-laki itu selalu terlihat cocok untuknya.


"Bik Inah memaksa agar aku membawakan sarapan untukmu," ucap Jathayu seraya meletakkan sebuah nampan di atas meja rias. "Dia takut sakit maag-mu kambuh."


Belakangan ini aku merasa perutku baik-baik saja. Penyakit maag-ku sudah lama tidak kambuh. Bik Inah saja yang terlalu berlebihan.


"Semalam kamu tidak berjalan kaki saat pulang, kan?" Aku tiba-tiba ingat telah meninggalkan laki-laki itu di tengah perjalanan pulang semalam. Bukannya aku merasa bersalah karena membiarkannya terlantar sendirian di jalan, tapi aku hanya ingin memastikan.


"Ya, aku berjalan kaki semalam." Tak kusangka ia akan menjawab dengan cepat dan pengakuannya kontan membuatku terperanjat. Namun, gestur dan raut wajahnya menunjukkan ekspresi 'tidak keberatan'.


"Kenapa?" Mungkin hanya orang bodoh yang akan melakukan hal itu, pikirku. Atau orang yang benar-benar merasa putus asa, tanpa harapan.


"Karena aku menggantikan posisimu, Nona. Lebih baik aku yang berjalan kaki daripada kamu yang melakukannya. Di jalanan seperti itu sangat berbahaya untukmu."


"Tapi kenapa kamu tidak naik taksi atau angkutan lain? Apa kamu sebodoh itu?" Perkataannya memancing emosiku. Bagaimana ia bisa melakukan hal itu dengan menyertakan alasan untuk menggantikan posisiku? "Jangan bilang kalau kamu tidak membawa uang... "


"Aku memang tidak membawanya," ungkap Jathayu membuatku ternganga.


Oh.


"Benarkah?" Pengakuan Jathayu benar-benar tak masuk akal. Aku bahkan nyaris tak bisa memercayai indra pendengaranku sendiri. "Lalu kenapa kamu memilih untuk turun waktu itu kalau kamu tidak membawa uang?" Nada bicaraku lebih terdengar seperti protes sekarang. Tiba-tiba saja aku sangat marah padanya. Kenapa ada orang sebodoh itu di dekatku?


"Kalau aku tidak turun, kamu yang akan turun saat itu. Aku tidak bisa membiarkanmu berjalan kaki sendirian, Nona."


Aku seolah kehilangan kata dan hanya bisa menarik napas panjang demi melegakan dada. Kenapa aku mesti marah atas kebodohannya?


"Baiklah, lupakan semua itu." Aku mengibas dengan cepat. Lebih baik untuk tidak membahas tindakan bodohnya daripada darahku naik ke atas ubun-ubun.


"Apa Nona akan ke butik hari ini?" Jathayu masih berdiri kaku di dekat tempat tidur.


"Aku tidak akan pergi ke butik hari ini dan beberapa hari ke depan," jawabku sembaru kembali meletakkan kepala di atas bantal. Aku tidak ingin melakukan apa-apa hari ini.


"Kenapa?"


"Tapi sebaiknya kamu sarapan dulu, Nona. Bik Inah bilang kamu tidak makan semalam... "


"Aku sudah makan di pesta semalam," tukasku. Padahal aku hanya minum segelas sirup saja saat di pesta Nyonya Penny.


"Kalau begitu makanlah sarapanmu," suruhnya seolah tak ingin menyerah untuk membujukku.


Tapi, aku sedang tidak ingin makan sekarang. Aku hanya ingin tidur demi melupakan kejadian semalam. Juga kejadian-kejadian buruk sepanjang hidupku.


"Apa perlu kupanggilkan Bik Inah supaya membujukmu untuk makan?" Ia menemukan ide lain demi memuluskan niatnya.


Aku mendengus mendengar ancamannya. Ia persis seperti seorang pengasuh bayi sekarang.


"Apa setelah semua ini kamu akan berhenti bekerja pada mama? Rasanya tanpa kamu berbuat sesuatu pun, aku dan Bram akan berakhir dengan sendirinya," ucapku menyimpang dari perihal sarapan.


"Kenapa? Apa kamu tidak ingin aku pergi?" tanya Jathayu seolah-olah aku enggan melepasnya pergi. Bukankah tujuan mama mempekerjakan dirinya agar ia bisa menjauhkanku dari Bram? Dan kurasa keinginan mama itu terwujud dengan sendirinya. Aku bisa membaca situasi di wajah Bram semalam.


Aku melepaskan senyum getir.


"Memang tempatmu bukan di sini, kan? Kamu menyia-nyiakan bakat dan kemampuanmu hanya untuk menjaga seseorang yang sama sekali tidak penting sepertiku. Lebih baik kamu mencari pekerjaan lain yang sesuai. Masih banyak tempat yang lebih layak untuk kamu," tandasku.


"Kenapa tiba-tiba kamu berkata seperti itu?"


"Aku hanya merasa kasihan padamu."


Tak kusangka Jathayu malah menertawakan pernyataanku.


"Jangan mengasihaniku, Nona. Kasihanilah dirimu sendiri," ucapnya seperti ingin menjatuhkan harga diriku.


"Aku tidak butuh dikasihani," tegasku. Sejak kecil hidupku memang kurang bahagia. Aku tak memiliki orang tua yang lengkap. Mama dan papa berpisah saat usiaku masih dua tahun. Aku juga tak memiliki teman dekat, kecuali Risa. Namun, hubungan kami memburuk akhir-akhir ini karena kisahku dengan Bram. Sungguh, aku merasa baik-baik saja meski tak ada hal yang membahagiakan dalam hidupku. Aku sudah terbiasa menjalani kehidupan seperti itu.


"Sebaiknya makan sarapanmu agar aku bisa segera membawa nampan itu turun. Bik Inah pasti sudah menunggu dari tadi," ucap Jathayu sejurus kemudian. Ia sengaja melakukan hal itu agar percakapan kami tidak berlarut-larut.


"Kamu pandai mengalihkan pembicaraan," keluhku kesal.


"Kamu juga sama, Nona," balasnya ingin menyerangku balik. "Jadi, apa kamu mau makan sarapanmu sekarang?"


"Baiklah," putusku tanpa berpikir lebih panjang lagi. Aku akan makan sesuai perintah Jathayu agar ia bisa segera membawa nampan itu kembali ke dapur.


***