WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#70



Jathayu bergegas menjauhkan punggungnya dari pagar besi ketika langkah-langkah gontaiku hampir sampai di depan tempatnya berdiri menungguku. Ia juga mengeluarkan kedua tangannya yang tadi sempat bersembunyi di dalam saku celana untuk beberapa saat. Wajahnya tampak dingin dan tanpa ekspresi. Sementara sorot matanya mengingatkanku pada sosok Jathayu yang pernah kulihat untuk pertama kali.


Jathayu bergerak maju ketika jarak kami semakin dekat. Padahal aku hanya perlu berjalan lima langkah lagi untuk sampai di hadapannya. Dan tanpa kusangka tiba-tiba saja laki-laki itu menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Aku tak bisa dan tak ingin menghindar ketika ia mendekapkan kepalaku ke dadanya yang hangat. Suara detak jantungnya yang berirama jelas terdengar di telingaku. Nyatanya laki-laki itu berhasil mengikis jarak di antara kami.


Selama ini aku selalu berpikir jika Jathayu tidak peka. Namun, apa yang dilakukannya sekarang membuatku harus meralat kembali pemikiran sok tahu itu dari kepalaku. Bahkan tanpa kuminta sekalipun, laki-laki itu memberiku sebuah pelukan hangat ketika jiwaku didera galau hebat. Hatiku malah hancur kembali setelah bertemu dengan ayah kandungku. Bukankah seharusnya aku merasa lega setelah bertemu dengan laki-laki itu dan mendengarkan kisah hidupnya? Akan tetapi, dadaku justru lebih sesak dari sebelumnya. Mungkin aku hanya terguncang dan belum bisa menerima kenyataan yang mengejutkan ini. Hanya waktu yang bisa membuatku terbiasa dengan semuanya.


Jathayu melepaskan tubuhku setelah beberapa lama kami hanyut dalam diam. Laki-laki itu sama sekali tak berbicara dan hanya mengusap belakang kepalaku berkali-kali. Meski begitu, ia telah berusaha membuatku merasa nyaman setelah semua yang kualami hari ini. Suasana hatiku mulai membaik perlahan berkat dirinya.


Laki-laki itu mengulurkan tangannya ke wajahku dan mengusap sisa-sisa tangis yang masih membekas di sana.


"Di luar dingin," ucapnya setelah memastikan pipiku tak lagi lembab. "Masuk dan istirahatlah," suruhnya.


Apa ia tak ingin berkata sesuatu? batinku seraya menatapnya dengan rasa tak percaya. Paling tidak, ia bisa mengatakan 'jangan sedih' atau 'semua akan baik-baik saja, kamu hanya perlu waktu untuk menerima semuanya'.


Jathayu membuatku tersadar jika dirinya berbeda. Ia menguatkanku dengan caranya sendiri dan tak ingin mengungkit sesuatu yang akan membuatku sedih.


"Terima kasih," bisikku masih dengan memegang kedua lengannya.


"Untuk apa?" Tanpa ada sebuah kesepakatan sebelumnya, ia ikut-ikutan berbisik.


"Untuk mencintaiku dengan setulus ini."


Jathayu mengembangkan senyum. "Kupikir kamu tidak bisa mengucapkan kata 'terima kasih' dan 'maaf'," ucapnya dan aku langsung merasa tersindir mendengarnya.


"Mengucapkan sebuah kata mudah, Jathayu. Tapi untuk apa aku mengucapkan dua kata itu jika bukan dari hatiku?"


"Jadi, yang baru saja kamu bilang tadi dari hatimu?"


"Tanya saja pada dirimu sendiri," balasku sambil menekan dadanya dengan telunjuk kananku. "Aku akan masuk dan istirahat. Masukkan mobilnya dan istirahatlah," suruhku sejurus kemudian.


"Baiklah, Nona."


Aku menahan tawa melihat sikap patuhnya yang sampai detik ini sama sekali tidak berubah. Ia pasti masih merasa sebagai pengawal pribadi ketimbang sebagai kekasihku. Laki-laki itu terus saja memanggilku dengan sebutan 'Nona'.


"Kamu sudah pulang, Lisa?"


Aku agak kaget ketika melihat mama sedang duduk di atas sofa ruang tengah dengan televisi yang menyala.


"Apa mama sedang menungguku?" tegurku seraya bergerak mendekat ke tempat duduknya.


"Duduklah," suruhnya setelah meletakkan remot televisi di atas meja. Ia menepuk tempat kosong di sebelah tubuhnya.


Aku menuruti perintah mama tanpa banyak bicara.


"Apa kamu sudah bertemu dengan papamu?" tanya wanita itu setelah aku berhasil duduk di sebelahnya.


Mama sudah tahu kalau aku menemui papa?


"Ya," anggukku. Tidak ada hal yang ingin kututupi darinya. "Mama tidak marah kan?" tanyaku setengah terbata.


Tapi aku masih saja belum bisa menerima semua ini dengan lapang dada, batinku. Lubang besar di dadaku tidak bisa tertutup begitu saja meski laki-laki itu telah hadir dalam hidupku. Jejak luka masa lalu masih membekas jelas di sana. Mungkin aku hanya perlu waktu sedikit lebih lama untuk belajar menerima semuanya.


"Apa kamu sudah memutuskan?"


"Hah?" Lamunanku terputus. Aku tidak mendengar pertanyaan mama baik-baik tadi. "Apa maksud mama?"


"Mama sudah menemukan tempat yang cocok untuk butik kamu. Mama sudah mengirimkan alamatnya padamu. Kamu sudah membacanya, kan?"


"Oh..." Aku memang mengabaikan pesan yang dikirim mama tadi siang karena ada Jathayu. Tapi ia sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Aku saja yang memang tak ingin membalas pesan mama. "ya, aku sudah membacanya."


"Kamu bisa melihat tempatnya besok jika mau. Mama akan memberitahu pemilik tanah."


"Apa tidak akan membutuhkan biaya yang besar jika kita membangun sebuah gedung? Kenapa kita tidak menyewa saja?"


"Uang mama cukup untuk membiayai semua kebutuhan butikmu, Lisa. Jangan khawatir. Lagi pula mama juga ingin berinvestasi di hari tua mama," ujar wanita itu membuatku terheran-heran. "Tidak selamanya mama akan menjadi pengacara, kan?"


"Jadi apa rencana mama?" tanyaku ingin penjelasan yang lebih gamblang.


"Mama ingin mengelola butik bersama kamu. Boleh, kan?"


Hah?


"Benarkah mama ingin mengelola butik bersamaku?" tanyaku sekali lagi. Barangkali aku salah mengartikan maksud ucapan mama atau pendengaranku tak menangkap suaranya dengan jelas.


"Ya. Apa kamu senang?"


"Tentu saja," decakku gembira. Dengan gerakan spontan aku merangkul tubuh mama demi meluapkan segenap kebahagiaan yang kurasakan sekarang. "Aku akan senang sekali jika mama mau membantuku. Tapi apa mama rela melepaskan pekerjaan mama?" tanyaku setelah melepaskan tubuh wanita itu.


"Rela atau tidak rela, mama harus melakukannya, Talisa. Tapi bukan dalam waktu dekat ini. Mama perlu mengumpulkan uang lebih banyak lagi demi mewujudkan impian kamu."


"Impian kita," ralatku. "Berapa lama waktu yang mama butuhkan? Setahun? Dua tahun?"


"Sepuluh tahun lagi."


Astaga! Kenapa mesti bilang sekarang? batinku kesal. Mama baru saja menjatuhkanku ke dalam lubang setelah mengangkat tubuhku ke udara.


"Itu masih lama," gumamku.


"Maaf mengecewakan kamu, Talisa."


"Aku baik-baik saja, Ma. Aku akan menunggu waktu itu tiba dengan sabar," ucapku tak ingin kehilangan semangat.


"Baiklah. Mama akan bekerja keras demi mengumpulkan uang yang banyak," tandas mama sembari menderaikan tawa bahagia.


Melihat tawa di bibir mama membuatku sangat bersyukur. Satu per satu hal dalam hidupku mulai tampak ada perbaikan. Pertama adalah kehadiran Jathayu yang memberiku begitu banyak cinta dan perhatian. Dan yang kedua, hubunganku dengan mama yang berangsur membaik setelah sekian lama saling menyulut api pertengkaran. Aku mulai menemukan sebuah jalan untuk meraih masa depan yang gemilang.


***