WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#63



"Kamu mau pergi?" cecar Jathayu dengan pandangan takjub. Laki-laki itu berdiri tepat di bawah anak tangga yang harus kuselesaikan beberapa langkah lagi seraya menatapku dengan mata tak berkedip.


"Ya," sahutku sambil mengurai senyum tipis. Seperti yang ia lihat, aku sudah mandi, mencuci rambut dan merias wajahku sedemikian rupa. Aku juga mengenakan pakaian yang menurutku paling nyaman untuk bepergian. Sehelai kaus pendek yang berbalut selembar cardigan selutut dipadu dengan celana jins belel beserta sepatu hak tinggi yang berguna membuatku percaya diri bersanding dengan Jathayu. Selisih tinggi tubuh kami sangat mencolok jika kami berdiri bersebelahan dan aku tidak terlalu percaya diri karenanya. "Apa aku cantik hari ini?" tanyaku setelah berhasil menyelesaikan anak tangga dan berdiri di depan Jathayu. Aku memasang wajah paling manis di hadapannya.


Laki-laki itu mengamati wajahku selama beberapa saat.


"Ya, sangat cantik," pujinya singkat dan terlihat tidak tulus. "Apa kamu ingin pergi menemui ayah kandungmu?"


Jathayu menyebalkan. Laki-laki itu memang bukan tipe orang yang romantis, tapi setidaknya ia bisa mengatakan sesuatu yang baik tentangku agar aku merasa senang. Seharusnya ia berusaha sedikit lebih keras untuk menunjukkan betapa ia mencintaiku. Atau mungkin ia punya cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa cintanya padaku? Entahlah.


"Tidak." Aku menyahut dengan tegas lalu berjalan lebih dulu menuju pintu depan.


"Lalu?" Laki-laki itu berusaha mengejar langkahku dan berhasil. Ia menjajari tubuhku sekarang.


"Kita akan pergi ke suatu tempat untuk menghilangkan rasa bosan," jawabku masih merahasiakan tujuan kami.


"Di mana itu?"


"Mal," jawabku sengaja menghentikan langkah dan menatap ke wajah Jathayu untuk melihat ekspresinya.


"Mal?" ulangnya dengan mimik kaget. Sepasang matanya melebar sesaat dan keningnya mengerut dengan samar.


"Ya, aku perlu menjernihkan pikiran," jelasku. Jathayu juga perlu diberi kesibukan agar tidak melakukan hal seperti kemarin. Sungguh, melihatnya mencabuti rumput di taman belakang membuatku kesal bukan kepalang.


"Oh." Laki-laki itu menggumam pelan lalu mengikuti langkahku dengan gontai. Ia tampak tak bersemangat. Tapi sungguh, aku melakukan semua ini bukan untuk diriku sendiri. Aku melakukan ini juga untuknya. Andai Jathayu tahu hal itu.


Kuharap ia juga bisa menikmatinya nanti.


"Pasang sabuk pengamannya, Nona," suruh Jathayu ketika aku telah duduk di atas jok dan belum sempat memasang sabuk pengaman karena ponselku bergetar. Ada sebuah pesan masuk. Dari mama. Wanita itu mengatakan telah menemukan sebuah lahan yang sepertinya cocok untuk dijadikan tempat usaha. Padahal aku masih belum memutuskan untuk membuka butik kembali atau tidak.


"Kenapa kamu tidak membantuku untuk memasangnya?" pancingku dengan penuh harap. Aku hanya membaca pesan dari mama sekilas dan tak membalasnya. Aku dan mama bisa membahas soal itu di rumah. Bicara di telepon sangat tidak efisien.


"Apa kamu sedang mengerjaiku sekarang?" tanya Jathayu sambil menyelipkan senyum di bibir.


"Kamu bisa menolak jika tidak mau," sahutku enteng. Aku yakin Jathayu akan bersedia melakukannya. Aku berani bertaruh berapapun untuk itu.


"Baiklah," balasnya. Laki-laki itu segera meraih ujung sabuk pengaman lalu memasangkannya sesuai keinginanku. "Selesai."


Aku juga sudah selesai, batinku. Aku baru saja mencari tahu tentang debar-debar yang pernah kurasakan dulu saat berada begitu dekat dengannya. Dan aku telah mendapatkan jawabannya.


"Apa kamu ingin membeli sesuatu?" tanya Jathayu saat mobil yang kami tumpangi telah meluncur keluar dari garasi dan menelusuri jalanan yang cukup padat. Hari ini akhir pekan dan banyak orang yang berkeliaran di jalanan di siang yang panas ini.


"Entahlah," jawabku asal. "Apa sekarang kamu suka ngobrol saat menyetir?" Aku membuang pandangan ke wajah laki-laki itu.


"Apa?" Ia sedikit kaget mendengar pertanyaanku.


"Kurasa kamu sudah banyak berubah, Jathayu. Apa kamu sadar hal itu?"


"Apa yang membuatmu berubah, hah?" Aku menegurnya karena tidak tahan diabaikan saat bertanya sesuatu.


"Apa aku seperti itu?" tanya laki-laki itu tanpa menoleh. Ia bahkan memdaur ulang kalimat yang pernah kuucapkan sebelumnya.


"Tentu saja," sahutku cepat. "Kamu mirip bunglon, kamu tahu?"


Jathayu meledakkan tawa cukup keras. Suaranya bahkan menggema di dalam mobil. Apa ia sebahagia itu mendengar candaan garing yang keluar dari mulutku?


"Bukannya bunglon berkaki empat?" Ia malah tampak tertarik membahas bunglon sekarang.


"Mungkin," sahutku enggan.


Laki-laki itu berdeham sebentar untuk menjernihkan suara. "Kenapa kamu tidak menebak sendiri jawaban atas pertanyaanmu?" tanya Jathayu sambil menoleh sekilas.


"Kalau aku bisa menebak, aku tidak akan bertanya," sungutku kesal. Tapi aku memutar otak juga akhirnya. "Apa jangan-jangan kamu berubah karena kepalamu terbentur pintu?" tebakku ngawur. Postur Jathayu cukup tinggi dan bisa jadi ia terbentur pintu di suatu tempat.


"Apa kemampuanmu menebak hanya sampai di situ, Nona?" sindirnya.


Aku tak menjawab. Pasti tebakanku salah.


"Aku seperti ini karena kamu, Nona," ujar Jathayu membuka kartunya. Laki-laki itu tak membiarkan aku berlarut-larut dalam tanda tanya yang terus menerus mengusik pikiran. "Aku senang karena kamu juga menyukaiku," tandasnya.


"Apa aku pernah bilang kalau aku menyukaimu?"


"Tidak." Ia menggeleng. "Tapi sikapmu sangat mudah untuk dibaca. Semua orang di rumah tahu kalau kamu juga menyukaiku, apa kamu tidak menyadarinya?"


"Aku tahu." Meski malu, aku mengakuinya. Saat kami berada di rumah, aku dan Jathayu tak pernah berbincang seterbuka ini tentang perasaan kami karena ada Bik Inah. Wanita itu bisa menjadi penyela yang baik jika mendengar percakapan pribadi kami berdua. Mungkin juga ia akan menguping dan mengolokku atau Jathayu. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.


"Apa seperti itu caramu menyukai seseorang?"


"Apa?" Aku tercekat mendengar pertanyaannya. Rasanya aku tidak pernah menyukai seseorang seperti ini. Bahkan pada Bram sekalipun. Jangan bertanya alasannya karena aku juga tidak tahu.


"Tapi aku suka," ucap Jathayu kemudian. Laki-laki itu telah membuang prinsip menyetirnya di tengah jalan yang telah kami lalui tadi.


"Aku juga suka," sahutku bersungguh-sungguh. Meski Jathayu bukan tipe laki-laki romantis dan terkadang menyebalkan, tapi aku menyukainya. Semua yang ada pada dirinya, aku suka. Tak peduli asal usulnya.


Laki-laki itu menoleh dan melempar senyum padaku. Ia baru saja menebar pesona demi membuatku kembali jatuh cinta padanya.


Jathayu pasti tidak akan bisa membayangkan bagaimana diriku yang hampir kehilangan kewarasan setelah kepergiannya beberapa waktu lalu.


Pintu mal telah tampak di depan sana. Aku menutup mulut rapat-rapat dan mengakhiri perbincangan kami berdua. Mungkin kami akan melanjutkannya di dalam mal nanti saat berkeliling atau saat duduk sambil makan kentang goreng.


***