WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#38



"Aku berubah pikiran," ucapku usai mengetuk pintu kamar mama, hal yang nyaris tak pernah kulakukan sebelumnya. Wanita itu menutup buku bacaannya ketika aku menyeruak masuk. Tatapan matanya penuh dengan pertanyaan. "Aku ingin pergi ke vila," ujarku memberikan penjelasan singkat.


"Oh." Mama meletakkan bukunya di atas bantal lalu turun dari tempat tidur. "Kapan kamu akan berangkat?" tanya wanita itu seraya berjalan menghampiri tempatku mematung.


"Sore ini," jawabku. Keputusan ini memang mendadak, tapi aku yakin ingin pergi ke vila sore ini. Sekadar untuk mengasingkan diri selama beberapa hari ke depan meski aku tak yakin bisa memperbaiki suasana hatiku.


"Baiklah. Mama akan menelepon teman mama."


Aku mengangguk samar dan membalik tubuh hendak pergi meninggalkan kamar mama.


"Kamu pergi bersama Jathayu, kan?" tegur mama ketika tanganku akan menyentuh kenop pintu.


Aku benar-benar ingin mengasingkan diri dari dunia, lalu kenapa aku harus mengajak Jathayu? Lagipula ia adalah seorang laki-laki, apa mama akan membiarkan kami tinggal berdua saja di vila?


"Kenapa aku harus mengajaknya?" Aku memicing heran ke arah mama.


"Karena dia pengawal pribadimu."


Aku tahu, tegasku dalam hati. Tanpa diingatkan pun aku tahu jika Jathayu adalah pengawal pribadiku.


"Kenapa mama tidak memberhentikannya? Bukankah pekerjaannya sudah selesai?"


"Maksudmu?"


"Mama mempekerjakan Jathayu untuk menjauhkan aku dari Bram, kan? Dan seperti yang mama lihat, semuanya sudah berakhir sekarang. Aku tidak mengerti kenapa laki-laki itu masih menjadi pengawal pribadiku," ujarku menunjukkan rasa tidak suka pada Jathayu.


"Tapi mama tidak bisa membiarkan kamu pergi sendirian ke vila, Talisa."


"Apa yang mama takutkan? Aku sudah dewasa, Ma... "


Mama diam. Namun, wajahnya menyiratkan sebuah kekhawatiran yang tak bisa kupahami.


"Mama akan merasa lebih tenang kalau ada seseorang di sampingmu."


"Apa mama takut aku akan berbuat sesuatu? Mama tidak percaya padaku?"


Wanita itu menggeleng samar. Aku jelas menangkap seberkas keraguan dari raut wajahnya.


"Mama hanya mengantisipasi."


Aku menyunggingkan senyum kecil di bibir. Wajar jika mama tidak memercayaiku saat ini. Juga sebelumnya. Aku tidak stabil.


"Aku masih waras, Ma."


"Tapi Jathayu bilang pada mama kamu pernah ingin mengakhiri hidupmu, Talisa. Mama tidak ingin hal itu benar-benar terjadi dan satu-satunya orang yang mama percayai adalah Jathayu. Dia bisa menjagamu selagi mama tidak berada di sampingmu," ungkap mama membuatku mengernyit. Akhirnya laki-laki itu mengadukanku juga pada mama. "Mama akan menghubungi teman mama. Kamu pergilah bersama Jathayu."


Apa boleh buat. Aku membalik tubuh dan mulai mengayun langkah pergi dari kamar mama.


Sejak meninggalkan rumah beberapa menit lalu, gerimis turun mengiringi perjalanan kami. Tak ada bahan untuk diperbincangkan sampai detik ini. Jathayu mencurahkan konsentrasi sepenuhnya pada jalan yang kami lalui. Sementara aku duduk di atas jok sembari menyandarkan kepala dan menikmati lamunan hingga rasa kantuk perlahan mulai menggayuti kedua mataku.


"Kita sudah sampai."


Kupikir aku telah tertidur cukup lama sehingga tak menyadari jika mobil yang dikemudikan Jathayu telah berhenti tepat di depan sebuah rumah berlantai dua dengan beberapa jendela kaca berukuran besar terpasang pada bagian dindingnya. Matahari nyaris tenggelam ketika kami tiba di sana. Gerimis juga telah reda.


Bangunan itu tampak didominasi warna merah muda, sementara pagarnya dibalut dengan cat putih. Pada beberapa sudut di halaman terdapat beraneka tanaman hias yang berada dalam pot-pot tanah liat dan terlihat basah terguyur hujan. Aku langsung mendapati kesan nyaman ketika mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu.


Seorang laki-laki setengah tua menyambut kedatangan kami begitu turun dari mobil dengan menawarkan seulas senyum hangat. Ia memakai setelan berwarna hitam dengan sehelai sarung kotak-kotak yang terikat pada bagian pinggang. Sebuah peci hitam terpasang menutupi bagian kepalanya yang dipenuhi dengan uban. Wajahnya penuh dengan kerutan. Namun, ia tampak sebagai orang yang baik dan ramah.


"Apa Anda yang bernama Nona Talisa?" sapa laki-laki itu kepadaku. Teman mama pemilik vila pasti sudah memberitahunya tadi.


"Ya," anggukku.


"Saya Dayat, penjaga vila ini." Ia memperkenalkan diri dengan gaya sopan. "Jika kalian butuh sesuatu, kalian bisa mencari saya," ucap laki-laki itu seraya menyerahkan sebuah anak kunci ke tanganku.


"Terima kasih," balasku seraya menerima benda itu.


"Saya tinggal di rumah sebelah sana." Pak Dayat menunjuk ke arah sebuah pondok sederhana berbahan kayu yang tampak setengah usang, tapi masih kokoh. Letaknya tidak begitu jauh dari tempat kami berdiri sekarang. Mungkin sekitar 200 meter.


"Baiklah."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


Pak Dayat membungkuk dengan hormat sebelum akhirnya pergi dari hadapan kami. Laki-laki berpenampilan sederhana itu tampak melangkah ke arah pondok yang ditunjuknya tadi.


"Ambil ini." Aku mengangsurkan anak kunci ke tangan Jathayu yang masih berdiri kaku di tempatnya semula.


Aku sengaja tidak membawa banyak barang pada liburan kali ini. Kupikir aku akan tinggal selama dua atau tiga hari, tapi aku belum memutuskan. Suasana vila cukup nyaman menurutku. Namun, aku belum memeriksa bagian dalam bangunan itu.


Seperti dugaanku, bagian dalam vila tampak cukup rapi. Bahkan aku langsung menyukai desain interiornya yang minimalis. Satu set sofa hitam dengan motif polkadot berwarna putih yang menghuni ruang tamu memberi kesan nyaman dan santai.


Dapurnya juga bersih meski mungil dan kabar bagusnya adalah kulkas terisi penuh dengan berbagai bahan makanan. Teman mama memang bisa diandalkan. Ia pasti berpikir jika aku adalah tamu istimewa. Dan ia telah menyiapkan semuanya untukku.


"Apa kamu mau menempati kamar atas?" tegur Jathayu. Tampaknya ia telah memeriksa seluruh ruangan termasuk lantai dua.


"Apa pemandangannya bagus?"


"Untuk saat ini tidak ada yang bisa dilihat," balasnya polos. Lagipula di luar pasti sudah gelap sekarang.


"Aku akan ke atas," putusku. Aku bergegas mengambil tas jinjing yang Jathayu tinggalkan tak jauh dari meja makan dan melangkah menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Mari kita lihat seperti apa kamar di sana.


Sebenarnya ada dua kamar tidur di lantai atas dan sebuah kamar mandi. Tapi, aku tidak akan berbaik hati menawarkan salah satu kamar itu pada Jathayu. Ia lebih baik tidur di kamar lantai bawah dan menjaga persediaan makanan kami. Namun, laki-laki itu benar. Tak ada pemandangan yang bisa tertangkap oleh kedua mataku ketika membuka jendela kamar. Semuanya tampak samar. Tapi, aku masih bisa merasakan angin dingin bertiup menerpa wajahku. Sensasi segar dan nyaman langsung menyerbu tubuhku.


***