
Bram belum menghubungiku sama sekali sejak hari itu. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Sibukkah ia? Ataukah ia merasa tak berdaya karena hubungan kami telah diketahui oleh istrinya? Atau jangan-jangan Bram sedang berusaha untuk melepaskanku?
Rasanya aku hampir kehilangan kewarasanku karena terlalu cemas memikirkan laki-laki itu. Perasaan takut akan kehilangan dirinya terus menerus menghantui benakku. Sungguh, aku tidak bisa mengatasi semua ini. Aku terlalu merindukannya. Meski aku siap untuk terluka kapan saja, tapi aku tak siap untuk kehilangan Bram.
"Apa kamu bisa menghentikan mobilnya?"
Aku menoleh ke samping setelah cukup lama duduk terdiam seraya menatap keluar jendela untuk meresapi lamunan sepanjang perjalanan.
"Ada apa?" tanya Jathayu tampak bingung.
"Perutku sakit. Apa kamu bisa membelikanku obat maag di minimarket?"
"Oh." Jathayu menatapku sekilas lalu mengarahkan pandangan ke depan kemudi.
"Aku tidak tahan lagi... " Aku meratap, memohon kepada laki-laki itu.
"Oh, ya. Baiklah." Laki-laki itu berkata seperti robot. Ia mengedarkan pandangan ke sepanjang tepi jalan demi menemukan minimarket seperti permintaanku.
Aku hapal jalur menuju butik. Beberapa meter di depan sana ada sebuah minimarket yang terletak di dekat perempatan jalan. Kami bisa berhenti di sana.
"Oh itu dia." Jathayu setengah berdecak begitu ia menemukan minimarket yang kumaksud. Laki-laki itu segera menepikan mobil yang kami tumpangi tak jauh dari jalan masuk ke minimarket. "Tunggu sebentar di sini," suruhnya sambil melepas sabuk pengaman dan buru-buru melompat turun dari mobil.
Sepasang mataku terus mengawasi laki-laki itu dan tepat saat ia mendorong pintu minimarket, aku segera menjalankan rencanaku. Sudah dua kali rencanaku untuk melarikan diri dari pengawasan Jathayu gagal. Dan kali ini aku harus berhasil, batinku sambil keluar dari mobil.
Entah ini kebetulan atau memang Tuhan memberikan kemudahan untukku, ada sebuah taksi yang melaju ke arahku tiga detik setelah aku berhasil keluar dari dalam mobil. Kesempatan emas ini tentu saja tak akan kulewatkan.
Taksi itu berhenti setelah aku memberi isyarat dengan melambaikan tangan pada sang pengemudi. Aku bergerak cepat masuk ke dalam taksi dan segera menyebutkan tempat yang ingin kutuju. Sampai taksi yang kutumpangi meninggalkan tempat itu, Jathayu belum tampak keluar dari minimarket.
Namun, aku masih belum bisa bernapas dengan lega meski telah berhasil melarikan diri dari Jathayu. Perasaan takut dan cemas masih bergayut di hatiku. Aku harus bertemu dengan Bram secepatnya.
"Bisa agak lebih cepat, Pak?" pintaku pada supir taksi.
"Baik," sahut laki-laki pengemudi taksi sambil melirik wajahku melalui spion tengah. Entah apa yang ia pikirkan tentangku. Aku tidak terlalu peduli tentang hal itu.
Setengah jam kemudian, aku telah sampai di depan gedung di mana kantor Bram berada. Jujur, ini adalah pertama kalinya aku berkunjung ke tempat kerja Bram setelah setahun menjalin hubungan dengannya.
Dengan perasaan ragu, aku melangkah masuk ke dalam gedung yang menjulang tinggi seolah ingin menggapai langit itu. Aku sadar kamera pengawas ada di berbagai sudut dan membuatku merasa sedikit tidak nyaman sekaligus khawatir. Ancaman wanita itu kembali terngiang di telingaku.
"Apa aku bisa bertemu dengan Pak Bram?" Aku memberanikan diri untuk bertanya pada seorang wanita berwajah cantik yang berada di balik meja resepsionis lantai lobi.
"Maaf, nama Anda siapa? Apa Anda punya janji sebelumnya?"
"Talisa. Tidak, aku tidak punya janji dengannya," jawabku setelah diam selama tiga detik. Pikirku, akan lebih baik jika Bram tahu kalau aku sedang mencarinya.
"Mohon tunggu sebentar." Wanita itu menekan tombol pesawat telepon yang berada di atas meja dan berbicara dengan seseorang. "Maaf, Pak Bram sedang ada rapat hari ini. Mungkin Anda bisa datang lain kali," ucapnya kemudian setelah meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya.
"Jam berapa dia akan selesai? Aku bisa menunggu... "
"Kalau begitu aku akan menunggunya."
"Tapi... "
"Tidak apa-apa. Aku bisa menunggunya," tukasku cepat. Sebab perasaanku mengatakan jika wanita itu akan menyuruhku pergi. "Aku akan menunggunya di sana," ucapku sambil menunjuk ke arah set sofa yang berada di sudut lantai lobi.
"Tapi, Nona... "
Aku tidak menggubris ucapan wanita itu dan bergegas melangkah ke arah sofa yang tersedia. Aku tidak peduli. Aku akan menunggu Bram, batinku. Satu atau dua jam, mungkin juga lebih dari itu. Aku akan bersabar menunggunya hingga selesai rapat.
Wanita yang berada di balik meja resepsionis itu memandangku dengan tatapan tidak suka. Ia tampak berbicara dengan seorang petugas keamanan setelah aku mengambil tempat duduk di sofa tunggu.
Kurasa tidak ada satupun orang yang suka menunggu, tapi aku masih bertahan hingga satu jam kemudian di atas tempat dudukku. Sembari mengawasi orang-orang yang keluar masuk gedung dan berharap Bram akan muncul sesuai harapanku. Wanita resepsionis itu juga mulai mengacuhkanku dan tak lagi mencuri tatap ke arahku. Syukurlah.
Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan di benakku ketika jam digital di ponselku menunjuk angka 17.09. Sudah empat jam aku menunggu Bram, tapi laki-laki itu belum menampakkan diri juga. Apakah rapatnya selama itu? batinku mulai gusar. Apakah wanita resepsionis itu berbohong padaku? Haruskah aku bertanya sekali lagi pada wanita itu?
"Maaf."
Aku mendongakkan wajah ketika suara seorang laki-laki tiba-tiba menegur.
"Ya?" Aku tergagap begitu mendapati seorang petugas keamanan berdiri persis di depan tempat dudukku. Beberapa waktu lalu aku melihat wanita resepsionis itu berbicara dengannya.
Apakah Bram ingin bertemu denganku? batinku sambil mengangkat tubuh dari atas sofa.
"Sebaiknya Anda pulang, Nona. Kantor akan tutup sebentar lagi," beritahunya dengan nada sopan. Namun, pada intinya laki-laki itu sedang mengusirku.
"Tapi aku ingin bertemu dengan Pak Bram... "
"Pak Bram sudah pulang satu jam yang lalu."
"Apa?!" Aku kaget. Seperti baru saja tersengat listrik. "Tapi... aku tidak melihatnya keluar tadi."
"Sebaiknya Anda pulang, Nona." Laki-laki itu hendak menyentuhku demi menyuruhku untuk segera pergi.
"Apa Pak Bram tidak menitip pesan?" Sudah tahu diusir secara halus, tapi aku masih tetap bertanya pada laki-laki itu.
"Pak Bram tidak ingin menemui Anda, Nona," tandas petugas keamanan itu membuatku seketika tertegun. Kalimatnya perlu kucerna baik-baik agar aku tidak salah mengartikannya.
"Begitukah?" tanyaku seperti orang bingung. Dan laki-laki itu menggunakan kesempatan untuk mendorong tubuhku perlahan keluar dari gedung. Karena aku sama sekali tak lagi ingin bertahan di sana.
Langkah kakiku gamang. Pandanganku kosong. Sementara air hujan tiba-tiba berjatuhan menimpa kepalaku yang penuh dengan pertanyaan.
Masih tentang Bram.
***