
"Apa Kakak benar pacarnya Kak Jathayu?"
"Apa Kakak akan menikah dengan Jathayu?"
Pertanyaan demi pertanyaan terus keluar dari bibir anak-anak kecil itu. Bahkan mereka rela duduk di atas ubin panti yang tampak berdebu dan dingin hanya untuk mendengarkan jawaban yang ingin mereka ketahui dariku. Mereka duduk mengitariku dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu. Wajah polos dan tatapan bening mereka membuat anganku seketika melayang, apakah Jathayu dulu juga seperti mereka? Ataukah ia hanya diam mematung di sudut halaman sembari menatap teman-teman sebayanya bermain?
"Kak..."
Seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun menarik ujung kemeja berenda milikku. Ia seolah ingin menyadarkanku dari lamunan singkat tentang Jathayu.
"Ya, ada apa?" tanyaku sambil memasang wajah manis di depannya.
"Jangan menikah dengan Kak Jathayu," ucapnya dengan mimik serius. Ia lebih cenderung tampak cemberut saat mengucapkan kalimat itu.
Keningku tak bisa kutahan untuk tidak mengerut.
"Kenapa?" balasku dengan dipenuhi rasa penasaran luar biasa. "Ada apa dengan Jathayu?" tanyaku dengan agak ragu.
"Karena aku ingin menikah denganmu. Jadi jangan menikah dengannya," ucap anak laki-laki itu sontak membuatku ingin memuntahkan tawa. Namun, beruntung aku masih bisa menahan diri untuk tidak tertawa di hadapannya. Kasihan ia jika harus kecewa karena kutertawakan.
"Tapi kamu masih sangat kecil..." Aku mencoba menjelaskan seraya menyentuh pipinya yang kurus.
"Aku akan tumbuh dewasa dengan cepat. Aku janji..."
"Mana bisa seperti itu?" Seorang anak gadis yang sedikit lebih besar darinya mengajukan protes keras. Ia tampak tidak terima jika anak laki-laki itu lebih cepat tumbuh dewasa darinya.
"Bisa. Aku akan makan banyak supaya cepat tumbuh besar." Anak laki-laki itu tidak mau kalah.
"Butuh waktu lama untuk tumbuh dewasa, Tyo..."
Aku mencuri tatap ke arah ruang tamu panti di saat anak-anak itu sibuk berdebat. Jathayu dan ibu panti masih terlihat berbincang serius. Entah apa yang mereka perbincangkan sehingga aku tak diizinkan Jathayu untuk bergabung ngobrol dengan mereka. Ia seolah sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Jathayu malah menjebakku bersama anak-anak panti.
"Apa kalian sudah selesai berdebat?" Aku beralih ke arah anak-anak setelah menyaksikan pemandangan yang sama seperti beberapa menit lalu. Jathayu dan ibu panti masih bergeming di tempat duduk mereka dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri perbincangan mereka.
"Kak Hana yang memulai perdebatan, bukan aku," kilah Tyo membela diri. Begitu juga dengan Hana tak mau mengalah dari Tyo.
"Kamu yang bicara tidak masuk akal," timpal Hana sengit.
"Dengar," Aku berinisiatif untuk menyela perdebatan mereka. Jika aku tidak segera bertindak, perdebatan itu akan berlangsung lebih lama dan tak kunjung berakhir. "proses menuju dewasa butuh waktu bertahun-tahun, Tyo. Dan aku tidak bisa menunggumu terlalu lama. Aku akan menjadi tua saat kamu dewasa nanti. Wajahku akan mulai berkeriput dan rambutku akan memutih satu per satu. Dan di saat itu, kamu tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Banyak gadis cantik yang ingin menikah denganmu. Lalu siapa yang akan kamu pilih saat itu tiba, hah? Kamu akan memilihku yang keriput dan ubanan, atau salah satu dari gadis-gadis cantik itu?" tuturku mencoba memberi pengertian pada si kecil Tyo. Aku tak pandai menjelaskan, jadi aku memakai bahasa dan caraku sendiri. Semoga Tyo dan yang lain paham.
Tyo terdiam. Anak itu tampak terdiam dan bola matanya bergeming menatapku. Ia tampak berpikir keras merenungkan kalimat-kalimatku.
"Apa yang kalian bicarakan?"
Kepalaku dan kepala anak-anak itu seketika menoleh saat suara Jathayu terdengar memecah suasana hening di teras. Sinar matahari sore tampak menyapu wajah anak-anak polos itu dengan lembut.
Aku bergegas bangun dari tempat dudukku demi menyambut kedatangannya yang sedari tadi kutunggu.
"Apa kalian sudah selesai bicara?" tegurku tak peduli dengan pertanyaan Jathayu. Aku melirik ke arah ruang tamu dan menemukan ibu panti masih duduk di tempatnya semula.
"Ya. Mari kita pulang," ajaknya.
"Aku sudah berpamitan padanya tadi."
"Tapi aku..."
Kalimatku hanya menggantung di udara karena Jathayu telah lebih dulu menarik tanganku pergi dari teras panti. Ia bahkan tak ingin berpamitan pada anak-anak panti seolah tak peduli lagi dengan mereka.
Laki-laki itu terlihat berbeda dari sebelum bicara dengan ibu panti. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan sampai-sampai sikap Jathayu berubah ganjil seperti itu?
"Ada apa denganmu, Jathayu?"
Setelah tiga menit kami meninggalkan panti, barulah aku mengajukan pertanyaan pada laki-laki itu. Karena aku tak ingin mengundang perhatian anak-anak panti jika pertanyaanku nantinya akan mengundang perdebatan.
"Tidak ada," jawab Jathayu dingin. Fokus matanya tampak lurus ke depan.
Aku sengaja mendengus keras-keras demi melampiaskan rasa kesal.
"Apa lagi yang sekarang ingin kamu sembunyikan dariku?" desakku. Ia pernah sekali berbohong padaku dan aku tak ingin terus seperti itu. "Jathayu!"
"Jangan berteriak, Nona." Ia menoleh sebentar lalu sibuk mengarahkan fokus matanya kembali ke depan.
Aku ternganga melihat reaksinya.
"Apa aku membuatmu marah?" tanyaku dengan sepasang mata melebar tak percaya.
Jathayu tampak mengembuskan napas kasar. Meski tak bisa menatap ke dalam matanya secara langsung, aku tahu jika laki-laki itu sedikit kesal mendengar pertanyaanku.
"Apa kamu sadar," Aku menatap lurus ke depan seperti yang Jathayu lakukan sekarang. "sikapmu mulai berubah akhir-akhir ini. Dan sekarang setelah kamu bicara dengan ibu panti, kamu membuatku sangat yakin jika kamu sudah berubah, Jathayu," tandasku tanpa menoleh sama sekali ke arahnya.
"Aku sama sekali tidak berubah, Nona. Aku masih mencintaimu sama seperti sebelumnya," tandasnya tanpa menoleh ke arahku.
"Kalau kamu memang mencintaiku, kenapa kamu berbohong padaku? Kenapa menyembunyikan sesuatu dariku?" desakku ingin memancing reaksinya. Jika Jathayu memang mencintaiku dan menganggapku sebagai orang yang penting dalam hidupnya, paling tidak seharusnya ia lebih terbuka padaku. Semestinya ia tidak menyembunyikan sesuatu apalagi berbohong padaku. "Bukankah aku selalu berbagi segalanya denganmu?"
Semua tentang diriku, Jathayu telah mengetahuinya. Namun sebaliknya, tentang dirinya aku hanya tahu sebagian kecil saja. Apakah itu bisa disebut sebagai cinta?
Jathayu masih bergeming dengan sepasang mata menatap lurus ke depan. Aku yakin laki-laki itu mendengarkan suaraku, tapi kenapa ia diam seperti patung seolah ingin mengabaikan kata-kataku?
"Hentikan mobilnya," ucapku setelah beberapa menit menunggu, tapi tak ada sepatah katapun mengalir dari bibirnya. Aku tidak ingin terjebak dalam kebisuan bersama laki-laki itu lebih lama lagi. Bukankah cinta adalah tentang kepercayaan dan saling berbagi satu sama lain?
"Apa maksudmu?" Aku berhasil memancing reaksinya.
"Kubilang hentikan mobilnya."
"Nona..."
"Hentikan, Jathayu!"
***