
Tiga bulan kemudian.
"Tolong pakaikan gaun ini ke manekin," suruhku pada Dini sembari mengangsurkan sehelai gaun putih berenda selutut ke tangan gadis itu. Manekin yang baru tiba kemarin belum sempat dipakaikan apa-apa dan itu tampak sangat memalukan.
"Baik, Nona." Dini menerima gaun itu dengan baik. "Apa perlu ditambahkan sesuatu yang lain? Aksesoris mungkin?"
"Tidak perlu. Kita belum punya aksesoris apapun," balasku lalu beralih ke arah tumpukan pakaian yang masih berada di dalam bungkus plastik bening. Aku harus mengeluarkan pakaian-pakaian itu lalu menggantungnya pada pajangan besi. "Mungkin aksesorisnya akan datang besok," imbuhku memberitahu.
Kami sangat sibuk mempersiapkan segalanya. Sebenarnya aku ingin membuka butik esok hari, itupun kalau kami sudah selesai mengerjakan semuanya hari ini. Kalau tidak, kami terpaksa menunda pembukaan butik sampai lusa. Sayangnya mama tak bisa membantu kami karena ia masih belum meninggalkan pekerjaannya sebagai pengacara. Mungkin sepuluh tahun lagi ia baru bisa membantu kami dan itu masih lama sekali.
Setelah Jathayu mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya, Nyonya Penny membawa laki-laki itu keluar dari rumah kami. Wanita itu mengajak Jathayu untuk tinggal di rumah mereka. Bagaimanapun juga ia adalah putra Nyonya Penny dan memang di sanalah seharusnya Jathayu tinggal. Aku tidak berhak untuk mencegahnya pergi dan apapun kenyataannya aku harus terima dengan lapang dada.
Nyonya Penny juga memberikan Jathayu jabatan penting di perusahaan kakeknya. Sungguh, semua ini seperti jalan cerita dalam drama Korea yang kutonton setiap kali ada waktu luang. Meski aku merasa lega karena Jathayu telah kembali ke tempat yang seharusnya, namun terkadang aku merasa kesepian tanpa kehadirannya. Hari-hari yang kulalui terasa berat, tapi akhir-akhir ini aku mulai memiliki kesibukan di butik sehingga pikiranku sedikit teralihkan dari laki-laki itu. Namun, rasa cintaku padanya sama sekali tak berkurang secuilpun.
Jathayu bukanlah pengawal pribadiku lagi dan aku tak bisa melihatnya setiap hari. Ia menjadi orang yang sibuk dan intensitas pertemuan kami semakin minim. Berbalas pesanpun kian jarang kami lakukan. Bukan karena aku tidak ingin melakukannya, tapi aku takut akan mengganggu pekerjaannya.
Aku sadar Jathayu yang dulu kukenal telah bertranformasi menjadi orang lain. Ia memiliki segalanya sekarang. Pekerjaan yang bagus, rumah besar lengkap dengan segala fasilitasnya, kekayaan yang melimpah, dan keluarga yang utuh. Jathayu memiliki semua itu sekarang. Dunia yang ia tinggali berbeda dari yang dulu. Jika dunianya yang lama masih ada tempat untukku, masihkah ada ruang bagiku di dunianya yang baru?
"Nona, apa manekinnya diletakkan di sini?"
Suara Dini memaksaku kembali ke dunia nyata. Gadis itu telah selesai memasang gaun pada manekin dan ia tidak tahu harus meletakkannya di mana.
"Letakkan di situ saja," ucapku seraya menunjuk ke sudut butik yang masih kosong.
"Apa Nona tidak haus?"
Aku menoleh ke arah Eka begitu mendengar tegurannya. Gadis itu telah selesai melakukan pekerjaan yang kuberikan padanya beberapa menit lalu.
"Oh, ya. Aku lupa." Aku hampir lupa jika sekarang sudah masuk jam makan siang dan aku tidak menyuruh mereka untuk beristirahat. "Kita belum membeli air minum."
"Biar saya saja yang beli, Nona." Dini maju dan menawarkan diri. Beberapa blok dari butik kami ada sebuah minimarket dan di seberang jalan ada sebuah warung makan.
"Tolong kamu beli makan sekalian, Din." Aku merogoh saku celana jinsku demi mencari lembaran rupiah yang kusimpan di sana. "Beli tiga bungkus nasi, lauknya terserah kalian," ucapku sembari mengulurkan lembaran rupiah ke tangan Dini.
"Baik, Nona. Saya akan segera kembali." Dini terlihat gembira dan bergegas melenggang keluar dari butik. Gadis itu tampak antusias.
"Istirahatlah," suruhku pada Eka yang terlihat lelah. Wajahnya tampak lembab karena rembesan keringat.
"Baik, Nona."
Aku baru saja bangkit dari atas lantai ketika ponselku tiba-tiba bergetar agak lama.
Papa menelepon.
"Halo, Talisa..."
"Hai, Pa. Tumben menelepon," sahutku gembira. Rasanya menyenangkan bisa mendengar suara papa saat aku merasa letih seperti sekarang.
"Ya, papa merindukanmu, Talisa. Apa kamu sibuk sekarang?"
"Lumayan. Kami harus menyiapkan semuanya untuk pembukaan butik besok. Tapi kalau hari ini belum kelar, mungkin kami harus menunda pembukaan," tuturku seraya melangkah ke arah kursi plastik. Kaki dan punggungku sedikit kaku karena terlalu lama duduk di atas lantai.
"Apa kamu butuh bantuan papa?" tawar laki-laki itu spontan membuatku tertawa geli.
"Memangnya papa tidak sibuk?"
"Belum. Tapi Dini sedang pergi membeli makan. Papa sendiri?"
"Sudah, baru saja. Kalau begitu papa akan segera meluncur ke sana setengah jam lagi. Kamu mau dibawakan minuman dingin?"
"Boleh. Asal bukan kopi. Tiga gelas ya, Pa," pintaku merajuk.
"Beres. Tunggu papa sebentar lagi."
Aku tersenyum seraya menutup sambungan telepon kami.
"Ada yang datang, Nona," beritahu Eka tiba-tiba.
Dari balik kaca bening aku bisa melihat ada sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di pelataran butik. Apa papa datang secepat ini? Tapi, papa tidak pernah bilang jika ia membeli mobil baru.
"Apa kamu melihat siapa pemilik mobil itu, Ka?" tanyaku tanpa mengalihkan perhatian dari mobil itu. Jika pemilik mobil itu pelanggan butik kami, apa ia tidak melihat jika kami masih belum buka?
"Tidak, Nona."
Aku bangun dari atas kursi plastik dan berjalan mendekat ke pintu masuk butik yang masih tertutup rapat untuk melihat siapa gerangan pemilik mobil sedan hitam itu.
Tak lama berselang, pintu mobil sedan itu terbuka dan keluarlah seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap berbalut setelan jas berwarna hitam senada dengan warna sepatu berbahan kulit yang membungkus kedua ujung kakinya. Sebuah kaca mata hitam tampak menghias wajahnya, menyembunyikan sepasang mata miliknya dari jangkauan pandanganku. Ia berjalan dengan langkah pasti menuju ke arah pintu masuk butik dan di sebaliknya ada aku yang sedang berdiri terpukau.
Siapa laki-laki itu?
Aku mundur beberapa langkah ketika laki-laki itu semakin dekat dan tangannya meraih pegangan pintu.
"Apa Anda Nona Talisa?" tegur laki-laki itu tanpa menurunkan kacamata hitamnya.
Aku menatap Eka sekilas dan mendapati gadis itu sedang berdiri dengan tegang di sudut ruangan. Wajahnya tampak pucat dan panik.
"Ya, aku Talisa," jawabku ragu.
"Saya disuruh kemari untuk menjemput Nona," ucapnya dengan nada datar.
"Menjemputku? Tapi, siapa yang menyuruhmu?" tanyaku bingung. Bukankah papa tadi bilang akan datang ke sini dan tidak bilang akan menyuruh seseorang untuk menjemputku?
"Nanti Anda akan tahu setelah tiba di sana."
Oh.
Apa ia bermaksud untuk menculikku?
"Baiklah," ucapku setelah berpikir sejenak. Toh, tidak ada penculik yang bersikap sopan seperti ini.
"Nona..."
Aku menoleh ke arah Eka dan melempar senyum demi menenangkan hati gadis itu.
"Tidak apa. Aku akan kembali nanti," ucapku. "Jangan khawatir."
Aku tidak memiliki firasat buruk untuk ini, jadi aku menuruti perintah laki-laki itu untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
***