WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#87



"Mama?"


Merupakan sebuah pemandangan langka bagiku ketika aku pergi ke dapur dan mendapati mama sedang berdiri di depan kompor yang masih menyala. Wanita itu membalik tubuh saat tanpa sadar aku memanggilnya dalam gumaman lirih.


"Talisa?"


"Apa yang mama lakukan?" tanyaku bingung. Aku tambah bingung saat mengalihkan perhatian ke arah meja makan dan menemukan sejumlah menu tersaji di sana. "Kenapa makanannya banyak sekali?"


"Ajak Jathayu untuk makan bersama kita," suruh mama sebelum akhirnya mematikan kompor di depannya.


Aku tertegun selama beberapa saat.


"Ya, baiklah."


Kenapa tiba-tiba mama mempunyai ide untuk mengajak Jathayu makan bersama kami? Apakah wanita itu sudah mengetahui segalanya? Ya, tentu saja. Pasti ada sebuah alasan kuat yang bisa merubah pikiran seseorang dalam waktu singkat seperti itu. Bukankah Nyonya Penny adalah teman baik mama?


Suasana makan malam kami terasa sangat berbeda karena kehadiran Jathayu. Laki-laki itu tampak agak canggung duduk di antara aku dan mama. Tapi tidak denganku. Sejak tadi aku terus mencurigai sikap mama yang berbeda dari biasanya. Padahal seumur-umur aku tak pernah melihat wanita itu menyalakan kompor apalagi memasak.


"Makanlah, jangan merasa sungkan padaku," suruh mama jelas-jelas ditujukan untuk Jathayu. Ia terlihat ramah pada 'calon menantunya' itu. Selama ini ia memang selalu memperlakukan Jathayu dengan baik, tapi kali ini malah kelewat baik.


"Terima kasih, Nyonya."


"Apa mama sudah mengetahui semuanya?" Aku tidak tahan lagi untuk menyimpan pertanyaan di dalam kepalaku lebih lama. Harus ada sebuah penjelasan untuk semua ini.


Mama melirik ke arah Jathayu sebentar lalu menatapku dengan penuh arti. Aku sudah bisa menduga jika tebakanku benar hanya dengan menatap sepasang mata yang berhias bulu mata palsu itu.


"Nyonya Penny sudah menceritakan semuanya pada mama hari ini," beritahu mama jujur.


"Secepat itu?" tanyaku heran.


"Ya. Mungkin karena Jathayu tinggal di rumah kita dan Nyonya Penny adalah teman mama. Jadi, dia memberitahu mama yang sebenarnya. Tapi mama rasa belum ada orang lain yang tahu selain kita," ujarnya tampak yakin. Tapi aku kurang sependapat dengannya.


Kupikir Nyonya Penny pasti akan mengumumkan hal itu pada publik secepatnya. Dan wanita itu juga pasti akan segera menarik Jathayu keluar dari rumah ini agar tinggal bersama dengan keluarganya. Tidak menutup kemungkinan wanita itu juga akan memberikan Jathayu jabatan penting di perusahaan kakeknya. Aku sudah sering melihat adegan semacam ini dalam drama Korea. Ah, kenapa aku baru memikirkannya sekarang? Rasa takut akan berjauhan dari Jathayu mulai menjalari hatiku perlahan. Entah seperti apa rasanya hidup berjauhan dari orang yang kucintai.


Aku tak melanjutkan percakapan dan pura-pura menikmati makan malamku dalam diam. Sedang mama dan Jathayu sesekali berbincang hal tak penting. Di satu pihak aku merasa senang Jathayu akhirnya menemukan keluarganya, tapi di sisi lain aku takut akan kehilangan dirinya. Dan aku tidak mungkin untuk menahannya agar tetap tinggal di sisiku. Jathayu memiliki orang tua dan seorang saudara perempuan yang belum pernah ia kenal seumur hidupnya. Ia berhak kembali ke tempat yang seharusnya. Kurasa aku akan kesepian lagi setelah ini.


"Apa kamu akan tinggal bersama orang tuamu setelah ini?"


Pertanyaan mama sama persis dengan apa yang kupikirkan. Hal itu terus mengusik pikiran, tapi takut untuk kupertanyakan pada Jathayu.


Meskipun Jathayu ingin tetap tinggal di rumah ini, aku yakin seyakin-yakinnya jika Nyonya Penny tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Jathayu telah menghabiskan masa kecilnya di panti asuhan dan hidup sebagai yatim piatu, tentu saja Nyonya Penny akan berusaha menebus semua penderitaan itu.


"Memang tidak mudah berada pada posisimu. Talisa juga pernah mengalaminya. Mungkin pada awalnya sulit untuk menerima kenyataan, tapi lama-lama kamu akan terbiasa, Jathayu. Bagaimanapun juga mereka adalah keluargamu, kan?" Mama seperti ingin mengusir Jathayu jauh-jauh dari rumah ini.


"Mungkin Nyonya benar," sahut Jathayu sok demokratis. Laki-laki itu seperti lupa betapa ia membenci kedua orang tuanya sebelum ini. Dan siapa sangka dalam waktu singkat, ia bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Sejauh ini ia tampak baik-baik saja. Berbeda denganku yang butuh beberapa hari untuk menerima semuanya.


"Oh, ya. Mama sudah membicarakan pembangunan butik dengan para pekerja. Mereka akan membangun butik mulai besok. Semua bahan materialnya sudah dikirim hari ini. Mama juga sudah memeriksa ke sana tadi siang. Mama berencana akan membangun butik dua lantai seperti keinginanmu. Kalau kamu mau, besok kamu bisa pergi ke sana untuk melihat sendiri pembangunannya," beritahu mama. Sekarang ia mengalihkan topik pembicaraan padaku tentang pembangunan butik.


"Bukannya mama sudah mempercayakan desainnya pada arsitek?"


Sungguh, aku sedang tidak ingin dan tidak tertarik untuk membahas soal butik sekarang. Lagipula aku sudah menyerahkan semuanya pada mama.


"Ya, tapi mama tidak yakin kamu akan menyukai desainnya."


"Apa yang mama suka, aku juga suka," balasku pasrah. Aku yakin desain seorang arsitek tidak akan pernah mengecewakan. "Aku sudah kenyang," ucapku setelah meletakkan sendok dan garpu di atas piring lalu meneguk air minum. Masakan mama sedikit berbeda dari masakan Bik Inah, tapi aku masih bisa menikmatinya.


"Pergilah, biar mama yang mencuci piringnya," ucap mama langsung membuatku syok.


"Mama serius?" tanyaku dengan kening berlipat-lipat. Aku urung untuk mengangkat tubuh dari atas kursi.


"Tentu saja mama serius."


"Tapi sikap mama mencurigakan," keluhku. "Apa mama sedang merencanakan sesuatu?" Aku memicing ketika menatap ke arah wanita itu. Apa ia tidak takut kuku-kuku cantiknya akan rusak ketika bersentuhan dengan cairan pencuci piring? Biasanya kami hanya meninggalkan peralatan makan kotor di atas wastafel dan membiarkan Bik Inah yang menyelesaikan sisanya esok hari. Tapi sikap baik mama malah mengundang berpuluh tanda tanya dalam benakku. Aku hampir tidak mengenali mamaku sendiri.


"Tidak ada. Mama hanya ingin belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik seperti wanita-wanita lainnya. Kamu tahu, selama ini mama tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah tangga, kan? Jadi mulai sekarang mama akan membiasakan diri untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga biar nanti mama tidak kaget saat sudah berhenti menjadi pengacara," tutur wanita itu terdengar masuk akal. Tapi aku masih belum bisa percaya ucapannya seratus persen.


"Apa itu artinya mama akan memberhentikan Bik Inah suatu hari nanti?"


"Tidak. Bagi mama, dia sudah seperti keluarga kita sendiri."


"Baiklah, terserah mama," ucapku sambil mengangkat tubuh dari atas kursi. "Aku akan ke kamar sekarang." Aku melempar tatapan ke arah Jathayu sebelum pergi meninggalkan meja makan.


Kumohon jangan pergi, batinku.


***