WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#65



Di saat nyaliku mulai menciut dan genggaman tanganku pada Jathayu nyaris terlepas, laki-laki itu malah kian mengeratkan genggaman tangannya. Ia tahu segalanya tentangku juga keburukan-keburukan yang pernah kulakukan. Namun, bukannya diam saja, laki-laki itu seolah ingin menguatkan tubuhku yang melemah. Tanpa kata, ia ingin mendukungku agar tetap kuat berdiri di atas lantai mal yang mengilat.


"Apa dia pacar barumu?" Wanita itu bersuara di tengah kebisuanku. Hiruk pikuk di sekitar tempat kami bukanlah gangguan berarti untuknya. Toh, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Tak akan ada yang peduli pada kami dan perbincangan yang akan terjadi. "Apa sekarang seleramu sudah berubah?" Ekor mata Nyonya Andhara terus mengawasi sosok Jathayu dari atas kepala hingga ujung kaki.


"Apa yang Anda inginkan, Nyonya?" tanyaku mencoba memberanikan diri meski nyaliku hanya sebesar kelereng. Aku harus secepatnya mengalihkan perhatian wanita itu dari Jathayu. Aku tidak mau ia menyakiti laki-laki itu atas apa yang tidak dilakukannya.


"Tidak ada," sahutnya enteng. Aku berhasil mengalihkan perhatiannya dari Jathayu. "Kebetulan aku melihatmu dari kejauhan tadi. Apa aku salah jika ingin menyapamu secara langsung? Apa aku mengganggu kalian?"


Aku menarik napas diam-diam. Aku harus bersabar menghadapi wanita itu.


"Kita sudah tidak ada urusan lagi, Nyonya. Bisakah kami pergi sekarang?" Jelas aku tak bisa berdebat dengan terang-terangan di depan wanita itu karena semua yang dimilikinya. Ia mempunyai harta yang melimpah dan kekuasaan. Aku tidak akan pernah menang melawannya dan aku sadar betul akan hal itu. Jalan terbaik dan termudah adalah segera pergi dari hadapannya.


Nyonya Andhara tersenyum sinis. "Sepertinya setelah mendapatkan pengganti suamiku, kamu terlihat baik-baik saja. Apa kamu tidak pernah merasa bersalah padaku? Apa sekalipun kamu tidak merasa berdosa?"


Aku terdiam di tempatku berdiri. Tak ada yang ingin kukatakan lagi padanya. Pertemuan ini mungkin adalah sebuah kesalahan dalam hidupku.


"Biarkan kami pergi, Nyonya." Jathayu angkat bicara di saat aku terombang-ambing dalam kekalutan. Laki-laki itu mengambil keputusan untuk segera menyeretku pergi dari hadapan Nyonya Andhara.


Pilihan yang diambil Jathayu sangat tepat. Ia telah menyelamatkanku. Jika aku lebih lama berada di sana, entah hal apa yang akan menimpaku.


Laki-laki itu terus menarik tanganku menjauh pergi. Langkah-langkah cepat dan lebar. Aku bahkan nyaris tak bisa mengimbanginya. Kemampuan berlariku cukup buruk.


"Duduklah," suruh Jathayu setelah kami tiba di sebuah restoran cepat saji. Ia membawaku ke sana sesuai rencana kami sebelumnya. Kurasa kami sudah berada cukup jauh dari wanita itu. Kuharap ia tidak pernah berpikir untuk mengejar atau menguntit kami.


Aku segera menempati sebuah kursi yang ditarik Jathayu untukku. Suasana restoran lumayan ramai siang ini dan kami beruntung masih ada tempat yang tersisa untuk dua orang.


"Tunggu di sini. Aku akan memesan makanan," ucap Jathayu sembari menyentuh salah satu pundakku. Laki-laki itu bergegas pergi sebelum aku sempat menganggukkan kepala. Kantung belanjaan berisi dua helai hoodie milik kami berdua ia tinggalkan di atas meja.


Setelah sekian banyak peristiwa yang terjadi, aku tidak pernah menyangka jika akan datang hari seperti hari ini. Di saat aku telah melepaskan masa lalu dan mulai mengecap rasa bahagia dengan orang yang kusukai tanpa beban apapun, wanita itu datang mengusik hidupku dan mengungkit semua kesalahanku. Seolah-olah semesta masih ingin menghukumku dan tak membiarkanku mengenyam kebahagiaan di sisa umurku. Apakah masih ada kebahagiaan tersisa dalam hidupku?


"Apa kamu baik-baik saja?"


Selang beberapa lama, Jathayu datang dengan sebuah nampan di tangan. Dua gelas minuman soda dingin, sekotak penuh ayam goreng, kentang goreng ukuran jumbo, dan dua kepal nasi telah tersaji di atas meja kami sejurus kemudian.


"Makanlah, bukannya tadi kamu ingin makan kentang goreng," suruhnya seolah tahu harus mengalihkan pikiranku dari kejadian tadi.


Wanita itu benar-benar merusak kebahagiaan kami hari ini. Aku jadi menyesal setengah mati telah memaksa Jathayu pergi ke mal. Akan jauh lebih baik ia berkutat di belakang rumah dan mencabuti rumput-rumput yang tumbuh liar di sela-sela tanaman daripada bertemu dengan wanita itu.


"Hei, apa yang kamu pikirkan?" sentak Jathayu seakan tahu jika pertemuan tak terencana dengan istri Bram itu masih mengusik benakku. Tangan Jathayu bergerak menyentuh punggung tanganku. Ia bermaksud membuyarkan lamunanku dengan sengaja. "Sudahlah, Nona. Jangan dipikirkan..."


"Apa kamu tidak merasa kecewa padaku?"


"Untuk apa aku kecewa padamu?" sahutnya cepat. Laki-laki itu membuat keningku mengerut. "Aku tidak pernah merasa menyesal atau kecewa telah menyukaimu. Aku menyukaimu dengan kesadaranku sendiri, bukan tanpa paksaan siapapun. Aku tulus menyukai dirimu, Nona. Kamu percaya padaku, kan?" Laki-laki itu mendekatkan wajahnya padaku demi mendapatkan sebuah kepercayaan dariku.


Aku mengurai senyum bahagia. Rasanya lega mendengarnya berkata seperti itu. Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia karena dicintai sedemikian tulusnya.


"Ya, aku percaya padamu," anggukku.


"Kalau kamu sudah yakin, sekarang makanlah sebelum kentangnya dingin."


"Baiklah," sahutku. Aku mencomot kentang goreng lalu memasukkannya ke dalam mulut.


Bagiku ini adalah kencan kami yang pertama. Entah kalau Jathayu, ia ingin menyebut momen kebersamaan ini sebagai apa, terserah dirinya. Mungkin ia juga tidak pernah berpikir apa-apa tentang semua ini. Namun, yang paling terpenting adalah kami bahagia saat ini.


"Nona Talisa?"


Di saat kami sedang asyik menikmati makanan cepat saji tak sehat dan tinggi kolesterol, tiba-tiba saja telingaku menangkap suara tak asing yang memanggil namaku. Seingatku aku sudah lama tak mendengar jenis suara ini.


Betapa kagetnya aku ketika menoleh ke samping dan mendapati dua sosok gadis muda sedang berdiri di samping tubuhku dengan senyum senang terkembang di bibir mereka berdua.


"Dini? Eka?" Aku hampir memekik begitu melihat keduanya. "Apa yang sedang kalian lakukan di sini, hah?" cecarku gemas. Beberapa saat lalu aku sempat memikirkan mereka, dan bagai sebuah keajaiban, keduanya muncul di hadapanku seolah baru saja jatuh dari lantai mal.


Lagi, batinku. Setelah Tuhan mempertemukan aku dengan Bram pasca kebakaran butik beberapa waktu lalu, aku dipertemukan dengan Nyonya Penny yang ingin menawariku bantuan, lalu ayah kandungku yang sama sekali tak kuingat wajahnya. Kemudian Jathayu yang mendadak muncul usai pergi tanpa pamit dan berlanjut Nyonya Andhara yang kutemui beberapa menit lalu, bahkan mungkin saat ini kami masih berpijak di lantai yang sama. Lalu pada detik ini, di hadapanku ada sosok Dini dan Eka yang muncul tiba-tiba seolah-olah baru saja mendapat sinyal telepati dariku. Sungguh, pertemuan-pertemuan ini sudah diatur Tuhan untukku dan pasti ada rencana di balik ini semua.


***