WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#50



Ketika ponsel milik Nyonya Penny bergetar, percakapan kami langsung berhenti. Sebuah panggilan masuk dan mengharuskan wanita itu untuk segera mengakhiri pertemuan kami. Ia harus pergi, entah pulang atau ke mana. Nyonya Penny tidak mengatakannya secara detail. Lagipula itu bukan urusanku. Namun, aku merasa baru saja diselamatkan oleh takdir. Aku tidak sanggup jika harus membahas Jathayu atau soal pernikahan yang bagiku seperti mimpi.


Setelah wanita itu keluar dari cafe dan tak lagi terjangkau oleh kedua ekor mataku, aku bergegas bangun dari kursi kayu yang tampak masih baru. Kurasa 'Retro Cafe' belum lama berdiri, mungkin satu atau bulan. Namun, aku yakin tidak lebih dari lima bulan.


Bruk.


Satu kemalangan lagi harus kuterima kali ini. Ketika aku baru saja mengangkat tubuh dan hendak mengayun langkah, tiba-tiba saja dari belakang tubuhku muncul seorang pelayan yang sedang membawa sebuah nampan dengan beberapa gelas di atasnya. Tampaknya ia sedang terburu-buru dan tak menduga aku akan bergerak tiba-tiba menghalangi pergerakan pelayan itu. Kontan saja nampan di tangannya beserta benda-benda di atasnya langsung terjun bebas ke lantai karena tak sengaja tersenggol tubuhku dan menimbulkan bunyi berisik yang memecah ketenangan cafe.


Dalam sekejap lantai cafe yang berwarna cokelat kayu di bawah kakiku dipenuhi dengan serpihan gelas kaca yang tepinya terlihat tajam dan seolah siap melukai. Cairan berwarna hitam yang tadinya mengisi gelas-gelas itu sekarang menjadi genangan yang cukup lebar di antara serpihan gelas dan tampak mengeluarkan asap tipis. Sempat juga terdengar jerit tertahan dari arah meja kasir yang dihuni seorang gadis muda.


Aku tertegun selama dua detik lamanya dan setelah tersadar, aku merasakan lengan kananku terasa sakit. Rasanya seperti tergigit sesuatu dan panas. Area itu basah. Pasti terkena tumpahan kopi, dugaku.


"Maaf, Nona."


Pelayan yang menubrukku itu seketika mengajukan permintaan maaf dan sejenak mengabaikan kekacauan yang terjadi di atas lantai.


"Ada apa?"


Saat aku sibuk memeriksa lenganku, suara lain terdengar menegur dan ketika aku mengangkat wajah, seorang laki-laki telah ada di sebelah tubuhku. Wajah asingnya menampilkan raut cemas.


Untuk sekejap, aku membeku layaknya manekin. Tatapan mataku mengarah lurus ke arah laki-laki yang baru saja muncul dan menegur. Aku mencoba memindai penampakan laki-laki itu dengan cermat.


Sungguh, ia bahkan tak lebih muda dari Bram. Rambut putihnya hampir memenuhi kepala. Kerutan di bawah kedua matanya terlihat lebih jelas. Keningnya juga sedikit terlipat. Jika aku tidak salah menduga, usia laki-laki itu sekitar 50 tahun, bisa juga kurang. Kalaupun lebih, mungkin hanya satu sampai tiga tahun. Tubuhnya yang terbungkus selembar kemeja putih terlihat masih tegap dan kokoh. Aku sempat membayangkan jika laki-laki itu dulunya sangat gemar berolahraga. Mungkin juga sampai sekarang ia selalu menyempatkan untuk berolahraga ringan, bersepeda misalnya. Ujung lengan kemeja yang terlipat hampir sampai ke sikunya mungkin menjadi tampilan kesehariannya.


"Maafkan saya, Bos."


Pelayan yang tadi menubrukku buru-buru membungkukkan badan begitu melihat kemunculan laki-laki yang ia sebut sebagai 'bos' itu. Namun, laki-laki itu malah fokus kepadaku.


"Apa kamu terluka?" Laki-laki itu langsung menarik lenganku dan memeriksanya. "Kamu terluka," gumamnya ketika melihat lenganku telah berubah kemerahan.


Laki-laki itu segera menarikku pergi menuju ke bagian belakang meja kasir. Di sana ada sebuah pintu khusus karyawan yang langsung terhubung ke dapur dan sebuah ruangan lain yang tertutup selembar tirai. Ada sebuah kamar mandi yang berada di sudut dapur.


Aku hanya menurut saja ketika laki-laki itu membawaku ke depan sebuah wastafel dan segera membuka keran.


"Letakkan lenganmu di bawah air mengalir. Itu akan sedikit mengurangi rasa sakitnya," ucap laki-laki itu dengan rasa cemas yang masih terbayang samar di wajahnya. "Ambilkan salep!" Ia lalu berteriak entah pada siapa. Ada dua orang pelayan yang mengikuti kami ke dapur. Dan salah satu di antaranya langsung tergopoh-gopoh mengambil sebuah kotak obat yang terletak di dalam lemari kecil di sudut dapur.


Laki-laki itu segera mengoleskan salep setelah aku selesai melakukan perintahnya untuk meletakkan lenganku di bawah air mengalir selama beberapa waktu. Dan aku masih saja bergeming di tempatku berdiri seolah tak merasakan sakit sama sekali. Perhatianku terus saja tertuju pada laki-laki itu. Tanpa alasan yang jelas, aku mencuri pandang diam-diam padanya.


"Mari kuantar ke rumah sakit," ucap laki-laki itu membuatku terenyak kaget. Pertolongan pertama yang ia lakukan padaku telah selesai.


Ajaibnya, laki-laki itu mengembangkan tawa di wajah cemasnya. Aku bersumpah, laki-laki itu sangat tampan saat ia masih muda. Aku masih melihat sisa-sisa ketampanan itu di membekas wajahnya.


"Kamu baru saja ketumpahan kopi panas, Nona. Bagaimana mungkin kamu bisa bilang kamu baik-baik saja?"


"Tapi ini hanya sedikit," ucapku sembari mengangkat lengan. Luka bakar itu diameternya bahkan tak sampai 3 senti. Sekarang pun sudah tidak terasa sakitnya.


"Meskipun cuma sedikit tetap saja kamu harus diobati. Kamu seorang wanita, jangan sampai ada bekas luka di tubuhmu."


"Tapi Anda sudah melakukan pertolongan pertama padaku tadi... " Entah bagaimana aku harus menyebutnya. Om? Pak?


Laki-laki itu menghela napas. Bola matanya tampak bergerak lambat dan aku bisa melihat bayangan wajahku di dalam sana. "Maafkan pelayanku. Dia kurang hati-hati tadi," ucapnya kemudian.


Aku menggeleng.


"Tidak. Aku yang tiba-tiba muncul tadi. Dia tidak salah." Bukan aku tidak mau meminta maaf, tapi mengucapkan kata itu bukanlah kebiasaanku. Aku nyaris tak pernah meminta maaf pada orang lain. "Aku akan membayar semua kerugian Anda."


"Tidak perlu."


"Kenapa? Apa Anda ingin dia yang membayar semuanya?"


Laki-laki itu menggeleng. "Tidak ada yang perlu membayar. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Lagipula itu tadi bukanlah sebuah kesengajaan," ucapnya bijak. Senyum samar tercetak di bibirnya.


Ia benar. Dan aku telah banyak sekali melakukan kesalahan sepanjang hidupku. Entah bagaimana aku bisa memperbaikinya.


"Biar kusuruh seseorang untuk mengantarmu pulang," tawar laki-laki itu sejurus kemudian. "Di mana rumahmu?"


"Tidak usah," tolakku cepat. "Kalian pasti sibuk di sini. Aku bisa pulang sendiri."


"Kalau begitu bawa ini. Kamu akan membutuhkannya nanti," ucapnya seraya mengulurkan salep yang tadi ia gunakan untuk mengoles luka bakar pada lenganku.


"Terima kasih."


"Kalau ada waktu, datanglah. Aku akan memberikanmu kopi gratis," ucapnya spontan memaksaku meledakkan tawa. Ia belum tahu kalau aku tidak suka kopi. Maksudku, lambungku akan bermasalah jika aku mengonsumsi kopi.


"Aku pergi."


***