
Dan dua hari setelahnya aku mendatangi alamat yang diberitahukan mama bersama Jathayu. Lokasi tanah itu berada di tepi jalan yang cukup ramai. Di sekitar tempat itu juga berdiri beberapa bangunan toko meski letaknya agak berjauhan. Namun begitu, aku memperkirakan beberapa tahun ke depan area itu akan lebih padat dari yang sekarang.
Lahan itu cukup luas dan aku sudah bisa membayangkan sebuah butik berlantai dua berdiri megah di atasnya. Mama pandai memilih tempat, mungkin juga wanita itu beruntung mendapatkan lahan yang berada di lokasi cukup strategis. Aku menyukainya.
"Tempatnya bagus. Bagaimana menurutmu?" Aku menoleh untuk mendengarkan pendapat Jathayu. Namun, hanya angin yang berembus ke wajahku ketika aku memutar kepala. Laki-laki itu sudah raib entah ke mana padahal beberapa menit yang lalu ia berdiri tepat di belakangku.
Aku melepaskan kacamata hitam yang sejak di dalam mobil kupakai demi melindungi sepasang mataku dari sengatan sinar matahari. Sepasang indra penglihatanku sedikit sensitif dengan cahaya dan aku perlu melindunginya.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menemukan sosok laki-laki itu sedang berdiri di dekat mobil. Ia tampak sedang berbincang serius dengan seseorang melalui sambungan telepon. Untunglah, batinku sembari menarik napas lega. Aku tadi sempat merasa takut kehilangan dirinya. Entah bagaimana aku bisa hidup jika tanpa Jathayu.
Aku tak ingin mengganggunya dan hanya berdiri sedikit agak jauh dari laki-laki itu. Aku bisa menunggu. Toh, ia tidak akan menelepon selama sejam. Paling-paling aku hanya perlu menunggunya selama lima menit. Atau paling lambat lima belas menit. Laki-laki tak suka berbincang lama di telepon.
"Nona."
Ah, panggilan itu membuatku harus menoleh. Jathayu telah berada di sebelahku dan aku menyambutnya dengan seulas senyum hangat.
"Apa kamu sudah selesai?" tegurku berbasa basi.
"Ya." Ia mengangguk kecil. "Apa kita akan pulang sekarang?"
Aku mengerutkan kening. "Bukankah kita baru sampai di sini?"
"Kita tidak akan melakukan transaksinya sekarang, kan?"
"Ya, kita memang hanya akan melihat-lihat," sahutku membenarkan. Tapi, kami baru turun dari mobil beberapa menit lalu dan bahkan aku belum bertanya pendapatnya tentang lahan itu.
"Lalu apa kamu sudah selesai melihat-lihat?" tanya laki-laki itu terdengar kurang sabar. Kenapa aku merasa ia terkesan buru-buru ingin pergi?
"Ya."
"Kalau begitu, apa kita akan pulang sekarang?"
Aku terdiam. Jathayu memang benar. Aku sudah selesai melihat-lihat dan akan menghubungi pemilik tanah setelah ini. Dan mama yang akan mengurus transaksi jual belinya.
Aku mengayun langkah setelah laki-laki itu melakukannya lebih dulu. Mungkin ia tak suka dengan cuaca hari ini yang panas dan menyengat kulit sehingga Jathayu segera ingin pulang ke rumah.
"Pasang sabuk pengamannya, Nona," suruh Jathayu ketika aku telah duduk di atas jok mobil dan belum jua memasang sabuk pengaman di tubuhku.
"Ya," sahutku kaku. Biasanya Jathayu akan dengan senang hati memasangkan sabuk pengaman untukku, tapi kali ini ia tampak acuh padaku. Suaranya juga datar dan aku merasakan ada sesuatu yang berbeda darinya. Padahal ia baik-baik saja saat berangkat tadi.
Aku membiarkan beberapa menit pertama di dalam mobil hening tanpa perbincangan. Tapi aku tidak bisa terus menerus diam sepanjang perjalanan bersama dirinya.
"Bagaimana menurutmu? Apa kamu suka dengan tempat itu?"
Seharusnya aku bertanya padanya ketika kami masih berada di sana tadi. Akan tetapi Jathayu terus mendesak agar kami segera pergi dari tempat itu.
"Hah?" Jathayu menoleh ke arahku beberapa detik kemudian. Ia tampak terkejut dan bertanya seolah-olah tak mendengarkan kata-kataku. "Kamu bertanya apa tadi?"
Apa ia kembali memegang prisip menyetirnya? batinku terheran-heran. Jathayu tampak tidak fokus pada ucapanku.
"Apa kamu suka tempat itu?" ulangku dengan memendam rasa curiga dalam hati. Gelagat aneh Jathayu terlihat sangat mencolok. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya.
"Kenapa mesti bertanya padaku? Kamu yang akan membuka butik di sana, kan?" Ia malah membalasku dengan pertanyaan.
"Ya, tapi aku ingin tahu pendapatmu."
Laki-laki itu tersenyum. "Kalau kamu suka, aku juga menyukainya," tandasnya seperti orang yang tak punya pendirian.
Jawabannya malah membuatku kesal.
"Apa kamu tidak punya pendapat sendiri, hah?" geramku.
"Ini hanya masalah sederhana, Jathayu. Bukan masalah bisnis besar. Aku hanya ingin membuka toko baju, itu saja. Apa kamu tidak bisa memberi pendapat untukku?"
"Maaf."
Huh. Bukan permintaan maaf yang ingin kudengar darinya. Ia bahkan tak perlu meminta maaf padaku hanya karena masalah sekecil ini.
"Apa kamu marah?"
Mungkin karena aku tidak menggubris kata maafnya, laki-laki itu berpikir jika aku marah.
"Tidak," sahutku tegas. "Apa aku bersikap kekanak-kanakan jika aku marah padamu?"
Jathayu hanya menggeleng pelan. Tanpa suara. Agaknya ia enggan untuk membahas hal itu lagi. Kupikir aku sudah banyak berubah semenjak ia kembali.
"Apa mama yang meneleponmu tadi?" tanyaku setelah ingat apa yang ia lakukan saat kami melihat-lihat lahan yang direkomendasikan mama. Jathayu sempat lenyap dari sisiku dan aku bertanya pada angin.
"Bukan."
"Lalu siapa?"
"Bukan siapa-siapa," jawab laki-laki itu seolah ingin menyembunyikan identitas orang yang berbincang di telepon dengannya beberapa saat lalu. Sikapnya benar-benar mencurigakan.
"Kalau bukan siapa-siapa, kenapa tidak mengatakannya padaku?" Aku selalu tak bisa memendam rasa ingin tahu lebih lama. Apalagi soal Jathayu. "Apa kamu tidak ingin berterus terang padaku?" desakku.
"Apa kamu cemburu padaku?"
"Aku benar-benar ingin tahu, Jathayu. Tapi kalau kamu tidak mau bilang, tak apa..."
"Ibu panti," tukasnya cepat. Sebelum aku menuntaskan kalimat. Dan trikku berhasil memancing pengakuannya. Tapi kenapa setelah menerima telepon dari ibu panti, sikap Jathayu sedikit berubah?
"Apa terjadi sesuatu?" Lagi-lagi rasa ingin tahuku harus tergenapi.
"Tidak."
"Lalu kenapa dia menelepon?"
"Apa kamu ingin tahu semua perbincangan kami? Kamu bisa meneleponnya jika mau," ucapnya seraya mengulurkan tangannya ke dalam saku jas demi meraih ponsel miliknya.
"Tidak," cegahku cepat. Siapa yang akan melakukan hal konyol itu? Aku bahkan tak mengenal ibu panti.
Jathayu mengurai senyum dan kembali memegang setir. Aku tahu ia tak bersungguh-sungguh saat menawarkan ponselnya tadi.
"Ibu panti hanya bertanya kabarku," ujar Jathayu kemudian. "Dia menyuruhku untuk berkunjung ke sana jika ada waktu."
"Oh..."
"Apa kamu sudah lega sekarang?"
"Ya, sedikit," sahutku dengan memasang wajah cuek.
"Ibu panti sudah seperti ibuku sendiri, jadi jangan mencemburuinya. Kamu mengerti?" Jathayu mengulurkan tangan kirinya dan mengusap kepalaku pelan. Seulas senyum terkembang di bibirnya.
"Siapa bilang aku cemburu? Aku cuma bertanya tadi," belaku ingin menyelamatkan harga diriku.
"Ya, ya. Aku percaya."
***