
Setelah jam makan malam, Aira pergi ke sebuah Mini Market yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Nico untuk membeli camilan dan beberapa keperluan lainnya. Aira tampak nyaman menggunakan t-shirt over size yang selalu menjadi favoritnya, ia juga mengenakan bawahan sebuah celana pendek. Penampilan Aira saat ini seakan membuat tubuh mungilnya tenggelam. Rambutnya ia gelung seluruhnya, dan membiarkan beberapa helai terlepas bebas dengan poni tipis yang menjuntai, tapi justru hal itu yang membuatnya tampak sangat manis bahkan dalam balutan pakaian simple sekalipun.
Setelah selesai dengan urusannya, Aira pun keluar. Namun di saat yang bersamaan ketika Aira membuka pintu, ia bertemu dengan Nico yang saat itu baru kembali dari Bimbel. Mereka berdua sama-sama terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya Aira mengambil inisiatif untuk menghampiri Nico terlebih dahulu.
"Hari ini kamu pulang telat..." Ujar Aira sambil tampak sibuk merogoh kantong plastik belanjaannya, "bimbel lagi?", lanjut Aira yang masih sibuk mencari sesuatu. Ia bahkan tidak menatap lawan bicaranya.
Namun alih-alih menjawab, Nico hanya menatap heran gadis di depannya ini. Lalu ketika Aira menemukan apa yang dia cari, ia tersenyum. Ia kini menatap mata Nico seraya menyerahkan sebuah es krim cone yang tadi ia beli. "Untung aku beli dua. Nih! Aku traktir."
Nico tertawa kecil sebelum menerima es krim pemberian Aira. Sebenarnya, hari ini Nico sedikit kelelahan. Jadwalnya hari ini cukup padat sejak pagi. Tapi entah kenapa, begitu melihat Aira, secara ajaib Nico merasa lelahnya berkurang. Kenyataan bahwa Aira sudah tidak lagi canggung dengannya, membuat Nico merasa sangat nyaman berada di dekat Aira untuk waktu yang lama.
Tetapi bukannya langsung kembali ke rumah setelah dari minimarket, mereka justru lebih memilih untuk mampir dulu ke sebuah playground yang masih berada di sekitaran komplek perumahan itu. Aira dan Nico duduk bersebalahan di sebuah ayunan dengan es krim masing-masing di tangan.
Sejak Aira pindah ke rumahnya hampir sebulan yang lalu, ini pertama kalinya terjadi obrolan yang begitu panjang dan mengasyikan di antara Nico dan Aira. Sesekali, Aira terlihat tertawa lepas mendengar cerita konyol dari Nico mengenai sahabat-sahabatnya, dan sesekali juga, Nico tertangkap tengah tersenyum melihat Aira yang sedang tertawa begitu lepas malam ini.
Dan Nico tahu pasti, bahwa bukan hal yang mudah bagi Aira untuk bisa menunjukkan sisi lain dari dirinya seperti sekarang ini. Yang Nico ingat, Aira dulu sangat ceria, ia juga begitu cerewet dan selalu bertanya soal ini dan itu ketika masih kecil. Tapi Nico terlalu lama kehilangan sosok Aira. Ia juga melewatkan banyak hal tentang cinta masa kecilnya ini, hingga membuat Nico harus kembali memulai segalanya dari nol, dari titik terbawah.
Nico bahkan tidak ada di saat-saat terberat dalam hidup Aira. Setahun yang lalu, ketika tahu bahwa kedua orang tua Aira meninggal dalam sebuah kecelakaan, Nico tidak begitu mengkhawatirkan Aira. Dan ingatan bahwa ia sempat menolak kehadiran Aira di rumahnya karena sedikit lupa menyangkut Aira, membuat rasa bersalah itu bangkit lagi dalam diri Nico.
Di tengah obrolan mereka, udara malam yang dingin tiba-tiba berhembus. Nico yang menyadari bahwa pakaian yang Aira kenakan tidak bisa melindunginya dari sapuan angin malampun, tanpa berfikir panjang langsung membuka jaket klub basket yang ia gunakan sejak tadi. Nico lebih mendekat ke arah Aira, lalu menyampirkan jaket itu pada kedua pundak Aira, "pake nih. Udah mulai dingin."
"Makasih, Nic." Kata Aira sembari membenahi posisi jaket itu di tubuhnya. Ketika jaket milik Nico sudah terpasang rapi, Aira dapat mencium aroma Nico yang harum memeluk seluruh tubuhnya dan menghangatkannya.
Lalu tiba-tiba Nico terkekeh geli begitu melihat Aira yang semakin terlihat tenggelam dalam balutan jaketnya yang tampak kebesaran di tubuh Aira. Entah kenapa, Aira terlihat seperti Pinguin sekarang dalam pengelihatan Nico.
"Kenapa ketawa? Ada yang lucu?" Aira mendelik kearah Nico.
"Hahaha nggak ada. Pulang, yuk! Udah semakin dingin, nih."
Aira hanya mengangguk, kemudian mengekori Nico di belakang tanpa mengatakan apapun.
"Dari mana kalian?" Tanya Regina begitu melihat Nico dan Aira memasuki rumah ketika waktu hampir menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Habis cari angin sebentar, Ma." Nico menjawab sambil berlalu.
Ia segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Lalu sekitar lima belas menit kemudian, Nico turun lagi dan bergabung bersama kedua orang tuanya dan Aira yang saat itu sedang berkumpul di ruang TV.
Mereka berempat yang sudah tampak seperti keluarga, membicarakan banyak hal. Nico dan Aira secara bergantian menceritakan soal sekolah mereka hari ini. Sementara Adryan dan Regina mendengarkan dengan penuh perhatian.
Sejak kematian kedua orang tuanya setahun yang lalu, Aira tidak pernah merasa sebahagia ini. Benar yang dikatakan oleh kedua orang tua Nico ketika menjemput Aira saat itu, bahwa Aira hanya perlu berdamai dengan masa lalu, dan mencoba menerima masa sekarang dengan hati yang lapang. Dengan melakukan hal itu, luka Aira akan berangsur sembuh dan terobati seiring berjalannya waktu.
Dalam hati Aira diam-diam berharap, bahwa keadaannya kali ini akan bertahan. Bahwa ia tidak akan merasakan kehilangan lagi. Aira bahagia sekarang. Dan dia tidak ingin kebahagiaan ini dicuri lagi darinya.
...****...
Pada siang menjelang sore itu, Aira, Sheryl, dan Bia duduk bersama di pinggir lapangan sekolah, menyaksikan Yumi yang sedang berlatih basket bersama kawan-kawannya di tengah lapangan. Aira merasa mulai terbiasa dengan kegiatan ini, dan dia sangat menikmatinya. Sementara dari sebelah Aira, terdengar Sheryl dan Bia yang berteriak heboh demi memberikan semangat pada Yumi. Dan Yumi yang berada di tengah lapangan sana, menunduk dengan takzim pada sahabat-sahabatnya seakan ia adalah seorang putri kerajaan.
Menyaksikan apa yang Yumi lakukan, Rakha yang saat itu kebetulan berjalan di belakang Yumi dengan iseng menarik kunciran rambut Yumi hingga membuat bola yang ada di tangan Yumi terlepas. Sontak saja, Sheryl, Aira dan Bia tertawa melihat adegan yang menurut mereka cukup lucu itu.
Merasa kesal dengan tingkah jahil Rakha, Yumi pun berlari mengejar Rakha yang saat itu berlari ke pinggir lapangan sambil berteriak cukup keras, "RAKHADITYA ARYA, KAPAN LO BERHENTI BERSIKAP KEKANAK-KANAKAN?!"
Rakha berlari semakin cepat dengan nafas tersengal. Dan ketika Rakha tepat melewati posisi dimana Aira berada sekarang, Yumi berhasil menangkapnya. Rakha terduduk di sisi Aira dengan jarak yang nyaris terhapus, sementara Yumi terus 'menganiyaya' Rakha dengan brutal.
"Yum! Yum! Stop dong! Gue minta maaf. Oke?" Rakha pura-pura memelas. Tapi hal itu tentu saja tidak mempan bagi Yumi. Ia tetap mendaratkan pukulan demi pukulan pada bahu Rakha.
"Lo belum lolos, Kha!" Ancam Yumi pada Rakha sebelum menghampiri Rio.
Namun apa yang Yumi ucapkan itu, sama sekali tidak tertangkap oleh Rakha. Karena saat ini, ia dan Aira sama-sama sedang saling memandang satu sama lain setelah merasakan kulit mereka bersentuhan. Mata Aira sedikit terbelalak. Ia cukup terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Sheryl yang memang peka dengan situasi itu, dan telah mengikrarkan diri sebagai pendukung antara Rakha dan Aira pun langsung mengambil ide untuk mengajak Bia pergi. Sheryl menarik lengan Bia tanpa mengatakan apapun. Dan kini, mereka hanya menyisakan Aira dan Rakha di tempat itu.
"Maaf..." Lirih Rakha setelah berusaha cukup keras menarik kembali kesadarannya. Rakha tidak bisa memungkiri, bahwa hal kecil yang baru saja terjadi antara dirinya dan Aira beberapa saat lalu, cukup memberikan efek di jantungnya sekarang.
Setiap kali berada di dekat gadis ini, Rakha selalu dapat merasakan kerja jantungnya bertambah dua kali lebih cepat dari biasanya. Dan ini tidak baik bagi Rakha.
Alih-alih menjawab Rakha, perhatian Aira tahu-tahu tertuju pada salah satu jari telunjuk Rakha yang terluka. Aira dapat melihat darah di sekitar luka Rakha mulai mengering karena terlalu lama dibiarkan.
"Ini kenapa?"
Rakha terkesiap, "aaah ini? Tadi ini kegores waktu aku lagi mindahin meja sama Natta." Jawab Rakha sembari melihat jari telunjuknya. Jika saja Aira tidak menanyakannya, Rakha tentu tidak akan ingat bahwa tangannya terluka.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Aira mengambil selembar tissue dalam tasnya lalu membersihkan sisa darah yang mengering pada jari telunjuk Rakha. Setelah itu, Aira membuka kotak pensilnya dan menemukan sebuah plester. Tanpa berfikir, Aira meraih tangan Rakha lalu merekatkan plester berwarna kuning dengan gambar dinosaurus itu di jari telunjuk Rakha.
Rakha lagi-lagi membeku dan terdiam. Untuk sejenak, Rakha lupa bagaimana cara bernafas. Apa ia benar-benar menyukai gadis ini sampai pada tingkat sebegini parahnya?
"Udah selesai. Lain kali hati-hati, ya?"
Rakkha mengangguk beberapa kali sambil tersenyum. "Makasih, Ra." Ujar Rakha.
Sesaat kemudian, Nico yang entah dari mana tiba-tiba muncul di antara mereka. Pada waktu yang bersamaan, Aira dan Rakha sama-sama mengangkat wajahnya dan melihat sosok Nico yang tampak bad mood.
"Ra, udah sore. Ayo pulang! Pak Salim udah di depan." Ujar Nico dengan lembut. Namun tanpa ada yang menyadari, ada emosi yang begitu kuat tersembunyi di balik perkataannya.
"Oke." Jawab Aira singkat, lalu kini beralih menatap Rakha dan pamit, "Kha, aku duluan, ya?"
Wajah Rakha tampak kecewa. Dalam hati ingin rasanya ia menenggelamkan Nico ke dasar laut terdalam. Bisa-bisanya Nico datang di saat yang tepat dan mengajak Aira pulang.
Menyebalkan! Rutuk Rakha dalam hati.
"Nic, bukannya latihan belum selesai, ya?" Tanya Aira pada Nico yang berjalan selangkah di depannya.
Mau tidak mau, akhirnya Nico merasa bahwa ia baru saja menjadi penganggu di antara Aira dan Rakha. Dan hal itu justru menganggu fikirannya sekarang dan membuatnya tidak bisa berfikir jernih seperti biasanya.
"Pak Salim udah nungguin dari tadi." Jawabnya dengan ketus.
Tapi sungguh, itu bukan hal yang Nico inginkan. Ia sendiri bahkan sama sekali tidak paham kenapa ia harus menjawab seketus itu. Mendadak ia hilang kontrol.
Nico lantas semakin mempercepat langkahnya dan semakin membuat Aira merasa bingung dengan sikap Nico.
"Kenapa tiba-tiba bad mood, sih?"
Aira merutuk pelan. Ia pun berlari kecil untuk mengejar langkah Nico.
^^^To Be Continued...^^^