We, From The First

We, From The First
#06. Mengatur Kecepatan



Rakha sedang mengerjakan tugasnya malam itu saat tiba-tiba bayangan Aira muncul dalam benaknya dan membuat kacau fokusnya. Rakha tidak mengerti, kenapa sosok Aira bisa begitu menarik penuh perhatiannya. Aira terhitung baru tiga hari menjadi teman sekelasnya, dan selama tiga hari itupun, interaksi mereka begitu minim, tapi setiap gerak-gerik Aira seakan mampu mengacaukan dunianya. Semua tentang Aira selama tiga hari ini, terekam dengan jelas dalam fikirannya. Dan dengan tidak sopannya, otaknya secara otomatis memutar setiap rekaman itu, hingga selalu membuatnya tersenyum dalam sendirinya.


"Hay, kenalin aku Rakha."


Itulah kalimat pertama yang Rakha ucapkan tiga hari yang lalu. Aira yang merasa pernah mendengar nama Rakha dari Nico pun, tersenyum sedikit canggung, lalu membalas uluran tangan Rakha, "Aira," Aira memberikan sedikit jeda setelah menjawab. Ia lantas melepaskan uluran tangannya yang berhasil menimbulkan sedikit perasaan kecewa di benak Rakha, "temennya Nico?," lanjut Aira kemudian.


"Iya..." jawab Rakha singkat dengan perasaan yang tidak mampu ia jelaskan. Satu pertanyaan singkat yang Aira lontarkan, entah kenapa membuat Rakha merasa begitu senang.


Suara gadis ini, ia sangat menyukai suara gadis di depannya ini.


Dan untuk hari-hari berikutnya, tidak ada yang begitu istimewa dari setiap interaksi antara Aira maupun Rakha. Sikap Aira yang tidak terlalu banyak bicara, membuat Rakha bingung bagaimana harus memulai pendekatannya. Bahkan meski Rakha berusaha mendekatinya, dan bersikap sama seperti ia bersikap pada yang lainnya, ia dapat merasakan penolakan dari Aira. Padahal jika bukan dengan Aira, Rakha begitu gampang menyesuaikan diri dengan siapapun.


Rakha selalu meyakinkan dirinya, untuk tidak terlalu terburu-buru mendekati gadis itu. Ia harus mengatur kecepatannya dengan benar, agar nantinya bisa membuat Aira merasa nyaman dengannya. Selangkah demi selangkah, Rakha ingin melakukannya pelan-pelan.


...****...


Berbeda dengan Rakha, hubungan Aira dengan Nico kian hari, justru kian dekat. Mereka sudah tidak lagi canggung saat bersama. Dan tanpa mereka sadari, mereka mulai merasa nyaman satu sama lain. Sikap Nico yang begitu tulus dan perhatian, membuat hati Aira tersentuh, dan tidak bisa lagi terus-terusan membentang sekat di antara mereka. Maka Aira pun dengan perlahan sedikit demi sedikit mulai menghapus sekat itu, dan bersikap terbuka atas semua perhatian Nico.


Dan pagi ini, saat Aira hendak olahraga pagi sebelum berangkat sekolah, ia dan Nico secara bersamaan keluar dari kamar masing-masing dengan sama-sama mengenakan pakaian olahraga. Mereka saling memandang untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Nico melambaikan tangannya, "mau olahraga juga?"


Aira mengangguk. Tanpa Aira duga, Nico mendekatinya lalu berdiri di belakang Aira yang hanya setinggi dagunya. Ia mendorong pelan kedua pundak Aira sembari berkata, "samaan, yuk!"


Aira mau tidak mau pun akhirnya mengikuti Nico dengan pasrah.


Mereka olahraga bersama pagi itu. Aira dengan sepedanya, dan Nico yang berlari pelan di sampingnya. Sesekali Nico terlihat menjahili Aira dengan sengaja menjawil pipinya, atau sesekali pura-pura tidak sengaja menubrukkan bahunya dengan bahu Aira. Tidak ingin lagi menjadi objek kejahilan Nico, Aira mempercepat laju sepedanya. Nico yang tidak ingin kalah, mengejar Aira. Nico bahkan terdengar berteriak, meminta Aira menunggunya. Tapi Aira tidak peduli, dia tersenyum puas sembari terus mempercepat laju sepedanya. Ketika Nico semakin dekat dengannya, tawa Aira tiba-tiba pecah.


Saat kembali ke rumah, entah negosiasi apa terjadi di antara mereka saat perjalanan pulang, yang jelas kini, Nico yang mengendarai sepeda Aira, sedangkan Aira duduk di belakangnya sambil berpegang pada jaket Nico. Aira menggenggam sisi kiri dan kanan jaket Nico dengan kuat, untuk menjaga diri agar tidak terjatuh.


Dan untuk pagi-pagi berikutnya, mereka terus melakukan aktifitas olahraga pagi bersama setiap kali ada kesempatan.


...*****...


Pulau Banu, 2006


Aira menangis tersedu di dalam kamarnya begitu mengetahui bahwa Nico dan keluarganya akan pindah ke Kota Harsa. Jarak Kota Harsa dengan Pulau Banu sebenarnya tidak begitu jauh. Bisa ditempuh hanya dalam waktu 1 jam 10 menit menggunakan pesawat. Tetapi Aira yang memang tidak pernah ingin jauh dari Nico, membuat jarak itu menjadi begitu jauh dalam benaknya sendiri.


Saat itu, mereka baru saja naik ke kelas 6 saat keluarga Nico memutuskan untuk pindah karena urusan pekerjaan kedua orang tua Nico yang mulai berpusat di Kota Harsa. Dan Aira yang memang tidak diberitahu dari jauh-jauh hari sebelumnya, membuatnya meluapkan semua rasa kecewanya dalam tangisan.


"Na, jangan nangis lagi, ya? Nanti kan pas liburan aku bisa main ke sini, gitu juga dengan kamu. Iya, kan?"


"Nico jahat! Kenapa nggak kasi tahu Nana dari sebelum-sebelumnya?" jawab Aira dari balik selimut. Suaranya terdengar serak, dan sesekali terisak.


"Ya karena Nico tahu, kalau Nana bakalan kayak gini."


Tangis Aira semakin kuat. Sementara Nico kian kualahan. Sepertinya ia salah ucap.


"Maafin Nico, ya. Nico yang salah." Aku Nico seraya berusaha membuka selimut yang menutupi tubuh Aira.


Namun tidak terdengar jawaban apapun dari Aira, selain tangisan.


"Nana... maafin, Nico. Nana boleh marah, boleh pukul Nico, tapi jangan nangis."


"Kalau Nico tahu Nana bakalan nangis, terus kenapa tetep lakuin ini?"


"Iya, Nico salah. Nico benar-benar minta maaf."


Tidak berapa lama, tangis Aira mulai mereda. Tapi hal itu tidak serta-merta membuat Nico lega.


"Sekarang turunin selimutnya, ya? Nico pengen lihat muka Nana. Hm?" Pinta Nico dengan nada memohon.


Kali ini Aira luluh. Ia membuka selimut yang sejak tadi menutupinya, lalu mengganti posisinya. Ia duduk berhadapan dengan Nico. Dan Nico begitu saja tersenyum saat bisa melihat wajah Nana lagi.


"Maafin Nico, ya?" Ujar Nico untuk kesekian kalinya. Ia pun mengusap lembut air mata Aira yang masih tersisa dengan menggunakan jemari tangannya yang terlipat.


Nico dan Aira sama-sama tersenyum sebelum akhirnya Nico mengusap puncak kepala Aira dengan sayang, seperti sebelum-sebelumnya.


"Jangan lupain Nana, ya?"


"Ya, tentu."


^^^To be Continued...^^^