We, From The First

We, From The First
#38. Sebuah Kado Ulang Tahun



"Titik paling melelahkan adalah, ketika kerinduanmu pada seseorang sudah mencapai batas akhirnya, tetapi tidak sekali-kali semesta mengizinkanmu untuk menyampaikannya. Sialnya, dia sudah di depanmu, dalam jangakuan jarak pandangmu, kau bisa menggapainya dalam sekali raih. Namun tetap tidak bisa kau katakan perihal rindu yang terus merong-rong jiwamu, yang datang dengan hentakan-hentakan kuatnya hingga membuat jantungmu nyaris meledak. Hari ini, biarkan gejolak itu membuncah, dan katakan saja padanya bahwa kau merindukannya. Karena jika tidak sekarang, kau tidak akan lagi memiliki keberanian yang sama seperti hari ini."


...****...


Selama dalam perjalanan pulang, Nico tidak mengatakan apapun pada Aira meski mereka duduk berdampingan di dalam bus. Aira sebenarnya ingin mengatakan sesuatu untuk mencairkan suasana di antara mereka, tapi begitu melihat Nico yang terlihat cukup dingin, membuat Aira ragu untuk menegurnya terlebih dahulu.


Sepuluh menit kemudian, bus yang membawa mereka tiba di halte. Nico berjalan keluar lebih dahulu tanpa menunggu Aira. Apa yang Nico lakukan itu, semakin membuat Aira bingung. Mereka bahkan baru saja berbaikan, sekarang masa iya Nico marah lagi padanya?


Aah... sekarang suasananya benar-benar jadi secanggung saat pertama kali Aira pindah ke rumah Nico dulu.


"Ma, Pa, kami pulang!" Ucap Nico begitu sampai di rumah sambil tetap berjalan menuju kamarnya.


"Kalian habis dari mana? Kok telat?" Tanya Regina.


"Habis dari rumah temen." Kali ini giliran Aira yang menjawab.


"Aira mandi, gih. Tante sama Om tunggu di meja makan, ya?" Kata Regina pada Aira yang berdiri di samping sofa.


"Iya, Tante."


Setelah Aira naik ke lantai atas, Adryan yang memang sejak tadi memperhatikan gelagat kedua anak itu, tiba-tiba berkata pada istrinya, "kayaknya mereka lagi berantem, nih."


...****...


"Eh, Yo! Lo di sini? Kapan dateng?" Tanya Tristan begitu melihat Rio yang tengah berdiri di balkon kamarnya.


Rio serta-merta menoleh ke belakang, dan melihat Tristan yang saat itu sedang membuka jaketnya sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya di kasur kemudian memainkan ponselnya.


Alih-alih mengindahkan pertanyaan sepupunya, Rio justru balik bertanya, "habis dari mana lo?", nada bicara Rio terdengar ketus.


"Habis nemenin Bianca nyari gitar." Sesaat setelah menjawab Rio, Tristan langsung menutup mulutnya sendiri dengan tangan kanannya. Ia baru saja kelepasan, memberitahukan sesuatu yang tidak seharusnya ia beritahukan pada Rio.


"Kenapa harus elo yang nemenin Bia?" Ucap Rio tak terima.


Jelas-jelas Rio sedang cemburu, dan Tristan langsung tahu. Tristan tampak berfikir, mencari kalimat yang pas untuk menjawab kecemburuan Rio padanya. Satu ide untuk mengerjai Rio pun tiba-tiba terbersit di otak jahil Tristan. Karena Rio sudah terlanjur salah paham, jadi kenapa tidak dilanjutkan saja? Fikir Tristan.


"Ya emangnya kenapa kalo gue yang nemenin? Bianca jomblo, gue juga jomblo. Jadi, mau dilihat dari sudut manapun, nggak ada salahnya, Arion Aristo." Jawab Tristan dengan santainya, lalu kembali memainkan ponsel di tanganya.


"Elo suka sama Bia, ya?" Tanya Rio to the point.


Sementara Tristan, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Rio akan memakan umpannya begitu cepat. Dalam hati, Tristan tertawa jahat.


"Cowok normal mana yang nggak suka sama Bianca? Dia cantik, lucu, dan berbakat." Tristan lalu tertawa tanpa suara seraya memalingkan muka setelahnya.


Mengerjai Rio seperti ini ternyata seru juga.


Mendengar pengakuan Tristan, Rio merasa tidak mampu lagi mengahalau perasaan cemburu yang semakin lama, semakin merong-rong hati kecilnya. Ini semua benar-benar di luar dugaan dan perkiraannya selama ini. Rio bahkan tidak sanggup untuk sekedar membayangkan, bagaimana jika nantinya Bia malah berpacaran dengan Tristan, bukan dengan dirinya.


"Yo, kalau gue pacaran sama Bianca gimana?"


Kedua mata Rio langsung terbelalak maksimal begitu mendengarkan pertanyaan terakhir Tristan.


...****...


Tepat pukul sebelas malam, saat Aira akan bersiap-siap untuk tidur, ia tiba-tiba saja menerima sebuah pesan teks dari Nico yang memintanya untuk segera ke rooftop. Tanpa banyak berfikir, Aira mengikuti permintaan Nico. Sekalian juga, Aira ingin menanyakan pada Nico tentang kesalahan apa yang sudah ia lakukan hingga Nico terus-terusan terlihat marah sejak mereka kembali dari rumah Rakha sore tadi.


Begitu tiba di rooftop, Aira kaget bukan main saat melihat Nico sudah berdiri sambil membawa sebuah kue ulang tahun yang di atasnya sudah tertancap 18 lilin kecil sesuai usia Aira sekarang. Sebenarnya masih ada satu jam lagi sebelum ulang tahunya, tapi entah rencana apa yang sedang Nico susun untuknya. Dan satu lagi, Aira bahkan tidak mengingat bahwa besok adalah hari ulang tahunya jika saja Nico tidak menyiapkan untuk ini.


"Happy birthday, Aira..."


"Ayo bikin permintaan dan tiup lilinnya."


"Ini kecepetan, Nico! Masih ada sejam lagi. Kenapa sih?"


"Sengaja aja. Aku mau jadi orang pertama yang ngucapin."


Aira terkekeh mendengar jawaban Nico yang cukup kekanak-kanakan itu.


Dengan senyuman yang merekah di wajahnya, Aira membuat permohonan di dalam hati lalu meniup lilinnya.


"Sehat selalu, ya, Ra? Sehat adalah kunci dari segalanya. Kalau kamu sehat, kamu bisa lakukan apa saja untuk meraih semua keinginan kamu. Dan makan yang banyak. Belakangan ini kamu makannya sedikit."


"Itu karena kamu selalu bilang aku gendut." Gumam Aira pelan, nyaris tidak kedengaran oleh Nico.


"Kamu ngomong apa?"


"Nggak... nggak ngomong apa-apa."


Nico berlalu dari hadapan Aira dan duduk di sebuah ayunan kayu setelah sebelumnya ia meletakkan kue ulang tahun Aira di atas meja.


"Jadi tadi kamu pura-pura marah sama aku sejak pulang dari rumah Rakha? Itu bagian dari rencana kamu?" Cecar Aira seraya berjalan. Ia lalu mengambil posisi di samping Nico.


"Aku nggak pernah bilang aku pura-pura marah." Jawab Nico pelan.


"Jadi kamu beneran marah? Kenapa?"


Nico tidak berniat menjawab pertanyaan Aira kali ini. Biarkan saja Aira penasaran sendiri. Itu hukuman karena sudah kelewat peduli pada Rakha.


Beberapa saat kemudian, Nico mengeluarkan sebuah kotak berukuran medium dari kantong hoodie-nya dan menyerahkannya pada Aira tanpa menatapnya.


"Nih, kado." Ucap Nico setengah ketus.


Aira yang masih tidak tahu sama sekali apa kesalahannya, menerima kotak itu dari Nico. Aira memperhatikannya sejenak, dan kembali bertanya pada Nico, "boleh buka sekarang?"


"Terserah."


Tanpa menunggu lagi, Aira membuka kotak itu. Dan ia sangat takjub ketika melihat sebuah kalung dengan bandul daun clover yang sangat cantik bertengger di dalamnya.


"Nico, ini cantik sekali..." Ujar Aira yang masih merasa sangat takjub dengan kado pemberian Nico.


Hal lain yang membuat Aira merasa sangat terharu adalah, sejak kematian kedua orang tuanya setahun yang lalu, Nico adalah orang pertama yang memberikan kado untuknya dan membuatnya merasa sangat spesial di hari ulang tahunnya.


"Makasih, Nico."


"Sama-sama." Jawab Nico seadanya. Setelah itu, ia bangkit dari sisi Aira dan berjalan menuju besi pembatas.


Saat sedang menikmati pemandangan langit malam, tiba-tiba Nico merasakan seseorang menabrak punggungnya dari belakang. Nico terkesiap. Sekujur tubuhnya membeku tanpa peringatan. Ia lalu sedikit menunduk dan melihat kedua tangan Aira yang sudah melingkari perutnya.


"Ra..." Gumam Nico pelan sambil menyentuh tangan Aira.


Aira yang tidak bisa lagi menahan air matanya karena rasa haru yang menderanya, akhirnya membiarkan air matanya jatuh satu persatu. Bersamaan dengan itu. Gejolak dalam dirinya yang selama enam tahun ini mati-matian ia tahan lepas begitu saja, dan mencapai titik puncaknya.


Aira memejamkan kedua matanya. Detik berikutnya ia semakin tenggelam di punggung Nico yang ia rasakan sangat nyaman. Lalu dengan sebuah isakan kecil, Aira berujar...


"Nico... aku kangen..."


^^^To Be Continued...^^^