We, From The First

We, From The First
#61. Hari Terakhir



Tidak seperti mahasiswa lainnya yang begitu gembira ketika dinyatakan lulus saat ujian skripsi, Nico justru menunjukkan ekspresi sebaliknya. Begitu keluar dari ruang ujian, wajahnya terlihat begitu datar. Tidak ada euphoria berlebihan yang ia rasakan bahkan ketika sahabat-sahabatnya yang sejak tadi menunggunya menghambur ke arahnya lalu memeluknya dan memberikan ucapan selamat.


Namun senyum di wajahnya bisa sedikit terlukis ketika melihat Aira yang berdiri tidak jauh darinya seraya menunjukkan wajah bangganya. Dalam hati, ingin rasanya Nico memeluk Aira dan mengucapkan terima kasih pada gadis itu karena tidak pernah lelah membantu dan memberikan dukungan pada Nico selama satu minggu terakhir ini. Tapi dirinya tahu dengan pasti, bahwa ia sendiri sudah terlanjur merentangkan sekat di antara mereka. Dan Nico tidak akan pernah bisa begitu saja menembus sekat yang sudah terlanjur diciptakannya.


"Ini hari terakhir kita berstatus sebagai pacar, apa ada yang mau kamu lakuin?" Bisik Nico di telinga Aira ketika yang lainnya termasuk Rakha berjalan di depan mereka sambil tertawa begitu riang.


Entah celotehan apa yang dilemparkan oleh Rio hingga bisa membuat yang lainnya tertawa begitu heboh.


"Main sama aku seharian." Jawab Aira dalam sebuah bisikan, menirukan kalimat yang dulu pernah di tuliskan oleh Nico pada kupon yang Aira berikan.


Sekali lagi Nico tersenyum, tetapi kali ini dengan satu seringai halus yang tergaris di wajah tampannya.


Sekembalinya dari kampus, mereka langsung bersiap-siap untuk melakukan kencan terakhir mereka. Dan ketika tengah mempersiapkan diri, Aira sempat menerima panggilan telepon dari Rakha yang menanyakan keberadaannya.


"Aku lagi di rumah, Kha."


"Masih di rumah Nico?" Suara Rakha terdengar lebih pelan dari sebelumnya.


"Iya."


Rakha terdiam untuk beberapa detik, "Ra? Mau jalan nggak sore ini? Nanti malem aku udah balik ke asrama."


"Yaaah maaf, ya, Kha. Aku udah terlanjur ada janji sama Nico. Emm... Minggu depan aja gimana? Minggu depan, kan, aku sama yang lainnya wisuda. Kita bisa tuh kumpul bareng pas malemnya."


"Aku maunya berdua sama kamu." Kali ini Rakha menjawab dengan tegas. Suaranya pun terdengar dingin.


Aira yang sempat terkejut, berusaha menemukan kesadarannya kembali. Ia lantas tersenyum lembut, lalu menjawab, "oke. Kita akan jalan berdua."


Tepat setelah Aira menyelesaikan panggilan teleponnya dengan Rakha, di saat itulah, Nico tiba-tiba saja muncul seraya mengetuk pintu kamar Aira yang terbuka. Aira menoleh, dan sedikit terpana saat melihat Nico yang begitu tampan dalam balutan kemeja putih yang ia padukan dengan sebuah celana jeans biru. Aira pun demikian, ia menggunakan A-Line dress berwarna putih yang menutupi hingga ke bawah lutut. Sebuah sweater berwarna biru ia sampirkan di bahunya, dan semakin membuat penampilannya terlihat manis.


Aira menatap Nico dari ujung kepala hingga kaki dangan pandangan mengamati.


"Kenapa, Na? Ada yang aneh?" Tanya Nico.


Aira menarik pandangannya dari Nico, sedetik berikutnya ia menggelengkan kepalanya, kemudian tersenyum pada Nico. "Nggak apa-apa! Ayo jalan!"


...****...


Selama tiga jam terakhir ini, Nico dan Aira sudah melakukan banyak hal. Setelah


menonton di bioskop, Aira merengek pada Nico untuk mengajaknya bermain di timezone. Nico yang awalnya hanya menonton Aira bermain akhirnya memutuskan untuk ikut bermain juga. Mungkin Nico tidak menyadarinya, tapi hari ini Aira berhasil membuatnya tertawa lepas seakan tidak terjadi masalah apapun di antara mereka.


Tahu bahwa ia berhasil membuat Nico tertawa, Aira memilih tidak mengatakan apapun. Ia takut sedikit saja komentar yang ia lemparkan akan membuat pria itu kembali bersikap dingin padanya seperti akhir-akhir ini. Aira pun hanya bisa menikmati tawa itu dalam diamnya. Baginya, begini saja sudah lebih dari sekedar cukup. Nico ada bersamanya lalu tertawa, apalagi yang lebih melegakan dari ini?


Setelah dari mall, mereka pergi ke sebuah taman. Saat sedang berjalan bersisian di taman itu, perhatian Aira tahu-tahu tertuju pada seorang penjual permen kapas. Aira mendekat diikuti dengan Nico di belakangnya. Tanpa menghiraukan Nico, Aira memesan satu permen kapas dan meminta Nico yang membayarnya.


Nico tidak berkata apapun, ia hanya menampakan wajah sebalnya seraya mengeluarkan dompetnya. Detik itu juga, seulas senyum penuh kepuasan langsung tersungging di wajah cantik Aira.


“Kamu nggak mau coba?” Tanya Aira pada Nico seraya menyodorkan permen kapas itu tepat di depan wajah Nico.


Nico berdecak lalu menyingkirkan tangan Aira dari hadapannya.


“Kalo emang pengen, aku bisa beli sendiri.” Jawab Nico dingin.


Aira mengangkat kedua bahunya dan menampakan ekspresi wajah ‘ya sudahlah’. Ia pun kembali menikmati permen kapasnya sambil terus berjalan di belakang Nico sambil bersenandung dengan ceria.


Beberapa saat setelahnya, Nico berbalik menghadap gadis itu setelah sebelumnya terlihat berfikir cukup keras. Aira yang belum menyadarinya tetap berjalan sambil tetap memakan permen kapasnya. Lalu tanpa Aira duga, Nico memakan permen kapas yang sedang dimakan oleh Aira dari sisi yang lainnya.


Untuk sedetik Aira merasakan jantungnya berhenti berdetak, nafasnya tercekat tanpa peringatan. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja sekarang. Sepasang mata mereka saling bertemu.


Dan tatapan yang begitu dalam dari Nico membuat Aira seakan merasa bahwa di tempat itu hanya ada mereka berdua saja.


Beberapa detik berselang, Nico kembali menarik wajahnya. Tiba-tiba saja ia tersenyum begitu lembut dan membuat jantung Aira seakan melompat kegirangan jauh di dalam sana.


Nico meraih tangan kanan Aira lalu menggenggamnya dan membiarkan jemari mereka saling bertaut satu sama lain. “Hari ini aku bakalan total ngejalanin peran aku sebagai pacar kamu…” Bisik Nico pelan di depan wajah gadis itu lantas menuntunnya untuk berjalan.


Aira yang masih membeku hanya pasrah mengikuti Nico dengan luapan perasaan yang ia sendiri tidak bisa jelaskan dalam rangkaian kata-kata. Hatinya terlalu berbunga sekarang untuk bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini.


Setelah bosan berjalan mengelilingi taman, Nico mengajak Aira menaiki sebuah sepeda untuk kembali berkeliling. Aira yang duduk di belakang Nico merasakan jantungnya meledak dalam hitungan mundur begitu Nico meraih tangannya lalu melingkarkannya pada pinggang miliknya. Sikap yang ia tunjukan itu seakan meminta Aira secara tersirat untuk memeluknya.


Tanpa ragu, Aira memeluk Nico dengan erat.


Bersamaan dengan itu, kenangan masa lalu mereka berputar di kepala Aira. Kenangan dari masa kecil mereka yang penuh riak-riak kebahagiaan, tanpa jarak, tanpa sekat.


Seperti sekarang, dulu Nico sering membonceng Aira naik sepeda. Memori yang terseret itu mau tidak mau menimbulkan sebentuk rindu yang membuncah di dada mereka masing-masing. Andai waktu bisa terulang kembali pada masa-masa penuh tawa itu. Fikir mereka dalam diam.


Aira tiba-tiba meminta Nico berhenti di depan sebuah stand yang menjual berbagai macam souvenir, ia menepuk pundak Nico beberapa kali dan membuat Nico mau tidak mau akhirnya menghentikan laju sepedanya.


Aira mendekat ke stand itu setelah turun dari sepeda dengan perhatiannya yang tertuju pada sebuah dreamcatcher. Nico yang menyadari arah fokus Aira langsung saja membuang nafas kesal.


“Kamu masih sering mimpi buruk, kan? Ini bisa menangkal semua mimpi buruk kamu dan bikin kamu mimpi indah. Mau?” Aira tiba-tiba saja berbalik dan mengulurkan benda itu pada Nico.


Nico tampak berpikir sebelum berkata, “selama ada kamu, aku nggak butuh itu."


“Ma—maksud kamu?”


Kali ini mereka sama-sama terdiam dengan pandangan yang sama-sama terkunci pada kedua mata mereka masing-masing. Sekali lagi Nico terdengar menghela nafas. Tatapan matanya terlihat lelah, ia pun membuang wajahnya dan menjawab pertanyaan yang Aira ajukan.


“Buat aku, mimpi indah cuma akan bikin aku sakit saat aku terbangun.”


Aira tidak mengatakan apapun lagi. Ia mengembalikan dreamcatcher itu pada tempatnya dan kembali menaiki sepeda dengan perasaan canggung. Namun meski begitu, ia tidak berharap hari ini akan berlalu dengan cepat dan membuatnya kembali terlempar dalam keadaan yang tidak mengenakkan dengan Nico. Dan jika ini adalah mimpi, Aira tidak ingin mimpi ini berlalu. Asal bersama Nico, hidup dalam mimpi pun akan ia lakukan dengan senang hati.


Dalam naungan langit yang jingga, perasaan Aira seakan menjelma menjadi sebentuk awan putih yang menari-nari di atas langit lalu tertiup angin dengan lembut.


Semuanya terasa begitu benar, segalanya terasa begitu sempurna.


...****...


"Thanks, ya, Yum, udah nganterin gue." Ucap Rakha pada Yumi begitu mobil yang dikendarai oleh Yumi berhenti tepat di depan gedung asrama Rakha.


Sebelum kembali ke asrama tadi, Rakha meminta bantuan Yumi untuk mengantarnya kembali ke asrama. Yumi yang memang sedang tidak sibuk pun langsung bersedia untuk mengantar Rakha.


"That's what friend are for, Kha." Jawab Yumi yang terkesan tak acuh.


Rakha tersenyum lebar. Dan ketika Rakha hendak mendaratkan tangan kananya di atas kepala Yumi, Yumi dengan refleks menghindar. Rakha tertegun untuk beberapa saat dengan tangan yang masih menggantung di udara.


"Jangan ngelakuin hal kayak gitu lagi di saat lo bahkan udah nolak perasaan gue." Lirih Yumi pelan tanpa berani menatap lawan bicaranya.


Yumi sedang bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Namun yang ia dapati kemudian, Rakha justru mengabaikannya. Ia menarik paksa kepala Yumi dengan salah satu tangannya, lalu membekapnya di bahu erat-erat.


"Kalo gue maunya terus bersikap kayak gini, emangnya lo bisa apa? Hm?" Ujar Rakha seraya mengetatkan rengkuhannya pada kepala Yumi.


Sejujurnya, Rakha mulai bosan dengan keadaan canggung antara dirinya dengan Yumi akhir-akhir ini. Rakha ingin memperbaiki segalanya, agar dirinya dan Yumi bisa kembali seperti semula. Seperti saat sebelum Yumi menyatakan perasaannya.


"Rakha! Lepasin gue nggak? Gue serius!!" Titah Yumi dengan suara galaknya yang teredam dalam kungkungan Rakha.


"Rakha! Lepasin gue nggak? Gue serius!!" Rakha mengulang perkataan Yumi sembari mengikuti nada dan cara bicara gadis itu.


"Kalo lo nggak segera lepas, gue pastiin lo bakalan nyesel." Kali ini suara Yumi terdengar agak mengancam.


"Memangnya apa yang mau lo lakuin ke gue? Hah?" Tantang Rakha.


Di luar dugaan Rakha, Yumi tiba-tiba saja melingkarkan kedua tangannya di punggung Rakha, kemudian memeluk sahabat jahilnya itu dengan penuh keberanian. Wajah Yumi yang tadinya bersandar di bahu Rakha, kini ia alihkan ke dada Rakha. Rakha membeku. Untuk yang kedua kalinya ia terperanjat. Pelukan Yumi benar-benar penuh perasaan. Ini bukan lagi pelukan antara sahabat, tapi antara seorang wanita dan pria.


"Gue udah bilang, kan... kalo lo bakalan nyesel," ucap Yumi dengan nada setengah berbisik.


Rakha yang awalnya blank, sekarang justru membalas pelukan Yumi dan membenahi posisinya agar lebih nyaman. Biarkan untuk sekali ini saja, Rakha memperlakukan Yumi seperti seorang wanita.


Yumi yang sama sekali tidak merasakan penolakan dari Rakha, secara perlahan memejamkan kedua matanya, dan menikmati satu momen yang mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.


...****...


"Papa, Mama... Nico ingin menyampaikan sesuatu." Ucap Nico pada kedua orang tuanya.


Malam itu, mereka sekeluarga termasuk Aira sedang merayakan kelulusan Nico di sebuah restaurant di salah satu hotel berbintang lima. Adryan bahkan secara khusus memesan tempat VIP untuk mereka.


"Apa, Nic?" Tanya Regina dengan enteng sambil memotong steak-nya.


"Sebelumnya, Nico mau ucapin terima kasih sama Papa karena sudah mau terima Nico, dan memperlakukan Nico seperti anak sendiri selama ini. Nico sungguh bahagia, dan tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari Papa. Tapi selama ini, Nico selalu lupa untuk berterima kasih sama Papa."


"Papa yang seharusnya berterima kasih sama kamu, Nic. Kamu sudah hadirkan banyak kebahagiaan dan keberuntungan dalam hidup Papa selama ini." Balas Adryan dengan penuh ketulusan.


Dalam situasi yang mulai emosional itu, Regina tersenyum bangga pada putra semata wayangnya itu. Aira pun sama.


"Hanya itu yang ingin kamu sampaikan, Nic?"


Nico menggeleng sekilas, sebelum akhirnya menyampaikan hal utama yang ingin disampaikannya, "Nico akan lanjut S2 ke luar negeri, dan kemungkinan Nico nggak akan kembali."


Adryan dan Regina saling menatap untuk beberapa saat. Mereka yang awalnya mengira bahwa Nico setuju dengan rencana pernikahan dan melanjutkan studi di luar negeri bersama Aira, sama-sama saling melempar senyum satu sama lain. Tujuan mereka untuk menjauhkan Nico dan Aira dari masa lalu Aira yang kelam sepertinya akan terwujud sebentar lagi.


"Tapi pertama-tama kita harus cari tanggal untuk pernikahan kamu dengan Nana terlebih dulu. Soal S2 kita bisa urus setelah pernikahan."


Perasaan Aira membuncah saat mendengarkan perkataan Regina. Sekelompok vocal choir seakan tengah menyanyi penuh semarak jauh di dalam dadanya. Namun tiba-tiba...


"Nico akan pergi sendiri, tanpa Nana." Jawab Nico sembari menyasarkan tatapan dinginnya pada sosok Aira di dua kata terakhirnya.


^^^To be Continued...^^^