
Saat melihat Aira yang sedang memanggang daging sendirian, dengan pergerakan yang halus, Nico bangkit dari kursinya dan menghampiri Aira. Ia berdiri di samping Aira, memperhatikannya dengan seksama.
Begitu menyadari bahwa ia tidak sendiri lagi di depan pemanggangan, Aira menoleh ke samping dan mendapati Nico yang sedang menatapnya.
"Eh, Nic? Ngapain?"
Alih-alih menjawab, Nico justru mengambil alih penjepit panggangan itu dari tangan Aira dan menggantikan tugasnya tanpa permisi.
"Nic, biar aku aja."
Saat Aira akan mengambil lagi penjepit itu dari tangan Nico, Nico spontan menepis dengan bahunya. Aira kali ini memutuskan untuk menyerah, agar tidak lagi memicu perdebatan di antara mereka. Lagipula, Aira merasa bahwa Nico masih kesal padanya.
Beberapa saat kemudian, Nico yang tampak sibuk memanggang daging, secara sengaja melihat ke arah Aira dengan ekor matanya. Ketika itu, ia menangkap sosok Aira yang sedang menggosok-gosokkan tangannya untuk menghalau rasa dingin yang menderanya.
Nico mendesah, kemudian mengulurkan salah satu tangannya yang bebas. Meski masih kesal pada Aira karena kejadian tempo hari, tetap saja Nico tidak bisa mengabaikannya.
Aira yang tidak paham maksud Nico, hanya memandang tangan Nico yang terulur dengan pandangan heran. Kali ini Nico berdecak, dan dengan gerakan cepat, ia menyambar salah satu tangan Aira,kemudian menggenggamnya erat-erat agar Aira tidak kedingingan.
"Nic..." Berontak Aira seraya berusaha melepaskan tangannya. Namun Nico lagi-lagi tidak menggubrisnya.
Aira yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya bisa menerima perlakuan Nico dengan pasrah. Ia bahkan sudah tidak memiliki celah lagi untuk menolak apalagi memberontak.
Agar tidak terlalu menarik perhatian yang lain, Aira dengan sangat hati-hati memindahkan tangan mereka ke belakang. Menyadari apa yang Aira lakukan, Nico hanya bisa tersenyum sambil memalingkan wajahnya.
...****...
Waktu masih menunjukan pukul lima pagi ketika Nico terbangun dari tidurnya. Ia kemudian bangkit, lalu mengabsen satu persatu wajah Rakha, Natta, dan Rio yang masih tertidur pulas di sebelahnya.
Setelah ia rasa nyawanya sudah terkumpul, Nico berjalan ke arah balkon yang berhadapan langsung dengan pemandangan pantai. Dari sanalah, Nico dapat melihat sosok Aira yang sedang berdiri sendiri di tepi pantai. Lalu, tanpa fikir panjang, Nico buru-buru meraih jaketnya dan pergi menyusul Aira.
"Ra, sejak kapan di sini?"
Mendengar suara Nico yang menyapa indera pendengarnya, Aira pun menoleh ke samping. Satu senyuman yang begitu manis langsung terpatri di wajahnya saat melihat Nico.
"Sejak duapuluh menit yang lalu."
Nico hanya mengangguk, lalu mengambil posisi di samping Aira dalam jarak yang begitu dekat. Setelah cukup lama terlihat menimbang sesuatu dalam kepalanya, Nico tiba-tiba berkata, "mau jalan-jalan di tepi pantai sampai matahari terbit?"
Nico mengulurkan tangan kanannya dengan pandangan yang tidak lepas dari kedua mata Aira. Beberapa detik setelahnya, Aira menyambut uluran tangan Nico. Mereka pun akhirnya berjalan bersisian, menyusuri tepi pantai sambil sesekali bernostalgia tentang masa kecil mereka yang dulu juga sering bermain di pantai.
Tanpa disadari, tangan mereka semakin erat saling menggenggam satu sama lain. Aira bahkan memeluk lengan Nico seraya menyandarkan dagunya pada bahu pemuda itu untuk menghalau rasa dingin yang menderanya. Sementara Nico, ia tidak berniat untuk melayangkan komentar apapun. Ia nyaman dengan posisi itu, dan dia suka setiap kali Aira berada dalam posisi sedekat ini dengannya.
Setengah jam kemudian, Nico dan Aira menghentikan langkah mereka saat melihat matarahari pertama terbit di tahun 2013. Mereka sama-sama terkesima menyaksikan pemandangan yang luar biasa menakjubkan itu.
"Cantik sekali." Puji Aira dengan satu senyuman manis yang memenuhi wajah cantiknya.
Dan Aira sama sekali tidak sadar, ketika perhatian Nico kini sepenuhnya beralih padanya, "iya, cantik." Lirih Nico pelan. Namun pujian itu ia peruntukkan untuk Aira.
"Nana..." Panggil Nico dengan lembut. Senyuman di wajah Aira pun otomatis membeku saat mendengar Nico memanggilnya dengan nama itu lagi.
"Hm?" Jawab Aira dalam sebuah gumaman.
Situasi di antara mereka tiba-tiba hening. Mereka sama-sama larut dalam keindahan pesona masing-masing.
"Aku sayang kamu." Ungkap Nico dengan penuh kejujuran.
Senyuman di wajah Aira masih membeku. Tiga kata ajaib yang baru saja Nico ungkapkan, membuat jantungya berdebar kencang. Tidak ada setitikpun keraguan dalam sorot mata Nico ketika mengucapkan tiga kata itu. Dan Aira tahu Nico bersungguh-sungguh.
Karena terlalu sibuk menjelajahi mata Nico, Aira sama sekali tidak sadar ketika wajah pria itu bergerak perlahan mendekatinya. Secara natural, mereka sama-sama memejamkan mata. Namun, saat baru saja ujung bibir Nico menyentuh permukaan bibir Aira, satu suara dari kejauhan tiba-tiba terdengar dan membuat mereka mengambil jarak.
"Kita telaaaat! Matahari udah terbit."
Suara itu milik Sheryl.
"Gara-gara Rakha nih. Dibanguninnya susah bener!" Timpal Bia penuh kekesalan.
"Eh, itu Nico sama Aira, kan? Sejak kapan mereka di sini?" Kata Sheryl setelah melihat penampakan Nico dan Aira yang sedang berdiri canggung tidak jauh dari posisi mereka sekarang.
Nico berdehem seraya menggaruk belakang tengkuknya. Sementara Aira, ia hanya bisa menghela nafas sambil terus mengontrol detak jantungnya yang masih menggila.
'Hampir saja,' fikiran Aira berkata.
Bia dan Sheryl lalu berlari kecil menghampiri Aira, kemudian diikuti oleh Yumi dan yang lainnya di belakang.
Sedangkan Rakha, ia menatap penuh kecurigaan pada kedua orang itu. Jelas-jelas sudah terjadi sesuatu di antara mereka. Semua itu dapat Rakha baca dari gerak-gerik mereka yang tampak kikuk saat ia dan yang lainnya tiba-tiba datang.
"Aira! Nico! Sejak kapan kalian di sini? Kenapa nggak bangunin kami?" Protes Bia yang serta-merta diamini Sheryl.
"Ka―kami juga baru nyampe." Kilah Aira dengan gelagapan.
"Bohong!" Yumi membantah.
Aira semakin bingung bagaimana harus mengelak dari teman-temannya. Momen saat dirinya dan Nico nyaris berciuman sudah terlanjur mengacaukan fikirannya.
Natta yang mulai peka dengan keadaan Nico dan Aira segera mengambil inisiatif untuk menengahi, "sudah! Sudah! Mending kita main saja. Kapan lagi bisa lihat pantai kayak gini."
Setelah itu, Natta merangkul pundak Sheryl dan membawanya berjalan mendekati bibir pantai. Yumi, Rio, dan Bia pun mengikuti mereka.
Ketika yang lainnya asyik bermain di pantai, Rakha justru masih berdiri di tempatnya semula tanpa mengalihkan perhatiannya dari Nico dan Aira. Beberapa saat kemudian, Rakha melihat Aira tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya. Kali ini, Rakha menundukkan wajahnya sejenak dengan satu senyuman getir di wajahnya.
Setelah perasaannya membaik, Rakha mengangkat wajahnya dan tersenyum seperti biasa pada Aira.
"Raaa, I'm coming!" Ujar Rakha. Ia kemudian berjalan cepat menghampiri Aira.
Persetan dengan apa yang terjadi di antara Aira dan Nico, Rakha masih belum ingin menyerah.
^^^To Be Continued...^^^