
Dengan berat hati, Nico membiarkan Aira pergi bersama Rakha.
Untuk saat ini, Nico benar-benar tidak bisa memikirkan satu carapun untuk membuat Aira tenang. Nico seolah-olah merasa bahwa setiap usaha yang dilakukannya untuk membuat Aira tenang, pada akhirnya hanya akan membuat Aira semakin terluka. Maka Nico pun hanya bisa menatap sendu pada mobil milik Rakha yang sudah membawa Aira pergi darinya, juga mungkin dari kehidupannya.
"Kamu jangan khawatir, ya, Nic? Papa yang akan jelasin semuanya sama Nana nanti. Untuk saat ini Nana masih syok. Jadi wajar kalau dia bereaksi seperti itu." Ucap Adryan saat Nico baru saja menjatuhkan tubunnya di sofa setelah mengantar Aira dan Rakha keluar.
Bayangan ketika Aira mencari Rakha, terus menghantui fikiran Nico tanpa henti.
"Terima kasih sebelumnya, Pa. Tapi Nico akan lebih menghargai kalau Papa nggak perlu jelasin apa-apa ke Nana. Karena..." Nico memejamkan kedua matanya, berusaha menahan pedih di hatinya, "karena itu hanya akan membuat Nana lebih sakit lagi."
"Tentu saja kita harus jelaskan semuanya ke Nana, Nic." Kali ini Regina yang bersuara.
"Mama seharusnya melakukan hal itu sebelum membawa Nana pulang ke rumah. Mama seharusnya melakukan hal itu sejak awal dan menyerahkan keputusan akhir pada Nana. Tapi Mama tidak melakukan itu! Mama tidak memberikan Nana pilihan apapun selain menerima!" Entah memiliki keberanian darimana, tiba-tiba saja Nico mencecar Mamanya, seakan-akan ia telah menahan untuk waktu yang sangat lama.
"Nico, kamu─"
"Maafin Nico, Ma, Pa. Tapi Nico fikir, Nico nggak bisa ketemu Papa dan Mama untuk sementara waktu."
Itulah ucapan terakhir Nico sebelum akhirnya keluar dari penthouse mewah milik kedua orang tuanya dengan amarah yang sudah memenuhinya.
...****...
Sudah satu jam berlalu sejak Rakha membawa Aira pergi bersamanya. Namun selama kurun waktu itu, Aira terus menyendiri di salah satu kamar di dalam villa pribadi milik keluarga Rakha di Pulau Banu.
Lain halnya dengan sahabat-sahabatnya yang berusaha menahan diri meski sangat mengkhawatirkan Aira, Rakha justru merasa sebaliknya. Sudah satu jam berlalu, dan sejak mereka tiba di Pulau Banu pagi tadi, Aira bahkan belum memasukkan makanan apapun ke dalam perutnya. Karena tidak bisa menahan kegelisahannya dengan kondisi Aira, Rakha pun menerobos masuk ke dalam ruangan Aira sambil membawa beberapa potong sandwich dan segelas orange juice di atas debuah nampan.
Sementara Aira, begitu ia mendengar suara pintu dibuka, ia serta-merta menatap Rakha dengan letih.
"Ra, sebaiknya kamu makan dulu. Kamu nggak bisa terus-terusan menyiksa diri seperti ini. Kamu bisa jatuh sakit nantinya."
"Kha, aku masih mau sendiri, apa kamu bisa─"
Sebelum Aira menuntaskan kalimatnya, ia tiba-tiba saja merasakan Rakha menutup kedua matanya dengan tangan. Semuanya terjadi begitu cepat ketika Rakha meletakkn nampan yang ia bawa di atas meja sebelum akhirnya berjalan cepat menghampiri Aira untuk menutup kedua matanya.
"Menangis aja, Ra. Kalau itu bisa bikin perasaan kamu menjadi lebih baik, kamu bisa menumpahkan semuanya sekarang."
Tanpa perlu berlama-lama lagi, Aira langsung memecah tangisannya. Ia seolah ingin mengeluarkan semua kesedihan dan kesakitannya di hadapan Rakha.
Karena semakin lama tangis Aira terdengar semakin menyayat, Rakha pun menurunkan tangannya dari kedua mata Aira, lalu beralih memeluk gadis itu erat-erat.
"Aku di sini buat kamu, Ra! Kamu bisa menangis sepuasnya dalam pelukan aku. Aku janji, aku nggak akan biarin kamu sendirian melalui semua ini." Janji Rakha dengan sepenuh hati.
Pelukannya pada tubuh gadis itu pun semakin erat saat ia rasakan bahwa Aira mulai membalas pelukannya.
^^^To be Continued...^^^