
"Kita sudah memasuki satu pintu, dan telah mencapai satu babak baru. Pada bagian ini, aku ingin menghapus semua kenangan burukmu tanpa sisa, hingga membuatmu lupa bahwa kau pernah luka..."
...****...
"Ma, Pa... saat kuliah nanti, Iel akan tinggal sendiri."
Ucap Natta pada kedua orang tuanya saat mereka tengah menikmati sarapan pagi mereka bersama. Mendengar kata-kata yang baru saja meluncur dari anak bungsunya, baik Hadinata dan Aristy secara bersamaan menatap ke arah Natta dengan pandangan bertanya.
"Tentu saja kamu harus tinggal dengan Abang kamu." Jawab Aristy sambil menatap tepat pada kedua mata Natta.
"Nggak. Iel nggak akan kuliah di Jerman sama Bang Ian. Iel akan kuliah di sini, dan tinggal sendiri."
"Apa yang coba kamu katakan, Yel?" Hadinata bertanya dengan suara meninggi.
"Apa kurang jelas omongan aku? Aku nggak akan kuliah di Jerman. Aku mau kuliah di sini dan tinggal sendiri." Ulang Natta dengan beberapa penekanan sambil dengan berani menatap balik Papanya dengan cukup lantang.
Melihat wajah Natta yang semarah itu, Hadinata berusaha menurunkan emosinya dan mencoba mengerti dengan luka yang masih Natta rasakan sampai sekarang.
"Iel, jangan berbicara dengan nada meninggi sama Papa kamu." Aristy memperingatkan dengan cukup keras.
"Lalu, apa yang kalian harapkan dari Iel?" Tanya Natta dengan mata yang mulai berair.
Sakit hatinya masih belum terobati. Lalu haruskah kedua orang tuanya bersikap seperti ini padanya? Beberapa saat kemudian, Natta bangkit dari kursinya lalu menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Apapun yang Mama Papa inginkan dari Iel sekarang, Iel sudah nggak bisa memenuhinya lagi. Untuk sekali ini saja, Iel akan menentukan jalan hidup Iel sendiri."
Kali ini tatapan mata Natta berhenti pada Papanya. Dengan getaran yang coba ia tahan, Natta kembali berkata, "Iel muak jadi anak penurut kalau akhirnya kepercayaan Iel dikhianati."
...****...
Setelah dari rumahnya, Natta segera pergi ke B-Café dan menyendiri di bioskop mini. Di sana, Natta menonton sebuah film berjudul 'Finding Neverland'. Film itu, adalah film favorit keluarganya yang selalu mereka tonton setiap akhir tahun. Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada penghujung 2012 kemarin, mereka tidak menonton film itu secara bersamaan.
Tidak lama kemudian, Sheryl tiba-tiba datang. Dengan perlahan ia duduk di sisi Natta dan menatap wajahnya dari samping. Beberapa saat lalu, Natta menghubunginya dan memintanya untuk segera menemuinya di B-Café. Sheryl yang memang sudah memiliki firasat bahwa sedang terjadi sesuatu pada Natta, langsung menemui Natta tanpa menanyakan apapun padanya.
Natta menoleh ke samping. Setelah mendapati sosok Sheryl di sisinya, Natta langsung tersenyum. Ia kemudian menggenggam salah satu tangan Sheryl dan merebahkan kepalanya di bahu Sheryl. Rasanya begitu nyaman hingga membuat Natta memejamkan kedua matanya. Meski untuk sejenak, saat berada di samping gadis ini, Natta selalu bisa melupakan semua permasalahannya.
...****...
Mei, 2013
Ujian akhir telah selesai dilaksanakan seminggu yang lalu. Kini, para siswa-siswi SMA Patuh Karya hanya tinggal menanti pengumuman kelulusan mereka sembari mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi yang menjadi impian mereka.
Karena teralu sibuk dengan urusan masing-masing, Nico dan Aira yang biasanya memiliki banyak waktu berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, sekarang mulai jarang terlihat bersama. Namun meski begitu, mereka tetap saling berkontak melalui grup chat mereka yang selalu ramai dengan kegilaan-kegilaan mereka. Selalu ada cerita yang bisa mereka bagikan satu sama lain.
"Nico, Nana..."
Panggil Adryan saat dirinya dan Regina baru saja turun dari lantai dua, lalu mengambil posisi di hadapan Nico dan Aira yang saat itu sedang duduk di sofa ruang tengah sambil dengan asyiknya membaca sebuah komik.
Mendengar panggilan itu, secara otomatis Nico dan Aira langsung mengangkat wajah mereka dari buku komik yang sejak tadi mereka tekuri, lalu menatap Adryan dan Regina yang memasang mimik wajah cukup serius.
"Akhir minggu nanti, kita ke Pulau Banu, ya? Sebentar lagi peringatan dua tahun kematian orang tua Nana. Kita akan mengunjungi makam mereka bersama-sama." Ujar Adryan.
Senyum di wajah Aira secara perlahan memudar. Ya, dia baru ingat. Ini bulan Mei. Tepat dua tahun yang lalu, kedua orang tuanya harus meregang nyawa di hadapannya dalam sebuah kecelakaan yang tidak pernah terfikirkan dalam benak Aira sebelumnya.
Tangan Aira mendadak kehilangan kekuatannya, hingga jatuh begitu saja di atas kedua pahanya. Nico yang menyaksikan perubahan sikap Aira, sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Lagipula, Nico tidak akan pernah memahami rasa sakit yang Aira derita selama dua tahun belakangan ini. Nico mungkin bisa jadi penenang bagi Aira, tapi dia tidak akan pernah benar-benar bisa memahami rasa kehilangan yang dialami oleh Aira.
Sore harinya, Nico melihat Aira yang ketika itu sedang menyendiri di beranda belakang sambil memeluk boneka beruang pemberian Nico. Nico terdiam untuk beberapa saat, dan memperhatikan Aira dari balik pintu kaca.
Sejak Mama Papanya mengingatkan bahwa ini adalah bulan Mei, Aira mulai terlihat murung. Kabut tebal yang dulu berhasil Nico sibak di wajahnya, kini menutupinya lagi. Nico mendesah pelan. Sembari berfikir, sudah cukup ia membiarkan Aira sendirian dalam fikiran-fikirannya. Kini saatnya Nico mendekatinya.
Nico lalu melangkah pasti untuk menghampirinya.
"Na?" Panggil Nico pelan.
"Eh, Nico? Kamu di sini juga?"
"Mau cerita sama aku?"
Aira tidak langsung mengiyakan. Ia hanya tersenyum, lalu kemudian menundukkan pandangannya dengan kedua pundaknya yang tampak rapuh. Ada banyak yang tertahan di dada Aira sekarang. Ada banyak hal yang tidak pernah bisa ia sampaikan pada seluruh dunia, meski ia sangat ingin.
Nico lantas duduk tepat di bawah Aira. Ia sedikit memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Aira dengan jelas. Saat itu juga Nico tahu, bahwa Aira sedang berusaha keras menahan tangisnya.
"Nana?"
"Dari sekian banyak orang, kenapa harus aku, Nic? Dari sekian banyak orang, kenapa harus kedua orang tuaku? Kami salah apa?"
'Kami salah apa?', itulah satu pertanyaan yang selama ini menghantui sudut fikir Aira, siang dan malam, dalam setiap tarikan nafasnya. Namun meski berkali-kali bertanya pada diri sendiri, Aira tetap tidak tahu jawabannya dan malah membuatnya semakin tersiksa.
"Jika hari itu mobil yang kami tumpangi tidak ditabrak begitu saja, kedua orang tuaku pasti masih hidup. Bahkan adikku yang masih dalam kandungan, harus merelakan kehidupannya sebelum sempat dilahirkan. Aku salah apa, Nic? Aku harus kehilangan mereka semua dalam semalam. Di sini, Nic. Di sini rasanya sakit sekali." Lirih Aira seraya menunjuk dadanya dengan suara yang menyayat hati.
Aira kini mengangkat wajahnya dan menatap Nico yang terduduk di bawahnya. Sementara Nico, ia masih menatap Aira dengan sendu. Jika bisa, rasanya ia ingin sekali semua rasa sakit dan beban yang saat ini Aira tanggung, dipindahkan saja seluruhnya padanya.
Dalam hatinya kini, Nico sudah memiliki sebuah tekad. Ia akan menghilangkan semua rasa sakit yang Aira derita selama dua tahun ini. Dan ia akan menjadikan Aira sebagai gadis yang paling bahagia, hingga membuatnya lupa bahwa luka itu pernah ada.
Dalam diam, Nico berjanji dengan penuh kesungguhan.
Tangan kanan Nico kemudian terangkat, lalu mendarat di atas puncak kepala Aira. Dengan lembut Nico mengusapnya, berharap perasaan Aira bisa sedikit membaik setelahnya.
"Semua yang terjadi ini bukan salah kamu, Na. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun." Ujar Nico.
"Terus, kenapa aku harus dihukum seberat ini? Kalau aku nggak salah apapun, kenapa orang itu tega merenggut kedua orang tuaku dan adikku? Atau kenapa, orang itu nggak sekalian aja ngebunuh aku? Kenapa harus ngebiarin aku hidup sendirian, ke—"
Belum selesai perkataan Aira, Nico dengan cepat duduk di sebelahnya, lalu menarik Aira ke dalam dekapannya. Nico kemudian memeluk Aira erat-erat, dan berucap dengan nada setengah berbisik, "sstt! Jangan katakan apapun lagi, Na. Jangan pernah menyesal karena kamu ngerasa hidup sendiri, ada aku di sini."
Aira pun balas memeluk Nico dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan pemuda itu.
'Aku bersyukur karena kamu hidup, Na...' Lirih Nico dalam hati seraya memejamkan kedua matanya.
Sampai di sini Nico berharap, semoga Aira bisa merasakan seluruh perasaannya yang terus mengalir tanpa henti.
...****...
Sabtu sore, Nico dan Aira bersama dengan kedua orang tua Nico terbang ke Pulau Banu. Mereka berencana akan menginap di sana selama tiga hari, dan akan kembali pada senin paginya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam ketika mereka tiba di Pulau Banu. Di sana, mereka akan menginap di sebuah penthouse milik kedua orang tua Nico.
Begitu sampai di Pulau Banu, Aira tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, kendatipun beberapa hari yang lalu ia sempat merasa down. Setelah setahun berlalu, ia akhirnya kembali lagi ke Pulau Banu. Lebih-lebih sekarang, ia bisa kembali ke tempat itu bersama Nico. Bagi Aira, tidak ada yang lebih membahagiakan lagi dari hal itu.
"Jadi, Saudara Calvien Nicolas, bagaimana perasaan anda setelah kembali lagi ke Pulau Banu setelah enam tahun berlalu?" Tanya Aira seraya menjulurkan tangannya yang terkepal di hadapan Nico, seakan-akan tangannya adalah sebuah mikrofon.
Aira tiba-tiba berlagak seperti seorang reporter. Hal itu, kontan saja mengundang tawa Nico.
Ahh... Gadis ini! Baru kemarin ia terlihat begitu sedih karena kembali mengingat kematian kedua orang tuanya, namun sekarang ia sudah mendapatkan keceriaannya lagi. Fikir Nico.
"Jawab Saudara Calvien Nicolas! Kenapa anda malah tertawa?"
Dan besok paginya, mereka pergi mengunjungi makam kedua orang tua Aira. Aira membawa satu buket bunga baby breath, dan langusng meletakkannya di atas makam. Aira duduk di salah satu sisi makam kedua orang tuanya bersama Nico, begitu juga dengan Adryan dan Regina yang duduk di sisi lainnya.
"Ibu, Ayah... Nana datang. Maaf, karena Nana terlalu lama tidak berkunjung."
...****...
Saat melewati ruang kerja Papanya dan melihat pintunya yang terbuka lebar, sesuatu dari dalam dirinya yang tidak Rakha pahami tiba-tiba saja mendorongnya, hingga di luar kesadarannya, ia melangkahkan kakinya dan memasuki ruang kerja Papanya yang selama ini tidak pernah ia masuki. Begitu masuk, Rakha mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan menemukan foto dirinya bersama Ranha ketika masih balita dalam sebuah figura yang bertengger dengan manis di atas meja. Rakha mengangkat figura foto itu, lalu tersenyum saat melihat potret dirinya bersama sang adik.
"Kak Rakha! Makan malam sudah siap."
Panggilan dari Ranha, seketika membuat Rakha terkesiap. Ia pun kembali meletakkan figura itu di tempatnya semula.
"Iya, Kak Rakha ke sana." Jawabnya kemudian.
Saat Rakha berbalik, tanpa sengaja tangannya menggeser sebuah buku agenda hingga terjatuh ke lantai. Mau tidak mau, Rakha akhirnya membereskan kekacauan kecil yang baru saja ia buat agar tidak ketahuan Papanya. Rakha terduduk dan mengambil buku itu. Namun, selembar foto yang menyembul dari dalam buku tiba-tiba menarik perhatian Rakha dan memicu rasa penasarannya.
Rakha lalu menarik pelan foto itu. Begitu melihat Papanya berpose dengan seseorang yang tidak ia kenal didalam foto, wajah Rakha otomatis mengernyit. Ia sama sekali tidak mengenal orang itu, tapi kenapa wajahnya tidak asing dalam pengelihatan Rakha. Rakha lantas membalik foto itu, dan menemukan sebuah tulisan yang berisi:
'Banu, 13 April 2008, bersama dengan Bimantara Danadyaksa.'
"Bimantara Danadyaksa?"
Setelah membaca nama itu, Rakha justru semakin merasa asing. Ia tidak pernah tahu sebelumnya, bahwa Papanya memiliki seorang teman bernama Bimantara Danadyaksa di Pulau Banu. Dan tanggal yang tertera dalam foto itu, bertepatan dengan tanggal tournament Basket yang ia hadiri bersama Mamanya. Pada tanggal itu juga, ia pertama kali bertemu dengan Aira.
Wajah yang sangat asing itu, tiba-tiba mengingatkannya pada seseorang yang sangat ia kenal.
"Om ini kenapa mirip sekali sama Nico?"
...****...
Setelah dari makam kedua orang tua Aira, Nico meminta izin pada Mama dan Papanya untuk mengajak Aira berjalan-jalan hanya berdua saja dengannya. Aira pun sudah sanggup menjadi tour guide bagi Nico kalau-kalau nantinya Nico lupa arah. Setelah mendapatkan izin, mereka pun memulai perjalanan mereka menuju sekolah lama mereka.
Untuk melakukan perjalanan mereka hari ini, Nico mengendarai sebuah skuter berwarna kuning dan membonceng Aira di belakangnya. Pakaian yang mereka gunakan pun, tampak serasi tanpa mereka rencanakan seperti biasanya. Nico tampak santai menggunakan sebuah T-Shirt oversize berwarna putih polos. Ia memasukan bagian bawah bajunya ke dalam celana. Sementara Aira, ia berpenampilan cukup casual dengan floral dress berwarna putih yang menutupi sampai ke atas lututnya. Dan untuk menutupi lengannya yang terbuka, Aira menggunakan sebuah cropped cardigan berwarna biru yang senada dengan warna celana jeans yang Nico kenakan.
Skuter yang Nico kendarai, membelah jalanan di hadapannya. Sementara tepat dari samping mereka, mata mereka dimanjakan oleh pemandangan hamparan lautan biru yang terlihat sangat cantik.
Setelah bernostalgia singkat di sekolah lama mereka, Nico dan Aira pergi ke sebuah kedai di depan sekolah mereka. Dulu, mereka sering pergi ke kedai itu untuk membeli roti goreng yang selalu menjadi jajanan favorit mereka.
"Itu isinya apa?" Tanya Nico pada Aira yang sedang asyik mengunyah rotinya.
"Isi cokelat. Mau coba?" Aira kemudian menjulurkan roti itu tepat di depan mulut Nico, bersiap-siap untuk menyuapinya. Nico lalu menerima suapan dari Aira, dan mengunyahnya dengan pelan.
"Gimana? Suka?"
Nico hanya mengangguk. "Mau coba yang kacang?"
Kali ini giliran Nico yang menyuapi Aira yang langsung diterima begitu saja oleh Aira.
"Lebih enak yang cokelat." Seloroh Aira sambil tertawa pelan.
Dengan penuh perhatian, Nico mengusap tepi bibir Aira yang belepotan karena terkena cokelat. Menerima perlakuan Nico itu, Aira justru terlihat biasa saja. Ia sudah mulai terbiasa. Lagipula, ini bukan pertama kalinya Nico melakukan hal-hal semacam itu padanya.
"Pelan-pelan makannya, Ra. Nggak akan ada yang rebut dari kamu."
Aira tidak peduli, dan tetap mengunyah makananya dengan kecepatan yang sama. Nico pun hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat sisi kekanak-kanakan gadis itu yang mulai kambuh.
Waktu sudah beranjak sore, saat Aira mengajak Nico pergi ke sebuah ladang bunga canola yang cukup luas. Mereka melangkah di jalan setapak seraya menikmati pemandangan sore. Sinar matahari senja yang menerpa bunga canola yang kekuningan semakin membuat suasana terasa hangat.
Setelah merasa lelah, Aira pun mengajak Nico menepi. Aira lalu duduk di sebuah bangku panjang di pinggir ladang, sementara Nico, ia lebih memilih untuk duduk di atas pagar pembatas yang terbuat dari kayu. Posisi mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Aku baru tahu kalau di Pulau Banu ada tempat secantik ini." Ucap Nico sembari mengedarkan pandangan matanya.
Aira tersenyum kecil. Ia yang sejak tadi terlihat begitu bersemangat tiba-tiba saja diam. Hal itu, tentu saja menimbulkan sebuah tanda tanya dalam benak Nico.
"Ra, kok diem aja? Kamu capek, ya?"
Alih-alih menjawab Nico, fikiran Aira justru melayang jauh pada momen pernyataan perasaan Nico berbulan-bulan lalu saat mereka menikmati liburan tahun baru. Saat itu, Aira menyadari bahwa ia tidak memberikan jawaban yang cukup layak untuk Nico. Dan kenyataan bahwa Nico begitu memahaminya tanpa banyak bertanya, justru membuat Aira semakin merasa bersalah.
Dalam hati Aira berfikir, bahwa inilah saat yang tepat baginya untuk menyatakan perasaannya yang selama ini ia pendam dengan sangat rapi untuk Nico. Nico mungkin sudah tahu bahwa Aira memiliki rasa yang sama seperti yang ia rasakan. Namun menurut Aira, Nico berhak untuk mendengarkannya langsung dari dirinya.
"Nic?"
"Hm?"
"Inget, kan? Di hari ulang tahun aku, dan ketika kita liburan tahun baru, kamu sempet nyatain perasaan. Sekarang, giliran aku, boleh?" Aira mengangkat wajahnya. Namun di saat yang bersamaan, Nico justru menunduk dengan seulas senyuman kecil di wajahnya. Perasaannya tiba-tiba terasa hangat.
"Selama kamu pergi, nggak pernah seharipun sejak kamu pergi aku nggak mikirin kamu. Aku selalu kangen sama kamu. Tapi, bukan hal yang mudah buat aku nyatain perasaan ke kamu setelah menempatkan kamu dalam masalah. Kamu tahu itu, kan?"
Nico tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan.
"Nic, aku akan mengambil giliran aku sekarang. Giliran aku buat nyatain perasaan ke kamu."
Nico menanti penuh antisipasi. Ia kemudian mengangkat wajahnya, dan membalas tatapan mata Aira yang seakan menghujam jantungnya.
Aira menghela nafas sejenak, dua detik setelahnya, dengan penuh keberanian ia berucap, "aku suka sama kamu, Nico. Aku sangat menyukai kamu. Maaf, karena sangat terlambat mengatakan ini."
Nico tersenyum penuh kelegaan. Jika bisa, rasanya ia ingin berlari sekarang juga mengelilingi ladang bunga itu sambil berteriak. Namun akhirnya, Nico hanya mampu membalas dengan sebuah senyuman yang begitu lebar. Sementara seluruh sel di dalam tubuhnya, sudah bersorak kegirangan.
"Nic, kenapa sekarang malah kamu yang diam?"
Nico kemudian turun dari pagar pembatas. Bersamaan dengan itu, seluruh lampu-lampu kecil di ladang itu mulai menyala. Lalu dengan langkah pasti, Nico menghampiri Aira. Ia lantas menunduk sambil menekuk kedua tangannya di atas lutut agar bisa melihat wajah gadisnya dengan jelas. Saat Aira menatap wajah Nico dalam jarak yang begitu dekat, ia seperti mampu melihat aura kebahagiaan yang terpancar jelas dari sepasang matanya.
"Sekarang giliran aku... buat ngasih jawaban..." lirih Nico pelan dengan senyuman yang tidak juga mau luntur dari wajahnya.
Aira otomatis berdiri, dan ia cukup tersentak saat Nico tiba-tiba merengkuh pinggang rampingnya dan menghadiahinya dengan sebuah ciuman yang lembut namun cukup berani di bibirnya. Ketika merasakan tubuh Aira limbung karena tidak siap, Nico semakin erat merengkuhnya. Tidak lama kemudian, Aira dapat merasakan kedua tangannya terangkat lalu ia sandarkan di dada bidang milik Nico.
Semua gejolak yang selama ini tertahan, tumpah ruah sudah.
Aira dapat bernafas dengan benar saat Nico akhirnya melepaskan tautan mereka. Setelah itu, Nico kembali menelusuri setiap jengkal wajah Aira dengan penuh kagum. Ia bahkan tidak menyangka bahwa hari ini Aira telah resmi menjadi miliknya. Lalu sekali lagi, Nico mengecup salah satu mata Aira yang masih terpejam.
"Hey, liat mataku..." Lirih Nico pelan saat Aira tidak juga menatap matanya.
Namun Aira menggeleng. Ia terlalu malu untuk sekedar mengangkat wajahnya sekarang.
Nico terdengar terkekeh sebelum akhirnya kembali menarik Aira kedalam dekapannya. Menyadari bahwa Aira sangat gugup, Nico pun mengelus pundaknya dengan lembut.
Tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun, Aira semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Nico.
"Terima kasih sudah menyukai aku, Nana."
^^^To Be Continued...^^^