We, From The First

We, From The First
#19. Happy Birthday, Nico!



22 september 2012, hari ini adalah hari ulang tahun Nico yang ke-18. Seharian ini, Rakha, Rio, dan Natta tampak sibuk menyiapkan sebuah pesta untuk Nico di B-Cafe —Coffee Shop milik Rio yang sudah menjadi markas resmi mereka. Selain mereka bertiga, ada juga Yumi, Bia, Sheryl, dan Nana yang turut hadir dalam pesta itu. Aira juga seharusnya hadir, tapi sejam sebelum acara dimulai, Aira mendadak merasa tidak enak badan, dan memutuskan untuk beristirahat saja di rumah.


Selama acara berlangsung, tidak sedikitpun Nico merasa tenang. Ia terus mengkhawatirkan Aira tanpa henti. Nico sebenarnya tadi sempat ingin mengurungkan niatnya untuk datang. Tapi Aira meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja, dan ia hanya perlu tidur sebentar untuk memulihkan kondisinya.


"Pergi aja, Nic! Kasian temen-temen kamu. Mereka udah siepin acara ini buat kamu dari jauh-jauh hari. Aku nggak apa-apa kok. Aku baik-baik aja. Lagian juga ada Bu Ningsih sama Pak Salim, kan? Kamu jangan khawatir."


Itulah yang Aira katakan pada Nico, hingga membuat Nico akhirnya mengalah dan pergi dengan berat hati. Ia bahkan beberapa kali meminta pada Bu Ningsih untuk segera menghubunginya jika nantinya kondisi Aira memburuk.


"Nic, mikirin Aira, ya?"


Ucap Nana pelan pada Nico yang saat itu tengah berdiri sendiri dengan posisi yang cukup jauh dari teman-temannya. Malam itu, mereka merayakan pesta ulang tahun Nico di rooftop. Nico yang sejak tadi diam melamun sambil memperhatikan pemandangan malam kota Harsa dari ketinggian seketika membuyarkan lamunanya dan menoleh ke arah Nana yang sudah berdiri di sampingnya.


"Eh, Na? Kamu di sini?"


Nana mengeluarkan sebuah kotak kado kecil berwarna hitam dengan dihiasi pita berwarna putih dari dalam tas nya. Ia lalu menyerahkan kado itu pada Nico.


"Happy birthday, ya? Semoga kamu selalu bahagia. Sehat selalu."


"Makasih, Na." Jawab Nico sembari menerima kado pemberian Nana.


Nico tersenyum melihat kado itu, tapi Nana tahu bahwa hati Nico tidak sedang bersama tubuhnya sekarang. Senyumnya dan tatapan matanya bahkan tampak kosong sejak tadi.


Nana menghela nafas, berusaha membuang semua fikiran-fikiran negatifnya tentang Nico. Nana lantas memegang salah satu tangan Nico yang membuat Nico sedikit terkejut. Ketika Nico mengangkat wajahnya, ia dapat melihat wajah Nana semakin mendekat, hendak mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya. Namun belum sempat Nana meraihnya, Nico buru-buru menghindar. Ia memalingkan wajahnya seraya berdehem pelan dan berkata, "udah jam berapa, nih? Aku anter pulang, yuk. Ibu kamu nanti cemas kalau pulangnya kemaleman."


Meski ada sedikit perasaan kecewa dalam hati Nana atas penolakan Nico, tapi ia tetap berusaha terlihat tenang, dan bersikap seakan semuanya baik-baik saja. Toh, ini bukan kali pertamanya Nico menolak Nana seperti itu. Belakangan ini, Nico memang lebih sering menolaknya. Nico selalu bisa memberikan alasan untuk menghindar.


Saat Nico melangkah pergi dari hadapannya, Nana merasa seperti ingin menangis. Tapi ia berusaha menahan sebaik mungkin. Sejak awal, dia memang sudah mempersiapkan diri untuk saat-saat seperti ini, tapi entah kenapa, hatinya tetap saja terasa sakit atas penolakan Nico.


Dan Rakha yang tanpa sengaja menangkap semua momen itu, sekarang jadi semakin yakin bahwa orang yang Nico sukai selama ini, bukan Nana, tapi, Aira. Semuanya tampak jelas. Selama berpacaran dengan Nana, tidak pernah sekalipun Nico menatapnya seperti orang yang sedang jatuh cinta. Tatapan matanya saat menatap Nana, seolah tidak memiliki nyawa. Itu sangat berbeda ketika Nico menatap Aira. Matanya terlihat hidup.


Dan sejak hari itu, Nana terus merasakan perubahan sikap Nico mulai drastis. Nico mulai jarang meneleponnya, atau mengirimkan chat padanya. Nico bahkan beberapa kali tidak menjawab teleponnya, dan hanya membalasnya melalui pesan beberapa saat kemudian.


Masa lalu Nico bersama Aira terlalu erat dan kuat untuk bisa dikalahkan oleh keangkuhannya.


Nana yang tidak pernah ingin menyalahkan Nico, tentu saja berfikir ini bukan salah Nico. Nico sudah melakukan yang terbaik selama bersama dengannya. Hanya saja, Nico tidak berhasil.


...****...


Nico tiba di rumah saat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebelum masuk ke kamarnya, ia memutuskan untuk melihat keadaan Aira terlebih dulu di kamarnya. Nico mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban dari dalam.


Nico lalu membuka pelan pintu kamar Aira. Di dalam sana, ia dapat melihat Aira terduduk di atas karpet bulu yang hangat dan tampak nyaman, dengan setengah badannya ia rebahkan di atas meja. Salah satu tangannya ia gunakan untuk menopang wajahnya. Dan di samping Aira yang sedang tertidur pulas, ada novel pemberian Nana dalam keadaan terbuka.


Nico mendekati Aira dengan hati-hati. Setelah ia duduk di hadapan Aira, Nico sempat menatap wajahnya yang sudah tidak sepucat tadi. Setelah itu, Nico lantas merebahkan kepalanya di atas meja dengan posisi yang sama dengan Aira. Wajah mereka berhadapan satu sama lain, sementara jemari tangan Nico secara perlahan bergerak hingga menyentuh jemari tangan Aira yang terasa hangat.


Nico menatap gadis itu dalam diam untuk waktu yang cukup lama.


Sepuluh menit berlalu, secara perlahan Aira membuka matanya. Samar-samar ia dapat melihat Nico yang sedang menatapnya dalam jarak yang begitu dekat. Dan pengelihatan yang awalnya samar-samar itu, kini semakin jelas. Nico tidak merubah posisinya sedikitpun, ia juga tidak mengalihkan tatapannya dari mata Aira bahkan setelah Aira terbangun dari tidurnya.


Aira yang sempat kaget sejenak melihat Nico yang tahu-tahu ada sudah ada di depannya, kini juga melakukan hal yang sama dengan Nico. Tanpa mengatakan apapun, mereka saling menatap dan menelusuri setiap jengkal keindahan di wajah masing-masing. Dan tatapan Nico malam itu padanya, entah dengan cara apa mampu membuat Aira merasa sangat cantik di mata Nico. Dan memang itulah yang ingin Nico sampaikan melalui tatapan matanya.


Jemari tangan Nico, yang tadinya hanya menyentuh jemari tangan Aira, sekarang secara perlahan mulai mengenggam tangan Aira sepenuhnya. Aira pun membalik tangannya lalu balas menggenggam tangan Nico.


Nico hanya tersenyum kecil.


"Happy birthday, Nico!" Ujar Aira pelan.


Nico tidak menjawab. Hanya matanya yang berbicara, mengisyaratkan bahwa ia sangat bersyukur karena gadis yang ada di hadapannya ini, kini kembali datang dalam kehidupannya.


Bagi Nico, kedatangan Aira adalah hadiah terbaik yang ia terima tahun ini.


^^^To be Continued...^^^