We, From The First

We, From The First
#24. Kupon Hadiah



"Aira, ayo berangkat!"


Ujar Nico penuh semangat sambil membuka pintu kamar Aira. Namun begitu ia melihat ke dalam, dan mendapati kamar Aira yang sudah kosong, Nico jadi heran. Kemana perginya gadis itu?


Nico lalu turun ke lantai bawah dan melihat Mamanya yang saat itu sedang duduk di meja makan sambil membaca sebuah Koran pagi dengan secangkir teh hangat di hadapannya.


"Pagi, Nico!"


Nico tidak menjawab. Ia melangkah ke meja makan, lalu duduk di samping Mamanya.


"Papa udah berangkat, Ma? Aira mana?" Tanya Nico sambil mengambil selembar roti gandum lalu mengoleskan selai kacang di atasnya.


"Papa sama Nana udah berangkat duluan. Katanya Nana ada urusan. Makanya berangkat sekalian sama Papa." Jawab Regina sambil tetap fokus membaca Koran.


Mendengar jawaban Mamanya, Nico tampak berfikir. Ini situasi yang normal, tapi entah kenapa Nico merasa ada yang janggal. Bisa saja Aira memanggilnya ke kamarnya, dan memintanya untuk cepat-cepat, tapi Aira tidak melakukannya dan malah berangkat lebih dulu.


Tidak ingin berkutat lagi dengan segala fikiran-fikirannya yang mengganggu, Nico langsung bangkit dari duduknya setelah menyelesaikan sarapannya. "Ma, Nico berangkat, ya?", pamit Nico sambil mengecup pipi Mamanya.


Sebelum melangkah pergi, Nico menyempatkan dirinya untuk meminum segelas susu yang memang sudah dipersiapkan oleh Bu Ningsih. Ia lantas berjalan keluar rumah, dan memasuki mobil. Saat itu, Pak Salim sudah menunggunya.


Begitu duduk di jok belakang, Nico menemukan sebuah paper bag yang berisi kotak kado kecil berwarna pink dengan pita berwarna merah. Persis seperti yang di berikan Nana tempo hari. Hanya saja kotak kado yang di berikan Nana berwarna hitam.


Dan ya, Nico baru ingat bahwa ia belum membuka kado pemberian Nana.


Kedua alis Nico bertaut saat melihat kado yang ada di dalam paper bag itu. Ia lalu meraihnya dan tanpa berfikir panjang langsung membukanya. Ternyata isinya sebuah jam tangan sporty berwarna hitam.


Kali ini, Nico membuka kartu ucapan yang diletakkan di bawah kotak. Setelah membaca kartu ucapan itu, barulah Nico tahu bahwa kado itu pemberian Aira.


Seulas senyum lalu tersungging di wajah tampannya, memperlihatkan sepasang lesung pipinya.


To, Nico!


Happy birthday, Nico! Maaf, ya, telat ngasih kado.


Di dalem paper bag, ada 3 kupon kosong yang bisa kamu isi kapanpun. Batas berlakunya sampai akhir bulan ini. Kamu boleh tulis apapun. Selama permintaan kamu nggak aneh-aneh, aku pasti kabulin.


*syarat dan ketentuan berlaku :p


^^^-Aira^^^


Senyuman Nico kian lebar setelah ia membaca isi kartu ucapan yang diberikan Aira. Aira baru saja memberikannya 3 kupon kosong yang bisa ia isi semaunya?


Hahaha, awas saja! Nico pasti akan membuatnya menyesal.


Itulah yang ada dalam fikiran Nico sekarang. Ia lalu merogoh paper bag itu, dan menemukan kupon kosong yang dimaksud Aira. Kali ini Nico tertawa kecil. Kenapa semakin ke sini Aira semakin menggemaskan?


Tidak lama setelah itu, Nico langsung membuka jam tangan yang ia gunakan sejak tadi, lalu menggantinya dengan jam tangan pemberian Aira. Melihat jam tangan itu kini melingkar di tangannya, membuat hati Nico merasa hangat. Sepertinya tanpa ia sadari, ia sudah jatuh cinta pada Aira.


...****...


"Nic, ngapain di sini?"


Tanya Nana yang baru saja tiba tepat dari belakang Nico. Mendengar suara itu, Nico segera membuyarkan keterpanaannya lalu melihat ke arah Nana yang saat itu sudah berdiri di sampingnya.


"Ke kelas, yuk! Bentar lagi bel. Kita harus ganti baju buat mapel penjaskes." Ajak Nana, setelah sebelumnya ia memperhatikan resleting tas Nico. Saat ia tidak menemukan apa yang ia cari di sana, Nana tiba-tiba merasa kecewa.


"Oke."


Saat Nico berjalan melewati Nana, Nana kembali berkata,


"Oya, Nic!"


Nico menoleh ke belakang, dan menatap Nana dengan pandangan bertanya.


"Pak Imam nggak masuk. Jadi, hari ini kita bakalan gabung sama kelas Rakha."


"Hah?


"Kita akan tanding Dodgeball bersama mereka." Jawab Nana singkat sambil mengangkat dagunya ke arah kelas Rakha. Namun tatapan matanya, tepat menembak ke arah Aira.


...****...


Aira merasakan ponselnya bergetar ketika ia sedang asyik-asyiknya bercanda dengan Rakha, Yumi, dan Natta. Aira lalu menghentikan tawanya sejenak dan memeriksa ponselnya. Ia baru saja menerima chat dari Nico.



Aira mengangkat wajahnya, lalu melempar pandangan ke arah jendela kelas untuk mencari sosok Nico. Namun ia tidak menemukan siapa-siapa. Aira lantas tersenyum sendiri setelah membaca chat dari Nico. Entah sejak kapan mulainya, tapi belakangan ini Nico memang sering mengeluarkan sisi kekanak-kanakannya. Dan Aira menyukainya. Hal itu membuatnya merasa, bahwa Nico nya yang dulu telah kembali. Benar-benar kembali.


Lalu kemudian, kejadian saat dini hari tadi, ketika Nico mencuri first kiss-nya kembali menyapa ingatan Aira dan membuat kedua pipinya jadi terasa panas tanpa peringatan. Aira pun menyentuh pipinya dengan kedua tangannya untuk bisa meminimalisir rasa panas itu. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali, berusaha menyingkirkan ingatan itu jauh-jauh dari kepalanya. Lagipula, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia hanya akan menganggap kejadian dinihari tadi hanya sebagian dari mimpinya. Aira tidak ingin terus mengingatnya.


"Lupain, Na! Lupain!!" Rutuk Aira pelan seraya memukul-mukuli kepalanya dengan telapak tangannya.


Sekali lagi ponselnya bergetar. Chat dari orang yang sama lagi.



Sementara Rakha yang sejak tadi terus memperhatikannya, dan sempat mengintip isi chat yang Nico kirimkan, hanya mampu menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya agar dadanya yang mulai terasa sesak, bisa sedikit terisi.


Ini pertama kalinya Rakha melihat Aira tersenyum seperti orang yang sedang kasmaran. Dan entah kenapa, binar-binar di matanya itu semakin membuatnya terlihat cantik. Namun sayang, bukan Rakha penyebab dari senyuman yang terpatri di wajahnya itu. Bukan Rakha yang membuatnya jatuh cinta, dan membuat kedua matanya memancarkan sinar itu.


Rakha kemudian tersenyum getir.


^^^To be Continued...^^^