
Rakha dan Aira bersama yang lainnya tiba di Pulau Banu pada pagi harinya. Mereka tiba sesaat setelah jenazah Bimantara Danadyaksa sudah dimakamkan. Perasaan bersalah kemudian timbul di hati Aira ketika ia tidak membersamai Nico di saat-saat yang mungkin menjadi momen paling menghancurkan dalam hidupnya.
Meski Nico tidak pernah mengatakan apapun padanya, tetapi Aira tahu pasti bahwa Nico selalu menyayangi Papanya. Tidak peduli sebesar apapun kebencian yang tertancap di hatinya, Aira tahu dengan benar bahwa Nico senantiasa mengasihi Papanya.
Aira dan Rakha bersama yang lainnya berdiri di barisan paling belakang di antara para pelayat yang berdatangan hingga membuat Aira nyaris putus asa karena tidak bisa melihat dan merangkul Nico saat itu.
Sementara Rakha yang berdiri tepat di samping Aira, terlihat begitu gusar sejak pertama kali mereka semua menginjakkan kaki di Pulau Banu. Rakha cemas kalau-kalau Aira mengenali Bimantara Danadyaksa sebagai pembunuh kedua orang tuanya. Rakha bahkan tidak berani membayangkan jika ketakutannya itu benar-benar terjadi. Dia takut membayangkan betapa hancurnya Aira saat tahu bahwa seseorang yang telah membunuh kedua orang tuanya enam tahun yang lalu, adalah Ayah kandung dari seorang anak laki-laki yang selama ini menjadi pegangan hidupnya.
"Kasihan Nico. Pantes aja akhir-akhir ini dia tiba-tiba berubah dan selalu menghilang." Ucap Bia dengan nada setengah berbisik dan menatap perihatin pada punggung Nico.
"Itulah kenapa, kita nggak bisa menilai penampilan seseorang hanya dari luarnya saja. Nico selama ini terlihat punya keluarga yang bahagia, tapi ternyata..." Sheryl tidak melanjutkan perkataannya karena merasa tidak kuasa. Hatinya begitu berat.
"Aira! Rakha!" Panggil Yumi tiba-tiba yang juga berdiri di samping Rakha.
Aira dan Rakha pun kompak menoleh saat mendengar Yumi memanggil mereka. Pandangan menelisik dari Yumi langsung menyambut mereka.
"Apa selama ini kalian berdua tahu soal Nico?" Nada bicara Yumi terdengar serius.
"Gue baru tahu nggak lama sebelum ini. Papa gue dan Papa Kandungnya Nico ternyata sahabat lama." Jawab Rakha dengan jujur.
"Elo, Ra?" Yumi beralih menatap Aira.
Aira terdiam untuk beberapa detik sebelum akhirnya menjawab seraya mengalihkan perhatian pada punggung Nico yang mulai terlihat setelah beberapa orang di sekitarnya satu per satu pergi.
"Aku tahu sejak masih kecil. Hanya saja, ini luka terdalam Nico yang aku ataupun Nico nggak bisa bagi ke orang lain, aku..."
Aira tidak melanjutkan perkataannya saat melihat satu nama yang begitu akrab di dalam ingatannya yang paling menyakitkan tertera di batu nisan yang saat itu sedang diratapi Nico.
"BI-MAN-TARA DA-NA-DYAKSA"
Aira mengeja nama itu dalam hati. Bagaimana bisa lupa? Jika satu nama itu dulu pernah disebutkan oleh Ayahnya di sisa nafas terakhirnya. Bagaimana bisa lupa? Jika satu nama itu selalu hidup dan bersemayam di dalam luka-lukanya dan bahkan menjelma menjadi mimpi buruk di setiap malam-malam panjangnya.
Aira menahan sesak di dadanya, berusaha menarik fikiran positif bahwa bisa saja itu hanya dua nama yang sama dengan orang yang berbeda. Tapi segalanya mengabur, saat sebuah foto berukuran cukup besar yang bersandar di depan batu nisan lagi-lagi tertangkap oleh pandangan Aira.
Kedua mata itu... Aira mengingat kedua mata itu dengan sangat baik.
Aira terpukul mundur sambil memegangi dadanya. Ia limbung, dan nyaris saja terjatuh jika Rakha tidak segera menahannya.
"Ra!!" Pekik Rakha dengan cemas,
"Aira, lo kenapa?" Bia bertanya sambil mendekati Aira. Kini mereka semua berkumpul mengelilingi Aira.
Ingatan Aira tertarik mundur, saat ia dan Nico bertengkar beberapa waktu lalu.
"Kamu harus tahu, nggak ada yang gampang buat aku, Nana!"
"Lalu tadi itu apa? Aku minta maaf kalau aku tidak pengertian sama kamu, tapi kamu selalu seperti ini belakangan ini. Kamu menutup semua celah untuk aku bisa mengerti. Kalau kamu terus diam seperti ini dan nggak mau jujur apa permasalahannya, maka selamanya juga aku akan terus menatap kamu sebagai sisi yang paling menyebalkan, Nico."
"Kalau aku mengatakan yang sejujurnya, apa kamu yakin bisa menghadapinya?"
Air mata Aira tertahan di pelupuk. Apa ini yang Nico maksudkan tentang sesuatu yang tidak akan bisa dihadapi oleh Aira?
"Untuk ke depannya, kita berdua... sepertinya akan menghadapi masalah yang cukup berat. Dan nggak gampang buat kita untuk keluar dari masalah itu. Tapi, seberat apapun masalahnya, dan sebesar apapun kesalahan yang aku lakukan sekarang, tolong untuk tetap percaya sama aku."
Air mata itu akhirnya mengalir perlahan, mengiringi pesakitannya.
"A—apa kamu nggak mau tahu alasan aku ketemu dia? Apa kamu juga nggak mau bertanya apapun soal dia?"
Dada Aira semakin terasa sesak. Rasanya seperti sebuah batu besar tengah menghimpitnya tanpa ampun.
"Ooh, sekarang akhirnya aku paham, kalau hal yang sedang kamu sembunyikan selama ini dari aku itu tidak hanya menyangkut kamu, tapi juga menyangkut aku, kan?"
"Na..."
"Nggak apa-apa kalau memilih untuk tetap diam. Tapi aku pastiin sama kamu, Nico... cepat atau lambat aku pasti akan tahu."
Aira menangis bisu tanpa air mata setelah berhasil menyatukan kumpulan puzzle yang akhir-akhir ini terus Nico jatuhkan. Namun meski begitu, hati kecil Aira masih menolak untuk percaya. Aira ingin mendengarnya langsung dari Nico.
"Airaaa... Lo kenapa sih, Raaa?" Tanya Bia yang semakin merasa cemas saat melihat wajah Aira yang mulai pucat dengan sorot mata gemetaran, seperti orang yang sedang ketakutan.
Rakha yang diam-diam mulai memahami apa yang sedang terjadi, langsung memeluk tubuh Aira dengan erat.
Ternyata apa yang ditakutkan oleh Rakha benar-benar terjadi.
"Aku di sini buat kamu, Ra. Aku nggak akan biarkan kamu hancur." Bisik Rakha sambil mendekap kepala Aira.
Benar yang dikatakan Nico, ternyata Aira tidak bisa menghadapi kebenaran ini.
...****...
"Sepertinya Nana mengingat wajah Bimantara. Itulah kenapa, dia tiba-tiba pingsan di pemakaman tadi." Ucap Regina yang dilingkupi oleh perasaan cemas yang tidak ada habisnya sejak Aira pingsan tadi.
Sementara itu, Nico dan Papanya hanya mampu terdiam. Sebenarnya, mereka sudah memperkirakan bahwa semua ini akan terjadi. Tapi ketika akhirnya benar-benar terjadi, mereka semua mendadak buntu dan tidak tahu harus berbuat apa. Tentu saja Aira akan kecewa pada mereka semua karena telah menyembunyikan hal sebesar ini menyangkut dirinya selama bertahun-tahun.
"Sekarang kamu mengerti, kan, Nic, kenapa Mama ingin kamu menikahi Nana dan membawanya pergi dari sini? Kita semua bertanggung jawab untuk melindungi kebahagiaan Nana, tapi kalau sudah seperti ini, kita semua... gagal."
Nico hanya mendengarkan ucapan Mamanya tanpa berniat menjawab sambil terus menatap Aira yang terbaring lemah di atas kasur. Saat Aira pingsan tadi, Nico langsung mengambil alihnya dari Rakha dan membawanya pulang ke penthouse milik kedua orang tuanya.
Sebelum Regina melanjutkan kemarahannya, Nico yang tiba-tiba saja melihat tangan Aira bergerak langsung mendekatinya sambil meraih dan menggenggam tangan gadis rapuh itu.
"Nana? Ini Nico, Na!"
Aira yang perlahan mulai mendapatkan kesadarannya secara refleks menarik tangannya dari genggaman Nico. Hal itu pun tak pelak mengguratkan luka di hati Nico.
"Om, Tante, Nana boleh minta tolong sesuatu?" Tanya Aira dengan lemah saat ia sudah mengambil posisi duduk di kepala ranjang.
"Apa, Na?" Tanya Adryan.
"Nana mau bicara berdua saja dengan Nico, bisa tolong tinggalkan kami sebentar?"
"Nana..." Regina memanggil nama Aira dengan letih.
"Nana mohon."
Beberapa saat setelahnya, Adryan langsung mengangguk setuju dan membawa istrinya keluar dari kamar itu, meninggalkan Nico dan Aira hanya berdua saja di sana.
"Na, a─aku..."
"Nico, aku akan bertanya satu hal sama kamu, tapi tolong berjanji, kalau kamu akan menjawab 'bukan' untuk pertanyaan aku."
"Na,"
"Oh, nggak... kamu HARUS menjawab 'bukan' apapun yang terjadi." Ralat Aira dengan nada memohon yang putus asa.
"Aku nggak peduli, apakah kamu berbohong atau jujur, tapi aku mau kamu menjawab 'bukan'." Lanjut Aira kemudian, berkali-kali menekankan kata 'bukan' yang justru semakin membuat dadanya sesak. Ia pun menyeka setetes air matanya yang terjatuh.
Dalam benaknya kini, Aira ingin menolak kenyataan pahit ini. Menolak adalah hal terakhir yang dapat diperjuangkannya, bahkan sekalipun Nico harus membohonginya.
"Apa Bimantara Danadyaksa Papa kamu, a─adalah Bimantara Danadyaksa yang sama dengan orang itu?"
Nico menunduk dalam dengan perasaan yang berkecamuk. Sama seperti Aira, Nico juga mulai menitikkan air matanya.
"Ini pertanyaan yang gampang, Nico! Kamu cukup jawab 'bukan', kamu bahkan nggak perlu tatap mata aku, kamu cukup mengeluarkan suara." Bujuk Aira.
Aira semakin putus asa hingga nyaris frustasi saat Nico belum juga mau membuka suaranya.
"Nico! Jawab aku!!" Aira pun meraih kedua tangan Nico dan menggenggamnya kuat.
Hingga tiba-tiba...
"Maafin aku, Na." Jawab Nico singkat dengan suara bergetar.
"Hey! Aku cuma minta kamu jawab 'bukan', kenapa kamu malah minta maaf?"
"Maaf..." Jawab Nico sekali lagi.
Aira pun serta-merta melepaskan tangan Nico dari kungkungannya dan menumpahkan habis tangisannya di hadapan pemuda itu. Aira menangis histeris seperti bayi yang kehilangan Ibunya.
Melihat hal itu, Nico pun mendekat lalu berusaha memeluk Aira. Untuk kali ini, Nico benar-benar tidak peduli ketika Aira terus menepisnya, dan bahkan menolak untuk dipeluk. Lalu saat Nico berhasil memeluknya, Aira pun memberontak sambil terus menangis.
Saat akhirnya Aira mulai tenang dalam pelukan Nico dan tidak melakukan perlawanan lagi karena mulai lelah, satu ucapan Aira tiba-tiba saja menghempaskan Nico ke dalam kubangan luka yang paling menyakitkan.
Satu ucapan itu, terdengar seperti sebuah hukuman mati baginya.
"Ra─Rakha... Aku mau Rakha. Tolong bawa aku ke Rakha."
^^^To be Continued...^^^