
Aira terbangun dari tidurnya. Dan ketika melihat jam di ponselnya yang saat itu menunjukkan tepat pukul dua pagi, Aira mendesah. Lagi-lagi bangun di jam segini.
Aira lalu bangkit dari tempat tidurnya dan segera turun ke lantai bawah untuk mengambil minuman. Saat itu juga di dapur, ia memergoki Nico yang sedang memasak mie instan. Aira tertawa tanpa suara melihat pemandangan yang menurutnya cukup lucu itu.
Tiba-tiba, sebuah ide jahil muncul di kepala Aira. Ia berjalan dengan mengendap-endap agar Nico tidak mendengar suara langkahnya. Setelah dekat dengan Nico, Aira langsung mengejutkannya denga menepuk kedua pundaknya. Kejahilan Aira itu berhasil. Karena kini Nico terlihat sangat terkejut.
"Aira! Jahil banget, sih?!"
"Hahaha maaf. Gitu aja kaget!" Ledek Aira seraya mencuil rambut Nico.
Nico kembali melanjutkan aktifitasnya. Kali ini, Aira mengintip dari belakang Nico, melihat ke arah panci berisi mie.
"Aku join, ya?"
"Ya aku kan masak buat kamu, Mba Beruang! Aku udah tahu, kamu pasti bakalan kebangun."
"Mba Beruang? Kamu manggil aku Beruang? Aku nggak segendut itu, Nicoooo!!" Sungut Aira dengan kesal, tapi Nico tidak peduli. Kenapa juga akhir-akhir ini Nico sering sekali meledeknya gendut?
Setelah insiden 'perang kecil' yang terjadi di antara mereka, Nico dan Aira pun duduk berdampingan di kamar Nico menghadap sebuah TV yang menayangkan siaran ulang Running Man. Mereka menonton TV sambil menyantap mie instan buatan Nico.
"Episode berapa, nih?" Tanya Aira begitu tayangannya dimulai.
"115." Jawab Nico singkat sambil tetap fokus dengan TV di hadapannya.
Nico dan Aira tidak henti-hentinya tertawa melihat aksi konyol Kang Gary dan antek-anteknya. Sebenarnya inilah alasan kenapa Nico mengajak Aira menonton di kamarnya saat mereka bisa saja menonton di ruang TV, supaya mereka bisa bebas tertawa tanpa mengganggu penghuni rumah lain yang sedang terlelap sekarang.
"By the way, Ra! Aku masih belum pakai kuponku, ya?"
Kata Nico begitu ingat bahwa ia belum satupun menggunakan kupon pemberian Aira.
"Kamu nggak baca di kartu ucapan? Aku kan bilang berlakunya sampai akhir bulan. Ini udah masuk oktober."
"Yaah, kok gitu sih?"
"Siapa suruh nggak dipake?" Timpal Aira tanpa mengalihkan perhatiannya dari TV. Ia kemudian tertawa melihat Lee Kwang-soo dan Yoo Jae-suk yang menekan kepala Haha ke dalam lumpur.
"Kalau begitu aku pake dua aja boleh, ya?" Tawar Nico.
"Pakai satu aja!"
"Tapi, Ra—"
"Satu atau tidak sama sekali. Ini masih bagus lho aku kasi dispensasi."
Nico mendesis sambil menoyor pelan kepala Aira. Hal itu secara refleks membuat Aira menepis tangan Nico dari kepalanya. Nico tertawa kecil, kali ini ia mengusap rambut Aira dengan lembut seperti yang biasa ia lakukan.
Interaksi manis yang terjadi di antara keduanya, tanpa sengaja tertangkap oleh Adryan yang saat itu naik ke lantai atas begitu mendengar suara tawa Nico dan Aira. Pintu kamar Nico yang terbuka membuat Adryan dapat menyaksikan setiap interaksi yang mereka lakukan.
"Sayang, coba sini, deh!" Panggil Adryan begitu melihat Regina datang menyusulnya.
Regina mempercepat langkahnya, dan kini berdiri di samping Adryan. Ia turut serta menjadi penonton.
"Nico sama Nana beneran cocok, ya? Sepertinya bukan ide yang buruk kalau kita beneran jodohin mereka di masa depan. Nico pasti bisa jagain Aira."
Regina mengangguk setuju sambil terus tersenyum sendiri melihat tingkah manis Nico dan Aira. Saat itu, Aira menjatuhkan kepalanya di pundak Nico. Nico kemudian tertawa begitu lepas lalu menjawil hidung Aira dengan gemas. Bagi Regina, ini pertama kalinya ia melihat Putranya tertawa selepas itu.
"Melihat mereka sedekat ini, rasanya seperti kembali ke masa lalu, ya? Seandainya Shania dan Aldy masih hidup." Gumam Regina pelan.
Dan tiba-tiba saja, ketika Regina sedang menikmati momen kebersamaan antara Nico dan Aira di depan matanya, sebuah ingatan tahu-tahu menyapanya dan membuat senyuman yang sejak tadi terpatri di wajahnya menghilang secara perlahan.
Sepertinya, ia harus berbicara empat mata dengan Nico.
...****...
Nico menatap Mamanya yang sedang fokus menyetir di sampingnya. Sebelum Nico berangkat ke sekolah tadi pagi, tiba-tiba saja Mamanya menawarkan untuk mengantarnya. Sementara itu, ia sengaja meminta Pak Salim untuk mengantarkan Aira terlebih dahulu karena memang ada yang ingin Regina bicarakan dengan Nico berdua saja.
"Ada yang mau Mama omongin sama Nico?" Tanya Nico membuka obrolan.
Sembari tetap fokus dengan jalanan yang ada di depannya, Regina menjawab, "iya. Tapi sebelumnya kamu harus jawab pertanyaan Mama dulu dengan jujur."
"A—apa itu?"
"Kamu suka sama Nana?"
Tanya Regina langsung tanpa tedeng aling-aling seraya menatap sejenak ke arah Nico. Nico terkejut untuk beberapa saat. Ia merasa bingung kenapa Mamanya tiba-tiba menanyakan soal perasaannya pada Aira? Apa sejelas itu, kah? Hingga kemarin Rakha juga sempat menanyakan hal yang sama padanya.
Dan dari bagaimana cara Nico memberikan reaksi atas pertanyaannya barusan, sepertinya Regina sudah tahu apa jawabannya. Regina mendesah. Entah kenapa dadanya terasa berat saat mengetahui perasaan Nico yang sesungguhnya pada Aira. Regina yakin seribu persen, Nico pasti menyukai Aira!
"Nggak masalah kalau kamu nggak mau jawab. Mama hanya ingin memastikan saja. Tapi dengarkan ini Nico! Mama akan berbicara serius sama kamu sekarang."
Nico yang masih belum bisa mengatakan apapun, mengangkat wajahnya lalu menatap Sang Mama yang tampak serius.
"Kalau kamu beneran suka sama Nana, sebaiknya... kamu jangan coba cari tahu apapun soal orang itu. Kubur semua rasa penasaranmu, dan jangan tanyakan tentang apa, kenapa, dan bagaimana."
"Maksud Mama?"
Tepat saat Regina akan menjawab, mereka pun sudah tiba di depan SMA Patuh Karya. Regina kembali melemparkan tatapannya pada Nico, namun kali ini lebih lembut.
"Ini permintaan Mama buat kamu, tolong jagain Nana dengan baik. Dan jangan biarkan hal sekecil apapun melukai dia. Semenjak dia kehilangan kedua orang tuanya, Nana adalah tanggung jawab kita. Untuk itu, tolong bantu Papa dan Mama memenuhi tanggung jawab ini. Kalau kamu beneran sayang sama Nana, kamu harus benar-benar menghapus semua masa lalu kamu. Kamu cukup menjadi Nico. Paham?"
"Tapi kenapa, Ma?"
Regina tidak langsug menjawab. Permasalahan ini tentu bukan sesuatu yang gampang dipahami Nico jika Regina tidak menjelaskannya secara terus terang. Tapi hanya sampai sejauh ini Regina mampu mengatakannya. Dia tidak bisa mengatakan hal yang lebih jauh lagi dari ini.
"Karena kamu hanya bisa menyukai Nana jika kamu adalah Nico. Hanya dengan menjadi Nico, kamu bisa bersama dengan Nana."
...****...
Pulau Banu, Mei 2011
Geraldy tersenyum melihat tingkah Putrinya yang sangat menggemaskan itu. Geraldy kali ini menoleh ke belakang, dan berusaha menarik selimut yang Aira kenakan untuk menjahilinya. Namun tanpa diduga, kelengahan Geraldy itu membuatnya tidak sadar bahwa ada sebuah truk yang sedang melaju begitu cepat di depannya, lalu menabrak mobil yang ia kendarai hingga terpental jauh dan membentur pembatas jalan. Semuanya terjadi begitu cepat. Bagian depan mobil itu hancur, dan darah segar dari dalam mobil mengalir bersama derasnya hujan.
"T—tolong... se—selamatkan, Putriku."
Lirih Geraldy dengan terbata dan berurai air mata pada seorang pria misterius, yang kini berdiri sambil menatapnya yang terkapar di jalan dengan raut wajah yang tidak begitu jelas dalam pengelihatan Geraldy yang sudah mulai kabur.
Sementara pria misterius itu, tampak begitu terkejut saat mengetahui bahwa ia telah salah sasaran. Seluruh tubuhnya mendadak gemetar melihat Geraldy yang sekarat. Ia lalu duduk di samping Geraldy untuk memastikan apakah dia masih hidup atau tidak. Dan di saat itulah, dengan sisa-sisa kekuatannya, Geraldy meraih tangan pria misterius itu dan menatapnya sembari berusaha mengenalinya.
Begitu mengenalinya, Geraldy bergumam di sisa nafas terakhirnya...
"Bi—Bimantara Dd—danadyaksa?"
^^^To Be Continued...^^^