We, From The First

We, From The First
#33. Konflik



Ketika berjalan di koridor sekolah, entah kenapa Aira merasa atmosfernya sangat berbeda dari biasanya. Semua teman-teman sekolahnya melihat ke arahnya dengan pandangan menghakimi, mereka juga secara terang-terangan berbisik di depan Aira. Aira yang belum paham apa yang sedang terjadi sekarang, memutuskan untuk tidak ambil pusing dan tetap berfikir positif. Aira pun melanjutkan langkahnya tanpa beban menuju ke kelasnya.


Namun begitu tiba di kelas, atmosfer yang sama seperti di koridor tadi lagi-lagi terasa. Kali ini lebih kuat lagi. Samar-samar Aira dapat mendengar suara teman-teman sekelasnya yang berbisik satu sama lain membicarakan tentang dirinya.


'Dia tinggal di rumah Nico ternyata?'


'Aaah, jadi gara-gara dia Nico sama Nana putus? Nana kasian juga, ya?'


'Kasian Rakha juga. Rakha, kan, naksir berat sama Aira.'


'Ya pantas Nico sama Nana putus kalau begitu! Orang cowoknya tinggal bareng sama cewek lain.'


'Kira-kira mereka pernah ngapain aja, ya? Secara Papa Mama Nico jarang di rumah. Nggak mungkin nggak pernah ngapa-ngapain kalau sampe Nana mutusin Nico!'


'Ooh? Rupanya anak yatim piatu'


Aira yang sejak tadi tampak tenang, sekarang mulai terlihat risau. Ia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya saat mendengar orang-orang membicarakannya. Dan puncaknya, saat tiba-tiba salah satu dari mereka mengucapkan hal yang seakan menyalahkan dan merendahkan Nico.


Aira masih bisa menahan apapun, tapi tidak jika orang-orang mulai membicarakan hal yang tidak-tidak tentang Nico.


'Nico diem-diem begitu ternyata player, ya?'


Ketika Aira akan membantah mereka, Yumi tiba-tiba saja datang entah dari mana lalu membawa Aira keluar dari kelas.


"Ikut gue sekarang!" Kata Yumi dingin.


...****...


Saat melihat Nico yang akan memasuki kelasnya, Rakha begitu saja menghampirinya dan menyeretnya ke lapangan indoor sekolah. Setibanya di sana, Rakha langsung mendaratkan sebuah pukulan yang cukup keras di wajah Nico. Nico yang masih belum tahu apa yang terjadi, langsung menatap Rakha dengan tajam.


"Rakha, apa-apaan lo?"


"Udah gue bilang, kan, sama lo untuk berhati-hati! Sekarang lihat apa yang terjadi!" Ucap Rakha dengan nada penuh emosi.


"Maksud lo apa, Kha?"


Merasa bahwa Nico benar-benar belum tahu apa yang terjadi, Rakha langsung memperlihatkan ponselnya pada Nico. Nico segera mengambil alih ponsel itu, dan ia seketika terkejut melihat pesan dari pengirim anonim di grup chat angkatan yang mengungkap bahwa selama ini Aira tinggal di rumahnya.


Pengirim anonim itu bahkan menyertakan sebuah foto sebagai bukti. Foto itu diambil ketika Nico dan Aira keluar dari rumah untuk berolahraga pagi. Ada juga foto saat semalam Nico menggendong Aira di punggungnya. Selain itu, bukti itu semakin kuat ketika pengirim anonim itu juga mengunggah foto kartu pelajar Nico dan Aira yang memiliki keterangan alamat yang sama. Lalu yang lainnya membalas dengan berbagai macam komentar. Ada yang mengatakan bahwa bisa saja gara-gara Aira, Nico dan Nana putus, ada juga yang berasumsi bahwa Nico dan Aira sudah menikah gara-gara dijodohkan, dan segala komentar demi komentar asal dan tidak mengenakan lainnya.


Semua orang tiba-tiba bersimpati pada Nana, dan mencaci Aira.


"Sekarang lo udah ngerti kenapa gue mau lo tetep waspada? Gue nggak mau hal-hal semacam ini menimpa Aira ataupun elo. Dan asal lo tahu, Aira sangat berarti buat gue. Gue nggak akan terima kalau Aira harus menghadapi situasi seperti ini cuma karena lo keras kepala."


Nico hanya terdiam. Berusaha mencerna semua situasi ini meskipun sulit.


"Lo bilang lo akan mengatasinya, kan? Sekarang gimana cara lo mengatasi semua ini?" Lanjut Rakha. Amarah sudah melingkupinya


Nico yang sedang dalam keadaan blank tiba-tiba berlalu dari hadapan Rakha tanpa berniat memberikan pembelaan apapun. Satu-satunya hal yang terlintas di kepalanya sekarang, ia harus segera menemui Aira dan bertanya apakah dia baik-baik saja.


Namun baru beberapa langkah Nico meninggalkannya, Rakha serta-merta menahan bahu Nico, dan untuk yang kedua kalinya mendaratkan pukulan di wajah Nico. Bahkan di saat-saat seperti ini, Nico masih saja membatu. Fikir Rakha.


"Kalau lo tetep mempertahankan sikap keras kepala lo ini, lo nggak akan pernah bisa melindungi siapapun, Nico."


...****...


Aira menatap sahabat-sahabatnya satu persatu setelah ia mengatakan semuanya dengan jujur. Bia yang tadinya tampak paling kecewa karena merasa tidak dianggap, sekarang terlihat melunak. Ia baru tahu, bahwa Aira ternyata memiliki cerita hidup yang cukup berat dan menyedihkan.


Bia lalu memeluk Aira yang masih menundukan wajah. Hal itu kemudian diikuti oleh Yumi dan Sheryl.


"Gue pasti bakalan nemuin siapa yang nyebarin itu ke grup chat, Ra." Ucap Yumi dengan bersungguh-sungguh.


Mendengar ucapan Yumi, Aira langsung melepaskan pelukannya dari sahabat-sahabatnya. Ia menatap Yumi lalu menggelengkan kepalanya, "nggak usah, Yum! Lagian apa yang ada di grup itu bener. Nggak ada yang bisa kita lakuin sekarang. Toh juga, semua ini akan berlalu dengan sendirinya. Seiring berjalannya waktu, orang-orang bakalan ngelupain ini."


"Tapi orang-orang ngira elo yang nyebabin Nico sama Nana putus, Ra. Mereka semua bahkan menuduh lo yang bukan-bukan. Kita nggak bisa diem aja." Bia menimpali.


"Mereka bahkan nggak tahu cerita yang sebenarnya, tapi mereka terus aja mojokin lo." Lanjut Sheryl kemudian.


"Yang paling aku khawatirkan sekarang ya Nico. Aku takut orang-orang akan berfikiran yang tidak-tidak soal Nico. Nico selama ini baik banget sama aku. Tapi sekarang, aku justru bikin Nico terkena masalah." Keluh Aira pada akhirnya.


"Tapi aku paling takut Nico kenapa-napa."


Sheryl terlihat berfikir. Dari bagaimana cara Aira sangat mengkhawatirkan Nico sekarang, Sheryl langsung bisa menarik sebuah kesimpulan. Belum lagi sekarang ia sudah tahu, bahwa Aira dan Nico memiliki masa lalu bersama. Namun ia tidak begitu yakin mengingat Aira sangat sulit sekali ditebak.


"Ra, apa lo suka sama Nico?" Tanya Sheryl pada akhirnya untuk memastikan apakah kesimpulan yang ia tarik sudah tepat atau tidak.


Yumi yang baru saja mendengarkan pertanyaan Sheryl tiba-tiba merasa seperti ada yang membuncah dalam dirinya. Jika benar Aira menyukai Nico, ia takut Rakha mungkin akan patah hati dalam waktu yang cukup lama.


Aira terdiam sejenak. Untuk pertama kalinya, seseorang akhirnya menanyakan perihal perasaannya pada Nico. Selama ini Aira tidak begitu yakin. Tapi begitu ia kembali lagi dan mengetahui bahwa Nico sudah bersama orang lain, ia merasa hatinya sangat sakit.


Lalu saat kedua orang tuanya meninggal dan orang tua Nico memintanya untuk tinggal bersama mereka, ada perasaan bahagia yang ia rasakan karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan Nico setelah sekian lama.


Kemudian saat Nico mencuri ciuman pertamanya pada suatu malam, Aira merasa sangat bersyukur karena orang itu adalah Nico.


Ia selalu merindukan Nico. Bahkan ketika Nico ada di sampingnya, ia masih saja merindukannya. Tidak pernah sedetikpun ia lalui tanpa memikirkan Nico selama bertahun-tahun Nico menghilang dari pandangannya. Nico selalu menjadi cinta pertamanya, dan satu-satunya sumber kebahagiaannya. Sampai di sini, lalu bagaimana harus ia bahasakan perasaannya pada Nico?


Aira menggeleng dengan tidak yakin. Lalu tanpa menatap sahabat-sahabatnya, ia menjawab, "aku nggak tahu."


...****...


Sama seperti Aira tadi, begitu memasuki koridor, Nana mendengar dan melihat teman-temannya membicarakan soal Aira. Sebelumnya tadi, Nana juga sudah melihat pesan dari pengirim anonim di grup chat. Merasa namanya ikut terseret dalam pusaran masalah, Nana merasa perlu untuk meluruskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia juga tidak tahan jika semua orang terus membicaran soal Nico dan Aira.


Nana juga salah satu orang yang tahu masa lalu Aira. Itulah kenapa ia merasa sangat terganggu dengan hal-hal semacam ini.


Nana lalu menghampiri segerombolan orang-orang yang secara terang-terangan membicarakan masalah itu ketika Aira dan sahabat-sahabatnya tiba-tiba melewati mereka. Yumi sudah akan angkat bicara, tapi Nana segera mendahuluinya.


"Kalian bilang apa? Gue sama Nico putus gara-gara Aira? Apa hak kalian menghakimi keputusan yang udah gue ambil sama Nico? Aira bukan penyebab gue putus sama Nico. Dan gue tahu dari awal kalau Aira tinggal di rumah Nico."


Kali ini mereka semua terdiam. Suasana koridor yang sejak tadi riuh, mendadak hening. Nana sengaja meninggikan volume suaranya agar semua orang mendengar. Nico yang saat itu juga akan menuruni tangga bersama Rio, langsung berhenti di tengah-tengah dan menyimak apa yang sedang terjadi di bawah sana.


"Kalian tidak tahu cerita yang sebenarnya soal Aira, tapi kalian semua terus mengoceh seakan-akan kalian tahu semuanya. Dan ingat ini, Aira bukan orang yang bisa kalian gosipin seenaknya. Aira juga nggak pernah menipu kalian, atau menyembunyikan apapun dari kalian, kenapa kalian bersikap seperti korban yang tertipu?"


Suasana hening itu kembali pecah. Mereka kembali berbisik-bisik satu sama lain, ada sebagian dari mereka yang merasa malu atas apa yang telah mereka perbuat pada Aira. Sebagian lainnya lagi hanya terdiam. Perkataan Nana barusan, benar-benar menumbangkan mereka dalam sekali hentak.


Ketika semuanya sudah bubar, Nana langsung menghampiri Aira. Ia menatap Aira dengan penuh perhatian tapi juga cemas, "Ra, kamu nggak apa-apa?"


Aira menggeleng sebagai jawabannya.


"Na, makasih udah meluruskan permasalahan ini." Ucapnya kemudian.


Nana tersenyum lalu menjawab, "mereka menyeret nama aku, Ra. Dan aku nggak tahan dengan itu."


Nana lalu menepuk pelan pundak Aira untuk memberikannya kekuatan. Beberapa saat kemudian, Nana berlalu dari hadapan Aira. Dan ketika ia hendak menaiki tangga, ia sedikit terkejut karena Nico sudah berdiri di sana ditemani oleh Rio.


Sebenarnya Nana merasa khawatir melihat luka di wajah Nico. Tapi ia paham kapasitasnya sekarang. Ia tidak ingin lagi melampaui batas. Lagipula ia tahu dengan benar, siapa yang ada di hati Nico saat ini. Dan Nana tidak ingin bertingkah seakan-akan ia tidak tahu apapun.


Nana sekali lagi tersenyum, dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Kali ini, perhatian Nico tertuju pada Aira yang saat itu sedang menatapnya dengan pandangan yang tidak kalah cemasnya dari Nana tadi. Melihat luka di wajah Nico, entah kenapa Aira merasa hatinya sangat sakit.


"Ra, kamu baik-baik aja, kan?" Tanya Nico begitu ia menghampiri Aira. Ia sama sekali tidak peduli dengan masalah yang baru saja menimpa mereka. Yang ia fikirkan sekarang hanya kondisi Aira setelah masalah itu menyebar.


"Aku nggak apa-apa", ucap Aira dengan suara yang terdengar parau.


Aira lalu mengalihkan perhatiannya pada Rio yang berdiri tidak jauh dari posisi mereka sekarang. Aira lalu berkata, "Yo, tolong bawa Nico ke ruang kesehatan, ya?"


Setelah itu, Aira berlalu dari hadapan Nico diikuti oleh Yumi, Sheryl, dan Bia. Sebenarnya Aira ingin sekali mengobati luka Nico. Ia sungguh mengkhawatirkannya setengah mati sekarang, tapi kondisi mereka saat ini sedang tidak mengizinkan mereka untuk terlalu sering terlihat bersama. Aira berniat menjaga jarak dari Nico mulai hari ini agar Nico tidak lagi terlibat masalah karena dirinya.


Tetapi Aira tidak pernah menyadari, bahwa niatnya itu akan menyakiti Nico di hari-hari kemudian.


Dan Aira benar-benar membuktikannya. Ia mulai menjauhi Nico, dan sebisa mungkin berusaha agar tidak terlihat dalam pandangan Nico. Meski sulit melakukannya di rumah, setidaknya saat di sekolah, Aira harus berusaha sebisa mungkin.


Begitu bel tanda pulang berdering, Nico buru-buru ke kelas Aira. Namun setibanya di sana, siswa-siswi dari kelas Aira ternyata sudah keluar lima menit sebelumnya. Nico segera keluar dari gedung sekolah. Di sana alih-alih menemukan Aira, ia malah bertemu dengan Rakha yang saat itu baru saja keluar dari parkiran motor.


Rakha yang masih marah pada Nico, memilih untuk tidak menegur Nico sama sekali dan melewatinya begitu saja.


Nico pasrah. Lagipula ia memang bersalah karena tidak menggubris kekhawatiran Rakha sebelumnya. Wajar jika sekarang Rakha marah besar padanya.


^^^To be Continued...^^^