We, From The First

We, From The First
#50. Days With You



"Hari-hari yang aku habiskan bersamamu, adalah saat-saat paling bersinar dalam hidupku. Dan, memilikimu di sampingku sebagai bagian dari pengisi setiap hariku, adalah impianku yang menjadi nyata. Tolong katakan pada takdir, untuk tidak berani-beraninya merenggutmu dariku. Jika aku harus melepaskan diriku untuk tetap bisa membuatmu tinggal di sisiku, maka akan kulepaskan diriku. Jika itu satu-satunya hal yang dapat kulakukan untuk menebus serentatan waktuku yang hilang di masa silam, aku akan mempertaruhkannya."


...****...


Aira berlari keluar dari apartemenya setelah menerima pesan teks dari Nico yang memintanya untuk segera menyusulnya di depan gedung apartemennya. Dengan nafas terengah, Aira menghampiri Nico. Nico pun secera refleks menangkap tubuh Aira yang sedikit limbung karena berlari. Nico memegang kedua bahu Aira dengan raut cemas yang sudah terlukis di wajahnya.


"Kenapa pake lari, sih?"


"Aku nggak mau kamu nunggu lama."


"Cish, dasar bodoh!" Desis Nico sambil melayangkan sebuah toyoran pelan di kening Aira. Ia lalu memeluk pinggang Aira dengan kedua tangannya.


"Gimana? Udah ketemu Rakha?" Tanya Aira kemudian.


"Apa kamu selalu mengkhawatirkan semua orang seperti ini?"


Aira terdiam untuk beberapa saat. Mimik wajahnya tampak kebingungan, "emmm... karena Rakha sahabat kamu, Nic. Aku juga nggak bisa bohong, kalau selama ini Rakha udah jadi teman yang cukup baik buat aku. Aku nggak bisa mengabaikan Rakha gitu aja."


Nico mengangguk maklum. Ia bahkan sangat memahami perkataan Aira barusan. Tidak ada sedikitpun perasaan tidak nyaman setelah mendengar Aira mengutarakan pemikirannya soal Rakha.


"Rakha bilang, dia masih butuh waktu. Untuk sementara ini, dia pengen sendiri dan nggak mau diganggu dulu." Ucap Nico pelan sambil menyampirkan rambut Aira ke belakang telinga. "Jadi, ayo kita tunggu dia. Oke?" Lanjut Nico kemudian seraya menundukan wajahnya agar bisa melihat kedua mata Aira dengan lebih jelas lagi.


Tidak terdengar jawaban apapun dari Aira. Yang terdengar hanya suara desauan nafasnya yang tertatur. Nico tahu bahwa Aira merasakan sedikit kekecewaan sekarang. Tapi sekali lagi, Nico sangat memahaminya. Lagipula, Nico tidak ingin menjadi sosok pacar yang menyebalkan bagi Aira.


Sementara dari sisi Aira, ia juga tahu bahwa Rakha adalah sahabat yang berharga bagi Nico. Aira tahu dengan benar, bahwa Nico juga pasti tidak merasa baik-baik saja setelah Rakha berusaha mati-matian menghindarinya. Hanya saja, Nico tidak ingin menunjukannya di depan Aira karena tidak ingin membuat Aira mengkhawatirkannya.


"Ya udah, Ra. Aku pulang sekarang, ya? Udah malem nih. Besok pagi aku jemput."


Aira mengangguk pelan. Sesaat setelah itu, ia tiba-tiba merasakan Nico mengecup keningnya dengan lembut lalu melepaskan pelukannya.


"Selamat malam..." Pamit Nico.


Selepas kepergian Nico, Aira tiba-tiba merasa perlu untuk melakukan sesuatu. Ia harus memperbaiki hubungan di antara kedua sahabat itu bagaimanapun caranya.


...****...


Setelah menerima pesan dari Rio, Aira langsung bergegas ke B-Café. Rupanya, sejak beberapa hari yang lalu, Aira sudah meminta pada Rio untuk mengabarinya kalau-kalau nanti Rakha datang berkunjung ke B-Café. Aira ingin bertemu dengan Rakha. Aira ingin berbicara dengannya, dan jika memungkinkan, Aira ingin menyelesaikan masalahnya dengan Rakha agar situasi di antara mereka bisa kembali nyaman seperti sebelumnya.


Begitu tiba di B-Café, Rio yang saat itu sedang berdiri di belakang meja kasir langsung menunjuk ke lantai dua untuk memberikan kode pada Aira bahwa Rakha sedang berada di Bioskop Mini.


"Thanks, Yo!" Ucap Aira seraya berjalan melewati Rio dan menaiki anak tangga untuk segera menemui Rakha –sebelum ia melarikan diri.


Begitu membuka pintu, Aira dapat melihat Rakha yang tampak mencelat lalu menoleh padanya dengan pandangan terkejut dan tidak percaya. Rakha mendadak kebingungan dan tidak tahu harus harus melakukan apa. Kemunculan Aira yang cukup mendadak setelah lebih dari sebulan mereka tidak bertemu, berhasil membuat Rakha tersentak bukan main.


Belum lagi saat itu, Rakha sedang memutar kembali video slide show yang menampakkan potret Aira yang diambil dalam sebuah foto candid oleh Tim Dokumentasi SMA Patuh Karya saat pelaksanaan Last Game setahun lalu. Aira otomatis melihat ke arah layar, tapi justru ia tidak menunjukan reaksi kaget. Karena bagi Aira sekarang, ada hal yang jauh lebih penting dari itu.


"Ra?" Lirih Rakha dengan nada yang sama tidak percayanya dengan pandangan matanya.


"Apa kamu benci sama aku, Kha?" Tuding Aira tanpa tedeng aling-aling. Ia seperti sudah memendam satu pertanyaan itu selama sebulan terakhir ini.


"Aira, kenapa sih kamu dateng-dateng langsung ngomong begitu?"


"Lalu, apa kamu benci sama Nico?"


Rakha memilih diam. Namun diamnya seakan mengartikan jawaban iya. Melihat reaksi Rakha yang sangat kentara itu, Aira lantas menganggukan kepalanya. Ia pun terdengar menghela nafas sebelum akhirnya kembali membuka mulut.


"Aku minta maaf, Kha. Tapi aku nggak akan minta maaf sama kamu karena aku jadian sama Nico. Sejak awal pertama, dari dulu hingga sekarang, Nico selalu jadi satu-satunya buat aku. Dan aku sudah menunggu cukup lama untuk hari ini. Aku mengerti kenapa akhirnya kamu marah, aku nggak akan pura-pura bodoh, dan bersikap seakan aku nggak tau apapun. Tapi tolong—" Aira menggantungkan kalimatnya. Ia kemudian menundukan wajahnya dan memejamkan kedua matanya, dengan penuh tekanan, ia lantas melanjutkan kalimatnya yang terpotong, "tolong, jangan terlalu benci sama Nico. Aku nggak mau persahabatan kalian rusak."


Rakha terdengar mendesah pelan sambil menunjukan sebuah senyuman letih di wajah tampannya. Dari kalimat yang baru saja Aira tuturkan, Rakha berfikir bahwa Aira memahami semua kelemahannya, Aira tahu titik rapuhnya dengan sangat baik. Itulah yang kemudian semakin membuat hati Rakha sakit. Mengiringi patah hatinya, lagu NSYNC, This I Promise You yang ia nyanyikan sendiri dengan diiringi alunan piano terus berputar dari layar, dan semakin membuat sendu suasana itu.


"Kha, kamu teman baik aku. Dan selamanya akan terus seperti itu. Aku tahu ini egois, tapi, aku nggak mau kehilangan teman baikku."


...****...


Rakha baru saja tiba di rumahnya dan bersiap-siap untuk mengistirahatkan diri sejenak sebelum akhirnya ia menerima satu pesan dari Yumi.



Rakha mendesah cukup panjang. Meski dengan langkah yang berat, toh akhirnya ia memaksakan diri untuk segera menyusul Yumi. Dan begitu tiba di lapangan, Rakha langsung disambut dengan pemandangan sosok Yumi yang sedang duduk di tengah lapangan seraya memainkan bola di tangannya.


Yumi mengangkat wajahnya dan segera mengangkat tangan kanannya saat Rakha berjalan mendekat ke arahnya. Rakha pun dengan sigap menepuk tangan Yumi, kemudian duduk di sampingnya.


"Ada apa lo manggil gue?" Tanya Rakha to the point.


Namun, belum-belum Yumi membuka mulut untuk menjawab pertanyaannya, Rakha buru-buru mendahuluinya, "semalem Nico yang dateng marah-marahin gue, tadi sore Aira. Apa sekarang elo juga mau ambil jatah buat marah-marah ke gue?"


"Sebenernya gue nggak mau ikut campur urusan lo sama Nico. Tapi Aira terus-terusan ngerasa bersalah sama elo, Kha. Gue nggak tega aja ngeliat Aira tiap hari kayak orang kebingungan."


Mendengar penjelasan Yumi, Rakha jadi mengingat lagi perkataan Aira padanya sore tadi. Nyatanya, apa yang Yumi katakan padanya sangat bertolak belakang dengan apa Aira sampaikan.


"Aku minta maaf, Kha. Tapi aku nggak akan minta maaf sama kamu karena aku jadian sama Nico."


Rakha mendenguskan senyumnya setelah suara Aira lewat di kepalanya. Dengan getir ia lantas berujar, "kenapa semua orang ada di pihak Nico?"


"Kha?"


"Gue cuma nggak tahu gimana cara bersikap di depan mereka berdua, Yum. Seumur hidup, ini pertama kalinya gue ada di situasi ini, makanya sekarang gue bingung harus ngapain. Hati gue sakit tiap kali liat Nico sama Aira. Tapi gue juga benci memperlakukan Aira dengan cara yang gue benci."


"Tapi sampai kapan lo akan bersikap kayak gini? Jauh sebelum Aira dateng, Nico udah jadi sahabat elo, Kha. Ini situasi yang nggak bisa lo hindarin gitu aja. Satu-satunya hal yang bisa lo lakukan cuma menerima."


Setelah itu, Rakha tidak terdengar membalas perkataan Yumi. Di satu sisi, diam-diam Rakha merasa bahwa perkataan Yumi memang ada benarnya. Namun di sisi lainnya, tiba-tiba saja Rakha merasa bahwa Yumi pernah berada di posisi yang sama dengannya hingga membuat Yumi mampu mengatakan hal-hal seperti itu dengan sangat meyakinkan.


...****...


Nico, Rio, dan Natta sedang berkumpul di rooftop B-Café sambil saling bercengkrama satu sama lain menceritakan pengalaman mereka sebagai mahasiswa baru. Mereka terlihat tampak asyik dan sangat menikmati setiap menit kebersamaan mereka. Akhir-akhir ini, mereka memang jarang berkumpul, sekalipun berkumpul, mereka tidak pernah lengkap karena Rakha selalu saja mangkir dengan ribuan alasannya.


"Ternyata kalian semua masih bisa ketawa-ketawa, ya, tanpa gue?" Tutur seseorang dengan nada sinis dari arah pintu.


Saat itulah, secara bersamaan, Nico, Rio dan Natta menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok Rakha yang tengah berjalan menghampiri mereka dengan langkah yang begitu santai. Dan seolah tidak pernah terjadi apapun antara dirinya dengan Nico, Rakha langsung mengambil posisi duduk tepat di samping Nico. Melihat sikap Rakha itu, Nico hanya bisa terperangah.


Rakha tersenyum begitu lebar. Lalu dengan gerak yang tidak kalah santainya, ia menepuk bahu Nico dengan cukup keras, seakan ingin menyampaikan sebuah isyarat bahwa ia sudah baik-baik saja, dan menerima kekalahannya dalam hal memenangkan hati Aira dengan lapang dada.


"Terima kasih sudah kembali." Bisik Nico pelan tanpa melihat Rakha.


Rakha tertawa mencibir setelah mendengar perkataan Nico. Ia menatap sejenak pada wajah Nico dari samping lalu berkata, "nggak perlu makasih. Gue masih belum selesai. Kalau nanti seandainya lo lengah, saat itulah gue akan masuk dan ngerebut Aira dari lo."


Alih-alih marah dengan ucapan Rakha barusan, Nico justru tersenyum simpul. Kali ini ia balas menatap Rakha, dan dengan penuh percaya diri berucap, "tunggu aja. Tapi asal lo tahu, gue nggak akan pernah lengah. Lo tahu gue, kan?"


"Permisi teman-teman..." Sela Rio tiba-tiba yang memang sejak tadi memperhatikan gerak-gerak Nico dan Rakha


Nico dan Rakha secara kompak menatap Rio, dan melemparkan pandangan bertanya. Sementara Natta, ia berusaha mati-matian menahan tawanya agar tidak pecah saat itu juga.


"Di pertemuan berikutnya, apa perlu gue siepin ring tinju buat kalian?"


...****...


Tawa Nico dan Aira pada sore menjelang petang itu seolah menjadi backsound kebersmaan mereka. Mereka berdua tampak bahagia dan begitu serasi memainkan bola basket di tengah lapangan komplek. Suasananya cukup sepi, hanya ada mereka berdua di lapangan itu, memperebutkan bola dan berusaha memasukannya ke dalam ring untuk mendapatkan poin. Sejauh ini, poin Aira lebih unggul dari Nico. Hal itulah, yang membuat Nico sesekali sengaja bermain curang untuk menggoda Aira dan membuat fokusnya berantakkan.


"Nico! Kalau sekali lagi kamu curang, aku pulang nih." Ancam Aira dengan nada yang cukup serius. Hal itu, kontan saja membuat Nico sedikit panik.


"Yaah, maaf, maaf. Aku kan cuma becanda." Sergah Nico.


Aira mendengus. Lalu berjalan ke pinggir lapangan untuk mengambil minum. Permainan baru sepuluh bermenit lalu, tapi tenaganya sudah terkuras karena harus meladeni permainan curang Nico.


"Gimana kalau kita taruhan?" Tantang Nico sembari berjalan menghampiri Aira.


"Males ah, kamu curang!"


"Kan aku udah minta maaf. Janji deh, kali ini aku nggak akan curang." Ucap Nico dengan sungguh-sungguh.


Aira terlihat berfikir. Berusaha mempertimbangkan tawaran Nico untuk bertaruh.


"Taruhannya apa dulu nih?"


"Kalau aku menang, nginep di rumah malam ini. Temenin aku marathon Running Man."


"Curang! Ini belum jadwal aku pulang!" Sanggah Aira.


"Berarti ngalah, nih?"


"Enak aja. Ayo main!"


Aira akhirnya menerima tantangan Nico. Ia kembali ke tengah lapangan setelah sebelumnya merampas bola dari tangan Nico. Ia lalu dengan lincah men-dribble bola orange itu di tangannya. Sejenak Nico terkesima. Ternyata gadis ini boleh juga, fikirnya.


Pada awal-awal permainan, Nico membiarkan Aira merasa berada di atas angin. Aira terus memasukan bola ke dalam ring tanpa perlawanan yang berarti dari Nico. Sadar bahwa saat ini Nico sedang meremehkannya, ia pun segera menghalangi Nico yang sedang men-dribble bola seraya berkata, "jangan ngalah. Nanti beneran kalah."


"Sayangnya... aku nggak akan kalah kali ini." Jawab Nico dengan enteng.


Ia lalu mencondongkan wajahnya ke arah Aira yang sedang berusaha mati-matian menjangkau bola dari cengkramannya. Aira sama sekali tidak sadar dengan apa yang akan Nico lakukan, sampai tiba-tiba Nico mengambil kesempatan saat Aira lengah untuk mengecup lembut bibirnya dalam dua detik. Seolah-olah tidak merasa berdosa dengan apa yang ia lakukan barusan, Nico pun melakukan pivot untuk menyelamatkan bola itu dari jangkauan Aira. Lantas dalam sekejab mata, bola itu sudah memasuki ring dengan sempurna. Nico serta-merta bersorak, sementara Aira, ia masih terpaku di tempatnya semula sambil menyentuh bibirnya.


"Tuh kan, curang lagi!" Protes Aira untuk yang kedua kalinya.


"Siapa yang curang? Itu namanya strategi!" Balas Nico tanpa rasa bersalah, yang sukses membuat Aira cemberut sesudahnya.


Nico kemudian tersenyum miring. Dan untuk seterusnya ia berhasil mencetak poin tanpa memberikan Aira kesempatan untuk merebut bola darinya. Sekarang, ia telah berhasil melampaui poin Aira dengan begitu mudahnya.


Benar saja, Nico yang memenangkan taruhan itu. Dan pada malam harinya, Aira merelakan dirinya untuk menginap dan menemani Nico menghabiskan episode 'Running Man' yang belum ia tonton selama empat minggu lamanya.


"Alamat begadang, nih." Gerutu Aira.


...****...


Nico mendesis lalu tersenyum setelah mengakhiri percakapannya dengan Nana melalui sebuah pesan teks. Setelah hilang kabar selama berbulan-bulan, siapa sangka bahwa Nico akan mendengar kabar kedekatan antara Nana dengan Ian. Namun meski begitu, Nico akhirnya bisa bernafas lega setelah tahu bahwa ada yang bisa memberi perhatian juga menjaga Nana selama dia berkuliah di luar negeri.


"Lagi chat sama siapa, Nic? Kok senyum-senyum?" Tanya Aira yang tiba-tiba memasuki kamar Nico sambil membawa sepiring buah-buahan yang sudah ia kupas dan potong bersama dua gelas air putih.


Aira kemudian meletakkan barang bawaannya di atas meja sebelum akhirya duduk di samping Nico.


"Chat sama Nana. Aku cuma mau mastiin aja apa dia beneran lagi deket sama Bang Ian apa nggak."


"Bang Ian-nya Natta?"


"Hahaha iya. Aku udah tahu dari lama kalau mereka deket. Tapi kata Natta, sejak Nana tinggal di Jerman, dia jadi makin deket sama Bang Ian."


Aira hanya tersenyum mendengarkan cerita yang Nico tuturkan.


Setelah mereka selesai membahas soal Nana dan Ian, Nico pun menyalakan televisi di depannya dan mulai menonton program 'Running Man' yang sangat disukainya.


^^^To Be Continued...^^^