
Sabtu sore itu, Rakha bersama adiknya Ranha sedang melakukan rutinitas bulanan mereka. Setiap awal bulan di akhir minggu, mereka akan melakukan aktifitas berdua yang mereka sebut dengan Sibilings Day Out. Hal itu, seperti sudah menjadi kebiasaan bagi kakak-beradik itu.
"Kak Rakha, Ranha mau ke toilet sebentar. Pegangin belanjaan Ranha, ya? Kak Rakha ke bawah aja duluan, ntar Ranha susul." Kata Ranha seraya menyerahkan dua buah paper bag pada Rakha.
Begitu Ranha sudah pergi, perhatian Rakha seketika tertuju pada sebuah toko perhiasan milik salah satu Brand ternama yang letaknya tepat berada di depannya saat itu. Rakha lalu mengingat, bahwa tiga hari lagi, tepatnya pada tanggal 4 Desember nanti, Aira akan berulang tahun. Sebuah ide untuk membelikan Aira kado tiba-tiba terlintas di benaknya.
Ia lalu memasuki toko perhiasan itu, dan mulai melihat-lihat sekumpulan kalung cantik yang terpajang rapi di dalam sebuah etalase. Saat sedang melihat-lihat, Rakha langsung tertarik pada sebuah kalung dengan bandul daun clover berhelai empat yang cukup minimalis bentuknya.
Daun clover berhelai empat sendiri memiliki makna masing-masing di setiap helai. Helai pertama melambangkan cinta kasih. Helai kedua melambangkan kesehatan dan panjang umur. Helai ketiga melambangkan kemakmuran hidup, dan helai keempat melambangkan kekayaan yang melimpah.
"Selamat sore, Mas? Ada yang bisa dibantu?" Sambut seorang Pramuniaga dengan ramah.
"Ah iya, saya sedang melihat-lihat kalung."
"Mau dijadiin kado?"
"Emmm... iya." Jawab Rakha.
"Buat pacarnya?"
Sebelum menjawab, Rakha terlihat berfikir terlebih dahulu, lalu... "iya." Ujar Rakha dengan yakin.
Ketika Pramuniaga itu akan memberikan sebuah rekomendasi untuk Rakha, Ranha tiba-tiba saja menelfonnya dan menanyakan keberedaannya.
"Kak Rakha lagi di toko perhiasan tadi, nih."
"Yaaah, Kak Rakha! Ranha udah di bawah nih. Ranha fikir Kak Rakha udah turun."
"Ya udah, kamu tunggu di situ. Kak Rakha susul."
Rakha mematikan sambungan teloponnya lalu kembali melihat kepada Pramuniaga toko yang masih menunggunya.
"Bentar, ya, Mba! Adik saya nyariin. Saya akan kembali setelah ini."
Namun begitu Rakha kembali bersama Ranha, ia sudah tidak menemukan kalung berbandul daun clover itu di tempatnya. Rakha lalu mendesah kecewa. Menyadari itu, Ranha langsung berkata pada Kakaknya.
"Kak Rakha mau ngasih Kak Aira kalung, ya?"
"Iya, nih. Tapi kalungnya udah nggak ada."
"Kasi yang lain aja, Kak. Lagian, kalung terlalu berlebihan. Kalian kan belum jadian."
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh adiknya, entah kenapa Rakha merasa kesal. Rakha mendesis sembari melemparkan tatapan sebal pada Ranha. Ranha terkekeh melihat wajah Rakha yang benar-benar sangat lucu menurutnya.
"Terus dikasi kado apa?"
...****...
Sudah lima bulan lamanya Aira tinggal di rumah Nico. Namun selama itu pula, Aira terhitung sangat jarang keluar pada malam minggu. Itulah kenapa, di malam minggu kali ini, Nico berinisiatif untuk mengajak Aira berjalan-jalan ke Marvi River. Salah satu tempat yang sangat ingin Aira datangi tapi tidak pernah sempat.
Karena Nico harus melakukan bimbel sampai pukul 7 malam, ia pun meminta tolong pada Pak Salim untuk mengantar Aira terlebih dahulu, lalu nanti Nico yang akan menyusulnya setelah selesai dengan bimbelnya.
Tepat pukul tujuh, Aira tiba di Marvi River dan menunggu di tempat yang sudah Nico tentukan. Aira duduk di sebuah rerumputan yang menghadap tepat ke arah hamaparan luas Marvi River yang dipenuhi cahaya kelap-kelip dari beberapa penerangan.
Aira tersenyum melihat pemandangan indah yang sangat memanjakan matanya. Dalam hati berfikir, ternyata seperti ini bentuk Marvi River yang selama ini hanya bisa ia lihat melalui saluran televisi.
"Aira!" Panggil Nico dari kejauhan.
Aira bangkit dari duduknya begitu melihat Nico berlari menghampirinya sambil menenteng sebuah tas di salah satu pundaknya.
"Nico, nggak usah lari!"
Dengan nafas terengah, Nico tiba di hadapan Aira. Ia tersenyum begitu lebar pada Aira, dan memamerkan sepasang lengkungan manis di kedua pipinya. Senyuman dan lesung pipi yang menghiasi wajah Nico telah mampu mengacau-balaukan detakan jantung Aira dalam sekali pukul.
Satu hal lagi yang dapat Aira tangkap dari Nico malam ini; dia terlihat sangat bahagia.
"Ra, kenapa nggak pake jaket? Di sini dingin." Ujar Nico begitu menyadari bahwa Aira hanya mengenakan sebuah T-shirt oversize yang selalu menjadi favoritnya.
"Nggak dingin kok."
"Jangan bohong! Aku lihat kamu menggigil barusan." Omel Nico sembari membuka jaket denimnya lalu memasangkannya di tubuh Aira.
Selain itu, Nico juga membuka topi yang sejak tadi ia kenakan dan memasangkannya di kepala Aira untuk melindungi rambutnya dari paparan angin malam.
Aira tidak mengatakan apapun, dan hanya menerima perlakuan Nico padanya.
"Selesai!" Ucap Nico dengan wajah semuringah sembari menekan pelan kepala Aira yang sudah ia pasangi dengan topinya.
Mereka berjalan beriringan, dan menikmati setiap langkah mereka yang entah kenapa terasa begitu berharga setiap kali mereka bersama.
Di tengah perjalanan mereka, Nico tiba-tiba syok saat melihat seorang Pesepeda yang nyaris saja menyerempet Aira. Dengan sigap Nico menarik pergelangan tangan Aira agar gadis itu bisa lebih dekat dengannya dan tidak terlalu berjalan di tengah.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Iya, Nic. Nggak apa-apa kok."
Nico lalu mengubah posisinya dengan Aira. Dan secara mengejutkan, Nico mengulurkan tangan kanannya di hadapan Aira. Melihat Aira yang tidak juga merespon dan hanya menatapnya saja, Nico mengangkat kedua alisnya dan sedikit menggerakkan tangannya yang terulur, untuk memberikan isyarat agar Aira segera memegang tangannya.
Ragu-ragu Aira pun menyambut uluran tangan Nico. Tidak perlu menunggu lama, Nico secara otomatis menggenggam tangan Aira yang terasa dingin.
"Jangan jauh-jauh dari aku. Nanti kamu hilang."
...****...
Rakha dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita cantik dan berpostur badan tinggi di depan gedung sekolahnya. Saat itu, Rakha sedang bersama Aira, Yumi, Bia, dan Rio. Sementara Nico, Natta, dan Sheryl mengikuti di belakang mereka. Selama di perjalanan, diam-diam Nico terus memperhatikan setiap gerak-gerik Aira dan Rakha yang tampak asyik bersenda gurau. Di dalam hatinya, lagi-lagi timbul perasaan tidak rela melihat Aira tertawa dengan seseorang yang bukan dirinya, lebih-lebih itu Rakha, yang kini telah resmi menjadi rivalnya dalam hal memenangkan hati Aira.
Wanita berpenampilan anggun itu berbalik, detik berikutnya ia melepas kacamata hitam yang membingkai wajahnya lalu tersenyum pada Rakha.
Seketika, Rakha, Yumi, Nico, Natta, dan Rio membeku setelah tahu siapa wanita itu. Mereka otomatis menghentikan langkah mereka begitu Rakha berhenti. Wanita itu lalu mendekat, dan menatap pada kedua mata Rakha dengan sorot penuh kerinduan.
Namun begitu wanita itu akan menyentuh bahu Rakha, Rakha serta-merta bergerak mundur sebagai isyarat penolakan.
"Rakha? Ini Mama. Rakha nggak kangen sama Mama?" Ucapnya kemudian dengan penuh harap.
Sementara itu Aira, Bia, dan Sheryl yang baru sadar siapa wanita itu, langsung terperanjat tak percaya begitu melihat sosok Evelyn Lim yang melegenda itu kini berdiri di hadapan mereka. Sebuah plot twist bagi mereka manakala mengetahui, bahwa Rakhaditya Arya adalah Putra dari Evelyn Lim.
"Iel, kamu tahu?" Bisik Sheryl pelan pada Natta yang berdiri di sampingnya.
"Sttt!" Natta mendesis seraya meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, meminta Sheryl untuk tidak mengatakan apapun dulu.
Rakha berusaha mengatur emosinya sebisa mungkin. Setidaknya di depan kawan-kawannya, utamanya di depan Aira, Rakha tidak ingin membiarkan emosinya meledak. Rakha menghela nafas dalam-dalam, lantas menghembuskannya dengan sedikit kasar. Ia pun menyerahkan tasnya pada Yumi sebelum akhirnya berkata pada Sang Mama, "jangan di sini!" Ucap Rakha dingin seraya berjalan terlebih dahulu melewati Mamanya.
Evelyn lalu mengikuti Rakha.
Yumi sudah akan menyusul Rakha saat tiba-tiba Aira mendahuluinya dan berkata pada Nico, "Nic, kamu pulang duluan, ya? Aku ada urusan bentar."
Tanpa menunggu jawaban dari Nico, Aira langsung berlari mengejar Rakha yang saat itu sudah masuk ke dalam sebuah mobil dan duduk di jok belakang bersama Mamanya. Begitu tiba di luar area sekolah, Aira memberhentikan sebuah taksi dan mengikuti mobil yang membawa Rakha.
"Sepertinya Rakha udah berhasil nih." Gumam Rio tiba-tiba saat melihat kegigihan Aira mengejar Rakha.
Nico mendelik tak terima. Tetapi ia juga tidak bisa mengatakan apapun.
Natta yang mulai paham dengan perasaan Nico terhadap Aira, hanya bisa menepuk pundak Nico untuk memberinya kekuatan. Sedangkan Sheryl yang sudah lebih dulu tahu kalau sebenarnya Aira menyukai Nico, hanya bisa menatap Nico dengan prihatin. Sheryl dapat membaca, bahwa Nico pasti sudah salah paham sekarang.
"Yumi! Rio! Nico! Natta!" Absen Bia tiba-tiba sambil menatap mereka satu persatu dengan kedua mata menyipit.
Yumi, Rio, Nico, dan Natta pun secara serentak menoleh pada Bia.
"Kalian sudah tahu kalau Evelyn Lim itu Mamanya Rakha?"
Tidak ingin memperpanjang masalah dengan Bia yang terkenal paling kepo satu angkatan, Nico langsung pergi dan memilih untuk tidak menggubris Bia. Kepergian Nico itupun diikuti oleh yang lainnya, kecuali Rio.
Rio menatap Bia yang kebingungan seraya tersenyum begitu manis. Seakan-akan ia ingin menjawil kedua pipi gadis yang sedang ada di hadapannya ini.
"Yo, jelasin ke gue dong."
Pinta Bia pada Rio. Saat Bia menoleh ke arah Rio, Rio buru-buru menghapus senyum di wajahnya agar tidak ketahuan.
"Jadi gin—"'
Getar ponsel Bia membuat Rio harus memotong perkataannya. Bia juga sudah memberikannya tanda sambil mengangkat tangannya agar Rio diam untuk sejenak.
"Hallo, Tris? Iya kenapa?"
Bia menjawab panggilan dari Tristan sambil menjauh dari posisi Rio sekarang. Tristan adalah sepupu Rio yang dulu satu SMP dengan Bia. Tapi Rio tidak tahu sejak kapan mereka sedekat itu.
Dan Rio yang mendengar nama Tristan, langsung merasakan seperti ada sebuah sengatan di jantungnya.
'Sejak kapan Bia sedekat itu sama Tristan?' Fikir Rio tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari sosok Bia yang sedang menelepon.
^^^To be Continued...^^^