
Hari ini Rakha berencana menyatakan perasaannya untuk yang kedua kalinya pada Aira. Ia bahkan sudah mempersiapkan satu tempat di B-Cafe. Tempat itu adalah sebuah ruangan yang Rio jadikan bioskop mini khusus untuk sahabat-sahabatnya. Di tempat itu Rakha juga sudah memasang rencana menayangkan foto-foto Aira dalam sebuah slide show yang akan ditampilkan melalui sebuah layar besar layaknya dalam sebuah bioskop. Slide show itu akan diiringi dengan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Rakha sendiri sambil memainkan sebuah piano, dan sudah ia rekam sebelumnya.
Rakha benar-benar telah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang.
Sebelum ia melihat kalung clover itu melingkar di leher Aira beberapa menit yang lalu, Rakha sudah sangat yakin dengan rencana-rencananya. Tetapi itu hanya beberapa menit yang lalu. Karena setelah itu, tanpa bisa ia halau, keraguan tiba-tiba melingkupi dirinya.
"Kha, sebelum kita masuk, aku boleh ngomong sesuatu sama kamu?" Tanya Aira tiba-tiba saat ia baru saja turun dari vespa biru muda kesayangan Rakha.
"Apa?" Rakha bertanya balik dengan risau. Deguban jantungnya sudah kacau di dalam sana. Dan rasa panas tiba-tiba mendera seisi kepalanya.
"Ini... soal pertanyaan kamu waktu itu pada saat Last Game."
DEGH! Satu pukulan.
Aira menunduk dan untuk sejenak memejamkan kedua matanya, berusaha mengumpulkan keberaniannya yang tiba-tiba terhisap saat menatap mata pemuda ini.
"Maaf, karena lagi-lagi aku sangat telat ngejawab pertanyaan kamu. Saat itu, aku cukup kaget. Nggak nyangka cowok sebaik kamu ternyata menyukai aku. Aku tahu kamu tulus, Kha. Aku bisa rasain itu. Tapi... masalahnya ada di aku. Aku—"
"Aira, tunggu dulu!" Sela Rakha tiba-tiba sebelum Aira menyelesaikan kalimatnya.
Rakha sungguh tidak siap mendengar penolakan dari Aira sekarang.
"Kha?"
"Kamu nggak harus jawab sekarang. Bahkan kamu nggak perlu jawab sama sekali. Kamu udah tahu perasaan aku, dan kamu sangat menghargainya, itu udah lebih dari cukup buat aku. Tapi tolong, jangan katakan apapun lagi." Ujar Rakha dengan nada memohon.
"Kha, maafin aku."
"Perasaan seseorang bisa berubah kapan aja, Ra. Dan aku memilih buat nungguin kamu. Aku nggak peduli siapapun yang ada di hati kamu sekarang, tapi satu yang pasti, cepat atau lambat aku bakalan rampas tempat itu dari dia."
"Kha, sama seperti kamu menyukai aku, aku juga menyukai orang lain. Sejak awal, dia satu-satunya yang aku sukai. Dari bertahun-tahun yang lalu, sampai detik ini, aku fikir dia akan tetap jadi satu-satunya."
DEGH! DEGH! Dua pukulan bertubi-tubi.
"Untuk itu aku mau bilang sama kamu, Ra. Kapanpun dia bikin kamu patah hati, aku akan jadi orang pertama yang datang ke kamu. Inget ini sampai kapanpun."
"Kha?"
"Maafin aku, Ra. Tapi aku mendadak ada urusan lain. Kita lanjutin ini lain kali aja. Kamu bisa balik sendiri, kan?"
Aira mengangguk pelan seraya melihat pada kedua mata Rakha yang tidak menatapnya sedikitpun.
Aira hanya berharap, bahwa setelah semua ini, ia dan Rakha masih bisa menjadi teman baik. Aira memang serakah, tetapi dia tidak ingin kehilangan Rakha sebagai teman. Ia tidak ingin hubungan mereka berubah apapun yang terjadi.
...****...
September, 2017
Aira tiba di depan gedung apartemennya sambil menangis terisak. Selama dalam perjalanan tadi, selepas ia menemui Nico dan memutuskan hubungan mereka, Aira merasa seluruh dunianya hancur. Tidak ada lagi yang tersisa dari dirinya.
Bagaimana bisa Nico tidak menahannya sedikitpun? Bagaimana bisa Nico yang dulunya penuh cinta sekarang menjadi begitu dingin? Nico bahkan tidak bisa lagi disebut sebagai manusia. Ia telah menjelma menjadi bongkahan es yang mengerikan dan sangat menyakitkan.
Aira merasa terbuang, meski pada kenyataannya, Aira sendirilah yang mencampakkan Nico dan memilih untuk melepaskan tangannya terlebih dulu.
"Aira?" Panggil seseorang dengan lembut yang saat itu sudah berdiri tidak jauh dari posisi Aira sekarang.
Aira yang sejak tadi hanya menunduk sambil terisak, langsung mengangkat wajahnya yang bersimbah air mata begitu mendengar satu suara yang tidak asing menyebut namanya.
Saat melihat wajah pemuda itu, tangis Aira kian pecah.
Di depannya kini, sosok tinggi itu berdiri dengan kokoh. Meski wajahnya sedikit tersembunyi di balik topi, Aira tahu dia adalah Rakha. Seseorang yang selalu menjadi teman baiknya dalam situasi dan kondisi apapun.
"Aira, kamu kenapa?" Tanya Rakha saat menyadari bahwa ada yang aneh dari gelagat Aira.
Rakha berjalan mendekati Aira. Dan semakin hancurlah hati Rakha saat tahu bahwa Aira sedang menangis tersedu.
"Ra?" Panggil Rakha sekali lagi.
Namun hanya isakan yang terdengar.
Hati Rakha yang sudah hancur, sekarang seakan teriris mendengar suara isakan Aira yang menyayat. Namun meski Aira tidak mengatakan apa penyebabnya, Rakha tahu, hanya ada satu orang yang mampu membuat Aira menangis sampai seperti ini. Orang itu tentu saja adalah Calvien Nicolas.
Tanpa sepatah kata lagi, Rakha menarik pelan kepala gadis itu dan membiarkan wajahnya bersembunyi di dadanya yang bidang. Dalam dekapan Rakha, tangis dan isakan Aira semakin kuat dan kian menyayat.
'Ra, kamu inget kan perkataan aku lima tahun yang lalu? Kapanpun dia bikin kamu patah hati, aku akan jadi orang pertama yang datang ke kamu. Sekarang aku sudah datang, Ra.' Lirih Rakha dalam hati.
Rakha lalu semakin mempererat pelukannya meski Aira tidak membalas, seakan tidak ingin melepaskan Aira lagi.
"Jangan harap aku akan melepaskan kamu lagi buat dia."
...****...
Rakha duduk di salah satu sofa di bioskop mini yang sudah ia persiapkan bersama Rio untuk rencananya hari ini. Meski rencananya untuk Aira sudah gagal sepenuhnya, namun Rakha tetap melanjutkan rencananya sendiri.
Video dibuka dengan suara lembut Rakha yang menyanyikan lagu This I Promise You dari NSYNC. Lagu itu sengaja Rakha pilih karena benar-benar menggambarkan isi hatinya untuk Aira.
Foto-foto Aira yang diambil secara candid saat Last Game oleh Tim Dokumentasi, juga beberapa foto yang diambil sendiri oleh Rakha, terus bermunculan secara bergantian. Perasaan Rakha kian hampa, dan luka itu semakin jelas terasa, saat memori-memori kebersamaannya bersama Aira berpendar dalam kepalanya. Rakha lalu tersenyum miris. Luka itu kini telah menganga.
Dan di atas meja sana, sebuah kotak kecil yang di dalamnya terdapat sebuah gelang dengan ornament bintang terbuka dan tergeletak begitu saja.
Beberapa saat kemudian, Rio yang sudah mengetahui apa yang terjadi pada sahabatnya itu datang dan duduk di samping Rakha. Rio mengikuti arah pandangan Rakha yang menuju ke arah layar.
"Gue tahu, tapi gue nggak mau tahu." Jawab Rakha dingin tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar.
...****...
Nico kembali dari bimbel saat waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam. Ketika ia melewati sebuah playground, tanpa sengaja perhatiannya tertuju pada Aira yang saat itu sedang duduk sendirian di salah satu ayunan seraya memainkan kedua kakinya di pasir. Aira bahkan masih mengenakan pakaian yang tadi ia kenakan saat pergi dengan Rakha.
Nico berniat ingin melewatinya saja, mengingat bahwa gadis itu baru saja kembali dari kencannya yang menyenangkan bersama Rakha. Tapi naluri tidak bisa mengabaikannya tiba-tiba bergejolak dalam dirinya. Ia lalu dengan berat, melangkahkan kakinya dan mendekati gadis itu setelah sebelumnya membuang nafas dengan cukup keras.
Tanpa mengatakan apapun, Nico duduk di ayunan yang berada tepat di samping Aira. Mendadak, Nico merasa seperti déjà vu.
Beberapa detik setelahnya, Aira menoleh ke samping lalu tersenyum tanpa tenaga pada Nico.
"Hai, Nico!"
"Kamu udah makan malam?"
"Belum."
"Terus tadi ngapain aja?"
"Kenapa? Kamu penasaran tadi aku ngapain aja?" Balas Aira dengan sebuah godaan yang kontan saja membuat Nico merasa jengah.
Nico sekali lagi menghela nafas. Jika bisa, rasanya ia ingin sekali melayangkan sebuah toyoran di kepala Aira agar ia bisa segera menyadari bahwa situasi sekarang ini cukup serius bagi Nico.
"Ayo makan malam! Aku traktir." Imbuh Nico sembari bangkit dari ayunan dan berdiri di sisi Aira.
"Serius?" Pekik Aira antusias dengan seulas senyuman lebar di wajah cantiknya.
Tanpa memberikan jawaban, Nico berbalik lalu berjalan terlebih dahulu. Aira yang memang sudah merasakan perutnya keroncongan sejak tadi, langsung mengejar langkah Nico di depannya.
Begitu tiba di tempat pilihan Nico, Aira hanya melongo saat melihat Nico meletakkan dua porsi mie cup di atas meja. Tidak ada lagi perasaan antusias yang tadi Aira rasakan saat Nico mengatakan akan mentraktirnya. Bayangannya soal makanan enak di sebuah café yang nyaman seketika lenyap.
Ini hari ulang tahunnya. Tidak bisakah Nico membawanya ke tempat yang lebih baik dan juga... lebih romantis?
Bagaimana tidak? Saat itu, Aira dan Nico berada di depan sebuah minimarket yang letaknya cukup dekat dari rumah mereka. Kalau ke sini cuma untuk makan mie cup, kenapa tidak di rumah saja? Protes Aira dalam fikirannya.
"Kalau mau nambah, kasi tahu aja."
Nico duduk di hadapan Aira dan meyantap mie cup nya dengah lahap. Sementara Aira, ia hanya memandang Nico dengan raut wajah tidak habis fikir.
"Dulu waktu masih pacaran sama Nana, apa kamu juga bawa dia ke tempat seperti ini di hari ulang tahunnya?" Tanya Aira dengan ketus, yang sebenarnya hanya ingin menyindir Nico saja sambil mengaduk-aduk mie cup yang ada di depannya, tanpa selera.
"Kenapa? Apa tadi Rakha ngebawa kamu ke restaurant mewah? Terus tiba-tiba saat kalian sedang makan steak mahal, seorang pemain biola entah dari mana tahu-tahu muncul memainkan lagu selamat ulang tahun?"
Aira mendelik tajam ke arah Nico yang saat itu tampak santai memasukan mie ke dalam mulutnya dengan sebuah sumpit. Aira baru tahu, kalau ternyata Nico memiliki kemampuan menyindir yang cukup baik.
"Nico, jujur deh, kamu masih marah sama aku, kan? Salah aku apa sih?"
Nico diam untuk beberapa saat. Ia pun batal melanjutkan suapannya dan melepaskan sumpitnya di dalam cup. Ia kemudian mengangkat wajahnya, menantang Aira dengan tatapan tajamnya.
Dan raut wajah Aira sekarang, entah kenapa terlihat cukup misterius bagi Nico.
"Apa kamu benar-benar nggak tahu, Ra?" Tanya Nico penuh kesungguhan.
Pertahanannya rusak sudah. Tiba-tiba Nico bertekad untuk menghancurkan tembok tinggi di antara mereka yang sudah Aira bangun sejak mereka bertemu kembali. Mulai sekarang, Nico tidak ingin menutupi apapun lagi.
Lagipula, ini hari ulang tahun Aira. Aira berhak mendapatkan satu kebenaran darinya.
"Atau tolong beritahu aku, apa nama perasaan ini? Aku nyaman berada di dekat kamu, setiap kali kamu nggak ada, aku selalu khawatir, aku nggak suka kamu dekat-dekat sama Rakha, atau tertawa sama Rakha. Kamu tahu apa nama perasaan itu?"
Aira tertegun mendengarkan penuturan Nico. Tidak terlintas di benaknya sedikitpun bahwa Nico akan menyatakan perasaannya dengan cara seperti ini. Aira tidak senaif itu, ia tahu dengan pasti, bahwa apa saja yang telah Nico katakan padanya, adalah sebentuk pernyataan cintanya.
Kini keberanian Aira yang sejak tadi menggebu, sekarang perlahan menciut. Ada begitu banyak ketakutan di dalam hatinya yang tidak bisa ia ungkapkan pada Nico.
Sejak pertama kali bertemu dengan Nico, Nico sudah menjelma menjadi salah satu sosok yang paling berharga bagi Aira. Dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapapun. Itulah kenapa, Aira tidak ingin lagi menempatkan Nico dalam kesulitan karena dirinya. Ia akan melindungi Nico dengan cara apapun, termasuk itu jika harus memendam segala perasaannya pada Nico.
Dan apa yang menimpa Nico baru-baru ini, sudah cukup membuat Aira merasa sangat bersalah. Tidak benar jika kemudian ia berpacaran dengan Nico dan membuat semua orang semakin memiliki pemikiran yang tidak seharusnya pada diri Nico.
"Kalau kamu nggak tahu apa nama perasaan itu, sekarang biarkan aku menebak."
Aira masih menatap Nico dengan cara yang sama. Tidak ada sedikitpun perubahan dari sorot matanya.
"Sepertinya aku suka sama kamu, Nana"
Sepuluh detik dalam keheningan, Aira akhirnya mengalihkan perhatiannya pada mie cup di hadapannya. Seperti yang Nico lakukan tadi, Aira menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan untuk mengisi rongga dadanya yang mulai terasa kosong. Mata Aira sedikit memerah dan berkaca-kaca.
Aira terkekeh dengan canggung sambil kembali mengaduk mie nya. Sementara Nico, ia terus menatap Aira tanpa jeda.
"Gawat!" Lirih Aira dengan nada sedikit bergetar. Ia kembali mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Nico dengan kaca yang nyaris retak di kedua matanya.
"Sepertinya mie kita sudah membengkak." Lanjutnya kemudian.
Nico mengangguk untuk beberapa saat. Ia tersenyum jengah setelah berhasil menarik satu kesimpulan yang begitu ia yakini.
"Dari reaksi kamu sekarang, aku fikir kamu sudah tahu sejak awal, Na."
^^^To Be Continued...^^^