
Setelah sama-sama sepakat untuk kembali berpacaran selama satu minggu, hal pertama yang Aira lakukan adalah membuat Nico melanjutkan pengerjaan skripsinya yang hanya tinggal selangkah lagi. Nico hanya tinggal melaksanakan ujian sebenarnya, tapi semua permasalahan yang membelitnya akhir-akhir ini membuat Nico tidak memiliki keinginan apapun selain melarikan diri.
Misi pertama Aira berhasil, dalam dua hari Nico sudah mendapatkan jadwal ujiannya.
"Apa ini tujuan kamu?" Tanya Nico pada Aira yang saat itu tampak asyik mengunyah rotinya.
Seperti yang sering mereka lakukan dulu, mereka kembali melakukan aktifitas olahraga pagi bersama.
"Nic, nggak apa-apa kalo kamu nggak mau cerita sama aku soal Papa kamu. Tapi menurut aku, kamu harus selesein satu per satu urusan kamu terlebih dulu." Setelah cukup lama memendam karena sikap dingin Nico padanya, akhirnya hari ini Aira bisa berkata jujur padanya.
"Skripsi kamu cuma tinggal selangkah lagi, kalo kamu nggak selesein ini terlebih dulu, Tante Gina bakalan tetap menyulitkan kamu untuk ke depannya nanti. Sekarang, kamu harus susun strategi dulu."
"Strategi?" Tanya Nico sedikit heran sambil menyeka bekas susu di tepi bibir Aira.
"Iya, strategi. Strategi memenangkan hati Tante Gina. Untuk sementara, nggak ada salahnya kamu jadi anak penurut. Lakukan apapun yang Tante Gina mau dan—"
"Na, kamu nggak ngomong begini karena rencana pernikahan itu, kan?" Goda Nico, dengan sengaja menyela ucapan Aira.
Dalam sepersekian detik, kedua pipi Aira langsung memerah. Ia pun salah tingkah di luar kontrolnya. Melihat pemandangan lucu di depannya, membuat Nico yang selama ini enggan tersenyum apalagi tertawa mati-matian menahan senyum di wajahnya. Untuk sejenak, Nico melupakan semua permasalahannya dan benar-benar menikmati setiap menit kebersamaannya dengan Aira.
"YA NGGAKLAH!" Aira mengelak dengan berapi-api. Namun kedua pipinya yang semakin memerah justru menunjukkan hal lain.
"Apa kamu sebegitu inginnya nikah sama aku?" Nico kembali melancarkan godaan lainnya seraya mengerling nakal pada gadis di sebelahnya.
"Nico, bisa stop nggak?"
Melihat Aira yang semakin salah tingkah justru semakin membuat Nico bersemangat untuk menggodanya. Nico pun menggeser posisi duduknya hingga lebih dekat dengan Aira. Hal itupun, tak pelak membuat jantung Aira semakin berdebar kencang dengan wajah yang kian memerah.
Dalam situasi itu, perhatian Aira tiba-tiba saja tertuju pada sebuah bola yang melayang hendak mengenai kepala Nico. Dengan gerak cepat, Aira bergerak lalu menangkis bola itu dengan tangannya hingga membuatnya terjatuh dari kursi panjang yang ia duduki.
"NANA!" Pekik Nico panik dengan kedua mata membelalak.
Nico pun buru-buru menghampiri Aira.
"Na, kamu nggak apa-apa?" Tanya Nico seraya merangkul kedua bahu Aira. Tidak lama kemudian Nico meraih tangan kanan Aira dan menemukan luka di telapaknya.
"Bodoh! Kenapa kamu—"
"Syukurlah kamu nggak kena lemparan bola, hehehe..." Ujar Aira dengan santai sambil terkekeh penuh kelegaan, menatap dengan kedua mata berbinar terang pada Nico.
"Maaf, kami nggak sengaja," salah seorang dari kumpulan remaja yang bermain bola tadi menghampiri Nico dan Aira.
Nico yang dilingkupi kemarahan karena terlalu khawatir, menatap tajam pada remaja laki-laki itu dan siap memuntahkan kemarahannya, "kalian seharusnya —"
"Kami nggak apa-apa. Lain kali hati-hati, ya." Sela Aira sebelum Nico sempat memarahi remaja laki-laki itu.
"Sekali lagi saya minta maaf."
Setibanya di rumah, Nico langsung mengobati luka di telapak tangan Aira dengan penuh perhatian.
"Lain kali, kamu nggak perlu ngelakuin tindakan bodoh kayak tadi cuma untuk ngelindungin aku." Omel Nico setelah ia menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku tadi cuma panik. Jelas-jelas aku ngelihat bola itu mengarah ke kamu , gimana bisa aku diam saja?"
"Kalau begitu diam saja. Jangan lakukan apapun, jangan melakukan tindakan yang akan ngelukain kamu pada akhirnya." Jawab Nico dengan begitu emosional, sarat akan makna tersirat di setiap kalimatnya.
...****...
Pada malam harinya, mereka semua berkumpul di rooftop B-Cafe untuk menyambut kepulangan Rakha, sekaligus merayakan kemenangannya. Dan seperti yang sudah dijanjikannya pada Aira, Rakha benar-benar membeli delapan kotak pizza untuk mereka semua.
"Kita nggak akan sanggup habisin delapan box pizza ini. Aira harus tanggung jawab sih!" Cetus Bia yang merasa tidak habis fikir dengan permintaan gila Aira pada Rakha.
"Pokoknya, kalo ini nggak habis, Aira yang harus habisin." Timpal Sheryl.
"Eh, maksud aku tuh baik, masing-masing dari kita dapetin satu box." Bela Aira.
"Tapi masalahnya satu box ini bisa lo habisin nggak?" Kali ini Rio yang angkat suara.
"Sudah! Sudah! Kalian makan aja. Nanti kalo misalnya nggak habis, gue yang makan sisanya." Ujar Rakha yang kelamaan mulai jengah juga melihat Aira terus-terusan dipojokkan.
Bia sudah akan membuka suara untuk menggoda Rakha dan Aira, tapi saat sadar bahwa Yumi sedari tadi hanya diam saja, Bia pun akhirnya menahan diri.
Di tengah-tengah kebersamaan mereka malam itu, tanpa ada yang menduga sebelumnya, Nico tiba-tiba saja muncul dengan wajahnya yang selalu tampak tenang. Saat Nico mendekat, mereka semua langsung terdiam seraya melemparkan pandangan penuh keheranan pada sosok Nico.
"Selamet, ya, Kha!" Ucap Nico memberikan selamat sembari mengangkat tangan kanannya untuk melakukan high-five dengan Rakha.
Rakha pun dengan sigap menepuk tangan Nico, "thanks, bro!"
Nico lalu mengambil posisi duduk di samping Natta, yang berhadapan langsung dengan posisi Aira dan Rakha yang saat itu duduk berdampingan. Dan jujur saja, mereka terlihat serasi dalam pandangan Nico. Hal itupun tak pelak membuat hati Nico terasa seperti dicubit.
"Ketumbenan banget, Nic?" Sindir Sheryl yang langsung mendapatkan reaksi setuju dari Natta, pacarnya.
Nico yang tidak berniat menjawab sindiran Sheryl hanya tersenyum pada Sheryl, ia lalu mengambil minuman di depannya dengan pandangan mata yang terus terpancang pada Rakha dan Aira.
"Ra, tangan kamu kenapa?" Rakha bertanya cemas setelah sadar bahwa telapak tangan Aira dibalut plester.
"Ooh ini? Tadi jatoh pas lagi jogging." Jawab Aira seadanya. Kali ini pandangan matanya mengarah pada Nico yang masih menatap dirinya dan Rakha.
Meski terjadi kecanggungan di antara Nico, Aira, Rakha, dan Yumi, yang lainnya tetap berusaha mencairkan suasana. Jarang-jarang mereka bisa berkumpul lengkap seperti malam ini. Itulah alasan kenapa Nico dan Rakha secara perlahan mulai larut dalam suasana, dan menikmati kebersamaan mereka malam itu.
"Ra, aku anterin pulang, ya?" Ucap Rakha setelah mereka membubarkan pertemuan mereka.
Yumi yang saat itu tanpa sengaja mendengar perkataan Rakha, hanya terdiam di tempat dan berusaha menyimak lebih lanjut.
"Aira akan pulang sama gue, Kha. Lo mungkin belum tahu, tapi sejak minggu lalu, Aira kembali tinggal di rumah gue."
Kedua mata Aira membuka lebar saat mendengarkan penuturan Nico. Ia tidak menyangka sebelumnya bahwa Nico akan segamblang itu pada Rakha. Aira awalnya merasa berbunga dengan apa yang Nico lakukan, tapi saat mengingat bahwa itu bisa saja bagian dari kesepakatan mereka, membuat Aira menahan bulat-bulat perasaan bahagianya.
Bukankah ia sendiri yang meminta agar Nico kembali menjadi pacarnya selama satu minggu? Jadi, adalah hal yang wajar jika sekarang Nico berusaha menjalankan perannya dengan sebaik mungkin. Toh hanya seminggu.
Pemikiran itu serta-merta membuat dada Aira seperti tertohok.
"Aira sudah ngomong ke gue soal kepindahan dia ke rumah elo." Jawab Rakha tiba-tiba dengan tenang dan enteng.
Kini giliran Nico yang terkejut. Tapi sekuat tenaga Nico berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Dalam hati Nico merasa kecewa, saat tahu bahwa Nana-nya bisa sejujur itu pada orang lain... selain dirinya.
Saat tahu bahwa ia sudah berhasil mengalahkan Nico, Rakha tersenyum lembut kemudian mengalihkan perhatiannya pada Aira yang berdiri di belakang bahu Nico. Dengan sayang Rakha mengusap puncak kepalanya, lalu berkata, "nanti aku telepon, ya, Ra?"
Seperti orang yang sedang terhipnotis, Aira hanya mengangguk.
Kali ini Rakha mengalihkan perhatiannya pada Yumi yang baru saja hengkang. Rakha pun mengejar langkah Yumi lalu merangkulnya dengan santai, "Yum, ayo pulang bareng."
...****...
"Aira sudah ngomong ke gue soal kepindahan dia ke rumah elo."
Ucapan Rakha itu terus menghantui fikiran Nico tanpa henti. Dan selama dalam perjalanan, tidak terjadi obrolan antara dirinya dan Aira. Nico fokus menyetir sambil terus mengingat perkataan Rakha, sementara Aira sendiri yang mulai merasa jenuh karena tidak diacuhkan oleh Nico, hanya bisa menatap sesekali pada pemuda itu, lalu mendesah pelan, teramat pelan.
Menit-menit yang membosankan akhirnya terlewati saat akhirnya mereka tiba di rumah. Tanpa mengatakan apapun pada Nico, Aira keluar dari mobil terlebih dulu lalu memasuki rumah. Setibanya di dalam, ternyata sudah ada Regina yang terlihat fokus mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Tante, Om belum pulang?" Aira duduk di sisi Regina.
Regina pun menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menoleh pada Aira, "eh, Na? Udah pulang?" Aira hanya mengangguk sebagai jawaban. "Om sibuk, Na. Belum punya waktu yang pas untuk pulang. Ini aja Tante harus susul Om ke Singapura minggu depan."
Saat Regina melihat sosok Nico lalu berjalan dengan cueknya menaiki anak tangga, Regina semakin mendekat pada Aira lantas membisikkan sesuatu, "titip Nico, ya? Kalau dia bertingkah aneh lagi, segera hubungi Tante."
Aira terkekeh geli mendengar permintaan Regina. Beberapa saat kemudian Aira menunjukkan kedua jempolnya seraya berkata, "siiip!"
Setelah cukup lama mengobrol dengan Regina, Aira pun naik ke lantai atas. Namun, saat akan memasuki kamarnya, perhatian Aira tahu-tahu tertuju pada sosok Nico yang saat itu sedang duduk menyendiri di balkon. Tanpa perlu bertanya, Aira sudah tahu bahwa saat itu Nico pasti sedang memikirkan Papanya.
Aira yang tidak ingin mengganggu Nico, memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Lebih dari siapapun Aira tahu, bahwa untuk saat ini Nico sedang butuh waktu untuk sendiri.
Sekitar dua jam kemudian, Aira kembali keluar dari kamarnya. Namum di balkon sana, ia masih dapat melihat sosok Nico yang tidak sedikitpun berpindah dari posisinya.
Aira menghela nafas dalam-dalam, setelah cukup lama menimbang, ia pun memilih untuk menghampiri Nico.
Ragu-ragu Aira duduk di sebelah Nico, namun bukannya penolakan yang didapatinya, Nico justru menoleh padanya dengan pandangan sendu.
"Nic, ka—kamu baik-baik aja, kan?"
"Na?"
"Iya?"
Sebelum menjawab, Nico terdengar mendesah penuh pertimbangan dan keraguan, "apa kamu inget sama 'Nico'? Bisa tolong ceritakan dia dulu gimana? Seinget kamu aja, Ra. Kalo nggak inget apapun juga nggak apa-apa, kamu—"
"Aku dulunya nggak begitu akrab sama Nico. Dia suka ngejahilin aku dan bikin aku nangis. Sampai suatu hari, satu kelas ngeledekin aku gara-gara Nico. Aku lupa masalahnya apa, tapi waktu itu Nico bener-bener bikin aku sedih sampai nggak mau masuk sekolah selama berhari-hari. Tapi, entah karena perasaan bersalah, atau disuruh Mamanya, Nico dateng ke rumah aku setiap hari untuk meminta maaf. Dia dateng bawa cokelat, permen, komik, boneka bahkan bunga. Tapi aku nggak mau ngasih maaf ke Nico sampai akhirnya..." suara Aira mulai terdengar berat, "kecelakaan pesawat itu terjadi. Dulu, karena masih sangat kecil aku belum mengerti apapun, tapi sekarang, saat sudah tumbuh dewasa, aku... mulai paham apa itu sesal."
Nico tidak tahu harus mengatakan apa pada Aira. Untuk pertama kalinya Nico tahu bahwa Aira ternyata masih menyimpan kepahitan tersendiri untuk 'Nico'.
Mau tidak mau Nico akhirnya berfikir bahwa apabila kecelakaan yang menewaskan nyawa 'Nico' itu tidak pernah terjadi, tentu 'Nico'lah yang saat ini akan bersama Aira. 'Nico' yang tidak menyimpan kesakitan apapun terhadap Aira, 'Nico' yang tidak sedikitpun memberikan luka pada Aira, dan 'Nico' yang tidak perlu merenggut kebahagiaan apapun dari Aira. Seandainya 'Nico' masih ada, tentu Aira tidak perlu kehilangan kedua orang tuanya karena harus menggantikan posisi Nico.
Seharusnya... Alvin tidak pernah menjadi Nico sejak awal.
Karena situasi di antara mereka menjadi hening, sementara Aira belum mau meninggalkan Nico sendiri, Aira pun meraih gitar di sebelah sofa yang mereka duduki, lalu mulai memainkan satu lagu yang dulu pernah Nico perdengarkan untuknya.
Ya, Aira menyanyikan lagu itu untuk Nico, seperti sedang menggambarkan isi hatinya pada keadaan yang sedang Nico rasakan sekarang.
"And when you need a shoulder to cry on
When you need a friend to rely on
When the whole world is gone
You won't be alone, cause I'll be there
I'll be your shoulder to cry on
I'll be there...
I'll be a friend to rely on
When the whole world is gone
You won't be alone, cause I'll be there"
^^^(Tommy Page, A Shoulder To Cry On)^^^
Setelah Aira menyelesaikan lagunya, Nico yang sejak tadi hanya terdiam mengambil gitar itu dengan gerakan lembut dari Aira. Nico kemudian meletakkan gitar itu di atas meja seolah menghilangkan penghalang antara dirinya dengan Aira. Sedetik berikutnya, Nico langsung menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan gadis itu.
Nico tahu bahwa semua ini akan segera berakhir. Untuk itu, setidaknya untuk sekali ini saja Nico ingin memeluk Aira dan menyandarkan semua kerapuhannya untuk sebentar saja. Untuk sebentar saja... Nico ingin bernafas dengan nyaman tanpa memikirkan apapun.
^^^To be Continued...^^^