We, From The First

We, From The First
#34. Dipatahkan



"Tidak ada jalan pintas untuk sebuah kebahagiaan. Bahkan drama penuh romansa pun tidak akan bisa terhindar dari air mata dan luka. Segalanya harus melewati fase luruh agar menjadi utuh."


...****...


Saat sedang mengendarai motornya, Rakha buru-buru menepi begitu melihat sosok Aira yang sedang berjalan sendiri di terotoar. Rakha kemudian melambatkan kecepatannya hingga bisa sejajar dengan langkah Aira yang sedang berjalan gontai, seakan tidak memiliki tujuan. Hari ini masih sama seperti hari sebelumnya, ia ingin menghindari Nico.


"Ra, ayo naik!" Pinta Rakha dengan serius.


Aira menoleh ke samping, alih-alih mengikuti perkataan Rakha, Aira tetap melangkah.


"Aira! Kamu harus naik!" Ulang Rakha dengan lebih tegas.


Saat Aira tidak juga mau mendengarnya, dan menganggap seakan Rakha tidak terlihat, Rakha pun mulai jengah. Ia mematikan motornya untuk sesaat sebelum akhirnya mengangkat paksa tubuh Aira, menaikkannya ke atas motor, kemudian memasangkan helm di kepalanya. Aira yang awalnya memberontak, toh akhirnya tidak bisa melakukan apapun saat Rakha membawanya pergi entah kemana dengan motornya.


Setelah berkendara selama hampir duapuluh menit, tibalah mereka di B-Cafe. Sembari menarik pergelangan tangan Aira, Rakha membawanya naik ke lantai dua dan berpapasan dengan Rio.


"Ra, elo di sini? Nico nyariin lo dari tadi." Kata Rio sambil menatap heran pada kedua orang itu.


"Jangan ngomong apa-apa ke Nico. Jangan bilang kami datang ke sini!" Ujar Rakha sambil terus berjalan tanpa melihat Rio.


Rakha pun membawa Aira masuk ke dalam sebuah bioskop mini yang memang Rio fungsikan sebagai tempat khusus untuk dirinya, Rakha, Nico, dan Natta. Begitu tiba di sana, Rakha langsung mendudukkan Aira di sofa kemudian duduk berjongkok di bawahnya. Tidak hanya berusaha menghindar dari Nico selama beberapa hari ini, tetapi Aira juga terus menghindari Rakha.


"Aira, kamu dengerin aku, ya? Apa yang terjadi sekarang bukan salah kamu. Jadi, kamu nggak perlu lagi bersikap seakan-akan kamu adalah pelaku kejahatan."


Aira masih enggan berbicara. Tapi perkataan Rakha justru membuatnya menangis tanpa aba-aba. Perlahan-lahan, tangisnya mulai terdengar.


"Gimana bisa ini bukan salah aku? Aku udah bikin Nico kena masalah. Semua orang ngomong yang nggak-nggak soal Nico gara-gara aku, hiks..." Ujar Aira sambil terisak sedih.


Rakha yang mulai kehabisan akal, akhirnya menggunakan cara Aira padanya untuk menenangkan Aira. Rakha mengangkat tangan kanannya, lalu menutup kedua mata Aira.


"Ada yang bilang sama aku, kalau cara ini bisa menenangkan walaupun cuma sementara."


Melihat Aira yang terus-terusan menangis karena lebih mengkhawatirkan Nico, membuat Rakha merasa begitu nelangsa. Ternyata sesakit ini rasanya melihat gadis yang dia sukai dengan teramat sangat, justru menangisi orang lain di depan wajahnya sendiri.


'Seandainya bisa, aku berharap kamu mau memindahkan seperempat perasaan kamu terhadap Nico buat aku, Ra. Hingga kamu nggak perlu sesakit ini.' Lirih Rakha dalam hati seraya berusaha meredam pedih yang menghujam jantungnya.


...****...


Setelah menunggu Aira selama berjam-jam lamanya, Nico akhirnya melihat sosok Aira yang muncul dari balik pintu. Saat itu, Nico menunggu kedatangan Aira dengan kadar kecemasan yang lebih kuat dari sebelumnya. Ia bahkan bolos bimbel hari ini hanya semata-mata supaya ia dapat bertemu dengan Aira yang menghilang hampir seharian.


Aira terlihat lesu setelah kembali. Kedua matanya bahkan sembab.


"Ra, kamu kemana aja seharian ini? Aku nyariin kamu dari tadi." Tegur Nico seraya melangkah mendekati Aira.


Aira lalu menatap Nico. Fokusnya langsung tertuju pada luka lebam di wajah Nico. Untungnya kedua orang tua Nico saat ini sedang tidak ada di rumah. Jadi, mereka tidak akan khawatir melihat keadaan Nico sekarang, juga keadaannya sendiri.


"Luka kamu gimana? Apa sudah baikan?" Tanya Aira.


Nico mendesah. Kenapa gadis ini masih saja mengkhawatirkannya ketika ia sendiri sedang dalam masalah? Dia bahkan menghilang seharian ini, dan satu-satunya yang dia cemaskan begitu kembali adalah luka Nico? Fakta itu membuat Nico merasa sangat marah.


"Ra, ini nggak penting sekarang!"


"Bagaimana bisa ini nggak penting? Kamu luka, Nico!" Balas Aira dengan emosi memuncak.


"Kamu ngehindar dari aku selama dua hari, dan nggak mau bicara sama aku selama di sekolah. Itu permasalahannya. Dan setiap kali ada masalah, kamu selalu seperti ini. Ini udah dua kali, Ra! Dan ini lebih parah. Hari ini kamu bahkan menghilang seharian."


"Apa kita masih harus bicara di sekolah setelah semua masalah ini? Setelah aku menempatkan kamu dalam masalah, apa masih perlu kita terlihat bersama di sekolah?"


"Ini bukan salah kamu, Ra. Itulah kenapa aku harus lurusin semuanya ke kamu. Aku tahu kamu pasti bakalan menyalahkan diri sendiri seperti ini pada akhirnya."


Hening untuk beberapa lama. Bagaimana bisa semua orang mengatakan bahwa ini bukan kesalahan Aira ketika Aira merasa bahwa segala hal yang terjadi benar-benar kesalahannya? Jelas-jelas kesalahannya.


Saat ini, kepala Aira benar-benar buntu. Ia tidak dapat berfikir dengan jernih barang sedetikpun. Ia takut, jika pembicaraan antara dirinya dengan Nico terus berlanjut, ia akan lepas kendali. Dan Aira tidak ingin itu terjadi.


Aira menghembuskan nafasnya pelan lalu menatap Nico. Ia benar-benar harus menghentikan ini sebelum mereka sama-sama meledak.


"Aku ke kamar dulu." Putus Aira kemudian.


Ia pun melangkah dan menaiki anak tangga tanpa tenaga. Sementara Nico, ia memilih untuk tidak mencegah Aira. Mungkin inilah yang Aira butuhkan saat ini. Dan untuk sementara waktu juga, Nico tidak ingin mengusiknya dulu. Ia akan memberikan waktu untuk Aira agar bisa menenangkan diri, sampai benar-benar tenang.


...****...


Nico sedang mencari buku cetak fisika di salah satu rak di perpustakaan saat tiba-tiba kedua matanya menangkap sosok Aira yang sedang berbicara dengan Nana. Meski dari sela-sela buku, Nico dapat melihat wajah Aira. Selain itu, Nico juga dapat mendengarkan obrolan kedua gadis itu dengan cukup jelas dari posisinya sekarang.


"Kamu pasti sangat menyukai Nico, Ra. Sampai-sampai kamu lebih mengkhawatirkan dia daripada diri kamu sendiri. Iya, kan?"


"Jawab pertanyaan aku. Kamu suka Nico, kan?"


Tanpa sadar, Nico memasang pendengarannya sebaik mungkin kali ini. Dan reaksi di wajah Aira entah kenapa membuat Nico kecewa.


Aira lalu menggeleng, dan menjawab, "nggak, Na. Aku nggak suka Nico."


Dalam hitungan detik, Nico merasakan seperti ada sebuah benda berduri yang baru saja menghantam jantungnya tanpa ampun. Kekecewaannya genap sudah. Segalanya mendadak senyap dan pengap. Indra pendengar Nico bahkan sudah tidak lagi mampu menjalankan tugasnya dengan baik.


Lalu dengan perasaan hancur, Nico meninggalkan tempat itu diam-diam sebelum menemukan buku yang ia cari.


Nico telah patah.


...****...


Saat Aira sedang menyendiri di salah satu sudut perpustakaan, Nana secara tiba-tiba datang dan berdiri di hadapannya yang sedang membaca sebuah buku. Aira lantas mengalihkan perhatiannya dari buku yang ia baca, lalu menatap Nana.


Nana tersenyum begitu lembut. Dan entah sihir apa yang Nana miliki, senyumannya selalu bisa membuat hati siapa saja merasa tenang begitu melihatnya.


Sebenarnya selama beberapa hari ini, Nana selalu mengamati Nico dan Aira. Ia mulai menyadari bahwa Aira sedang berusaha keras menghindari Nico. Dan Nico yang tidak memiliki pilihan lain selain menerima, hanya bisa pasrah.


Nana dapat menangkap semua keresahan yang sedang melanda Nico saat ini. Dan begitu melihat Aira yang sedang sendiri, Nana berfikir bahwa inilah saatnya untuk menanyakan sesuatu perihal Nico pada Aira.


"Hay, Aira! Kok sendiri?" Tanya Nana begitu Aira mengangkat wajahnya.


"Emmm... begitulah." Jawab Aira sekenanya.


"Nggak ganggu kalau aku di sini juga?"


"Nggak kok, Na."


Nana lalu menghadap ke rak buku, berpura-pura memilah, lalu mengambil salah satu buku secara acak, dan membalik-baliknya.


"Aku minta maaf sebelumnya, aku tahu hubungan kita nggak begitu dekat sampai aku harus membicarakan ini. Tapi selama beberapa hari ini, aku terus menangkap semua keresahan Nico. Fokusnya berantakan sekali. Padahal sebelumnya, Nico nggak pernah kehilangan fokus."


"Lalu?"


"Tolong jangan jauhi Nico lagi, ya?"


Aira menunduk setelah mendengar kalimat terakhir yang Nana lemparkan. Tidak lama, ia kembali menatap kedua mata Nana. Seperti sebelumnya, hari ini pun mata Aira terlihat sendu.


"Aku nggak ngejauhin Nico karena aku benci sama dia, Na. Aku cuma nggak mau Nico kena masalah setiap kali dia deket sama aku. Kamu tahu, kan? Nico orang yang sangat baik. Dia nggak layak diperlakukan seperti ini."


"Kamu khawatir sama Nico?"


Aira mengangguk sebagai jawaban 'iya'.


"Kamu pasti sangat menyukai Nico, Ra. Sampai-sampai kamu lebih mengkhawatirkan dia daripada diri kamu sendiri. Iya, kan?"


Kedua mata Aira terbelalak. Pernyataan Nana barusan begitu yakin dan sangat kuat. Ia bahkan menyampaikannya dengan begitu tenang. Seakan-akan dia tahu segala yang Aira tidak ketahui.


"Jawab pertanyaan aku. Kamu suka Nico, kan?"


Di dalam sana, jantung Aira berdegub dengan begitu kencang. Pernyataan dan pertanyaan Nana berhasil memporak-porandakan pertahanannya. Aira menggenggam kedua tangannya erat-erat. Dengan payah, ia berusaha untuk tenang agar otaknya segera bekerja dan memberikan jawaban untuk Nana.


Aira lalu menggeleng, dan menjawab, "nggak, Na. Aku nggak suka Nico."


"Ra?"


"Mana boleh aku suka sama Nico setelah aku menyebabkan masalah untuk dia? Dia selama ini menjalankan hidupnya dengan baik. Tapi semenjak aku kembali, semuanya jadi kacau. Ketika kedua orang tuanya memberikan aku tempat tinggal dan ngasih kehidupan yang layak, mana boleh aku menyukai Nico? Itu adalah tindakan paling tidak tahu terima kasih, Na."


Nana tersenyum kecil. Sorot matanya menunjukan kelegaan hatinya. Bukan karena Aira mengatakan bahwa ia tidak menyukai Nico, tetapi karena Nana akhirnya berhasil menemukan perasaan yang begitu tulus meluap dari Aira untuk Nico.


Nana sudah tahu apa jawabannya.


"Ternyata kamu sangat menyukai Nico, Ra."


^^^To Be Continued...^^^