We, From The First

We, From The First
EPILOG: Pilihan Terakhir



Agustus, 2019...


Nico menghela nafas panjang sebelum akhirnya membuka pintu di depannya, dan masuk ke dalam ruang tunggu pengantin wanita. Begitu Nico sudah membuka pintu, tampak di dalam sana ada Aira yang sedang menunggu kedatangannya, dan langsung menyambutnya dengan senyuman cerah di wajahnya.


Hari itu, Aira terlihat sangat cantik dan bersinar dalam balutan gaun pengantin dengan desain yang cukup simple. Nico turut tersenyum, namun tidak secerah Aira.


"Alvin?" Panggil Aira pelan.


Ya, sejak dua tahun yang lalu, tepatnya sebelum Nico berangkat ke Amerika, dia sudah secara resmi menggunakan nama Alvin kembali.


"Kamu... terlihat sangat cantik hari ini." Puji Alvin dengan tulus.


"Terima kasih."


Setelah itu, tidak terjadi obrolan lagi di antara mereka sampai akhirnya Aira meletakkan buket bunga di tangannya, lantas berdiri sejajar dengan Alvin dan secara mengejutkan merapikan dasi Alvin.


"Hari ini, kamu datang dari pihak pengantin wanita. Tolong jangan malu-maluin aku." Omel Aira yang langsung membuat Alvin mendenguskan tawanya.


Tidak berselang lama, Adryan dan Regina juga masuk ke dalam ruang tunggu. Adryan pun dengan sigap mengambil posisi di samping Aira sambil menjulurkan lengannya untuk Aira. Hari ini, Adryan lah yang akan membawa Aira menuju altar dan menyerahkannya pada Sang Pengantin Pria... Rakha.


"Ayo, Na. Ini sudah waktunya." Ujar Adryan.


Aira pun tersenyum sebelum akhirnya mengamit lengan Adryan, dan berkata, "ayo, Pa..."


Tepat sebelum Aira dan Adryan akan melangkah keluar pintu dengan diiringi oleh Regina di belakangnya, Alvin tiba-tiba saja melangkah cepat, lalu menyerahkan buket bunga milik Aira yang tertinggal di sofa.


"Kamu pasti sangat gugup sampai melupakan ini."


...****...


Setelah Rakha dan Aira mengucapkan janji pernikahan mereka, kedua mata Aira secara otomatis mencari keberadaan Alvin yang ketika itu tidak menampakkan diri di deretan kursi untuk keluarga.


Dan Alvin yang sejak tadi berdiri di salah satu pilar dengan posisi yang cukup jauh dari Aira dan Rakha, langsung melambaikan tangannya begitu sadar bahwa wanita itu sedang mencarinya. Saat akhirnya mata mereka saling menatap satu dengan yang lainnya, Alvin pun tersenyum penuh keikhlasan dengan sebuah anggukan pelan pertanda bahwa hatinya sudah benar-benar ikhlas melarung Aira pergi bersama pilihan terakhirnya.


Secara perlahan Alvin terpukul mundur. Satu per satu memori yang telah ia lewati bersama Aira sejak mereka masih kecil, hingga akhirnya memutuskan untuk saling melepaskan dan merelakan, berpendar dalam kepalanya dan semakin membuat sesak dadanya. Alvin lantas berbalik, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan berjatuhan mengiringi kepedihan hatinya.


"Aku tidak menyesal... Aku tidak akan menyesal. Ini jalan terbaik untuk Nana..." Lirih Alvin.


...****...


April, 2009...


Setelah berhasil membawa Rakha pergi jauh dari pertengkaran kedua orang tuanya, Aira pun melepaskan tangan Rakha. Saat itu, mereka berdua sudah berada di taman depan gelanggang olahraga tempat di mana tournament basket diselenggarakan.


Tanpa menghiraukan Aira sama sekali, Rakha jatuh terduduk di hadapan gadis itu. Ia lantas menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya dan menangis pelan. Sementara Aira, ia lebih memilih untuk tidak mengatakan apapun dan memutuskan untuk duduk di samping Rakha. Setidaknya sampai tangis Rakha reda, Aira ingin menemaninya.


Menit demi beralu sampai akhirnya tangis Rakha mereda. Ia pun menoleh dan menatap Aira di sampingnya dengan sisa-sisa air mata di wajahnya.


"A─apa kamu, melihat kejadian tadi?" Rakha bertanya dengan lirih.


"Kalau kejadian tadi adalah sesuatu yang nggak boleh aku liat, maka anggep aja kalau aku nggak liat apapun."


Rakha tersenyum setelahnya. Di saat itu juga, Aira tersenyum lebih lebar lagi ketika akhirnya melihat anak laki-laki di depannya ini tersenyum.


"Hey, 88! Saat kita sudah dewasa nanti kamu harus menikah sama aku!" Ucap Rakha tiba-tiba.


Tentu saja Rakha tahu bahwa saat itu Aira akan langsung berfikir bahwa dia gila. Lagi pula, orang normal mana yang meminta seorang gadis menikah dengannya ketika mereka baru bertemu pertama kali?


Anak laki-laki ini bahkan tidak tahu nama Aira, tapi sudah mengharuskan Aira untuk menikahinya saat nanti mereka sudah dewasa.


Aira yang merasa bahwa Rakha tidak serius dengan perkataannya, dan yakin bahwa mereka tidak akan pernah lagi bertemu setelah ini, langsung menghela nafas, dan menjawab... "oke, kita akan menikah saat kita dewasa nanti."


"Sekarang lihat, siapa yang lebih gila di antara kita berdua?" Fikir Aira seraya menyunggingkan sebuah senyum meremehkan di bibirnya.


...----------------...