We, From The First

We, From The First
#20. Natta's Confession



Setelah menyelesaikan permainan, Nico, Rakha, Rio, dan Natta langsung berbaring dengan posisi berderet di pinggir lapangan. Nico yang sedang memejamkan matanya sambil menutupi wajahnya dengan lengan, sementara Rakha dan Rio terlihat tertawa bersama setelah Rio menceritakan sesuatu. Dan Natta yang berada di tengah-tengah mereka terlihat tampak gusar.


Hari ini, Natta memang sengaja mengajak sahabat-sahabatnya untuk bermain basket. Hal itu sebenarnya hanya alasan untuk bisa mengumpulkan semua sahabat-sahabatnya. Semalaman ia tidak tidur karena mempertimbangkan apakah perlu memberitahukan pada sahabat-sahabatnya tentang masalah yang sedang ia hadapi sekarang, atau ia harus menahan sedikit lebih lama lagi. Natta lalu menghela nafas pelan. Ia bangkit lalu duduk di antara sahabat-sahabatnya yang masih berbaring. Natta menatap wajah mereka satu-satu.


Nico yang tidak sepenuhnya memejamkan mata, rupanya menangkap kegusaran Natta sejak tadi. Nico pun memegang salah satu pundak Natta, lalu ikut duduk.


"Ada apa, Nat?"


Natta tidak menjawab. Ia hanya diam dengan pandangan kosong ke depan. Dan kini, Rakha dan Rio pun mengubah posisinya menjadi duduk seperti yang dilakukan oleh Nico dan Natta. Rio yang menjadi satu-satunya yang tahu situasi Natta sekarang, tetap tidak bisa mengatakan apapun, sebelum Natta yang berbicara.


"Papa gue... ternyata selingkuh sama Melanie Claudya" Ujar Natta dengan pelan, namun jelas terdengar lirih.


Nico dan Rakha terkejut setelah mendengar pengakuan Natta. Sementara Rio, hanya diam dan menyimak. Melanie Claudya sendiri adalah seorang Aktris Film papan atas yang sudah berkecimpung selama 20 tahun di dunia perfilman. Meski usianya sudah hampir menginjak 40 tahun, ia masih terlihat sangat cantik, dan memiliki tubuh yang indah.


Sementara Papa Natta adalah seorang Direktur di salah satu Bank terbesar dan paling berpengaruh di Kota Harsa. Papanya cukup terkenal dan memiliki reputasi yang sangat baik. Tapi meski Papanya memiliki nama dan reputasi yang baik, tidak pernah sekalipun Natta sesumbar dengan hal itu.


"Nat?" Rakha terdengar bersuara.


Tidak ada satupun kalimat yang bisa Rakha ucapkan sekarang, begitu juga dengan Nico. Ini terlalu mendadak dan tentu saja sangat mengejutkan.


"Kejadiannya tepat enam bulan yang lalu saat Mama gue tahu soal perselingkuhan itu, dan sebentar lagi –" Natta memotong ucapannya, dan kembali mengambil nafas. Kuota udara di sekitarnya seakan menipis, dan ia mulai kesulitan mengambil nafas. Dengan susah payah, ia berusaha melanjutkan, "semua media akan memberitakannya."


Dalam situasi yang menyesakkan ini, satu-satunya hal yang bisa membuat Nico, Rio dan Rakha bisa sedikit bernafas lega adalah, tidak ada satupun yang tahu siapa kedua orang tua Natta. Sejak awal, Natta menyembunyikan identitas orang tua nya. Tidak ada yang tahu kecuali ketiga sahabatnya dan juga... Sheryl. Itulah kenapa, Natta bingung bagaimana harus menyampaikan hal ini pada Sheryl. Ia takut membuat Sheryl kecewa dan merasa malu. Bagi Natta yang benar-benar buntu saat itu, mengakhiri hubungannya dengan Sheryl adalah pilihan yang tepat baginya.


Sejak kecil, kedua orang tua nya telah mendidiknya untuk tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati dan mandiri. Di mata Natta, Papanya adalah Ayah terhebat di seluruh dunia. Itulah yang menyebabkan Natta menjadi sangat terluka dan terpuruk setelah mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.


Begitu mengetahui tentang perselingkuhan Papanya, Ibunya langsung membawa Natta keluar dari rumah dan tinggal di sebuah apartemen kecil untuk sementara waktu. Mereka hidup serba pas-pasan. Dan selama enam bulan ini, Natta melakukan segala hal untuk bertahan pada situasi yang sulit ini. Ia melakukan beberapa pekerjaan paruh waktu untuk bisa membantu mengurangi beban Mamanya, dan untuk bisa memenuhi beberapa kebutuhannya sendiri.


Natta melipat kedua tangannya di atas lutut, dan menenggelamkan wajahnya di sana. Beberapa saat kemudian, kedua pundaknya terlihat bergetar. Sekuat tenaga ia berusaha menahan diri agar tidak menangis.


...****...


5 Bulan Yang Lalu...


Ketika Sheryl keluar dari gedung tempat ia Bimbel, Natta langsung menyambutnya sambil melambaikan tangan. Pemuda berkulit gelap itu, tampak sangat manis dengan senyumannya.


Sheryl pun berlari menghampiri Natta, lalu menggandeng lengannya.


"Kamu kok nggak bilang bakalan jemput? Aku udah selesai dari tadi."


"Kan kejutan." Jawab Natta sekenanya.


"Dan kamu berhasil"


Sambil berjalan, Sheryl mulai mengoceh tanpa henti, menceritakan banyak hal pada Natta. Sementara Natta berusaha mendengarkan dengan baik, meskipun ia sedang kacau sekarang. Sheryl juga terdengar memberitahukan pada Natta, bahwa ia sudah menemukan sebuah tempat yang cukup bagus untuk kencan mereka hari minggu nanti. Dan di saat itulah, Natta tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Iel, Kenapa diem?" Tanya Sheryl heran.


Sheryl semakin heran, ketika Natta melepaskan tangannya dari gandengan Sheryl.


"Minggu ini, dan untuk minggu-minggu berikutnya... aku nggak bisa, Sher."


"Iel maksud kamu apa?"


Natta menunduk. Ia meraih tangan Sheryl lalu menggenggamnya cukup erat.


"Iel?" Panggil Sheryl seraya menunduk, berusaha melihat wajah Natta yang tampak sangat muram. "Kamu baik-baik aja, kan?" kali ini, Sheryl terdengar khawatir.


Natta memejamkan kedua matanya beberapa saat. Ia terdiam untuk bisa mengumpulkan keberaniannya. Ini hal terberat yang harus ia lakukan sekarang. Dan Natta tidak akan menunda lagi.


"Sher... kita... putus."


Ketika Natta akan melepaskan tangan Sheryl, Sheryl buru-buru menahannya. Air mata Sheryl sudah tertahan di pelupuk matanya.


"Kenapa tiba-tiba? Aku salah apa?"


Natta berusaha menegakan diri. Bagi Natta sekarang, ada hal lain yang lebih ingin ia prioritaskan. Situasi sekarang, tidak mengijinkannya untuk menjadikan hal lain sebagai prioritasnya.


Natta menarik paksa tangannya dari genggaman Sheryl. Dan setelah mengucapkan maaf, Natta pergi begitu saja, meninggalkan Sheryl sendiri.


"Iel berhenti!" pinta Sheryl dengan suara bergetar.


Natta tetap melangkah pergi.


"ARIEL NATTA PRATAMA! KEMBALI!"


Sheryl berteriak cukup keras hingga menjadikannya pusat perhatian orang-orang yang sedang berlalu lalang. Tapi Sheryl tidak peduli. Ia hanya ingin Natta kembali dan menjelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi keinginan itu tidak terpenuhi. Karena kini, Natta sudah menghilang dari jarak pandang Sheryl.


...****...


Seperti yang Natta katakan pada teman-temannya, hari ini berbagai media mulai memberitakan tentang perselingkuhan Papanya dengan seorang aktris papan atas. Papanya bahkan terancam dipecat dari jabatannya karena dianggap telah melakukan tindakan yang memalukan.


Seluruh tubuh Sheryl mendadak lemas setelah membaca artikel itu. Tangannya yang memegang ponsel bahkan sampai gemetaran. Sekarang ia mulai paham, kenapa tiba-tiba Natta memutuskan hubungan mereka 5 bulan yang lalu.


...****...


"Eh! Eh! Tahu nggak?" Ucap Marcell pada beberapa kawannya yang sedang berkumpul di bangku belakang.


"Gue dapat kabar, kalau anaknya Hadinata Pratama ternyata bersekolah di sini juga."


Natta dan Rakha yang duduk di deretan yang sama dengan mereka mendengar apa yang disampaikan Marcell pada teman-teman sekelasnya.


"Hadinata Pratama? Direktur Harsa Bank? Yang terlibat skandal sama Melanie Claudya?" Aldo terdengar menimpali yang langsung disambut dengan anggukan dari Marcell.


"Waah... siapapun anaknya, dia pasti sangat malu sekarang. Tapi kira-kira siapa, ya? Hahaha" Lanjut Danar dengan tertawa meledek di akhir kalimatnya.


"Tunggu-tunggu... Hadinata Pratama? Pratama? Jangan-jangan..." Ujar Aldo Si Anak Kepala Sekolah.


Kali ini, Aldo dan yang lainnya menoleh ke arah Natta. Begitu juga dengan Rakha yang mulai jengah mendengar teman-teman sekelasnya yang terus membahas soal skandal perselingkuhan Hadinata Pratama.


"Ariel Natta PRATAMA?" Ucap Aldo sambil menunjuk ke arah Natta dan memberikan penekanan pada kata PRATAMA.


Natta tidak menunjukkan reaksi apapun. Hanya tangannya yang terkepal meski wajahnya terlihat tenang.


Dan tanpa ada yang menduga, Rakha tiba-tiba bangkit dan mendaratkan sebuah tonjokan yang cukup kuat di wajah Aldo. Seisi kelas hening untuk beberapa saat. Mereka semua sama-sama terkejut dengan apa yang Rakha lakukan, begitu juga dengan Natta.


"Kha! Masalah lo apa?" Tanya Aldo sambil menyeka tepi bibirnya yang berdarah.


Aldo sebenarnya tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya pada Natta. Ia hanya bercanda saja. Itulah kenapa, ia merasa bingung dengan tindakan Rakha sekarang.


"Kalian seharusnya fokus belajar. Bukan malah bergosip sana sini kayak cewek! Atau kalian mau ganti celana pake rok? HAH?!" Seluruh emosi Rakha sekarang sudah melingkupi sebagian dirinya. Ia tidak lagi peduli pada apapun.


"Kenapa lo yang marah? Oooh, apa jangan-jangan lo anaknya Hadinata Pratama?"


Ucapan Aldo itu kini membuat amarah Rakha jadi tidak terkontrol lagi, dan dengan membabi buta, Rakha kembali mendaratkan pukulan demi pukulan di tubuh Aldo. Aldo pun membalas.


Insiden baku hantam antara Rakha dan Aldo sudah tidak bisa dihindari lagi.


"RAKHA! ALDO! STOP"


Natta masuk ke dalam kerumunan dan berusaha melerai mereka berdua. Dan yang lainnya pun segera membantu Natta untuk memisahkan Rakha dan Aldo.


Di tengah situasi yang kacau itu, Aira memasuki kelas. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Rakha dan Aldo sama-sama sudah babak belur. Situasi di kelas semakin panik. Saat Rakha akan kembali mendaratkan pukulan di wajah Aldo, Aira yang tahu-tahu memiliki keberanian entah dari mana, langsung menahan lengan Rakha dengan menggandengnya untuk menghentikannya.


"Kha, udah, Kha! Kamu berdarah" Pinta Aira dengan nada memohon.


Tidak lama setelah itu, dua orang guru BK memasuki kelas, dan membuat perekelahian itu akhirnya benar-benar berakhir. Aira pun melepaskan Rakha, lalu menatapnya dengan khawatir.


"Rakha! Aldo! Ikut kami ke ruang BK! Sekarang!!"


Rakha menggaruk kepala bagian belakangnya. Sebelum keluar dari kelas mengikuti Aldo yang sudah lebih dulu mengikuti Guru BK berjalan keluar, Rakha mengalihkan perhatiannya pada Aira yang masih terlihat panik dan cemas. Namun Rakha berlalu dari hadapan Aira begitu saja tanpa mengatakan apapun.


Saat situasi kelas kembali tenang, Natta mulai menyadari keberadaan Sheryl yang sejak tadi sudah berdiri di depan pintu dan menyaksikan semua yang terjadi. Dari kedua mata Sheryl, tampak jelas bahwa ia sedang beruaha menahan air matanya.


Natta menghela nafas sambil menundukkan wajahnya. Kali ini ia tidak bisa mengelak lagi. Sheryl juga pasti sudah mengetahui semuanya. Apalagi Sheryl adalah salah satu orang yang tahu bahwa Hadinata Pratama adalah Ayah Natta.


Sheryl yang tampak kecewa, langsung berbalik dan meninggalkan kelas Natta dengan langkah cepat.


"Sheryl tunggu!" Ucap Natta sedikit keras. Ia lalu melangkah keluar mengejar Sheryl.


"Sher, tunggu! Kita harus ngomong." Natta kali ini meraih tangan Sheryl untuk menahannya.


Sheryl terlihat berusaha keras menahan agar air matanya tidak jatuh. Ia lantas menatap Natta dengan pandangan berkaca dan berkata, "setelah lima bulan, ini pertama kalinya kamu bilang mau ngomong sama aku? Selama ini kemana aja, Natta?" Sheryl bertanya dengan nada pelan. Tapi amarah dan rasa kecewanya tidak bisa ia sembunyikan.


Ia marah bukan karena merasa kecewa dengan skandal perselingkuhan Ayah Natta. Tapi ia merasa kecewa karena Natta tidak mau jujur padanya dan malah memutuskan hubungan mereka tanpa memberitahu apa alasannya.


"Apa sekali aja, kamu bahkan pernah sayang sama aku? Atau cuma aku sendiri yang sayang sama kamu selama ini?"


"Sheryl aku mohon..."


"Apa pernah sekali aja kamu percaya sama aku, Nat? Kenapa kamu selalu menyimpan semua masalah sendiri, dan lebih suka menderita sendirian?"


Genggaman Natta pada tangan Sheryl kini mulai melonggar. Natta hanya menunduk. Ia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk menatap mata Sheryl.


"Kamu sudah sangat nyakitin aku, Nat. Untuk sekarang aku mau sendiri. Dan tolong, jangan temui aku dulu, atau berbicara sama aku."


Sheryl melepaskan tangannya dari genggaman Natta, lalu melangkah pergi meninggalkan Natta sendirian. Posisinya kini berbalik.


'Maafin aku, Sher.' Bathin Natta sambil meratapi pundak Sheryl yang semakin lama, semakin menghilang dari pandanganya.


^^^To Be Continued...^^^