
Waktu sudah menunjukan pukul 05:30 pagi saat Aira terbangun dari tidurnya. Tapi ada yang aneh. Saat ini ia tidak sedang berada di kamarnya. Ini bukan kasurnya, bukan bantalnya, juga bukan selimutnya. Lalu ketika nyawanya yang berserakan sudah terkumpul kembali, Aira tersentak lalu bangkit. Ia sekarang sudah sadar, bahwa semalaman ia tidur di kamar Nico.
Aira lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Tapi ia tidak menemukan sosok Nico. Tidak lama setelah itu, Nico tiba-tiba saja membuka pintu, dan masuk dengan santainya.
"Kamu udah bangun? Ayo buruan siep-siep. Kita jogging." Ucap Nico seraya membuka lemarinya dan berusaha menemukan sebuah jaket.
Aira sedikit bingung, baru semalam Nico terlihat sangat ketakutan. Namun saat ini, ia tampak biasa saja, seakan tidak pernah terjadi apapun. Tetapi Aira tidak berniat untuk bertanya apapun pada Nico. Ia tidak ingin membuat mood Nico rusak pagi ini.
"Kamu yang mindahin aku ke kasur? Kamu terus tidur dimana?"
"Tidur di kamar Mama. Ayo cepat siap-siap. Lagipula –" Nico menggantungkan kalimatnya. Setelah menemukan jaket yang ia cari, ia berbalik dan memindai seluruh tubuh Aira dengan kedua matanya, "kamu harus berolahraga lebih giat lagi. Kamu berat sekali." Lanjut Nico dengan tenang.
Nico lantas tersenyum miring, dan berlalu meninggalkan Aira yang masih bengong di tempatnya.
"Hei! Apa baru saja kamu mau bilang kalau aku gendut? NICO!!"
Tidak ada jawaban dari Nico. Karena kini ia sudah menghilang di balik pintu.
Setelah menyelesaikan aktifitas olahraga pagi mereka, Nico dan Aira duduk di sebuah bangku panjang yang terdapat di sebuah taman, sambil masing-masing menyantap sebuah roti dan susu.
Saat sedang menikmati sarapan pagi mereka, pandangan Nico agak terganggu saat melihat bibir Aira yang sedikit belepotan karena susu yang baru saja ia minum. Nico lalu secara natural mengusap bibir Aira dengan ibu jarinya.
"Kamu umur berapa sih? Masih aja suka belepotan."
Namun Aira tidak menanggapinya, juga tidak menunjukkan reaksi apapun. Ia tetap fokus dengan makananya, Nico lalu mendesah sambil mengacak pelan poni Aira.
...****...
"Eh, udah tahu belum?" Ucap Bia yang tiba-tiba saja muncul dan bergabung bersama Aira, Yumi, dan Sheryl yang saat itu tengah berkumpul di kelas Sheryl.
"Apa?" Tanya Yumi yang merasa tidak begitu tertarik. Begitu juga dengan Aira dan Sheryl.
Bia lebih mendekat dengan sahabat-sahabatnya. Lalu dengan nada berbisik, ia berkata, "Nico sama Nana putus."
"Hah?" Yumi yang tadi terlihat tidak begitu tertarik, sekarang mulai merasa kalau ini cukup menarik.
Bagaimana bisa, couple yang terkenal sweet dan paling adem-ayem itu bisa tiba-tiba putus?
Aira yang mendengar apa yang baru saja Bia katakan juga merasa sangat terkejut. Nico bahkan tidak pernah mengatakan apapun padanya. Lalu sekarang secara mendadak, ia tahu-tahu mendengar kabar kalau Nico dan Nana sudah putus. Dan kenapa?
"Kok bisa?" Kata Yumi yang cukup merasa penasaran. Pertanyaan Yumi barusan, seakan mewakilkan isi kepala Aira.
Sebelum Bia sempat menjawab, Sheryl tiba-tiba mendahuluinya, "ya begitulah hubungan antara cewek dan cowok. Sulit dimengerti. Dan nggak usah dikepoin juga. Bukan urusan kita."
Begitu melihat Nana yang memasuki kelas, Aira segera mohon diri pada sahabat-sahabatnya dan menghampiri Nana yang saat itu baru saja menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.
"Na, boleh ngomong bentar?" Tanyanya ragu-ragu.
Nana yang seperti bisa membaca pemikiran Aira sekarang, hanya tersenyum dan mengangguk.
Mereka lalu pergi ke tempat yang agak sepi agar bisa lebih nyaman berbicara.
"Na... kamu sama Nico beneran putus?"
"Waah, ternyata udah menyebar, ya? Cepet juga." Jawab Nana santai dengan pembawaannya yang selalu tenang –ralat, berusaha untuk tenang.
"Jadi benar? Terus kenapa?"
Nana terdengar mendesah pelan sebelum akhirnya menjawab rasa penasaran Aira.
"Ya, begitulah. Kita udah di tahun terakhir sekarang. Jadi, aku cuma pengen lebih fokus belajar. Itu aja."
"Na?"
"Aira aku boleh minta tolong nggak?"
Nana mengangkat wajah, lalu menatap kedua mata Aira. "Bisa tolong jangan bertanya soal apapun? Aku minta maaf, tapi ini antara aku dan Nico. Aku nggak mau orang lain tahu. Kalian semua cukup tahu kalau kami putus. Udah itu aja."
Sebelum Aira membalas perkataan Nana, bel tanda masuk tiba-tiba berdering dengan nyaring. Di saat itu, Nana yang mulai merasa gusar, sekarang bisa sedikit lega. Dan tanpa mengatakan apapun, ia berjalan melewati Aira begitu saja.
Saat memasuki kelas, secara tidak sengaja pandangan matanya bersibobrokan dengan Nico. Nana yang sudah diliputi kekalutan setelah obrolan singkat antara dirinya dan Aira barusan, membuat ia tidak bisa mengatur mimik wajahnya.
Nana lalu memalingkan wajahnya dari Nico untuk beberapa saat, berusaha mengatur emosinya sebaik mungkin. Lalu ketika ia merasa bahwa emosinya sudah sedikit tertata, ia kembali melemparkan tatapannya pada Nico seraya tersenyum.
Namun Nico tidak balas tersenyum. Seperti yang Nana lakukan, Nico juga memalingkan wajahnya.
Entah kenapa Nana mulai merasa, bahwa sejak awal Nico memang sudah menantikan perpisahan ini.
...****...
"Baik, kita cukupkan materi hari ini sampai di sini. Dan untuk tugas Apresiasi Prosa Fiksi, biar adil, Ibu sudah membagikan kelompok untuk kalian. Masing-masing kelompok akan ada dua orang. Nama-nama kalian sudah tertera di sini." Ucap Ibu Mery seraya menunjukan sebuah kertas.
Ibu Mery lalu meletakkan kertas itu di atas meja dan meninggalkan kelas. Begitu Ibu Mery sudah keluar, Natta yang bertindak sebagai ketua kelas, langsung mengambil kertas itu dan membacakan nama kelompok masing-masing.
Dan begitu Rakha tahu bahwa ia satu kelompok dengan Aira, Rakha langsung berteriak kegirangan, dan membuat satu kelas menatapnya dengan sebal. Namun Rakha tidak peduli. Ia sedang bahagia hari ini.
Atas ide dari Aira, mereka sepakat untuk langsung mengerjakan tugas hari itu juga tanpa menunda lagi. Rakha pun dengan senang hati menerima ide itu. Kapan lagi dia bisa berduaan dengan Aira?
...****...
Aira tengah menunggu Rakha yang sedang mengambil motornya di parkiran ketika Nico datang menghampirinya sambil berkata, "ayo, Ra! Kita pulang."
Belum sempat Aira menjawab, Rakha kemudian datang sambil membunyikan klakson motornya.
"Ayo Aira, berangkat sekarang!"
Aira kali ini menatap Nico dengan pandangan tidak enak. Sementara Nico menatapnya dengan pandangan bertanya, meminta penjelasan.
"Nic, aku sama Rakha ada tugas kelompok. Jadi nggak bisa langsung pulang. Kamu duluan, ya?"
Nico tampak berfikir. Dalam hitungan detik, sebersit rasa kecewa timbul dalam dirinya. Nico lalu menatap Rakha. Akhir-akhir ini, Nico dan Rakha mulai jarang berbicara semenjak Rakha mendapati satu kebenaran, bahwa kedua orang yang ada di hadapannya sekarang ini, ternyata diam-diam saling menyukai. Rakha tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya, atau menutupi gejolak dalam dirinya saat ini.
Setelah mendapatkan 'persetujuan terpaksa' dari Nico, Aira lalu menaiki motor Rakha. Ia sempat melambaikan tangannya ke arah Nico sebelum Rakha menjalankan vespa kesayangannya.
Seperti yang biasa mereka lakukan, Rakha dan Aira mengerjakan tugas kelompok mereka di B-Cafe. Mereka mengambil posisi di samping jendela. Dan sebelum mengerjakan tugas, mereka sempat makan siang terlebih dahulu.
Tugas kali ini cukup sulit karena mereka harus melakukan apresiasi tingkat 1 dan 2 pada sebuah novel klasik. Mereka terlihat begitu serius berdiskusi, dan saling bertukar fikiran satu sama lain.
Waktu menunjukan pukul 5 sore ketika tugas mereka akhirnya terselesaikan. Saat itulah, Ranha –adik perempuan Rakha datang secara tiba-tiba lalu menghampiri mereka. Ranha duduk di samping Rakha, lantas menyapa dan mengajak Aira berkenalan dengan wajah cerianya.
"Hay, Kak Aira! Kenalin aku Ranha. Aku adiknya Kak Rakha." Ujar Ranha sembari mengulurkan tangannya.
Aira lantas menyambut uluran tangan Ranha. Ia baru tahu, bahwa Rakha memiliki seorang adik perempuan semanis ini. Tapi tunggu dulu! Apa Ranha baru saja menyebutkan namanya? Ranha tahu dari mana namanya?
"K—kamu tahu nama aku?" Tanya Aira heran.
Ranha menganggukan kepalanya dengan mantap. "Jelas tahu dong! Dalam sehari, Kak Rakha bisa menyebut nama Kak Aira sampai sepuluh kali."
"Hah?" Aira semakin heran. Ia pun kini mengalihkan pandangannya ke arah Rakha yang hanya terkekeh. Rakha juga menganggukkan kepalanya, sebagai tanda bahwa ia membenarkan perkataan adiknya barusan.
"Jangan pulang terlalu malam. Nanti Papa marah."
"Tenang aja. Papa ada jadwal operasi malam ini." Ucap Ranha dengan santai sambil berlalu dari hadapan Aira dan Rakha.
"Tapi tetep aja, jangan pulang kemaleman!"
"Kak Rakha cerewet!!" Timpal Ranha yang langsung membuat Rakha dan Aira tertawa.
Begitu Ranha sudah naik ke lantai atas, sempat terjadi keheningan di antara mereka untuk beberapa saat. Aira tiba-tiba ingin menanyakan sesuatu pada Rakha.
"Adik kamu lucu juga, ya? Kamu pasti sangat memanjakan Ranha."
"Begitulah! Dia adik satu-satunya. Papa juga selalu sibuk di rumah sakit. Ya, aku secara otomatis selain jadi Kakak buat Ranha, aku juga jadi Papanya."
"Mama kamu gimana?"
Pertanyaan yang baru saja Aira lontarkan, serta-merta membuat jantung Rakha seperti terpukul. Ia tidak mengira sebelumnya, bahwa Aira akan mengajukan pertanyaan itu.
Melihat Rakha yang langsung terdiam, perasaan Aira mendadak tidak enak. Ia pasti baru saja salah bertanya.
"Aku salah nanya, ya? Maaf, Rakha..."
Rakha tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun mendesah pelan, lalu menjawab pertanyaan Aira dengan jujur.
"Mereka sudah cerai sejak lama. Dan selama 4 tahun ini, Mama aku di Amerika."
Mendengar jawaban Rakha, Aira semakin merasa tidak enak hati. Tidak seharusnya ia menanyakan hal itu, ketika mungkin Rakha sudah berusaha menguburnya dalam-dalam. Aira sudah terlalu banyak mengetahui hal-hal tentang Rakha. Dan dia berfikir ini bukan hal yang benar, mengingat bahwa ia bahkan tidak bisa membalas perasaan Rakha yang pernah ia ungkapkan.
...****...
Aira bersikeras ingin pulang sendiri, dan meminta Rakha untuk pulang bersama adiknya. Butuh waktu lama meyakinkan seorang Rakha, hingga sekarang Aira sudah ada di dalam bus.
Dan di tengah perjalanan, hujan tiba-tiba turun pada sore menjelang malam itu. Sepuluh menit kemudian, Aira tiba di perhentian. Saat jaraknya semakin dekat dengan perhentian tadi, Aira berfikir keras bagaimana ia bisa menembus hujan sebegini lebatnya untuk bisa mencapai rumah? Ia bahkan tidak membawa jaket, atau apapun yang bisa melindunginya dari hujan.
Begitu ia pasrah akan pulang dalam keadaan kehujanan, kedua mata Aira secara ajaib menangkap sosok Nico yang sedang berdiri di halte dengan sebuah payung. Aira menatap tidak percaya pada Nico. Entah kenapa, situasi ini terasa tidak nyata baginya.
Saat Aira turun dari bus, Nico langsung mendekat dan memayunginya tanpa mengatakan apapun.
"Nico? Kok bisa di sini?"
"Hujan tiba-tiba turun tadi. Dan aku udah ada feeling kalau kamu bakalan pulang sendiri."
Aira mendengus, seraya berjalan di sisi Nico ia lantas berujar dengan nada meledek, "apa ini? Memangnya kamu cenayang?"
Nico yang tidak tahu harus mengatakan apa lagi, akhirnya memutuskan untuk tidak menjawab ledekan Aira itu.
Mereka berjalan beriringan tanpa suara. Yang terdengar hanya suara rintik hujan dan derap langkah mereka yang seperti sengaja mereka pelankan. Seakan mengulur waktu agar kebersamaan mereka bisa sedikit lebih lama.
Saat ini, ada satu pertanyaan yang mengganggu fikiran Aira, tentang kenapa Nico dan Nana tiba-tiba putus padahal sebelumnya mereka baik-baik saja. Tetapi kemudian Aira berfikir lagi, apa tidak masalah jika ia bertanya pada Nico? Apa nantinya ia tidak terkesan terlalu ikut campur dan membuat Nico kesal? Dan semua keraguan itu menggerayangi otak Aira tanpa henti.
"Ra?" Panggil Nico tiba-tiba.
"Hm?"
"Aku... putus sama Nana."
Aira kini menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Nico. Mereka pun berhadapan satu sama lain.
Inilah yang sebenarnya Aira nantikan. Tanpa perlu bertanya terlebih dahulu, Nico lah yang akan mengatakannya sendiri.
"Kenapa?," tanya Aira pelan dan hati-hati.
"Aku nggak cukup baik buat dia. Seperti yang kamu bilang, aku payah sekali." Nico lalu tertawa kecil di akhir kalimatnya.
Jawaban itu jujur. Nico memang merasa sepayah itu. Dia bahkan tidak bisa menangani perasaannya sendiri sejak awal, hingga akhirnya membuat segala hal menjadi kacau sekarang.
Seharusnya, Nico tidak pernah memulai apapun dengan Nana. Seharusnya, Nico tidak memberikannya harapan-harapan kosong dengan embel-embel dia akan berusaha. Seharusnya, Nico tidak pernah memenuhi Nana dengan mimpi-mimpi indah yang ia sendiri bahkan tidak pernah miliki sejak ia dilahirkan. Seharusnya sejak awal, ia diam saja dan tidak melakukan apapun.
Nico merasa seperti telah menciptakan sebuah ilusi seakan-akan Nana bisa bahagia bersamanya, namun pada kenyataannya, hanya luka yang mampu dia berikan. Ia banyak membuang waktu Nana yang berharga. Itulah kenapa sekarang, ia merasa payah. Sangat payah. Teramat payah.
Aira sedikit berjinjit untuk bisa mencapai tinggi badan Nico. Tangan kananya terangkat lalu mendarat di kepala Nico. Aira mengusapnya lembut.
Sementara Nico yang menerima perlakuan itu, seketika membeku. Biasanya, Nico lah yang sering melakukan hal itu pada Aira. Namun kini berbalik. Nico lantas menatap tepat pada kedua mata gadis itu yang tampak begitu hangat. Ia berusaha menyelaminya, dan menemukan binar yang selalu sama di sana.
"Siapapun itu, termasuk kamu, tidak ada satupun yang berhak bilang kalau kamu payah. Cuma aku yang boleh. Kalau ada orang lain yang mengatakan itu selain aku, aku bakalan marah."
...****...
Pulau Banu, 2002
Aira menghampiri anak lelaki kecil yang beberapa hari lalu diperkenalkan sebagai Nico padanya.
Nico saat itu tengah duduk sendirian di halaman belakang rumahnya sambil memegang sebungkus besar Gummy Bear dalam dekapannya. Selama tiga hari ini, Nico selalu menyendiri.
Begitu menyadari kehadiran Aira, Nico kecil yang tampak rapuh itu mengangkat wajahnya. Ia hanya mengikuti setiap gerakan Aira dengan matanya. Lalu Aira duduk di hadapannya, menatapnya dengan kedua mata berbinar.
"Hay! Aku suka Gummy Bear juga. Boleh minta?" Ujar Aira sambil sesekali melirik Gummy Bear yang ada dalam rengkuhan Nico.
Nico mengangguk pelan, lalu menyerahkan semuanya untuk Aira.
"Semuanya buat Nana?"
Lagi-lagi Nico hanya mengangguk. Senyum di wajah Aira pun kian melebar. Ia lantas mengulurkan tangan mungilnya setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada Nico.
"Kamu kemarin belum nanyain nama aku. Kenalin aku Nana. Naira Bintang Kelana."
Sebelum menjawab dan membalas uluran tangan Aira, Nico terlihat berfikir cukup lama. Karena Aira masih sangat kecil saat itu, ia tentu tidak memahami ketakutan yang tergambar jelas pada sepasang mata milik Nico. Begitu juga dengan Nico.
Saat itu, Aira hanya tahu bahwa anak laki-laki ini sangat pemalu.
"Nico..." Jawab Nico dengan penuh waspada seraya menyambut uluran tangan Aira. Ia seperti takut ketahuan, entah oleh siapa.
"Nggak apa-apa. Kamu boleh jujur sama Nana. Nana suka temen yang jujur." Ucap Aira terus terang. Seperti yang dikatakan sejak awal, Nana tahu dengan pasti bahwa Nico yang sekarang ada di hadapannya, bukanlah Nico yang selama ini ia tahu.
Nico kemudian tersenyum tipis. Untuk sesaat rasa takutnya bisa sedikit ia redam. Keraguan di matanya perlahan berubah menjadi sebuah keberanian. Untuk pertama kalinya, ia menemukan kekuatannya.
"A—aku Alvin. A—Alvin Dafandra."
^^^To Be Continued...^^^
...Bonus Pict:...
Aira dan Nico saat jogging 🏃